Kata-kata yang diucapkan Mikayla mampu membuat Kaisya merasa terpojok.
“Mengapa Kayla berbicara seperti itu?” tanya Kaisya.
“Andaikan saja Ibu belum menikah,” lirih Mikayla.
“Ada apa?” tanya Kaisya.
“Iya, pasti akan sangat bahagia jika Ayah saya menikah dengan Ibu,” ucap Mikayla. Sekali lagi, Kaisya terkejut mendengar ucapan gadis itu.
“Kamu bahagia, Kayla. Terlepas dari apapun yang membuat duniamu hancur. Yakini bahwa bahagia itu akan selalu menghampiri,” kata Kaisya lembut.
“Iya, Bu. Terima kasih,” kata Mikayla.
“Ibu akan telepon Ayahmu untuk menjemput,” ucap Kaisya.
Gadis manis itu pun menuruti apa yang dikatakan Wali Kelasnya. Beberapa menit kemudian Gian datang menjemput.
“Kay, terima kasih,” ucap Gian.
“Sudah jadi tanggung jawabku,” balas Kaisya sembari tersenyum.
Ponsel Kaisya berdering, ternyata Ridho meneleponnya.
“Iya?” tanya Kaisya pada Ridho di seberang telepon. “Iya, aku sama Putra sebentar lagi kesana,” lanjutnya, kemudian menutup telepon.
“Suamimu, Kay?” tanya Gian.
“Iya,” jawab Kaisya sekilas melihat ke arah Mikayla.
“Yah, cepetan,” rengek Mikayla menarik lengan sang ayah.
“Iya, Kayla. Beri salam dulu sama Bu Kaisya,” seru Gian namun sikap Mikayla menjadi cuek dan sedikit menyebalkan. Meskipun menyalaminya namun ada perilaku yang berbeda.
Kaisya hanya tersenyum tipis lantas berjalan menuju keluar gerbang. Dimana Ridho telah menunggu mereka.
“Ayaaahhh!!!” seru Putra dengan manja kemudian naik ke motor Ridho setelah dipakaikan helm.
“Yang, itu Gian bukan?” tanya Ridho melihat Gian memasuki mobilnya.
“Iya. Kaki anaknya terluka, aku sebagai Wali Kelas, mau tidak mau harus mengobatinya meskipun hanya memakai perban seadanya,” ucap Kaisya.
“Memang kenapa bisa terluka?” tanya Ridho lagi.
“Berantem sama temannya. Lukanya lebar jadi aku tadi obati dulu makanya sedikit lama,” kata Kaisya mengatakan yang sebenarnya. Namun untuk ucapan Mikayla, ia tak mampu berkata jujur.
“Anak zaman sekarang benar-benar diluar batas,” kata Ridho. Kemudian mereka mulai meninggalkan lokasi sekolah.
Sesampainya di rumah. Kaisya berganti baju dengan yang lebih santai begitupun Putra. Setelah itu mereka makan bersama karena memang waktu sudah agak sore agar tidak terlalu malam. Itu justru membuat perut menjadi tidak enak.
“Kakek!” seru Putra melihat ayah dari Ridho datang ke rumah.
“Dho, kita ke rumah Derlan sekarang,” ucapnya tiba-tiba.
“Ngapain?” tanya Ridho.
“Main saja,” jawab Ayahnya. “Putra mau ikut ke rumah Tio?” Ayah Ridho lanjut bertanya pada cucunya.
“Mau!” jawab Putra antusias.
Kaisya menghembuskan nafas berat. Putra baru saja pulang malah diajak pergi lagi. Apalagi itu hanya sekedar main ke rumah anak kesayangannya. Guru muda itu tak menghiraukan. Ia sangat capek dan sedang tak ingin kemana pun.
“Kasihan Putra baru pulang,” ucap Ridho. “Aku juga baru saja menjemputnya,” lanjutnya.
“Kita menginap disana, pagi-pagi pulang,” ujar sang ayah mertua.
“Memangnya ada apa menginap disana?” tanya Ridho.
“Sekali-sekali kita menginap di sana,” balasnya.
Kaisya tidak sama sekali mengatakan apapun. Sebenarnya maksud dan tujuannya mengajak itu apa? Apakah hanya ingin memperlihatkan bahwa mereka sudah mempunyai rumah sendiri? Terlihat pada sosial media menantu kesayangannya itu sering memposting keadaan rumah dan isinya seakan mengejek yang lain. Padahal itu dari biaya orang tua bukan hasil sendiri. Sedangkan rumah yang ditempati Kaisya dan Ridho itu adalah rumah bekas orang tuanya dulu karena tidak berpenghuni sehingga terabaikan. Maka dengan inisiatif Ridho supaya rumah orang tuanya ada yang merawat.
“Aku gak ikut,” kata Ridho tegas.
“Kenapa? Apa karena Kaisya?” tanya mertuanya. Sontak Kaisya merasa tersudutkan padahal tidak mengatakan apa-apa.
“Aku capek. Gak ada hubungannya dengan Kaisya,” kata Ridho membela istrinya.
Kaisya masuk ke dalam kamar. Hatinya sakit saat disudutkan seperti itu. Apa salahnya, mengapa harus diperlakukan berbeda. Padahal sebelum ada istrinya Derlan, ia tak pernah melakukan hal yang buruk. Namun sekarang jadi bahan bully mertuanya. Kaisya memang bergaji dibawah menantu kesayangannya itu tapi mengapa harus dicaci dan dihina.
Ayah Ridho pergi mungkin dengan rasa kesal karena anaknya tidak mau ikut. Kaisya sekarang berada di dalam kamar. Dirinya begitu kesal selalu mendapat perlakuan seperti itu dari mertuanya apalagi setelah kedatangan menantu baru. Ingin segera pergi dari rumah tersebut.
“Sayang,” seru Ridho merasa tidak enak.
“Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu. Kamu gak usah merasa gak enak. Kalau mau pergi silahkan saja,” kata Kaisya.
“Aku gak pergi,” ucap Ridho.
“Jangan begitu. Ayah terlihat marah saat kamu menolak,” ucap Kaisya.
“Kenapa harus mengajak segala kalau mau nginap disana. Besok bakalan ribet soalnya aku kerja pagi,” kata Ridho.
“Resiko,” ucap Kaisya.
“Sayang, jangan marah-marah dong. Kasihan Putra nanti bisa tantrum,” kata Ridho.
“Gak marah sama sekali. Aku cuma lelah,” kata Kaisya.
“Ibu, Putra ingin nonton TV,” ujar Putra.
“Oke. Bentar ibu ambil remote dulu,” kata Kaisya lantas ia mengambil remote dan menyalakan televisi. “Ibu temani ya,” lanjutnya. Putra mengangguk.
Ridho memperhatikan istrinya kemudian ikut menonton disamping. Senda gurau dari keluarga kecil terasa indah. Andai keluarganya tidak memperlakukan Kaisya seperti itu pasti tambah sempurna kebahagiaan tersebut.
“Sayang, kalau kita membeli rumah ini gimana?” tanya Ridho.
“Silahkan saja. Aku gak akan melarang ataupun menyuruh. Aku akan membeli rumah sendiri saja,” kata Kaisya.
“Itu artinya kamu gak setuju,” kata Ridho.
“Menurutmu,” balas Kaisya.
“Kenapa kamu gak mau aku beli rumah ini?” tanya Ridho.
“Pengen tenang dan nyaman,” ucap Kaisya.
“Siapa yang akan mengurus orang tua kalau anaknya jauh?” tanya Ridho.
“Orang tuamu ya itu kamu yang bertanggung jawab sebagai anaknya. Bukan aku. Aku hanya menantu disini. Iya, harus mengabdi dan patuh sama suami. Tapi menantu gak berkewajiban mengurus mertua,” kata Kaisya.
“Ridho Nya Allah itu Ridho Nya suami,” kata Ridho.
“Nama suamiku emang Ridho,” sela Kaisya menimbulkan senyum pada lelaki dihadapannya.
“Bukan gitu maksudku, Yang. Kenapa jadi diplesetin sih” kata Ridho.
“Iya, aku tahu ko,” ucap Kaisya.
“Ibuuu… Ayaaahhh… Jangan berantem,” sela Putra.
“Siapa yang berantem sayang?” tanya Kaisya.
Putra menunjuk kedua orang tuanya. Mungkin penglihatan anak kecil ketika orang dewasa tengah berbincang dengan nada sedikit keras atau ditekan seakan ada pertengkaran disana. Ridho dan Kaisya tertawa melihat anaknya menyangka mereka bertengkar.
Disela gelak tawa, ponsel Ridho berdering. Ia mengangkatnya.
“Iya, Bu?”
“-“
“Aku capek, Bu,” kata Ridho.
“-“
“Hemm,, baiklah. Sebentar lagi kesana,” ucap lelaki itu kemudian menyimpan ponselnya. Lantas ia turun dari tempat tidur.
“Ada apa?” tanya Kaisya.
“Ibu menyuruhku mengantar ke rumah Derlan. Ayah marah-marah terus katanya,” kata Ridho.
“Oh,” ucap Kaisya. “Aku sama Putra disini aja.”
“Gak takut berdua disini?” tanyanya.
“Udah biasa. Kamu pergi aja,” kata Kaisya.
“Kalau kamu takut nginep aja di rumah ibumu,” ucapnya.
“Tenang aja. Gak usah khawatir,” ucap Kaisya.
“Ya, udah. Kamu hati-hati ya. Kunci pintu langsung,” kata Ridho.
“Ayah mau kemana?” tanya Putra.
“Ke rumah Kakek dulu,” ucap Ridho.
“Putra ikut,” rengeknya.
“Putra disini sama Ibu ya. Temenin Ibu.”
“Putra sayang, ayah cuma sebentar ko’. Besok kita main ya. Sekarang Putra anaknya Ibu, bobo dulu. Mau ya dibacain buku cerita,” ucap Kaisya.
“Mau,” balas Putra.
Ridho berpamitan pada istri dan anaknya. Kaisya menghela nafas, tak bisakah ia bersenang-senang bersama keluarga kecilnya.
Malam tiba, Kaisya tengah tiduran di atas kasurnya. Pikirannya entah kemana. Hanya bisa melamun meskipun ponsel ia mainkan melihat sosial media. Ingin memejamkan mata namun suara ponsel berbunyi. Ada pesan masuk.
“Assalamu’alaikum. Kay, udah tidur?”
Entah ada apa lagi Gian sering sekali menghubunginya. Rasanya malas apalagi nanti jika Ridho bertanya dengan siapa chatting malam-malam tapi dalam hati kecilnya sangat bahagia.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 7. Luka Di Balik Senyum
Sorry, comment are closed for this post.