BAB 6: TARIAN DI ATAS ES
Tiga hari setelah kejar-kejaran itu, istana masih diselimuti ketegangan. Penjaga dikerahkan menjadi dua kali lipat untuk berjaga di setiap sudut.
Tiba-tiba, undangan disebar ke seluruh pelayan.
“Malam ini, pesta topeng. Raja mengundang seluruh staf istana hadir
untuk menari di Aula Es.”
Jemari Seraphina terasa dingin ketika menggenggam kertas tersebut.
“Aula Es… tempat kita pertama kali berdansa,” bisiknya.
“Bu, jangan pergi!” ucap Lyra, menggenggam ujung jubah Seraphina. “Itu jebakan.”
Leon mengasah pisau kayunya. “Aku ikut. Nanti aku akan bersembunyi di balik pilar.”
Seraphina menggeleng.
“Tidak.”
Ia mengenakan gaun pelayan berwarna biru pucat. Sebuah topeng es menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang menyimpan kewaspadaan.
Seraphina merapikan ujung jubahnya.
“Kalau aku tidak datang, Selene makin curiga.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan Raja…”
Kalimat itu menggantung di udara.
Kemudian ia menundukkan wajah di balik topeng es, seolah ada sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
AULA ES
Lantainya dari es murni. Lilin biru menggantung.
Musik harpa pelan. Semua orang datang mengenakan topeng.
Di singgasana, Alistair duduk sendirian. Berbeda dari semua orang di ruangan itu, ia satu-satunya yang tidak mengenakan topeng.
Tatapannya tenang, tetapi sorot matanya tidak pernah benar-benar diam.
Matanya menyapu kerumunan. Mencari.
“Nyonya Salju,” suara pelayan mengumumkan.
Semua menoleh.
Seraphina masuk. Langkahnya hati-hati di atas es.
Jantung Alistair berhenti sedetik.
Bau salju. Cara dia menunduk. Cara dia memegang ujung gaunnya.
“Persis.” gumam Alistair dalam hati.
“Kemari,” perintah Raja.
Seraphina menahan napas, lalu melangkah mendekat. Begitu tiba di hadapan singgasana, ia segera berlutut.
“Yang Mulia.”
Alistair bangkit dari singgasananya.
Untuk sesaat, tak ada yang bergerak. Bahkan alunan harpa seakan terdengar semakin jauh.
Alistair mengulurkan tangannya kepada Seraphina.
“Menari denganku.”
Seluruh ruangan menahan napas.
Di salah satu sudut, Selene mencengkeram gelas di tangannya. Jemarinya mengerat begitu kuat hingga terdengar suara retakan halus.
Seraphina menatap tangan yang terulur di hadapannya. Ia tidak segera menyambutnya.
“Yang Mulia…” bisiknya, hampir tak terdengar. “Saya hanya pelayan.”
Alistair menatapnya lekat.
“Dan aku Raja,” jawabnya pelan.
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak perlu.
“Jadi, ikuti saja.”
Jemari Alistair menggenggam tangan Seraphina dan menariknya ke tengah lantai es.
Dan, di tengah ratusan wajah yang tersembunyi di balik topeng, hanya satu pasang mata yang tetap terbuka tanpa penyamaran—mata sang Raja, yang sejak tadi mencari dirinya.
Musik mengalun lembut.
Tangan Alistair menggenggam tangan Seraphina.
Hangat.
Tangan satunya melingkar lembut di pinggangnya.
Mereka berputar.
Es di bawah kaki mereka tidak retak. Sebaliknya, permukaannya berpendar. Setiap langkah yang mereka buat, garis-garis putih menjalar perlahan membentuk kelopak-kelopak kecil seperti Bunga salju.
“Kenapa kau takut padaku?” tanya Alistair lirih.
Seraphina menunduk. “Karena Yang Mulia adalah Raja.”
“Bukan itu.”
Alistair menatap mata Seraphina di balik topeng.
“Sepertinya, kau takut aku mengenalimu.”
Seraphina tercekat. “Saya tidak mengerti maksud anda, Yang Mulia.”
Alistair berhenti menari.
Tangannya terangkat. Ia mengangkat dagu Seraphina perlahan dengan dua jari, memaksa Seraphina menatapnya.
Topeng es yang menutupi separuh wajah Seraphina mulai basah.
Entah karena hembusan napasnya yang hangat.
Atau karena air mata yang tak sempat ia tahan.
Alistair menatapnya lama.
“Delapan tahun lalu,” bisiknya, “istriku suka menari di sini.”
Seraphina membeku.
“Dia bilang…” Suara Alistair melemah, seolah sedang menyentuh kenangan yang terlalu lama terkubur. “Kalau dia bahagia, es akan berbunga.”
Seraphina perlahan menunduk.
Benar saja, bunga-bunga es kembali bermekaran di sekitar kaki mereka.
Satu.
Lalu, dua.
Kemudian semakin banyak, memenuhi lantai di sekeliling mereka.
Tiba-tiba Selene berdiri dari tempat duduknya.
“CUKUP!”
Semua terdiam.
“Yang Mulia,” kata Selene dengan senyum manis beracun. “Pelayan ini sepertinya mulai lancang, membiarkan Yang Mulia menyentuhnya.”
Alistair tidak melepas tangan Seraphina. “Lancang? Atau, jujur?”
Dia menoleh ke seluruh ruangan.
“Mulai malam ini, Nyonya Salju akan menjadi pelayan pribadiku.”
Geger.
Selene memecahkan gelasnya.
Seraphina menunduk. Jantungnya sakit.
Ini bukan rencana. Ini lebih berbahaya dari racun.
Saat ia mundur, lengan bajunya tersingkap sedikit.
Bekas luka. Bentuk bulan sabit. Luka yang sama, yang Alistair buat tanpa sengaja sembilan tahun lalu saat latihan pedang.
Mata Alistair membelalak.
Nafasnya tercekat.
Tapi Seraphina sudah buru-buru keluar, menarik Leon dan Lyra yang mengintip.
Di belakangnya, Alistair berbisik:
“Seraphina?”
—
DI KAMAR
Seraphina mengunci pintu. Tubuhnya gemetar.
“Bu, dia tahu?” tanya Leon panik.
“Tidak. Belum.” Seraphina melepas topengnya. Air matanya jatuh.
“Tapi dia hampir.”
Dia melihat ke tangannya. Bekas luka bulan sabit itu berdenyut.
Di luar, salju turun lebih lebat.
Dan di singgasana, Alistair mengepalkan tangannya.
Bekas luka itu… dia ingat.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 6 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.