Tiga hari dua malam telah terlewati. Di langit malam Claket yang dingin, rembulan menggantung seperti lengkungan senyuman yang indah. Malam terakhir di pondok makrab itu resmi menjadi sebuah kenangan perjuangan yang melelahkan, namun menyisakan kepuasan di dada. Kehidupan sebagai mahasiswa pergerakan akan berlanjut dalam forum-forum rutin setiap minggu, tentunya dengan materi dan ide gagasan yang jauh lebih berwarna.
Rombongan mahasiswa mulai bersiap pulang. Sebagian besar dari mereka naik mobil travel bermuatan dua puluh orang. Namun, karena di tengah acara banyak senior demisioner yang mendadak datang dan ikut menginap tanpa persiapan, kapasitas kendaraan menjadi kacau. Beberapa orang harus rela menumpang kendaraan pribadi.
Sialnya, hanya Lara yang tidak mendapat bagian tebengan. Sebagai anggota baru, ia masih canggung dan belum akrab dengan para senior. Lara berdiri mematung di sudut halaman, bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba, Kak Boy—senior yang kebetulan dulu satu SD dengan kakak kandung Lara—berjalan mendekat.
“Ra, kamu ikut siapa pulangnya?”
“Nggak tahu, Kak. Bingung, hehehe,” jawab Lara jujur sambil tersenyum canggung.
“Lho, emangnya pas berangkat kemarin bareng siapa?”
Belum sempat Lara menjawab, Ghazali tiba-tiba menyela dengan motor Vixion-nya yang ber-bodi agresif. “Sini, Ra! Aku bonceng pakai motorku aja!”
Lara melirik motor kopling tinggi itu, lalu menggeleng cepat. “Nggak, ah. Aneh,” tolak Lara telak, membuat teman-temannya tertawa.
Kak Boy menoleh ke sekeliling, lalu matanya tertuju pada sesosok pria yang sedang memanaskan mesin motornya. “Yaudah, sama Albas aja. Dia sendirian juga itu. Bas! Tolong, ya, jagain adek temenku ini!” seru Kak Boy melempar tanggung jawab.
Pria bernama Albas itu menoleh. Lara tersentak. Hah? Bareng dia?
Ingatan Lara langsung berputar pada malam pertama makrab. Pria itulah yang melakukan orasi berapi-api hingga sempat terbata-bata karena kehadirannya. Namun, tidak ada alasan lagi bagi Lara untuk menolak. Tidak mungkin juga ia ditinggal sendirian di pondok pegunungan ini.
Dengan rasa malu dan ragu yang berkecamuk, Lara mendekati Albas. Pria itu menunggangi motor matic sederhana berwarna merah. Kondisinya penuh goresan dan terselimuti lumpur kering, seperti habis menerjang genangan air hujan di tanah berbatu. Albas tidak menoleh ataupun mengajak bicara. Dia hanya menyodorkan helm dengan gestur sopan, persis seperti driver ojek online. Lara menerimanya dalam diam. Bahkan naik ojek online saja biasanya masih ada obrolan dasar seperti, “Sesuai aplikasi ya, Mbak?” Tapi pria di depannya ini membisu total. Motor pun mulai melaju membelah jalanan.
Malam yang dingin menemani perjalanan pulang mereka bersama rombongan Mahasiswa Pergerakan Islam Indonesia. Geliat semangat belum padam; sebagian mahasiswa membawa bendera merah putih, dan yang lain mengikatkan atribut simbol pergerakan di leher mereka hingga berkibar ditiup angin.
Lara hanya duduk kaku, mematung di jok belakang. Ia sengaja menjaga jarak kedekatan fisik karena takut menjadi beban bagi Albas sepanjang perjalanan. Namun, padatnya lalu lintas kota lambat laun membuat rombongan mereka terbelah dan terpisah dari travel utama.
Suasana kian menantang saat awan hitam mulai menumpahkan tangisnya. Gerimis membasahi pakaian Lara dan jaket beludru milik Albas. Hujan memang tidak terlalu deras, namun angin malam yang menusuk membuat tubuh Lara mulai menggigil.
Menyadari hawa dingin yang menyerang boncengannya, Albas melirik dari kaca spion. “Ra, mau pakai jaketku? Atau masukkan tanganmu ke kantung tas di tengah ini aja biar agak anget,” tawar Albas setengah berteriak menembus angin.
Lara yang canggung refleks menggeleng. “Nggak usah, Kak. Nggak apa-apa.”
Albas terdiam sejenak, lalu mencoba mencari topik untuk memecah kekakuan di antara mereka. “Ra, Boy sama kakakmu dulu teman dekat, kah?”
“Nggak tahu, Kak. Kayaknya biasa aja. Lagian Kak Boy itu cuma tetangga jauh, beda RT aja,” jawab Lara, mulai membuka suara.
“Oh, gitu. Berarti kamu kenal Boy sudah lama dong?”
“Nggak juga. Baru kenal pas masuk organisasi kampus ini, kok.”
Albas terkekeh pelan di balik helmnya. “Wah… berarti emang takdir, Ra. Teman lama kakakmu ternyata jadi senior kampus di satu fakultas. Jodoh kali, ya?”
Mata Lara membelalak. “Apa? Jodoh? Nggak, ya! Aku nggak ada perasaan apa-apa sama Kak Boy!” seru Lara panik.
“Hiks, hiks… iya, santai… santai aja, Ra,” Albas tertawa renyah, menikmati reaksi panik Lara.
Mendengar tawa itu, sudut bibir Lara diam-diam ikut terangkat. Aku rasa Kak Albas hanya ingin mencairkan suasana selama perjalanan, karena dari tadi aku cuma membeku dan terdiam, batin Lara hangat.
Perjalanan dari dataran tinggi Claket menuju wilayah kampus di Surabaya memakan waktu kurang lebih dua jam. Karena hujan dan kondisi lalu lintas yang ramai, Albas menurunkan kecepatannya menjadi 40 km/jam di jalur bebas hambatan, berkendara dengan sangat hati-hati.
Tiba-tiba, di tengah deru mesin motor dan cipratan air, Albas mulai bersenandung. Suaranya yang bariton menyanyikan lagu pergerakan yang sangat populer di kalangan aktivis mahasiswa:
“Di sini negeri kami… tempat padi terhampar… samudranya kaya raya… tanah kami subur, Tuan…”
Lara tertegun mendengarnya. Albas terus bernyanyi, suaranya naik satu oktav saat memasuki bait selanjutnya:
“Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah ruah… anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja… mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar… Bunda, relakan darah juang kami… untuk membebaskan rakyat…”
Lagu berjudul Darah Juang karya John Tobing itu mengalun membelah rintik hujan malam. Di tengah-tengah nyanyian lantang itu, Lara akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa kecil, lalu tawa itu lepas begitu saja.
Lara benar-benar tidak menyangka. Pria yang kemarin malam berorasi dengan begitu garang, berwibawa, dan membara di depan para Maba, ternyata bisa sekocak dan senyeleneh ini ketika sedang berdua. Sisi lain Albas yang tak terduga ini sukses membuat perjalanan panjang yang dingin berubah menjadi terasa seru dan… hangat.
Albas melirik spion lagi, ikut tersenyum. “Gitu dong, ketawa. Dari tadi diem-diem bae kayak patung.”
“Habisnya Kak Albas lucu banget! Suaranya fales tapi masih pede bernyanyi lantang di jalanan!” ledek Lara di sela tawanya.
Albas mendengkus bangga. “Wah, ini sih nggak seberapa, Ra. Dulu aku bahkan pernah berorasi sambil bernyanyi di sepanjang konvoi mahasiswa bersama para aktivis dari kampus-kampus besar se-Surabaya.”
“Ngapain, Kak? Demo?”
“Iya, demo di depan gedung pemerintah legislatif. Kita ini akademisi yang menjunjung tinggi keadilan dan kebebasan, Ra. Kalau ada yang menodai demokrasi, kita harus menyingsingkan baju untuk membela rakyat,” ucap Albas dengan nada bicara yang mendadak kembali tegas dan berwibawa.
Lara terdiam sesaat, mengagumi idealisme pria di depannya. “Aku nggak tahu banyak soal membela rakyat secara politik, Kak. Yang bisa kulakukan sekarang cuma membantu masyarakat sesama muslim melalui jalur dakwah di TPQ.”
Albas mengangguk paham dari balik helmnya. “Ya memang jalan dakwah dan perjuangan tiap orang itu beda-beda, Ra. Nggak apa-apa. Yang penting kita bisa saling menghormati tanpa harus mencaci. Oh iya, omong-omong rumah kamu di blok mana? Seberapa jauh dari rumahnya Boy?”
“Berhenti di pertigaan depan pos ronda aja, Kak,” tunjuk Lara saat motor mereka mulai memasuki gapura perkampungan rumahnya.
“Oh, oke, oke. Siap dimengerti!”
Motor matic merah itu perlahan melambat dan berhenti tepat di bawah lampu pertigaan pos ronda yang temaram. Lara turun dari motor, melepas helm, dan menyerahkannya kembali kepada Albas.
Saat pandangan mereka bertemu di bawah sisa gerimis tipis malam itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dada Lara. Pria di depannya ini bukan orang asing yang menggantungnya seperti Wahyu, bukan pula pria populer yang membuatnya minder seperti Roy. Albas terasa nyata, idealis, dan menyenangkan. Detik itu juga, benteng pertahanan yang Lara bangun bertahun-tahun, mulai retak secara sukarela demi memberi ruang bagi nama baru: Albas.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 6 – Gerimis Yang Hangat
Sorry, comment are closed for this post.