Awal tahun 2012 menjadi salah satu tonggak sejarah yang paling indah sekaligus berkesan dalam seluruh lembaran perjalanan hidup kami. Setelah melewati tahun-tahun panjang penuh riak perjuangan, buah dari kesabaran yang tak bertepi dan manajemen hidup yang bersahaja mulai menampakkan wujudnya yang nyata. Mas Giyanto yang semakin mapan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan aku yang baru saja meniti karier sebagai pustakawan di MTs Negeri, mulai merasakan bagaimana cara Allah membalas setiap peluh dan air mata yang dulu kami luruhkan dalam diam.
Atas izin dan rida Allah SWT, kami akhirnya mampu mendirikan sebuah rumah tinggal yang permanen. Rumah berdinding papan yang dulu menyimpan sejuta cerita kejutan dapur, kini telah berganti menjadi bangunan beton yang jauh lebih kokoh dan anggun. Rumah baru ini menjadi tempat bernaung yang sangat nyaman bagi keluarga kecil kami, terutama untuk mendukung tumbuh kembang Faathir yang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi dunia.
Tidak berhenti sampai di situ, kelancaran rezeki beserta barakahnya yang mengalir deras juga membawa kami pada pencapaian lain yang tak disangka-sangka: kami mampu membeli sebuah mobil Mazda. Sebuah pencapaian yang terasa sangat mewah, yang bahkan tidak pernah berani kuimpikan saat aku masih menjadi anak kecil pemalu yang duduk bersila di serambi TPQ puluhan tahun lalu. Rasa aman, ketenteraman, dan kecukupan ini berkali-kali membuat kami bersujud syukur di atas sajadah, menyadari dengan sedalam-dalamnya betapa luas dan tak bertepinya samudera rida Allah jika hamba-Nya mau bersabar menerima setiap ketetapan.
Namun, roda kehidupan terus berputar. Ujian keimanan yang sesungguhnya dan cerita yang paling luar biasa justru baru dimulai ketika dinding-dinding rumah baru kami belum genap satu tahun ditempati.
Semua bermula di pertengahan tahun 2012, saat angin malam berembus lembut membawa ketenangan. Di ruang tengah rumah baru kami, Mas Giyanto tiba-tiba mengutarakan sebuah kerinduan yang ternyata sudah lama dipendamnya hingga telanjur membuncah di dalam dada. Bukan kerinduan pada kemewahan duniawi yang lebih berkilau, melainkan sebuah kerinduan spiritual yang teramat dalam pada Baitullah. Jiwanya meronta, merindukan panggilan suci. Dia ingin menunaikan ibadah haji.
“Sri,” ujar Mas Giyanto suatu malam, memecah keheningan. Tatapan matanya begitu serius, namun memancarkan riak keyakinan yang mengakar sangat kuat di dalam jiwanya. “Mas ingin sekali berangkat haji tahun ini. Mas merasa panggilan itu sudah sangat kuat menggema di hati. Mas ingin bertamu ke rumah Allah.”
Aku tertegun sejenak, menghentikan aktivitas jemariku. Ada debar halus di dada yang membuatku sempat ragu. “Tapi Mas, kalau kita mendaftar haji reguler sekarang, antreannya bisa sampai belasan bahkan puluhan tahun. Lagi pula, tabungan kita pun baru saja habis terserap untuk pembangunan rumah baru ini dan membeli mobil Mazda. Dari mana kita bisa mendapatkan dananya dalam waktu sedekat ini?”
Mas Giyanto tersenyum teduh. Senyuman khas guru ngajiku yang sejak dulu selalu berhasil menenangkan badai keraguan di dalam kepalaku. Ia menggeser duduknya, menatapku dengan kehangatan seorang imam.
“Ada jalur Haji Plus, Sri. Kalau Allah yang memanggil, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mas punya keyakinan penuh pada Allah. Jika kita mendahulukan panggilan-Nya di atas segala urusan dunia, Dia sendiri yang akan mencukupkan jalannya dari arah yang tidak disangka-sangka,” ucapnya tenang namun bertenaga.
Mendengar ketegasan tekad dan ketauhidan suamiku yang begitu menghunjam, luruhlah segala benteng keraguan di dalam hatiku. Sebagai seorang istri, aku tahu betul bahwa secara kalkulasi matematika manusia, mendaftar Haji Plus yang biayanya selangit dalam kurun waktu hitungan bulan adalah hal yang mustahil bagi ukuran finansial kami yang baru saja merangkak stabil. Namun, Mas Giyanto sekali lagi mengajarkanku tentang “matematika Allah”—sebuah hitungan gaib yang selalu melampaui logika dan batasan akal manusia.
Demi memenuhi panggilan suci yang telah mengetuk pintu hati sang imam, sebuah keputusan besar dan berani harus segera diambil. Kami harus rela melepas mobil Mazda yang baru saja beberapa bulan terparkir manis di halaman rumah kami. Tanpa ada rasa berat hati, mobil itu kami jual. Seluruh uang hasil penjualannya, ditambah dengan sisa-sisa tabungan terakhir yang kami kumpulkan dengan peluh keringat, langsung dialokasikan seluruhnya untuk mendaftar jalur Haji Plus.
Di sinilah keajaiban itu bermula, sebuah pembuktian nyata bahwa pertolongan Allah itu begitu dekat bagi mereka yang bertawakal. Proses administrasi berjalan dengan sangat cepat dan mulus, seolah-olah seisi langit dan bumi ikut bahu-membahu membukakan jalan benderang bagi niat suci Mas Giyanto. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah proses pendaftaran dan pelunasan—sebuah durasi yang sangat singkat, langka, dan hampir mustahil untuk urusan birokrasi keberangkatan haji—sebuah keajaiban tertulis. Nama Mas Giyanto dinyatakan lolos dan masuk ke dalam daftar jemaah yang berhak berangkat pada tahun itu juga.
Tepat pada bulan Oktober 2012, musim haji yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba.
Hari keberangkatan itu dipenuhi oleh tangis haru yang tumpah ruah bagai air bah di halaman rumah baru kami. Tetangga sekitar, kerabat dekat, sanak saudara, hingga teman-teman sejawat dari MTs Negeri serta para pengurus TPQ berduyun-duyun datang memadati pekarangan untuk melepas kepergian Mas Giyanto. Gema talbiyah berkumandang lirih di antara bisikan doa-doa keselamatan.
Aku memeluk tubuh suamiku dengan air mata yang mengalir deras . Ada rasa bangga yang luar biasa, rasa haru, sekaligus rasa tak karuan yang membuncah di dalam dada karena harus melepasnya pergi ke tanah suci sendirian. Di sudut mata, aku sempat melihat ke arah pekarangan rumah. Area yang biasanya diisi oleh mobil Mazda kami kini tampak kosong melompong.
Namun, demi Allah, pemandangan itu sama sekali tidak menyisakan secuil pun rasa sesal atau kehilangan di dalam hatiku. Mobil itu hanyalah titipan duniawi yang bisa usang termakan zaman, sedangkan kesempatan untuk bersujud secara langsung di depan Kakbah melalui keyakinan penuh kepada Sang Pencipta adalah sebuah anugerah tertinggi, sebuah kemewahan batin yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan materi atau lembaran uang berapa pun jumlahnya.
Selama berminggu-minggu di sepanjang bulan Oktober itu, rumah baru kami terasa begitu sepi dan lengang tanpa kehadiran tawa cerianya. Namun, di balik kesunyian itu, setiap jengkal ruangan di rumah ini dipenuhi oleh aura zikir dan doa yang sangat kental. Setiap malam tiba, setelah menunaikan salat, aku dan Faathir—yang kini sudah semakin besar dan mulai mengerti arti kerinduan—duduk bersama di atas sajadah. Kami tak pernah putus melantunkan doa-doa keselamatan, memohon agar belahan jiwaku senantiasa dijaga oleh-Nya, diberikan kesehatan, dan kelak kembali ke rumah ini membawa predikat sebagai haji yang mabrur. Lembaran baru kehidupan kami telah dimulai, ditandai dengan ketukan pintu keajaiban dari Baitullah.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 7 _ Keajaiban Baitullah
Sorry, comment are closed for this post.