Cinta pada pandangan pertama?
Ah, tidak masuk akal.
Tiba-tiba pertanyaan itu terbersit dalam pikiran Lara. Sejauh ini, Lara belum merasakan bagaimana mencintai seseorang. Suka? Ada. Kagum? Apalagi. Tapi cinta? Perasaan unik itu belum muncul, dan sejujurnya, Lara tidak mengharapkan kehadirannya. Ia segera membubarkan pikiran absurd itu begitu motornya sampai di pertigaan jalan menuju rumah.
Dari jauh, Lara melihat motor asing terparkir. Setelah melepas helm, ia melihat seorang laki-laki dengan antusias mengikuti langkah Ayahnya yang sedang memberi pakan ayam ternak kesayangan. Laki-laki itu tampak berusaha keras mengakrabkan diri.
“Assalamu’alaikum,” Lara mengucap salam sambil meraih tangan Ayahnya untuk dicium.
“Waalaikumsalam,” Ayah segera mengeringkan tangan pada kain sarung, lalu mengulurkan tangannya kepada Lara.
“Ayah lagi ada tamu? Kok nggak dibawa masuk?”
“Dianya yang nggak sabar nungguin Ayah. Ngeyel mau nyamperin ke kandang,” sahut Ayah sambil terkekeh.
“Halo Kak Lara, perkenalkan namaku Viki, temannya Syifa,” sapa lelaki itu ramah.
“Oh, temannya Syifa. Terus Syifanya kemana kok sendirian?”
“Syifa lagi bikin kopi katanya, Kak.”
“Oh, ya sudah. Aku mau masuk ya. Kamu mau lanjut di sini atau gimana?”
“Bareng Abah saja masuknya, Kak. Bentar lagi selesai katanya.”
“Oh, gitu. Ya sudah, aku duluan.” Lara berbalik. Ia mengernyitkan dahi sambil membatin bingung, (Abah? Sejak kapan Ayah jadi bapaknya?).
Lara menemui adiknya Syifa yang selesai menyuguhkan kopi dan cemilan diruang tamu yang masih kosong. Syifa lanjut memasuki kamar dengan wajah senyum malu yang ia tunjukkan sambil menatap kakaknya, Lara.
“Ciye ciye, itu doi mu?” sindir Lara.
“Tau ah, berani banget datang kesini, ” jawab Syifa.
“Halah, kamu juga suka dia kan!”
“Ya ga berani seneng banget kalo Ayah belum ngerestuin,”
“Kalo kamu udah ngasih alamat berarti kamu mau kan”
“Hehehe iya, katanya udah mulai suka pada pandangan pertama saat lagi foto buat kartu anggota perpustakaan, dia tak berhenti memandangiku, tapi aku yang tidak sadar akan hal itu, “
“Tentu tidak sadar lah, kan emang pasti rame Mahasiswa mengantri foto dong. Dan yang foto pasti lagi dilihatin banyak Mahasiswa lain, ah random amat,” Lara nyeletuk sambil nyinyir dalam hati (kaya lagi seleksi cewe yang cantik pas lagi difoto formal aja)
“Ya katanya sih, setelah itu dia mengamati terus selama sebulan, baru deh berani nyamperin dan ndeketin aku,”
“Aaaa ya ya ya, berarti baru satu semester kan kalian kenalnya, kenapa sudah buru-buru minta serius ke Ayah? Kamu tau kan Ayah tidak suka anaknya pacaran, pasti nanti disuruh nikah saja atau ya jaga jarak dulu sampai kalian lulus”.
“Waduh, iya ya, belum mikir sampai situ lagi, gara-gara si Viki mendesak buat dikenalin ke Ayah,”
~•••~
Baru satu minggu berlalu setelah Viki datang ke rumah. Viki tiba-tiba menghubungi Lara via chat Whatsapp
Viki: “Assalamu’alaikum kak, ini Viki, disave ya,”
Lara: “Waalaikumsalam, kenapa harus disimpan? Kayak orang penting aja,”
Viki: “Kan bakal jadi calon adek ipar, ckckck, “
Lara: “PD amat, emang serius mau ngelamar Syifa?”
Viki: “Serius dong, mau bulan ini melamar juga bisa,”
Lara: “Kamu mimpi ya? Selama aku belum nikah, Syifa tidak dapat izin nikah dulu sama siapapun, “
Viki: “Maka dari itu kak, buruan nikah gih, biar aku segera nikahin Syifa, “
Lara: “Kalian tuh ya masih semester tiga, jangan mikir kawin melulu. Skripsimu dulu tuh beresin! lulus dulu, kerja, baru nikahin Syifa. Dia tuh selera makan sama fashion-nya tinggi, kamu sudah sanggup tidak menuhin itu?”
Viki: “Ada Tuhan Maha Kaya kok bingung sama rejeki, justru nikah itu nge-buka pintu rejeki kak, “
Lara: “Terserah kamu mau mikir apa, pokonya aku tidak ingin langsung menikah setelah lulus, karena mau lanjut pendidikan sama kerja. Jadi sabar aja yeee, “
Viki: “Kalau begitu aku do’ain jodohnya kak Lara segera muncul dan nikahin kak Lara secepetnya wkwkwk”.
Lara: “Wkwkwk terserah deh, Tuhan Tahu Yang Terbaik”.
Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)
Comment Closed: Bab 8 – Cinta Yang Random
Sorry, comment are closed for this post.