Ruangan itu seketika dipenuhi oleh aroma kehidupan yang baru—campuran antara minyak telon, bedak bayi, dan kehangatan yang tak kasatmata. Seorang bayi laki-laki yang sehat, berkulit bersih, dan bermata indah akhirnya lahir ke dunia setelah perjuangan panjang yang menguras seluruh air mata dan doa.
Mas Giyanto melangkah mendekat dengan tubuh yang gemetar hebat. Dadanya naik turun menahan buncahan haru yang teramat sangat. Saat jemari kasarnya menyentuh kulit lembut sang bayi, air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Dengan tangan yang masih bergetar, ia menggendong tubuh mungil yang begitu rapuh itu ke dalam dekapannya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan mungil itu, lalu membisikkan kalimat azan yang begitu syahdu. Suaranya bergetar, sarat akan rasa syukur yang membubung tinggi ke langit, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa tersentuh.
Kami memberikan nama yang penuh dengan barakah, sebuah nama yang dirajut dari untaian doa dan harapan mendalam bagi masa depannya: Faathir Hidyatama Sugiyanto. Faathir, sebuah nama indah yang berarti sang pembuka rezeki dan pencipta awal kebahagiaan sejati di dalam keluarga kecil kami. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap garis keturunan, melainkan sebuah oase di tengah gersangnya perjuangan hidup yang selama ini kami lalui dengan penuh kepasrahan.
Kehadiran Faathir benar-benar menjadi pembuka pintu-pintu langit yang selama ini seolah tertutup rapat. Seperti pepatah tua yang sering diucapkan orang-orang beriman bahwa setiap anak membawa guratan rezekinya masing-masing, takdir keluarga kami berubah secara luar biasa hanya berselang satu tahun kemudian. Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan cara yang paling indah dan di waktu yang paling tepat.
Saat Faathir genap berusia satu tahun, tepat ketika kaki-kaki kecilnya mulai belajar melangkah dan mengeksplorasi dunia di atas lantai rumah kami, sebuah kabar gembira datang mengetuk pintu. Kabar yang selama ini hanya berani kami selipkan di ujung doa malam yang sunyi, di antara isak tangis sujud tahajud, akhirnya menjelma menjadi kenyataan yang benderang.
Lewat jalur pengabdian yang melelahkan dan proses seleksi yang panjang lagi menguji kesabaran, Mas Giyanto resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Menerima surat keputusan (SK) pengangkatan dengan lambang Garuda itu rasanya seperti sedang bermimpi di siang bolong. Kami, sepasang suami istri yang terbiasa hidup aman dalam kepasrahan upah lima puluh ribu rupiah per bulan, tiba-tiba diantarkan pada kepastian hidup yang jauh lebih layak. Angka yang dulu harus kami bagi sedemikian rupa hanya untuk sekadar menyambung asap dapur, kini digantikan dengan jaminan yang lebih dari cukup untuk membesarkan buah hati kami.
Sore itu, bias cahaya matahari senja menerobos masuk lewat celah jendela, menerangi meja kayu tua di sudut ruangan—tempat di mana Mas Giyanto dulu pertama kali mengajariku hukum-hukum tajwid. Mas Giyanto duduk di hadapanku, menggenggam kedua tanganku dengan amat erat. Matanya berkaca-kaca, memantulkan rona kebahagiaan sekaligus ketidakpercayaan yang membuncah.
“Ini semua karena doa-doamu yang tidak pernah putus di sepertiga malam, Sri. Dan ini adalah rezeki yang dititipkan Allah lewat kelahiran Faathir,” ucapnya dengan nada bergetar penuh rasa syukur yang mendalam. Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mampu menyandarkan kepalaku di dadanya, menangis sejadi-jadinya, mensyukuri keadilan takdir yang kini berpihak pada kami.
Namun, kemapanan baru dalam rumah tangga kami tidak lantas membuatku berpuas diri dan memilih untuk berdiam diri di rumah menjadi penonton garis waktu. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadaku. Dorongan dari Mas Giyanto yang selalu mendukung kemajuan berpikirku, ditambah dengan rasa cinta yang teramat mendalam pada dunia literasi dan buku, memantapkan hatiku untuk mengambil langkah besar berikutnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan.
Keputusan itu tentu membawa konsekuensi yang luar biasa besar. Menjadi seorang ibu muda yang harus menyusui, mengurus segala keperluan rumah tangga dari fajar menyingsing, sekaligus menjalani tugas-tugas kuliah yang menumpuk sebagai mahasiswi tentu bukan perkara yang mudah. Tubuhku sering kali didera lelah yang teramat sangat, dan waktu tidurku terpangkas habis.
Namun, ada berkah lain dari keputusan ini. Sifat pemalu, penakut, dan rasa minder yang dulu begitu lekat mengakar pada diriku perlahan-lahan terkikis. Tuntutan akademis, presentasi di depan kelas, dan tanggung jawab baru sebagai calon intelektual memaksaku untuk berdiri tegak. Aku tidak lagi menjadi Sri yang bersembunyi di balik punggung orang lain.
Semua ini tidak akan pernah terjadi tanpa pengorbanan luar biasa dari suamiku. Mas Giyanto dengan setia bergantian mengasuh Faathir di sela-sela kesibukannya yang kini semakin padat mengajar sebagai guru negara. Sering kali kulihat ia memeriksa tugas para muridnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mendekap Faathir yang tertidur lelap. Ia memastikan dengan seluruh jiwa raganya bahwa impian istrinya ini tidak boleh layu di tengah jalan.
Perjuangan yang berdarah-darah itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2012, bermodalkan selembar ijazah, ilmu yang kudapatkan dari bangku kuliah, dan tekad yang sudah bulat sekeras karang, aku mulai menapaki jejak pengabdianku sendiri. Aku melamar dan akhirnya diterima bekerja sebagai tenaga wiyata bakti—seorang pustakawan di sebuah MTs Negeri.
Hari pertama aku melangkah masuk ke ruangan perpustakaan sekolah itu, langkah kakiku mendadak melambat. Ruangan itu luas, dipenuhi oleh jajaran rak kayu yang berdiri kokoh, memuat ribuan lembar ilmu. Saat hidungku menghirup aroma khas kertas buku dan kayu, dadaku berdesir hebat. Ada rasa haru yang mendesak-desak ingin keluar dari rongga dada.
Ingatanku tiba-tiba melompat jauh ke belakang, berputar mundur ke tahun 1993 di sebuah serambi TPQ yang bersahaja. Di sana, aku melihat bayangan diriku sendiri: seorang anak kecil yang dekil, pemalu, yang hanya bisa berdiri di pojok ruangan memandang kagum pada kehebatan dan kecerdasan orang lain, merasa bahwa dunia yang luas ini bukan miliknya.
Namun kini, garis waktu telah menuntun langkahku pada takdir yang berbeda. Anak kecil yang minder itu telah luruh, tumbuh bertransformasi menjadi seorang wanita dewasa, seorang ibu, dan kini—seorang pustakawan. Aku berdiri di sini bukan lagi sebagai penonton, melainkan sebagai penggerak yang siap mengabdi, siap mendidik generasi bangsa lewat lembaran-lembaran buku yang akan kupelihara dengan seluruh hatiku.
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat saat aku melangkah di jalan setapak menuju rumah. Rasa lelah setelah seharian menata buku seolah menguap begitu saja saat mataku menangkap sebuah pemandangan di ujung jalan. Di teras rumah kami yang sederhana, Mas Giyanto sedang duduk bersila di atas tikar, menemani Faathir yang kini tumbuh menjadi anak yang cerdas, sibuk menggambar sesuatu di lantai dengan krayon warnanya.
Mendengar suara pagar bambu yang beritme, Mas Giyanto mendongak. Ia menatapku yang berjalan mendekat dengan seragam pustakawan yang masih rapi. Detik itu juga, ia menyambutku dengan sebuah senyuman hangat—sebuah senyuman yang persis sama, tanpa berubah sedikit pun, dengan senyuman yang pertama kali kulihat puluhan tahun lalu di bawah temaram lampu petromaks musala tua tempat kami mengaji.
Itu adalah senyuman penuh kebanggaan dari seorang guru ngaji yang dulu menuntun aksara alif-ba-ta-ku, yang kini telah bertransformasi menjadi imam, pelindung, sekaligus saksi hidup dari seluruh lompatan takdir dalam perjalanan hidupku. Kami telah melewati gerbang perubahan itu bersama-sama, dan di sinilah kami sekarang, siap menyambut lembaran-lembaran baru yang tertulis di masa depan.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 6 _ Gerbang Perubahan
Sorry, comment are closed for this post.