KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 5 – Orang Asing

    Bab 5 – Orang Asing

    BY 01 Nov 2026 Dilihat: 8 kali
    Labirin Hati Lara_alineaku

    Batang pohon yang rindang bergoyang, menyanyikan irama syahdu di penghujung malam. Rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata Lara yang terasa kering, kian menyipit saat angin dingin pegunungan meniup ringan wajahnya.

    Dengan pelita kecil di tangannya, Lara memandangi kerumunan di depan. Senter yang ia bawa tidak cukup terang untuk menembus gelapnya malam di area pondok sederhana di dataran tinggi itu. Ini adalah acara Makrab (Malam Keakraban) organisasi pergerakan kampus yang baru ia ikuti semester ini. Begitu melangkah mendekat, Lara baru bisa melihat jelas para Maba (Mahasiswa Baru) sedang melingkar, menundukkan kepala di bawah bentakan seorang senior.

    “Jangan harap kalian bisa senang-senang di sini! Kalau mau tidur nyenyak, noh, pulang aja sana! Di sini kalian akan dibentur, dibentur, hingga akhirnya terbentuk! Kalian bakal dipaksa, dipaksa, hingga jadi terbiasa! Yang geraknya lambat, jangan menyesal kalau tertinggal!”

    Suara lantang sang Demisioner angkatan 2011 melontarkan orasi, memecah keheningan malam. Lara yang penasaran melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Demisioner itu saat ia keluar dari lingkaran Maba. Namun, tiba-tiba orasi berapi-api itu terhenti. Kalimat sang senior mendadak terputus dan terbata-bata. Rupanya kehadiran Lara yang tiba-tiba sukses membuatnya kaget hingga kehilangan fokus.

    Lara meringis, merasa bersalah karena telah merusak momentum orasi yang terkesan menekan itu. Sambil mundur menjauh, tawa tipis Lara terdengar oleh Nia, sahabat seperjuangannya. Lara memang mengenali Demisioner itu, namun ia tidak tahu bahwa sang senior diam-diam selalu mencuri pandang setiap kali Lara hadir di forum pergerakan kampus.

    “Kamu ngapain ke situ? Ganggu orang yang lagi orasi aja,” bisik Nia.

    “Siapa yang ganggu? Dianya aja yang nggak fokus. Aku cuma penasaran, setegang apa sih orasinya mahasiswa pergerakan, hehehe,” jawab Lara santai.

    “Emangnya kamu nggak pernah digituin waktu Maba?”

    “Nggak pernah. Semester lalu kan aku nggak ikut. Baru-baru ini aku masuk, tapi langsung ditarik naik jabatan di angkatanmu, kan?”

    “Oh iya sih, aku lupa,” Nia menepuk jidatnya.

    Sebagai anak perempuan tertua yang harus mengurus rumah dan adik-adiknya, waktu Lara sangat terbatas. Tidak seperti mahasiswi lain yang hobi hangout di kafe luar jam kuliah, Lara hanya bisa hadir di organisasi kampus satu minggu sekali. Di sinilah ia menghibur diri sekaligus menyerap ilmu kepemimpinan.

    Saat berjalan menyusuri area pondok, mata Lara menangkap sesosok pria asing yang sibuk memotret kegiatan mereka. Pria itu tidak memakai almamater kampus.

    “Ghaz, tahu nggak siapa orang itu? Yang pakai kaos abu-abu dan terus memotret kita pakai kamera profesional,” tanya Lara pada Ghazali, sahabatnya yang lain, karena ia merasa lensa kamera pria itu terlalu sering mengarah kepadanya.

    “Nggak tahu pasti, Ra. Dia bukan senior atau alumni. Tapi dia ke sini bareng salah satu alumni lama, katanya sih tetangganya,” jelas Ghazali.

    Lara mengangguk samar, meski hatinya menyimpan curiga. Pria itu tampak asing di tengah kegelapan malam pegunungan. Tak lama, seorang teman memanggil Lara dan Nia untuk bergantian menjaga pos paling ujung.

    “Tahu nggak, Ra, sebenarnya aku rada risih lihat tukang foto itu mondar-mandir. Selain tanpa izin, dia kelihatan aneh,” bisik Nia saat mereka berjalan ke arah pos, sesekali tergelincir oleh batu berlumpur.

    “Sudahlah, biarin aja. Insya Allah aman selama kita nggak buka aurat di sini, hahaha,” canda Lara menenangkan.

    Namun, dugaan mereka meleset. Saat mereka hampir sampai di pos, pria pembawa kamera itu tiba-tiba berjalan memotong jalan dan menghampiri Lara.

    “Hai, maaf dari tadi mengambil gambar tanpa izin. Saya tidak akan menyebarkan hasil fotonya ke orang lain, ini hanya hobi. Boleh, kan?” tanya pria itu ramah.

    “Oh gitu. Oke, nggak apa-apa. Tapi lain kali izin dulu ya, Mas, karena dari kami sudah ada seksi dokumentasi sendiri,” jawab Lara, tetap menjaga kesopanan.

    Nia yang berdiri di samping Lara langsung menyenggol lengan sahabatnya. “Wah… ternyata ganteng ya, Ra, kalau dari dekat,” bisik Nia super lirih.

    “Oh iya, perkenalkan saya Wahyu. Saya kerja di SMAN 1 sebagai guru olahraga. Saya ke sini ikut Pakdhe saya yang alumni organisasi ini. Boleh kenalan?”

    “Boleh dong! Kenalin, aku Nia dan ini Lara,” sambar Nia cepat, membuat Lara memutar bola matanya malas.

    Setelah berbincang singkat tentang jurusan kuliah, Wahyu tersenyum manis. “Boleh minta nomor WA-nya? Nanti saya kirim hasil foto-fotonya sebelum saya hapus permanen dari memori kamera.”

    “Waduh, Mas, saya lagi nggak pegang ponsel. Nggak ingat nomor juga, hehe. Pakai nomor WA-mu aja, Ra!” Nia dengan gerakan kilat merebut ponsel dari saku jaket Lara dan menyerahkannya ke Wahyu. Lara hanya bisa pasrah melihat kelakuan sahabatnya.

    “Makasih, ya. Tunggu kiriman fotonya dari saya,” ucap Wahyu hangat sebelum berpamitan.

    Begitu Wahyu menjauh, Nia langsung heboh menggoda Lara sepanjang malam di pos penjagaan. “Masya Allah, guru olahraga speknya selalu gitu ya, Ra? Ganteng, tinggi, atletis! Good looking banget!”

    Lara hanya tersenyum tipis, menatap kegelapan malam. “Good looking belum tentu good man, Nia. Lagian aku belum mikir kesana. Perjalananku masih panjang. Mau fokus kuliah dulu, kalau bisa sampai S2. Urusan jodoh entar-entar aja.”

    Seminggu setelah acara Makrab berlalu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Lara dari nomor baru.

    “Hai Lara, ini Wahyu yang di makrab kemarin. Ini beberapa foto kamu yang sempat saya ambil. Bagus, kan?”

    Lara membuka pesan itu. Wahyu mengirimkan beberapa potret dirinya yang sedang memegang pelita di tengah kegelapan. Fotonya luar biasa indah, mengambil sudut yang estetis. Sejak hari itu, Wahyu mulai intens menghubungi Lara. Pria itu selalu bersikap sopan, mengirimkan ucapan selamat pagi, menanyakan kegiatannya, dan sesekali melempar lelucon segar khas guru olahraga yang menyenangkan.

    Lara yang awalnya membangun dinding pertahanan, perlahan mulai lumer. Perhatian Wahyu yang konstan membuat Lara merasa dihargai. Setelah hampir satu bulan bertukar pesan secara intens, Wahyu akhirnya melangkah lebih jauh.

    “Lara, minggu depan saya ada waktu luang setelah jam sekolah. Saya ingin mengajak kamu keluar bertukar pikiran, sekadar minum kopi atau makan malam. Kamu luang hari apa?”

    Jantung Lara berdegup sedikit lebih cepat saat membaca pesan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menyendiri, Lara memberanikan diri untuk membuka hati. Ia menatap kalender kuliahnya, menimbang hari yang tepat.

    “Boleh, Mas. Kebetulan minggu depan jadwal kuliahku agak renggang di hari Rabu sore. Bagaimana?” balas Lara.

    Lara menunggu jawaban. Satu jam. Dua jam. Ponselnya tetap hening.

    Lara mengira Wahyu sedang sibuk melatih di sekolah. Namun, hingga malam tiba, pesan itu hanya menyisakan tanda centang dua biru tanpa ada balasan.

    Hari berganti hari. Senin, Selasa, hingga hari Rabu yang dijanjikan tiba, ruang obrolan dari Wahyu tetap membatu. Pesan terakhir Lara bahkan tidak lagi dibaca. Wahyu mendadak lenyap seperti ditelan bumi, tanpa penjelasan, tanpa kata pamit. Pria itu menaruh harapan di hati Lara, lalu menggantung dan meninggalkannya begitu saja secara sepihak (ghosting).

    Hantaman dari orang asing bernama Wahyu itu menjadi titik nadir bagi ego Lara. Rasa percaya dirinya runtuh. Trauma masa lalu dari zaman SMP dan SMA kembali berbisik di kepalanya, menegaskan bahwa berharap pada perasaan pria adalah hal yang melelahkan dan merugikan.

    Di tengah rasa mati rasa dan keputusasaan Lara akan sebuah hubungan itulah, takdir mempertemukannya dengan Albas—pria ambisius yang kemudian membawanya masuk ke babak baru penuh janji politik, yang ia kira akan menjadi pelabuhan terakhirnya, namun justru menjadi awal dari luka yang lebih besar.

     

     

    Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5 – Orang Asing

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021