Batang pohon yang rindang bergoyang, menyanyikan irama syahdu di penghujung malam. Rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata Lara yang terasa kering, kian menyipit saat angin dingin pegunungan meniup ringan wajahnya.
Dengan pelita kecil di tangannya, Lara memandangi kerumunan di depan. Senter yang ia bawa tidak cukup terang untuk menembus gelapnya malam di area pondok sederhana di dataran tinggi itu. Ini adalah acara Makrab (Malam Keakraban) organisasi pergerakan kampus yang baru ia ikuti semester ini. Begitu melangkah mendekat, Lara baru bisa melihat jelas para Maba (Mahasiswa Baru) sedang melingkar, menundukkan kepala di bawah bentakan seorang senior.
“Jangan harap kalian bisa senang-senang di sini! Kalau mau tidur nyenyak, noh, pulang aja sana! Di sini kalian akan dibentur, dibentur, hingga akhirnya terbentuk! Kalian bakal dipaksa, dipaksa, hingga jadi terbiasa! Yang geraknya lambat, jangan menyesal kalau tertinggal!”
Suara lantang sang Demisioner angkatan 2011 melontarkan orasi, memecah keheningan malam. Lara yang penasaran melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Demisioner itu saat ia keluar dari lingkaran Maba. Namun, tiba-tiba orasi berapi-api itu terhenti. Kalimat sang senior mendadak terputus dan terbata-bata. Rupanya kehadiran Lara yang tiba-tiba sukses membuatnya kaget hingga kehilangan fokus.
Lara meringis, merasa bersalah karena telah merusak momentum orasi yang terkesan menekan itu. Sambil mundur menjauh, tawa tipis Lara terdengar oleh Nia, sahabat seperjuangannya. Lara memang mengenali Demisioner itu, namun ia tidak tahu bahwa sang senior diam-diam selalu mencuri pandang setiap kali Lara hadir di forum pergerakan kampus.
“Kamu ngapain ke situ? Ganggu orang yang lagi orasi aja,” bisik Nia.
“Siapa yang ganggu? Dianya aja yang nggak fokus. Aku cuma penasaran, setegang apa sih orasinya mahasiswa pergerakan, hehehe,” jawab Lara santai.
“Emangnya kamu nggak pernah digituin waktu Maba?”
“Nggak pernah. Semester lalu kan aku nggak ikut. Baru-baru ini aku masuk, tapi langsung ditarik naik jabatan di angkatanmu, kan?”
“Oh iya sih, aku lupa,” Nia menepuk jidatnya.
Sebagai anak perempuan tertua yang harus mengurus rumah dan adik-adiknya, waktu Lara sangat terbatas. Tidak seperti mahasiswi lain yang hobi hangout di kafe luar jam kuliah, Lara hanya bisa hadir di organisasi kampus satu minggu sekali. Di sinilah ia menghibur diri sekaligus menyerap ilmu kepemimpinan.
Saat berjalan menyusuri area pondok, mata Lara menangkap sesosok pria asing yang sibuk memotret kegiatan mereka. Pria itu tidak memakai almamater kampus.
“Ghaz, tahu nggak siapa orang itu? Yang pakai kaos abu-abu dan terus memotret kita pakai kamera profesional,” tanya Lara pada Ghazali, sahabatnya yang lain, karena ia merasa lensa kamera pria itu terlalu sering mengarah kepadanya.
“Nggak tahu pasti, Ra. Dia bukan senior atau alumni. Tapi dia ke sini bareng salah satu alumni lama, katanya sih tetangganya,” jelas Ghazali.
Lara mengangguk samar, meski hatinya menyimpan curiga. Pria itu tampak asing di tengah kegelapan malam pegunungan. Tak lama, seorang teman memanggil Lara dan Nia untuk bergantian menjaga pos paling ujung.
“Tahu nggak, Ra, sebenarnya aku rada risih lihat tukang foto itu mondar-mandir. Selain tanpa izin, dia kelihatan aneh,” bisik Nia saat mereka berjalan ke arah pos, sesekali tergelincir oleh batu berlumpur.
“Sudahlah, biarin aja. Insya Allah aman selama kita nggak buka aurat di sini, hahaha,” canda Lara menenangkan.
Namun, dugaan mereka meleset. Saat mereka hampir sampai di pos, pria pembawa kamera itu tiba-tiba berjalan memotong jalan dan menghampiri Lara.
“Hai, maaf dari tadi mengambil gambar tanpa izin. Saya tidak akan menyebarkan hasil fotonya ke orang lain, ini hanya hobi. Boleh, kan?” tanya pria itu ramah.
“Oh gitu. Oke, nggak apa-apa. Tapi lain kali izin dulu ya, Mas, karena dari kami sudah ada seksi dokumentasi sendiri,” jawab Lara, tetap menjaga kesopanan.
Nia yang berdiri di samping Lara langsung menyenggol lengan sahabatnya. “Wah… ternyata ganteng ya, Ra, kalau dari dekat,” bisik Nia super lirih.
“Oh iya, perkenalkan saya Wahyu. Saya kerja di SMAN 1 sebagai guru olahraga. Saya ke sini ikut Pakdhe saya yang alumni organisasi ini. Boleh kenalan?”
“Boleh dong! Kenalin, aku Nia dan ini Lara,” sambar Nia cepat, membuat Lara memutar bola matanya malas.
Setelah berbincang singkat tentang jurusan kuliah, Wahyu tersenyum manis. “Boleh minta nomor WA-nya? Nanti saya kirim hasil foto-fotonya sebelum saya hapus permanen dari memori kamera.”
“Waduh, Mas, saya lagi nggak pegang ponsel. Nggak ingat nomor juga, hehe. Pakai nomor WA-mu aja, Ra!” Nia dengan gerakan kilat merebut ponsel dari saku jaket Lara dan menyerahkannya ke Wahyu. Lara hanya bisa pasrah melihat kelakuan sahabatnya.
“Makasih, ya. Tunggu kiriman fotonya dari saya,” ucap Wahyu hangat sebelum berpamitan.
Begitu Wahyu menjauh, Nia langsung heboh menggoda Lara sepanjang malam di pos penjagaan. “Masya Allah, guru olahraga speknya selalu gitu ya, Ra? Ganteng, tinggi, atletis! Good looking banget!”
Lara hanya tersenyum tipis, menatap kegelapan malam. “Good looking belum tentu good man, Nia. Lagian aku belum mikir kesana. Perjalananku masih panjang. Mau fokus kuliah dulu, kalau bisa sampai S2. Urusan jodoh entar-entar aja.”
Seminggu setelah acara Makrab berlalu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Lara dari nomor baru.
“Hai Lara, ini Wahyu yang di makrab kemarin. Ini beberapa foto kamu yang sempat saya ambil. Bagus, kan?”
Lara membuka pesan itu. Wahyu mengirimkan beberapa potret dirinya yang sedang memegang pelita di tengah kegelapan. Fotonya luar biasa indah, mengambil sudut yang estetis. Sejak hari itu, Wahyu mulai intens menghubungi Lara. Pria itu selalu bersikap sopan, mengirimkan ucapan selamat pagi, menanyakan kegiatannya, dan sesekali melempar lelucon segar khas guru olahraga yang menyenangkan.
Lara yang awalnya membangun dinding pertahanan, perlahan mulai lumer. Perhatian Wahyu yang konstan membuat Lara merasa dihargai. Setelah hampir satu bulan bertukar pesan secara intens, Wahyu akhirnya melangkah lebih jauh.
“Lara, minggu depan saya ada waktu luang setelah jam sekolah. Saya ingin mengajak kamu keluar bertukar pikiran, sekadar minum kopi atau makan malam. Kamu luang hari apa?”
Jantung Lara berdegup sedikit lebih cepat saat membaca pesan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menyendiri, Lara memberanikan diri untuk membuka hati. Ia menatap kalender kuliahnya, menimbang hari yang tepat.
“Boleh, Mas. Kebetulan minggu depan jadwal kuliahku agak renggang di hari Rabu sore. Bagaimana?” balas Lara.
Lara menunggu jawaban. Satu jam. Dua jam. Ponselnya tetap hening.
Lara mengira Wahyu sedang sibuk melatih di sekolah. Namun, hingga malam tiba, pesan itu hanya menyisakan tanda centang dua biru tanpa ada balasan.
Hari berganti hari. Senin, Selasa, hingga hari Rabu yang dijanjikan tiba, ruang obrolan dari Wahyu tetap membatu. Pesan terakhir Lara bahkan tidak lagi dibaca. Wahyu mendadak lenyap seperti ditelan bumi, tanpa penjelasan, tanpa kata pamit. Pria itu menaruh harapan di hati Lara, lalu menggantung dan meninggalkannya begitu saja secara sepihak (ghosting).
Hantaman dari orang asing bernama Wahyu itu menjadi titik nadir bagi ego Lara. Rasa percaya dirinya runtuh. Trauma masa lalu dari zaman SMP dan SMA kembali berbisik di kepalanya, menegaskan bahwa berharap pada perasaan pria adalah hal yang melelahkan dan merugikan.
Di tengah rasa mati rasa dan keputusasaan Lara akan sebuah hubungan itulah, takdir mempertemukannya dengan Albas—pria ambisius yang kemudian membawanya masuk ke babak baru penuh janji politik, yang ia kira akan menjadi pelabuhan terakhirnya, namun justru menjadi awal dari luka yang lebih besar.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 5 – Orang Asing
Sorry, comment are closed for this post.