Aku tidak pernah benar-benar mengerti jalan pikiran seorang aktivis. Dulu, aku mengira itu hanyalah bagian dari fanatisme demokrasi. Kini, sebagai mahasiswa, aku pun masih dalam proses belajar untuk memahami bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, jalan aktivis yang kupilih berbeda. Aku tidak pandai bergerak di dalam kerumunan massa yang berteriak lantang membela rakyat tertindas di jalanan. Pikir Lara sejenak.
Kerap kali melihat teman-teman organisasi beraksi di aspal panas, membuat forum kajian yang pelik, hingga berdiri di lampu merah untuk mengumpulkan donasi bencana alam, Lara hanya bisa mengagumi dari jauh. Semangat mereka yang membara di bawah terik matahari Surabaya selalu berhasil membuat Lara takjub.
Namun, siang ini Lara hanya bisa berdiri beberapa menit di lokasi aksi. Ponsel di saku jaketnya berdering nyaring—sebuah panggilan darurat dari Mama. Tanpa membuang waktu, Lara bergegas pamit meninggalkan lokasi, memacu motornya demi memenuhi panggilan sang ibu.
Di tengah perjalanan, langit Surabaya kembali menumpahkan hujan deras. Lara terpaksa menepi, berteduh di teras sebuah toko yang sedang tutup. Sifatnya yang sering ceroboh membuatnya lagi-lagi lupa membawa mantel hujan; hanya tas ranselnya yang beruntung memiliki pelindung antiair.
Sembari menatap rintik air yang jatuh membasahi wajah dan pelupuk matanya, Lara merapatkan jaketnya yang mulai lembap. Ia menghela napas panjang, lalu memanjatkan sebuah doa di dalam hati.
Ya Allah, di waktu yang mustajab ini, aku harap kisah cintaku kelak akan seru dan indah. Aku tidak akan menyesalinya atau mengakhirinya dengan mudah, karena aku yakin Engkau adalah Seniman Alam Semesta dengan mahakarya terbaik-Mu. Aamiin.
Doa itulah yang senantiasa Lara rapalkan di kala waktu-waktu mustajab hadir—di sepertiga malam, saat kehujanan, dan saat ia sedang bergegas memenuhi panggilan orang tua. Bukankah hidup ini murni untuk beribadah? Dan bagi Lara, rida Allah adalah rida orang tua. Kepatuhan kepada Mama dan Ayah adalah mutlak, walau terkadang terasa berat di pundaknya.
Begitu gerimis mulai reda, Lara kembali melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Saat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, sang adik, Syifa, langsung menyambutnya dengan wajah ditekuk.
“Kak Lara nih! Tahu nggak, tadi Mama nyariin Kakak sambil marah-marah. Selalu aku yang jadi sasaran kalau Kakak lagi nggak di rumah,” keluh Syifa menumpahkan kekesalannya.
Lara meringis, mencoba membela diri. “Kadang Mama juga gitu ke Kakak, Fa. Pas kamu yang lagi keluar, Kakak juga yang kena omel. Adil, kan?”
“Tapi pas Kakak nyampai rumah, Mama nggak pernah tuh ngomelin Kakak karena datang telat! Nggak adil banget. Aku selalu diomelin pas baru menginjakkan kaki di lantai rumah!”
Lara terkekeh, menepuk bahu adiknya lembut. “Makanya, pas di jalan tuh baca shalawat sambil mikirin kekhawatiran Mama. Biar hati kamu tenang, dan energi tenang itu sampai ke Mama.”
Bagi Lara, bershalawat saat takut, sedih, atau gelisah adalah mantra terbaik yang selalu membawa kedamaian.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah, Mama mendadak mengajak Lara untuk menghadiri acara pernikahan anak tetangga. Belum sempat Lara bernapas lega, Mama memberikan kejutan lain: Lara diminta mendadak menjadi pembawa acara (MC) saat kedua pengantin menaiki pelaminan.
Sontak, insting organisasinya langsung bekerja. Lara bergegas bersiap, merapikan pakaian, dan mencari informasi terkait susunan acara kepada pihak keluarga. Dunia Public Speaking dan MC adalah keahlian yang selalu Lara asah sejak kecil. Mama sendiri terkadang masih tidak menyangka bahwa putri bungsunya ini memiliki keberanian mental yang luar biasa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.
Acara berlangsung sukses dan khidmat berkat panduan suara Lara yang lugas namun anggun. Setelah melayani beberapa tamu, Lara duduk di sebelah Mamanya, meneguk air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Melihat dekorasi pelaminan yang megah, pikiran Lara mendadak melayang pada sosok Albas. Beberapa hari lalu, rasa penasarannya menuntun Lara untuk menelusuri latar belakang pria itu. Lewat akun media sosial Albas, Lara menemukan fakta yang cukup mengejutkan: Albas bukan asli Surabaya. Pria itu lahir dan besar di Semarang.
Fakta itu sempat menjadi beban baru di kepala Lara. Jarak Surabaya-Semarang bukanlah jarak yang dekat. Ditambah lagi, ada sebuah aturan tak tertulis yang sangat ketat di keluarganya: semua anak Mama dan Ayah harus menikah dengan orang yang rumahnya tidak jauh dari Surabaya. Ketiga kakaknya telah membuktikan aturan itu.
Lara memutar-mutar botol air mineral di tangannya, lalu memberanikan diri untuk memecah kesunyian. “Mah, menantunya Bu Raya itu dari Jawa Tengah, lho. Kalau nggak salah orang Jogja.”
Mama hanya mengangguk pelan, ikut memperhatikan pelaminan.
“Seumpama nih, Mah…” Lara menjeda kalimatnya, jantungnya berdebar agak cepat. “Lara nanti nikah sama laki-laki yang asalnya dari luar Surabaya… boleh nggak?”
Mama menoleh, menatap wajah putri bungsunya lekat-lekat. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah paruh baya itu.
“Ya nggak apa-apa kalau memang jodohmu dari sana, Ra. Kamu itu memang anak yang unik. Mama tidak akan heran jika takdirmu nanti berbeda dari kakak-kakakmu yang jodohnya nggak boleh jauh dari Surabaya,” jawab Mama dengan suara yang teramat lembut [health].
Mendengar kalimat itu, rasa haru seketika mengalir deras di kalbu Lara. Butiran air mata hampir saja terjun bebas membasahi pipinya yang berona. Lara buru-buru mendongak, menahan tangis bahagianya. Ia benar-benar tidak menyangka Mama akan mengatakan hal semanis itu tentang dirinya. Selama ini, Lara mengira Mama selalu mengomel karena tidak menyukai karakter atau pilihan-pilihan hidupnya.
Malam itu, di bawah langit Surabaya yang baru saja dibasahi hujan, Lara pulang dengan hati yang membuncah penuh harapan. Tembok besar berupa restu jarak geografis yang selama ini ia takuti, runtuh begitu saja oleh kalimat Mamanya. Jalan untuk mencintai Albas kini terbuka lebar. Lara yakin, doanya di sela gerimis tadi siang telah didengar oleh Sang Seniman Alam Semesta. Ia siap jatuh sejatuh-jatuhnya pada takdir indah bersama Albas—tanpa pernah tahu bahwa takdir aslinya justru disimpan Allah pada pria lain yang bernama Gama.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 7- Lampu Hijau
Sorry, comment are closed for this post.