BAB 7: TIGA SERANGAN SEKALIGUS
Malam setelah pesta topeng. Salju tidak berhenti.
- SURAT DARI NENEK YSRA
Prang!!
Jendela kamar Seraphina berhamburan.
Kemudian seekor burung hantu salju menerobos masuk, sambil menjatuhkan sebuah gulungan di atas meja.
Leon langsung siaga dengan pisaunya. Lyra bersembunyi di belakang Ibu.
Seraphina kemudian membuka gulungan itu. Begitu melihat tulisan di atasnya, napas Seraphina tertahan.
Ia mengenal tulisan tangan itu.Tulisan tangan Nenek Ysra.
Tulisan tangan itu terasa beku dan bergetar pada saat yang sama, dingin seperti pesan yang ditulis di tengah musim salju, serta menyimpan ketakutan yang begitu jelas hingga Seraphina dapat merasakannya hanya dari bentuk setiap huruf.
“Anakku,Tujuh keping dendam akan membakarmu.Tapi, cinta akan melelehkan semuanya. Hati-hati. Serigala Betina sudah mencium darahmu. Dan, Raja… dia sudah melihat bulan sabit di lenganmu. Pilihan ada di tanganmu: Balas dendam, atau Keluarga.”
Di akhir surat, ada sehelai rambut perak. Rambut itu milik Nenek.
Seraphina meremas surat itu. “Nenek tahu…”
“Bu, apa artinya?” tanya Lyra.
“Artinya kita kehabisan waktu.”
- ALISTAIR PENYELIDIK
Jam dua pagi. Istana telah tenggelam dalam kesunyian.
Seraphina keluar diam-diam menuju perpustakaan untuk mencari penawar racun peluruh.
Ia takut Selene akan menggunakan racun itu lagi untuk mencelakainya.
Sebelum semuanya terjadi, Seraphina harus menemukan penawarnya.
Pintu perpustakaan terbuka perlahan.
Seraphina menyelinap masuk dan menutupnya tanpa suara.
Perpustakaan itu sangat gelap, dipenuhi rak-rak tinggi yang menjulang.
Aroma kertas tua, kayu, dan debu memenuhi udara.
Seraphina menyalakan satu lampu kecil.
Cahayanya hanya cukup untuk menerangi meja dan beberapa rak di dekatnya.
Ia kemudian mulai mencari.
Jarinya menyusuri punggung buku satu per satu.
Sementara itu, sebuah bayangan bergerak di antara rak.
Alistair.
Ia tidak bersuara.
Hanya mengamati dari balik rak, cukup jauh untuk tidak membuat keberadaannya diketahui.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan Seraphina yang gelisah.
“Kenapa pelayan butuh ini?” bisiknya.
Seraphina menoleh terkejut. “Yang Mulia?!”
“Kau tidak tidur?” tanya Alistair penuh selidik.
“Saya… saya sedang bersih-bersih, Yang Mulia.”
Alistair mendekat. Ia mengambil buku di tangan Seraphina.
Jarinya sengaja menyentuh pergelangan Seraphina. Tepat di bekas luka bulan sabit.
Seraphina menahan napas.
“Menarik,” kata Alistair pelan. “Luka ini. Aku pernah melihatnya.”
“Ini… kecelakaan waktu kecil, Yang Mulia.”
Alistair menatap mata Seraphina lekat.
“Bohong.”
Tapi dia tidak menangkapnya. Dia hanya berbisik,
“Hati-hati, Nyonya Salju. Ada orang yang ingin membunuhmu.”
Lalu, pergi.
- SELENE MENYERANG LANGSUNG
Istana masih gelap saat suara keras menghantam pintu kamar Seraphina.
GEDOR! GEDOR!
“ATAS PERINTAH RATU! KAMAR INI DISEGEL!”
Sebelum semua sempat berbuat apa-apa, pintu lebih dulu didorong paksa hingga terbuka.
Selene masuk dengan enam penjaga. Senyumnya lebar.
“Menangkap pencuri. Katanya ada yang mencuri kalung permata milikku.”
Matanya menyapu seluruh ruangan. Lalu berhenti pada Seraphina yang diam kebingungan.
Selene berjalan mendekati meja.
Tangannya membuka laci pertama.
Kosong.
Ia berbalik.
Tatapannya jatuh pada tempat tidur Seraphina.
Selene melangkah mendekat.
Seraphina refleks maju satu langkah.
“Jangan.”
Selene berhenti.
“Kenapa?”
Seraphina tidak menjawab.
Selene tertawa kecil.
Lalu dia menunjuk ke kalung darah Seraphina yang disembunyikan di bawah bantal.
“INI!” teriak Selene. “Kalung curian!”
“itu bukan—” Leon maju.
“DIAM!” Selene menampar Leon. “Bawa dia ke Menara Utara. Sekarang.”
Seraphina menahan Leon. “Jangan. Aku ikut.”
Di Menara Utara yang dingin dan gelap.
Dinding batunya lembap, dan udara menusuk sampai ke tulang.
Seraphina didorong masuk ke sebuah ruangan kecil.
Tidak ada tempat tidur.
Tidak ada perapian.
Hanya lantai batu dan satu jendela kecil yang terlalu tinggi untuk dijangkau.
Pintu besi menutup di belakangnya.
BRAK!
Selene mengunci pintu dari luar.
“Bersama tikus-tikus saja kau, Nyonya Salju.” ejeknya sambil menatap tajam Seraphina.
Seraphina hanya diam.
Selene lalu berbisik, “Besok pagi kau dieksekusi. Di depan seluruh istana.”
Seraphina membeku.
Sedangkan langkah Selene kian menjauh.
—
DI DALAM MENARA
Seraphina memeluk Leon dan Lyra.
Tangan Leon berdarah akibat kena tamparan Selene.
“Bu maaf,” isak Leon. “Aku gagal lindungi Ibu.”
Seraphina menggeleng. Dia mengeluarkan keping kertas kedua.
Dengan darah dari luka Leon, dia menulis:
“Melindungi”
Kemudian, ia bakar.
“Keping kedua.”
Tiba-tiba, es di jendela retak dari luar.
Sebuah tangan. Tangan Raja.
Alistair memecahkan jeruji es dengan sihirnya.
“Berikan tanganmu.”
Seraphina ragu.
“Kau mau percaya aku… atau mati besok?” tanya Alistair.
Seraphina menggenggam tangan itu.
Mereka bertiga ditarik keluar ke atap menara.
Alistair menatap Seraphina.
“Aku tidak tau siapa kau. Tapi aku tau… kau bukan pencuri.”
Dari bawah, suara Selene berteriak.
“TANGKAP MEREKA!”
Alistair menarik Seraphina ke dekatnya. “Pegang erat.”
Dia melompat dari menara.
Dan salju di bawah mereka… membentuk sayap.
Mereka melayang.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 7 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.