Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya, memecah keheningan malam itu. Pengirimnya adalah Gian.
“Wa’alaikumsalam. Belum. Ada apa Gian?” Kaisya membalas pesan salam dari lelaki tersebut.
“Aku ganggu gak?”
Dibilang mengganggu? Tidak. Justru hatinya jadi menghangat saat Gian mengirimkan pesan tersebut.
“Gak juga. Kebetulan aku gak bisa tidur.” Kaisya meladeni Gian dengan cepat.
“Kenapa, Kay? Lagi ada masalah?”
“Biasalah. Yang namanya kehidupan pasti ada saja masalah.”
“Jika kamu gak keberatan boleh ko’ bercerita sama aku. Meskipun mungkin aku belum tentu bisa mengatasinya. Tapi setidaknya sedikit plong.”
Kaisya tersenyum. Apa mungkin dengan bercerita pada Gian bisa melepaskan sedikit masalah?
Benarkah bahwa mencurahkan isi hati pada lawan jenis bisa memunculkan rasa lebih dari biasanya? Berdosa kah jika itu bukan pada pasangan sah?
“Memangnya boleh ya aku cerita?” tanya Kaisya membalas pesan Gian.
“Tentu saja boleh. Kalau kamu memang percaya sama aku.”
Kaisya ragu sebenarnya ingin bercerita tentang keadaan keluarganya tapi mumpung Gian bersedia mungkin bisa.
“Aku ingin merasakan bahagia dalam menjalin hubungan rumah tangga.”
“Memangnya ada apa dengan keadaan rumah tanggamu? Justru aku yang iri loh sama hubunganmu.”
“Ya, semua pun bilang begitu. Rumah sudah ada meskipun sebenarnya ini bukan milik sendiri melainkan punya mertua. Disini hanya numpang saja.”
Guru beranak satu itu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dari mulai sikap Ridho hingga mertuanya. Tak ada yang disembunyikan apapun dari setiap kalimat. Bagaimana bisa Kaisya melakukannya pada lelaki bukan suami itu? Ya, rasa aman dan nyaman yang mungkin diberikan oleh Gian. Tanpa rasa sedikit pun terlintas bahwa dosa telah mengalir. Terlihat sangat jelas senyuman mengembang di sudut bibir Kaisya sekarang. Tiga jam sudah ia meluapkan isi hati yang patutnya tidak diceritakan.
“Terima kasih ya udah mau jadi tempat curhatku malam ini.”
“Santai aja kali Kay. Tetap semangat ya. Aku yakin akan ada hal indah suatu saat nanti.”
“Mudah-mudahan.”
“Harus yakin dong. Kaisya yang dulu aku kenal begitu tegar, kuat dan manis.”
Kata-kata ‘manis’ dari Gian membuat rona merah di pipi Kaisya terbentuk. Ternyata lelaki itu juga memperhatikannya dulu. Hanya saja ia takut kenal lebih jauh karena Gian sosok lelaki populer waktu itu. Banyak perempuan yang suka hingga selalu berkerumun di lapangan basket hanya untuk melihatnya.
Pernah memang Kaisya tak sengaja bertabrakan dengannya ketika pulang dari toilet. Mereka saling menyapa meskipun sekedar mengatakan hai. Tapi sekarang ia yang populer itu malah menjadi tempat curhat.
“Jangan pernah berputus asa, Kay. Aku yakin kamu bisa melewati semuanya. Sejujurnya kaget banget pas cerita tentang keluargamu. Aku kira hubunganmu baik-baik saja. Terlihat dari kalian saling menjaga anak bergantian. Terus sering kontekan meskipun lagi kerja. Sampai aku bilang iri denganmu.”
“Begitulah hidup, Gian. Gak akan pernah ada yang mulus sesuai dengan keinginan kita. Terkadang saling sangka dengan orang yang bahagia hidupnya. Tapi belum tentu yang kita lihat dengan kenyataannya.”
Kaisya termenung setelah mengirim pesan itu pada Gian. Memang benar ucapannya sendiri namun itu hanyalah sebuah kata-kata yang dilontarkan seolah ia paling tahu segala.
“Menurutku Ridho itu bukan berarti tidak perduli sama kamu ataupun keluarga kecilnya. Justru itu sikap yang baik agar gak ada pertengkaran lebih besar. Sifat seperti Ridho sebenarnya gak jauh berbeda dengan lelaki lain biasanya.”
“Mungkin.”
“Kamu harus percaya dan yakin aja pada suamimu itu.”
Gian memberikan nasihat pada Kaisya. Tapi jujur saja ia dengan keras kepalanya menolak untuk percaya dan yakin akan suaminya itu. Rasa kesal pada sikap keluarganya telah memenuhi hati dan pikirannya. Begitu sulit melupakan setiap hal buruk terjadi.
“Kay, ini udah larut banget loh. Ridho pasti berpikir macam-macam kamu berkirim pesan sama aku.”
“Kebetulan Ridho lagi gak dirumah. Ayah mertua lagi marah-marah minta dianterin ke rumah menantu kesayangannya.”
“Loh kamu gak ikut?” tanya Gian.
“Kamu pasti tahu alasannya.” Kaisya menjawab seolah Gian tahu segalanya karena ia telah menceritakan perihal masalah rumah tangganya.
“Pantas saja kamu cepet ngasih balasan pesanku. Ternyata.”
“Hahaha,, biasa aja kali. Aku ada suami juga biasa aja sih kalau chat-an sama temen juga. Dia pun begitu. Apalagi kalau temen deketnya nelepon, mau pagi siang ataupun malam pasti diladeni.”
“Temen deketnya laki-laki apa perempuan tuh?”
“Laki-laki lah. Kamu ini mikir kemana aja.”
Kaisya tidak sadar jika dirinya telah berbuat jauh. Ia tengah beradu pesan dengan seorang lelaki yang bukan suaminya. Berani bercurhat ria apalagi sang suami tidak berada disisinya.
“Emm, Kay boleh besok kita ketemu tapi itupun kalau gak keberatan.”
“Ketemu dimana? Memangnya ada hal apa?” Kaisya merasa sedikit bingung Gian mengajaknya untuk bertemu besok. Sebenarnya ingin sekali tapi bagaimana alasan pada suaminya.
“Gimana Kay. Bisa?”
“Apa penting sekali ya?” tanya Kaisya.
“Mikayla katanya ingin main. Tapi dia minta sama kamu. Gak apa-apa katanya mau ajak Putra juga biar seru.”
Ia termenung jika bersama Putra pasti anaknya akan bercerita apa adanya pada Ridho. Tentu akan jadi masalah nantinya. Tapi jika tidak menuruti keinginan Mikayla akan merasa sangat sedih.
“Gian, kenapa Kayla ingin sama aku? Bisa juga kan sama yang lainnya.”
“Gak mau katanya. Ingin sama kamu. Tapi kalau pun gak bisa jangan dipaksain.”
“Kamu cari ibu baru dong buat Kayla. Biar gak repot di kamu nya.” Kaisya malah menyuruh Gian mencari istri baru untuk pengganti ibu Mikayla. Meskipun dalam hati perempuan itu berharap lebih untuk dirinya.
“Hahaha…”
“Kenapa malah tertawa?”
“Cari ibu gimana, Kay. Gak ada yang srek sama Kayla.”
“Begitu ya. Memangnya pilihan Kayla seperti apa?” Kaisya berharap itu dirinya.
“Seperti kamu.” Jelas saja Kaisya guling-guling mendapat balasan sesuai harapannya. “Kay, gimana kamu bisa gak?”
Gian kembali menanyakan perihal ajakan main. Sebenarnya Sabtu dan Minggu merupakan hari untuk beristirahat alias bermalas-malasan. Dan tentu saja mencuci seragam setelah lima hari bekerja. Bahkan bukan hanya pakaian kerja saja, itupun ditambah dengan yang lain. Punya Ridho serta anaknya pun demikian. Meskipun pakai mesin cuci tetap saja tidak langsung masuk ke dalam alat. Apalagi jika air sedang surut. Biasa bergantian dengan yang lain.
“Gian, maaf ya. Bisa lain waktu saja. Aku lagi banyak kerjaan juga harus jaga anak karena Ridho Sabtu masih kerja.”
Ya, Kaisya akhirnya ingat dengan sang suami. Ia dengan berani menolak ajakan Gian. Dan Gian pasti mengerti meskipun belum tentu dengan anaknya, Mikayla. Kaisya tidak berpikir tentang itu.
“Begitu ya. Kamu dari dulu memang selalu sibuk sih. Sekali-kali hiburan dong biar gak mumet. Hehe,,”
“Bisa aja kamu. Udah dulu ya, aku gak kuat ngantuk. Maaf ya aku duluan. Assalamu’alaikum.”
“Iya, wa’alaikumsalam. Selamat malam, mimpi indah ya cantik.”
Kaisya melihat pesan balasan dari lelaki itu. Betapa terkejutnya ia, sungguh diluar prediksi. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Entah mengapa dirinya menjadi salah tingkah padahal hanya pesan lewat ponsel. Seperti sedang kasmaran saja. Ingin membalasnya namun sudah pamitan tidur duluan mana mungkin melanjutkan. Meskipun sangat yakin jika Gian melihat pesannya telah terbaca.
Disaat Kaisya guling-guling kegirangan. Kakinya terpentok kaki kecil milik Putra. Hatinya bergetar hebat, sudut bibir yang semula tersenyum kini mengkerut. Sangat sadar dirinya sudah menikah dan berputra. Hembusan nafas berat keluar dari bibirnya. Ponselnya bergetar kembali namun bukan dari Gian melainkan suaminya.
“Sayang udah tidur?”
Jujur saja Kaisya malas membalas chat Ridho ingin mengabaikan tapi bagaimana pun ia suaminya. Pesan itu tidak dibukanya hanya dilihat lewat pengingat.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 8. Curhatan Kaisya
Sorry, comment are closed for this post.