KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 5 Permintaan Gian

    Bab 5 Permintaan Gian

    BY 03 Sep 2026 Dilihat: 13 kali
    Pertemuan_alineaku

    Pagi hari seperti biasa, Kaisya sudah menyiapkan segala perlengkapan kerja suami dan dirinya. Makanan telah tersedia di meja makan. Pukul enam pagi mereka telah sarapan. Putra yang baru bangun segera ia gendong dan mendudukkannya di pangkuan karena masih makan sekaligus menyuapi. Selesai itu, Kaisya mengganti pakaian anaknya setelah melap seluruh tubuhnya dengan air hangat. Hari ini, ia mendapat giliran membawa anak ikut bersamanya ke tempat kerja.

    “Sayang, nanti kontak saja untuk jemput Putra pulang,” ujar Ridho yang tengah memakai sepatu.

    “Iya. Nanti aku kabari,” kata Kaisya. Ia lalu membawa tas Putra yang berisi mainan juga makanan.

    Ridho menyalakan mesin motor, Kaisya dan anaknya menunggu di gerbang, hingga motor yang dikendarai Ridho sudah berada di depannya. Mereka pun berangkat. Sebenarnya, sekolah Ridho tidak begitu jauh dari rumah. Hanya saja ia hendak mengantar terlebih dahulu istri dan anaknya.

    Sampai di sekolah, Kaisya menggamit tangan Putra lalu memberi salam dan menyapa rekan kerjanya saat bertemu atau berpapasan. Sepuluh menit kemudian barulah bel masuk berbunyi. Kaisya memasuki ruang kelas bersama anaknya. Putra memang tergolong anak yang baik, penurut dan mudah diatur. Dengan diberi mainan atau alat tulis juga begitu bahagia. Sehingga tidak sulit jika ia bekerja. Dua jam berlalu, waktunya pergantian pelajaran. Kaisya mendapat waktu luang, tak ada kelas dan masuk lagi pukul sebelas siang. Tiba-tiba teringat janji dengan Gian akan bertemu.

    “Kay, aku sudah ada di depan gerbang sekolah. Kamu bisa keluar sebentar?”

    Gian ternyata memberi pesan WhatsApp padanya sekitar sepuluh menit yang lalu. Kaisya membalas pesan tersebut karena takut ia menunggu terlalu lama.

    “Maaf, aku baru lihat WA. Kamu masih ada di sekolah?”

    “Masih, Kay. Iya gak apa-apa.”

    “Baiklah, kamu masuk aja ke sekolah. Kita bicara di ruang tunggu saja.”

    “Kita bicara di luar saja, Kay.”

    Kaisya mengerutkan keningnya. Apa yang akan lelaki itu sampaikan. Bukankah tentang Mikayla. Namun pada akhirnya ia membawa Putra keluar sekolah. Memang tidak ada larangan untuk guru jika hendak keluar gerbang sekolah. Banyak para guru yang melakukannya, bisa karena ingin mengkopi lembar soal ataupun membeli makan siang di warung nasi terdekat. Karena di dalam sekolah tidak ada fasilitas seperti kantin warung nasi. Maklum saja sekolah swasta yang masih kecil.

    “Gian, maaf sudah menunggu lama,” Kaisya menyapa terlebih dahulu lelaki tersebut yang sudah duduk di depan warung biasa tak jauh dari sekolah.

    “Gak apa-apa, Kay,” jawab Gian. “Ini anakmu ya? Lucu sekali, siapa namanya?” tanya Gian pada anaknya Kaisya.

    “Putra,” jawab Putra dengan sigap.

    “Wah, hebat ya sudah bisa menjawab pertanyaan,” puji Gian seraya memegang puncak kepala anak itu.

    “Putra, sayang. Ini temannya ibu namanya Om Gian. Salim dulu nak,” perintah Kaisya. Putra pun menurut dan menyalami Gian.

    “Pintarnya Putra,” ucap Gian.

    “Maaf, ya. Aku bawa anakku soalnya kami gak ada yang bisa dipercaya untuk mengasuh. Kalau sama keluargaku terlalu jauh, sama mertua juga gak enak,” kata Kaisya.

    “Santai aja, Kay. Kalau gak dibawa sama kamu, Putra sama siapa?” tanya Gian.

    “Ayahnya. Kami saling bergantian menjaga Putra,” ucap Kaisya.

    “Seneng dengernya. Jujur aku iri, kalian bisa menjaga anak saling bergantian. Gak seperti aku yang memang ditinggalkan. Bahkan ibunya Kayla gak pernah sekalipun melihat atau menanyakan kabar. Padahal itu anaknya sendiri,” keluh Gian. Kaisya terdiam. Merasa kasihan dengan nasib lelaki dihadapannya.

    “Kalau kamu lagi kerja dan sekolah libur, Mikayla sama siapa dirumah?” Kaisya merasa ingin tahu lantas menanyakan hal itu.

    “Sama pembantu. Itu pun sudah tua ko’ namanya Bi Minah mungkin seumuran guru kita waktu SMA. Orang tuaku sudah tidak ada, Kay. Jadi mau sama siapa lagi aku menitipkan Kayla. Bi Minah sudah ku anggap sebagai orang tuaku. Beliau yang menjagaku dulu ketika masih bekerja dengan orang tuaku. Kamu juga tahu sendiri kan, ayah dan ibuku kecelakaan waktu itu hingga semua isi sekolah pada tahu,” ucap Gian sekilas mengenang kejadian nahas tersebut dimana memang dirinya tengah berada di sekolah kemudian mendapat kabar yang mengejutkan membuat dirinya histeris.

    “Maaf membuatmu jadi teringat,” ucap Kaisya.

    “Gak masalah. Itu udah lama juga kan. Meskipun masih teringat tapi buat apa juga hal yang pahit terus simpan,” kata Gian kemudian tersenyum.

    Kaisya menunduk malu saat lelaki dihadapannya melemparkan senyum. Jujur saja terlalu manis dan mempesona. Siapa saja pasti akan tergoda dengan ketampanan Gian termasuk dirinya. Apalagi guru muda itu sudah menaruh hati sejak dulu. Tak bisa dibayangkan jika ia tahu perasaannya akan seperti apa nanti.

    “Kay, aku memintamu untuk bertemu karena ada hal yang ingin aku bicarakan. Dan aku gak tahu apakah ini benar atau salah. Tapi bagaimana pun aku gak bisa menahannya. Kamu harus tahu,” kata Gian membuat Kaisya mengerutkan keningnya.

    “Maksudnya?” tanya Kaisya yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan Gian.

    “Kayla,” Gian terdiam tak meneruskan ucapannya.

     

    “Ada apa dengan Mikayla?” tanya Kaisya penasaran.

    “Tapi kalau aku mengatakan sesuatu kamu gak akan marah kan?” tanya Gian tambah membuat Kaisya penasaran. Sungguh seperti teka-teki saja.

    “Kamu juga belum mengatakannya,” kata Kaisya.

    “Ibu, Putra mau jajan es krim,” pinta Putra tiba-tiba saja mengganggu perbincangan. Padahal tadi lagi anteng memainkan ponsel milik Kaisya.

    “Iya, sayang. Gian, maaf aku beliin dulu Putra es krim. Sebentar ya,” ucap Kaisya hanya diberi anggukkan lelaki itu.

    Kaisya menggendong Putra untuk melihat beberapa es krim yang ada pada tempatnya. Setelah melihat-lihat akhirnya menemukan apa yang diinginkan. Namun, ketika ingin membayar, Gian lebih memegang tanganku.

    “Biar aku aja yang bayar,” ucap Gian sontak saja membuat Kaisya tidak enak.

    “Gak usah Gian,” tolak Kaisya.

    “Gak apa-apa, Kay. Lagian gak sering juga kan,” ucap Gian sambil memberikan uangnya pada pemilik warung. “Putra mau jajan apalagi?” tanya lelaki itu lagi.

    “Putra mau dua es krimnya,” kata Putra lantas menuju tempat es krim dan membuka tempat tersebut.

    “Putra sudah satu saja jangan banyak-banyak,” sergah Kaisya semakin tidak enak.

    “Sudahlah, Kay. Jangan dimarahi, kasihan Putra,” ucap Gian.

    “Bukan gitu, Gian. Aku …” belum sempat ia berbicara langsung disambut Gian.

    “Jangan merasa gak enak, Kay. Justru itu sebagai ucapan terima kasih karena di sela waktu luang kamu mau diajak bertemu denganku,” kata Gian.

    Kaisya menghembuskan nafasnya, “Baiklah. Kalau begitu, terima kasih.”

    Gian hanya tersenyum sebagai jawabannya. Ia dan lelaki itu kembali. Sedangkan Putra sudah dalam posisi semula duduk terlebih dahulu. Terlihat begitu senang mendapatkan dua es krim kesukaannya.

    “Maaf, tadi kamu mengatakan apa tentang Mikayla?” tanya Kaisya setelah keduanya duduk.

    “Aku gak yakin sebenarnya, Kay,” ucap Gian.

    “Kalau memang itu membuatmu gak enak. Lebih baik gak usah diutarakan saja. Daripada kedepannya justru jadi gak baik,” kata Kaisya.

    “Kay,” seru Gian kemudian terdiam. Lalu ia kembali melanjutkan ucapannya. “Aku ingin memintamu untuk menjaga Mikayla seperti kamu menjaga Putra.”

    ***

     

     

    Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5 Permintaan Gian

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021