VII F merupakan kelas terakhir yang akan dimasuki Kaisya. Hembusan nafas keluar begitu berat. Bagaimana tidak, di kelas tersebut ada seorang anak dari lelaki yang begitu ia sukai dulu. Dan secara jelas Gian memintanya untuk menjaga Mikayla seperti pada anaknya sendiri. Satu persatu ia mengabsen siswanya sebagai awal pembelajaran. Setelah semua selesai, Kaisya mulai memberikan beberapa materi ajar hingga menentukan kelompok belajar. Iya, dalam mata pelajaran IPA setiap anak harus berkelompok karena bukan hanya materi biasa saja tetapi ada praktek dan projek yang harus diselesaikan bersama.
Semua sudah dalam kelompok masing-masing. Mereka mulai mengukur setiap objek yang sudah ditentukan dalam lembar observasi. Kaisya mengamati sekaligus memberikan point pada setiap siswa yang aktif terlebih dahulu. Disela pengerjaan tersebut, ia tampak mengamati Mikayla terlihat sedikit tidak ceria hari ini. Apa mungkin karena kejadian kemarin? Kaisya menghembuskan nafasnya begitu berat teringat ucapan Gian tadi siang.
“Kay, aku mohon sama kamu. Tolong jaga Kayla.”
“Maksud kamu?” tanya Kaisya kala itu.
“Kayla ditinggal pergi sama ibu kandungnya sejak kecil. Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Aku cuma ingin ada seseorang yang bisa membuatnya merasa diperhatikan, meski hanya saat di sekolah.”
Kaisya terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Gian, aku memang wali kelasnya. Semua anak di VII F adalah tanggung jawabku. Bukan hanya Mikayla.”
“Aku tahu.” Gian tersenyum tipis. “Aku gak minta lebih. Aku hanya merasa lebih tenang kalau yang mendampinginya adalah kamu.”
“Aku akan memperlakukan Mikayla sama seperti siswa yang lain. Itu yang bisa aku janjikan.”
“Itu saja sudah lebih dari cukup.”
Ingatan itu membuat dada Kaisya kembali sesak. Ia segera mengusir pikirannya dan memulai pembelajaran seperti biasa.
Kaisya melihat ke arah Putra yang tengah bermain sendiri bersama mainan. Sosok penghangat di keluarga kecilnya. Apakah keputusan itu sudah benar ataukah akan menjadi bencana bagi rumah tangganya jika Ridho tahu akan hal tersebut. Kalaulah ia belum menikah tentu akan sangat senang bahkan menjadi ibu sambung bagi Mikayla pun akan ia terima. Tidak perlu harus bersembunyi untuk menghindar dari suami jika Gian menghubunginya.
“Bu,” seru salah satu siswa menghalau lamunanku.
“Iya, ada apa?” tanya Kaisya.
“Prakteknya yang sudah selesai apa dikumpulkan?” tanyanya.
“Nanti ya. Kalian presentasikan terlebih dahulu baru dikumpulkan. Kita tunggu dari kelompok yang lain,” kata Kaisya.
“Baik, Bu,” jawabnya.
“Untuk kelompok yang lain apakah sudah selesai?” tanya Kaisya seraya berdiri memperhatikan setiap kelompok. “Jika semuanya sudah kita akan melakukan presentasi,” lanjutnya.
“Sudah Bu,” ucap seluruh kelompok.
Karena telah selesai mereka melakukan presentasi pada kelompok. Hingga semua selesai dan laporannya dikumpulkan oleh ketuanya masing-masing.
“Oke. Kelas hari ini dicukupkan sampai disini. Untuk pertemuan selanjutnya kalian terlebih dahulu baca beberapa materi yang sudah ada di buku paket atau boleh mencarinya di internet. Sampai bertemu minggu depan. Sekarang ada kegiatan keagamaan jadi jika pulang terlebih dahulu dianggap pulang tidak sesuai jam. Assalamu’alaikum.” Kaisya beranjak pergi meninggalkan kelasnya. Namun seperti biasa, ada siswa yang memanggilnya.
“Bu, tadi Haris berbuat ulah lagi,” ucap Okki, seorang KM di kelas tersebut.
“Ulah apa?” tanya Kaisya.
“Mikayla dijorokin Bu sampai lututnya berdarah,” ucap Okki.
‘Pantas saja wajahnya muram tak terlihat bahagia. Ternyata dibully lagi sama Haris,’ batin Kaisya.
“Boleh panggil Mikayla keluar sebentar?” pinta Kaisya pada Okki.
“Baik, Bu,” ucap Okki, ia menuju ke kelasnya memanggil Mikayla.
Kaisya duduk di depan kelasnya karena memang ada tempat duduk disana.
“Ibu memanggil saya?” Mikayla sudah berada di depannya.
“Mikayla bisa ikut Ibu sebentar?” tanya Kaisya.
“Memangnya ada apa ya, Bu?” tanya Mikayla terlihat wajahnya seperti ada rasa takut.
“Gak usah tegang seperti itu. Ibu hanya ingin mengobrol sebentar,” kata Kaisya.
“Iya, Bu,” balas Mikayla.
Gadis manis itu kemudian mengikuti kemana perginya Kaisya. Kepergian Mikayla sudah meminta izin pada guru keagamaannya ketika berpapasan. Tiba ditempat yang memang tidak terlalu jauh dari kelas dan jarang guru berlalu lalang ke arah tersebut. Iya, itu adalah kelas delapan yang memang berada di lantai atas. Kelas delapan dan sembilan sudah pada pulang karena tidak ada kegiatan keagamaan pada minggu pertama.
“Kayla, maaf. Ada yang ingin Ibu tanyakan,” ucap Kaisya setelah menyuruhnya duduk.
“Iya, Bu tidak apa-apa. Memangnya ada apa ya Bu?” tanya Mikayla.
“Tadi Ibu dapat kabar katanya Haris berbuat ulah lagi. Benar?” tanya Kaisya.
“Iya, Bu,” ucap Mikayla. Raut wajahnya terlihat begitu sedih.
“Kenapa tidak langsung laporan. Coba Ibu lihat kakinya yang berdarah,” pinta Kaisya.
“Gak apa-apa, Bu. Lukanya sudah kering. Tadi sudah di plester juga,” ucap Mikayla.
“Ibu ingin melihatnya. Boleh kan? Maaf bukan Ibu lancang. Hanya saja jika terjadi sesuatu pasti ibu juga yang akan ditanyakan sama ayahnya. Ibu bertanggung jawab sebagai Wali Kelas,” ucap Kaisya.
“Baiklah, Bu,” kata Mikayla. Ia memperlihatkan lukanya pada Kaisya. Lutut dengan luka besar namun plester berukuran kecil sangat tidak cukup menutupi.
“Ya Allah, Kayla. Lukanya besar sekali. Kamu kenapa pakai plester seperti ini? Harusnya pakai perban,” ucap Kaisya terus memperhatikan luka tersebut.
“Gak sebesar luka dihati Kayla, Bu,” lirih Mikayla sontak membuat Kaisya termangu.
“Ibu telepon Ayah ya buat jemput,” ucap Kaisya.
“Jangan, Bu!” cegah Mikayla.
“Kenapa?” tanya Kaisya. Kemarin saja meminta ingin pulang saat di ejek. Tapi ini luka besar justru tidak ingin sang ayah tahu. Sungguh membuat Kaisya bingung.
“Ibu, kaki kakak berdarah,” ucap Putra menunjuk pada darah yang mengalir pada lutut Mikayla.
“Iya, sayang,” ucap Kaisya pada putranya. “Sudah ya kamu jangan ngeyel. Kita ke UKS kemudian pulang. Ibu akan telepon Ayah!” seru Kaisya.
“Jangan, Bu!” cegah Mikayla keras kepala.
“Tidak ada bantahan. Kamu harus nurut sekarang. Ayo kita ke UKS obati lukanya dengan benar,” kata Kaisya.
Akhirnya, Mikayla menuruti apa yang dikatakan Wali Kelasnya. Meskipun dengan tertatih, Mikayla berjalan mengikuti Kaisya dari belakang. Bukan tidak ingin memapahnya namun Putra saat ini tengah ingin digendong. Diperjalanan menuju UKS, bertemu dengan petugas PMR. Lantas Kaisya meminta tolong untuk memapah anak didiknya tersebut hingga mendudukkannya di risbang.
“Putra, sayang. Duduk dulu di sini ya. Ibu mau mengobati luka Kakak. Kasihan kakinya berdarah,” pinta Kaisya pada sang anak.
“Din, ada alkohol, perban sama plester? Ibu minta!” pinta Kaisya pada petugas PMR tersebut.
“Ada Bu,” ucap Dini kemudian mengambil kotak berisi alat yang disebutkan Kaisya.
Putra turun dari gendongan kemudian duduk di risbang dan memperhatikan sang ibu yang mengobati Mikayla. Setelah selesai, Kaisya segera menghubungi Gian, mengabari jika anaknya terluka. Sedangkan Dini telah keluar ruangan setelah izin pergi ke kantin.
“Mengapa Ibu melakukan ini?” tanya Mikayla.
“Kamu anaknya Ibu di sekolah jadi sewajarnya melakukan ini,” ucap Kaisya duduk di antara Putra dan Mikayla.
“Kalau Ibu bukan Wali Kelas saya, apakah akan melakukan hal sama?” Mikayla seakan menguji Kaisya.
“Mau Wali Kelas kamu atau bukan jika ada siswa yang terluka apalagi terlihat, Ibu akan melakukan hal yang sama,” kata Kaisya yang masih mengobati.
“Ibu membuat saya lebih terluka,” ucap Mikayla.
“Maksudnya?” Kaisya mengerutkan kening tidak mengerti makna dari ucapan Mikayla.
“Ibu menyukai ayah?” tanya Mikayla sontak membuat gerakan Kaisya berhenti.
“Tidak ada hubungannya, Mikayla. Ibu mengobati lukamu dengan menyukai Ayahmu,” ucap Kaisya lantas ia kembali melakukan aktivitas memperban luka gadis dihadapannya.
“Tapi, Ayah menyukai Ibu. Dan saya bisa lihat kalau Ibu pun sama pada Ayah,” kata Mikayla membuat Kaisya menghembuskan nafas berat.
“Tidak perlu membicarakan hal itu. Bukan urusan anak sekolah,” jawab Kaisya berusaha tegas, meski suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Karena Ibu sudah punya suami, begitu?” tanya Mikayla lagi. Tatapannya begitu tajam namun tetap menyimpan kesedihan yang mendalam.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika
Comment Closed: Bab 6. Luka Mikayla
Sorry, comment are closed for this post.