KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 8: Dari Dermaga Yang Retak Menemukan jangkar abadi di atas gelombang takdir

    Bab 8: Dari Dermaga Yang Retak Menemukan jangkar abadi di atas gelombang takdir

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 9 kali
    Ikatan Jantung Hati dan Langkah Pertama_alineaku

    Ada masa dimana kita merasa bahwa dermaga tempat kita menambatkan seluruh harapan hidup telah mengalami keretakan yang tidak mungkin lagi bisa direkatkan. Ketika usia beranjak ke angka empat puluh lima tahun, ruang domestik yang kosong, kepergian kedua orang tua yang menjadi pilar batin, serta pengkhianatan-pengkhianatan emosional dari manusia yang datang silih berganti, seolah menjadi ombak besar yang terus-menerus menghantam dinding pertahanan diri. Namun, sifat dasar dari air laut adalah menguji kekuatan lambung kapal. Jika kapal itu tidak tenggelam, maka ia akan belajar cara mengarungi samudra yang jauh lebih luas, bukan lagi sekadar bersandar di dermaga-dermaga rapuh milik manusia.

    Fajar di Kota Bekasi pagi itu membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di atas sepeda motor yang melaju membelah fluktuasi kemacetan jalanan, saya menarik napas dalam-ingat. Di dalam tas kerja saya, selain berkas administrasi RA Aisyah Afiqannisa dan beberapa catatan evaluasi untuk madrasah perbantuan, ada sebuah buku catatan kecil berwujud jurnal pribadi yang lembarannya mulai menguning. Di sanalah, semua sisa badai emosional dari pembatalan pernikahan dan kepalsuan lelaki yang hanya memberi harapan semu (PHP) saya kubur dalam-dalam, digantikan oleh bait-bait zikir yang saya rapal di setiap tarikan napas.

    Pundak yang lelah ini tidak boleh menyerah. Jika dermaga manusia itu retak dan runtuh, maka Allah sedang memaksa saya untuk melepas tali tambat dan mulai berlayar menuju samudra ridha-Nya yang tanpa tepi.

     

    1. Getaran di Balik Dinding Madrasah

    Sesampainya di halaman RA Aisyah Afiqannisa, riuh rendah suara anak-anak melantunkan surah-surah pendek dari dalam kelas langsung menyambut telinga. Suara itu laksana jampi-jampi spiritual yang seketika meluruhkan sisa-sisa penat di kepala. Saya memarkirkan motor, merapikan jilbab panjang yang sedikit berantakan karena angin jalanan, lalu melangkah masuk dengan senyuman yang sudah matang oleh pengalaman hidup.

    “Assalamu’alaikum, Bunda Husna,” sapa Ustazah Aminah, salah satu guru senior di RA kami, sambil menyodorkan sebuah map jilid tebal. 

    “Ini laporan capaian perkembangan anak-anak untuk semester ini. Alhamdulillah, setelah kita konsisten mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta, ada peningkatan signifikan pada kemandirian dan kecerdasan emosional anak-anak. Beberapa wali murid bahkan datang menangis kemarin, berterima kasih karena anak-anak mereka sekarang lebih santun di rumah.”

    Saya menerima map tersebut dengan dada yang bergetar lembut. “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Ustazah. Alhamdulillah… ini bukan kerja saya sendiri. Ini adalah buah dari ketulusan dan peluh Ibu-Ibu guru semua yang mengajar dengan hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban profesi.”

    Kami melangkah bersama menuju ruang kepala sekolah. Di dinding ruangan itu, terpampang foto-foto dokumentasi perjalanan madrasah ini. Mulai dari masa-masa awal yang serba terbatas, saat badai fitnah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab mencoba meruntuhkan nama baik saya, hingga momen kelulusan saya dari bangku kuliah S2 yang penuh dengan air mata perjuangan. Setiap gambar di dinding itu adalah saksi bisu bahwa tidak ada satu pun kemudahan yang datang tanpa didahului oleh malam-malam yang panjang dan melelahkan.

    Namun, saat mata saya tertuju pada sudut meja kerja—tempat di mana biasanya ada foto keluarga besar—sebersit rasa rindu yang teramat dalam kembali menyengat ulu hati. Di sana hanya ada ruang kosong. Kepergian Ibu dan Ayah adalah sebuah kenyataan permanen yang harus saya hadapi setiap kali saya pulang ke rumah maupun saat saya duduk sendirian memimpin lembaga ini.

    “Bunda…” 

    Ustadzah Aminah tampaknya menangkap perubahan rona di wajah saya. Ia menggeser duduknya, menatap saya dengan pandangan seorang sahabat yang telah bertahun-tahun berbagi duka. 

    “Bunda sudah terlalu banyak memikirkan orang lain. Memikirkan nasib guru-guru di RA perbantuan, memikirkan masa depan anak-anak, memikirkan akreditasi. Apakah Bunda tidak ingin meluangkan waktu sedikit saja untuk memikirkan diri Bunda sendiri? Di usia kita yang sekarang, kita tahu bahwa tubuh ini punya hak untuk lelah.”

    Saya tersenyum, sebuah senyuman yang lahir dari kedalaman pemahaman tauhid yang saya jemput di mihrab sepertiga malam semalam. 

    “Ustadzah Aminah, tubuh ini memang lelah. Sering kali, saat malam tiba dan lampu madrasah ini saya matikan satu per satu, rasa sepi itu datang menyergap begitu hebat. Rasa-rasanya saya ingin sekali mengeluh pada pundak seseorang, bermanja seperti dulu saat Ibu masih ada. Tetapi, Allah punya skenario lain. Ketika Allah menutup pintu-pintu sandaran makhluk, itu tanda-Nya Dia ingin kita benar-benar mandiri secara spiritual. Lelahnya tubuh ini adalah bentuk investasi kita untuk akhirat nanti.”

    Ustazah Aminah mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Ia tahu betul bagaimana saya baru saja melewati fase terpukul akibat pembatalan pernikahan sepihak yang memalukan di mata manusia, disusul oleh tipu daya emosional dari lelaki berikutnya yang hanya mencari panggung ego. Tanpa perlu menceritakan kembali detail rasa sakit itu, energi keikhlasan yang terpancar dari ketegaran saya sudah berbicara lebih banyak daripada ribuan untaian kata-kata penghibur.

     

    2. Panggilan Jiwa di Tengah Pasar Kehidupan

    Sore harinya, setelah seluruh aktivitas di RA Aisyah Afiqannisa selesai dan memastikan sistem data operator madrasah dalam kondisi aman, saya memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ada dorongan batin yang kuat untuk mengunjungi pasar tradisional di sudut Kota Bekasi—tempat di mana almarhumah Ibu dulu sering mengajak saya berbelanja sewaktu saya masih kecil.

    Berjalan di antara hilir mudik manusia, di sela-sela aroma sayuran segar dan riuh rendah tawar-menawar harga, ingatan saya kembali melayang pada memori puluhan tahun silam. Saya seperti melihat bayangan diri saya yang masih kecil, menggandeng erat jemari tangan Ibu yang mulai berkerut, sementara Ayah berjalan di depan kami membawa kantong belanjaan dengan senyum bangganya.

    “Husna, anakku,” suara Ibu seolah terngiang kembali di sela-sela kebisingan pasar. “Perempuan itu harus punya hati yang seluas samudra. Kalau kamu nanti jadi guru, jangan pernah hitung-hitungan sama ilmu. Biarlah orang lain mengecewakanmu, tapi kamu jangan pernah mengecewakan Allah yang sudah kasih kamu nafas dan iman.”

    Air mata saya menetes tanpa disadari, jatuh membasahi masker yang saya kenakan. Di tempat ini, di tengah-tengah pasar yang kumuh dan bising, saya justru menemukan kembali “pundak bersandar” yang sejati. Nilai-nilai, didikan, dan doa-doa spiritual yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya adalah pundak tak kasatmata yang selama ini menopang saya agar tidak limbung saat dihantam badai kehidupan. Mereka boleh saja sudah tiada secara fisik, namun ruh perjuangan dan keberkahan doa mereka tetap hidup di dalam setiap helai napas pengabdian saya.

    Langkah kaki saya terhenti di depan sebuah lapak penjual bunga rajutan tangan dan pernak-pernik sederhana di pinggir jalan. Penjualnya adalah seorang ibu paruh baya yang wajahnya tampak sangat kelelahan, ditemani oleh seorang anak kecil yang sedang tertidur lelap berbantalkan paha ibunya di atas selembar kardus.

    Pemandangan itu memukul kesadaran saya. Saya yang berusia 45 tahun, berpendidikan S2, memiliki madrasah yang berkembang, dan dihormati oleh banyak orang, terkadang masih mengeluh tentang kesendirian dan urusan hati yang patah karena manusia. Sementara di depan saya, ada seorang wanita yang harus bertaruh nyawa di kerasnya jalanan Kota Bekasi demi menyambung hidup anaknya, tanpa sempat memikirkan apakah pundaknya lelah atau tidak.

    Saya mendekati lapak tersebut, membeli beberapa bunga rajutan dengan harga yang sengaja saya lebihkan berkali-kali lipat dari nominal yang tertera.

    “Terima kasih banyak, Bu… terima kasih,” ucap ibu penjual bunga itu dengan suara bergetar dan mata yang berbinar-binar penuh rasa syukur. Ia berkali-kali menyeka air matanya, lalu membangunkan anaknya untuk ikut mendoakan saya. “Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Ibu, dilancarkan segala urusannya, dan disehatkan keluarganya.”

    “Amin, Bu. Sama-sama. Tolong jaga anak saleh ini dengan baik ya, Bu,” jawab saya lembut sambil mengusap kepala anak kecil yang terbangun dengan wajah polosnya.

    Saat saya memutar kunci kontak motor untuk melanjutkan perjalanan, dada saya terasa sangat lapang. Kebahagiaan spiritual semacam inilah yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan lembaran uang kertas materi di dunia. Allah sedang memperlihatkan kepada saya bahwa ketika kita bersedia meluangkan sedikit saja perhatian untuk menghapus air mata orang lain, maka secara otomatis Allah akan menghapus air mata kekecewaan di dalam hati kita sendiri. Dermaga pernikahan saya mungkin retak, tetapi dermaga sosial dan kemanusiaan saya justru terbuka sangat lebar.

     

    3. Menghadapi Bayang-Bayang Masa Lalu

    Ujian kedewasaan spiritual seseorang tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia bangkit dari keterpurukan, melainkan juga dari bagaimana ia bersikap ketika takdir mempertemukannya kembali dengan sumber rasa sakitnya di masa lalu.

    Dua minggu setelah peristiwa di pasar, yayasan mengadakan rapat koordinasi akbar yang melibatkan seluruh kepala madrasah dan pengurus pusat di sebuah hotel di kawasan pusat Kota Bekasi. Sebagai kepala RA Aisyah Afiqannisa sekaligus sosok yang sukses membenahi RA perbantuan, saya diminta untuk duduk di barisan depan guna memberikan presentasi mengenai implementasi taktis dari Kurikulum Berbasis Cinta dalam pengelolaan administrasi digital lembaga.

    Saat saya sedang merapikan materi presentasi di laptop di area lobi hotel, sebuah langkah kaki mendekat. Ketika saya mendongak, jantung saya sempat berhenti berdetak selama sekian detik.

    Laki-laki itu—lelaki pertama yang beberapa bulan lalu membatalkan pernikahan kami secara sepihak menjelang hari pernikahan berdiri di depan saya. Ia datang mendampingi salah satu pengurus yayasan yang baru. Wajahnya tampak canggung, ada gurat penyesalan dan ketidaknyamanan yang sangat jelas terbaca dari sorot matanya yang tidak berani menatap langsung mata saya.

    Jika ini terjadi beberapa bulan yang lalu, mungkin dada saya akan bergemuruh hebat oleh rasa amarah, terhina, dan air mata yang menuntut keadilan ego manusia. Namun pagi itu, demi melihat sosoknya, yang saya rasakan justru adalah rasa iba yang mendalam. Saya melihat seorang manusia yang lemah, yang dikendalikan oleh ketakutan-ketakutan dunianya sendiri hingga tega melanggar komitmen syariat yang mulia.

    Saya berdiri dengan tenang, mengulas senyuman paling teduh dan profesional yang saya miliki—senyuman yang sama yang saya berikan kepada para guru lelah di RA perbantuan dulu.

    “Assalamu’alaikum, Pak. Apa kabar?” sapa saya terlebih dahulu dengan intonasi suara yang tertata rapi, tanpa ada nada sinis maupun getaran dendam sedikit pun.

    Ia tampak terkejut dengan ketenangan saya. Ia berdeham beberapa kali sebelum menjawab, “Wa… wa’alaikumussalam, Bu Husna. Alhamdulillah, kabar baik. Saya… saya dengar presentasi Anda hari ini menjadi agenda utama. Selamat atas keberhasilan Anda membenahi RA perbantuan kemarin.”

    “Alhamdulillah, semua ini terjadi karena pertolongan Allah SWT semata,” jawab saya singkat namun sarat akan keyakinan tauhid. “Saya permisi dulu, acara rapat koordinasi sudah mau dimulai. Semoga urusan Bapak selalu dimudahkan oleh Allah.”

    Saya melangkah melewatinya dengan punggung yang tegak dan hati yang merdeka. Di detik itu, saya tahu saya telah memenangkan peperangan terbesar di dalam hidup saya: peperangan melawan ego dan dendam pribadi. Memaafkan bukan berarti kita melupakan atau membenarkan tindakan salah orang lain terhadap kita, melainkan kita memilih untuk membebaskan jiwa kita sendiri dari belenggu kebencian yang melelahkan.

    Ketika saya berdiri di atas podium, di hadapan ratusan pasang mata pengurus yayasan dan rekan-rekan sejawat, saya menyampaikan materi presentasi dengan energi yang luar biasa membuncah. Saya tidak lagi berbicara sebagai seorang wanita 45 tahun yang malang karena gagal menikah, melainkan saya berbicara sebagai seorang pejuang peradaban yang sedang membagikan resep bagaimana mengelola lembaga pendidikan dengan bahan bakar cinta dan keikhlasan total kepada Sang Khalik.

    “Administrasi madrasah yang rapi, data digital yang valid, dan sistem manajemen yang transparan hanyalah wadah fisik,” ucap saya di akhir presentasi yang disambut tepuk tangan riuh. “Namun, ruh yang menghidupkan wadah tersebut adalah cinta. Ketika kita mengajar dan mengelola madrasah dengan rida lillahi ta’ala, maka setiap kesulitan data akan dicarikan jalan keluarnya oleh Allah, dan setiap hati guru yang lelah akan dikuatkan kembali oleh-Nya. Jangan pernah mengemis upah dan pengakuan dari manusia, karena kas milik Allah di langit tidak akan pernah kering untuk membayar peluh pengabdian kita.”

    Dari sudut ruangan, saya melihat laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di sisi lain, saya juga melihat beberapa pengurus yayasan meneteskan air mata haru. Di ujung presentasi itu, saya tahu bahwa dermaga yang retak kemarin hanyalah cara Allah untuk menggeser posisi kapal saya agar bisa bersandar di pelabuhan kemuliaan yang jauh lebih tinggi dan terhormat.

     

    4. Dialog Sunyi di Sudut Kamar Yatim Piatu

    Malam harinya, sepulang dari acara rapat koordinasi akbar, suasana rumah terasa begitu kontras. Setelah seharian berada di bawah kilauan lampu hotel dan gemuruh tepuk tangan penghargaan, saya kembali ke dalam ruang domestik yang sepi. Saya kembali menjadi Husnawati yang sendirian di rumah peninggalan kedua orang tua.

    Saya meletakkan tas kerja, melepas sepatu dinas, dan duduk di lantai ruang tengah sambil memeluk buket bunga penghargaan yang diberikan oleh pihak yayasan atas dedikasi saya. Keheningan malam kembali menyelimuti ruangan tersebut. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menghitung sisa-sisa usia kemanusiaan saya.

    Rasa lelah fisik yang luar biasa mendadak datang menyerang seluruh persendian tubuh. Usia 45 tahun memang tidak bisa berbohong; energi yang dikuras habis untuk memimpin madrasah, mengurus data operator, dan menghadapi tekanan emosional harian menuntut haknya untuk diistirahatkan.

    Saya berjalan perlahan menuju kamar tidur, mengambil selembar foto lama yang tersimpan rapi di dalam laci meja rias. Foto pernikahan kedua orang tua saya. Di foto itu, Ibu tampak begitu anggun dengan kebaya sederhananya, dan Ayah berdiri gagah di sampingnya dengan senyum batin yang tulus.

    Saya usap permukaan foto yang mulai memudar itu dengan ujung jari manis saya yang kini kosong tanpa cincin pertunangan siapa pun.

    “Ibu… Ayah…” bisik saya, air mata hangat kembali mengalir membasahi pipi. “Hari ini Husna berhasil menyelesaikan tugas dari yayasan dengan baik. Husna juga sudah memaafkan orang yang menyakiti Husna kemarin, Bu, Yah. Husna tidak dendam. Tapi… kenapa malam ini rumah ini terasa sepi sekali? Husna rindu masakan Ibu. Husna rindu mendengar suara Ayah membaca Al-Qur’an di ruang tengah sebelum subuh…”

    Rasa sepi sebagai seorang anak yatim piatu di usia dewasa adalah salah satu jenis kesepian yang paling sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Ini bukan sekadar tentang kerinduan fisik, melainkan tentang hilangnya sebuah ruang perlindungan absolut di dunia di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya tanpa perlu mengenakan topeng ketegaran seorang pemimpin lembaga.

    Namun, di tengah-tengah isak tangis sunyi itu, kesadaran tauhid saya kembali mengambil alih kendali pikiran. Saya ingat bahwa Allah SWT menyebut diri-Nya sebagai Al-Wali (Yang Maha Melindungi) dan Al-Anis (Yang Maha Menemani dalam kesendirian).

    Jika Allah mengambil Ibu dan Ayah dari hidup saya, itu artinya Allah ingin menjadi satu-satunya entitas yang mengasuh batin saya secara langsung melalui ujian-ujian takdir. Jika Allah menjauhkan saya dari pendamping hidup berupa suami, itu artinya Allah sedang cemburu jika ada cinta makhluk yang menandingi besarnya cinta saya kepada-Nya di dalam mihrab sepertiga malam.

    Saya meletakkan kembali foto tersebut dengan penuh penghormatan, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Malam ini, saya tidak ingin sujud saya dipenuhi oleh keluhan keduniawian yang cengeng. Saya ingin sujud saya menjadi sebuah deklarasi cinta yang utuh dan independen—sebuah sujud yang lahir dari jiwa yang telah merdeka dari ekspektasi makhluk.

     

    5. Menemukan Jangkar Abadi di Atas Sajadah Green Velvet

    Di atas sajadah beludru hijau tua yang menjadi saksi bisu runtuhnya ego saya semalam, saya kembali berdiri tegak. Saya membaca ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat malam dengan tartil yang lambat, meresapi setiap baris maknanya ke dalam pembuluh darah.

    Ketika tubuh ini meluncur ke bawah, meletakkan dahi, hidung, dan kedua telapak tangan di atas lantai yang dingin dalam posisi sujud, saya merasakan sebuah sensasi kedamaian spiritual yang luar biasa lapang. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya selama 45 tahun hidup di dunia.

    “Ya Allah, Ya Mushawwir, Ya Lathif…” urai batin saya dalam sujud yang teramat panjang. “Malam ini hamba datang bukan untuk meminta jodoh yang disegerakan, bukan pula untuk mengeluhkan kesendirian hamba sebagai anak yatim piatu. Malam ini hamba datang hanya untuk menyerahkan seluruh sisa umur hamba ke dalam genggaman ridha-Mu. Jika menurut ketentuan takdir-Mu di Lauhul Mahfuzh, jalan terbaik bagi hamba untuk menjaga kesucian iman dan keikhlasan mengajar adalah dengan berjalan sendiri seperti ini, maka hamba ridha, ya Allah. Cukupkanlah Engkau sebagai pemilik tunggal dari hati ini. Jangan biarkan ada ruang tersisa di dalam dada hamba untuk berharap pada janji manis manusia yang semu. Jadikanlah setiap langkah kaki hamba menuju madrasah, setiap ketikan jari hamba memperbaiki data operator para guru, sebagai jembatan cahaya yang menuntun hamba bersanding bersama Rasulullah dan kedua orang tua hamba di surga-Mu nanti…”

    Di dalam sujud itu, saya merasa seolah-olah seluruh beban dunia yang selama puluhan tahun ini menempel erat di pundak saya diangkat satu per satu oleh malaikat-malaikat langit. Lantai tempat saya bersujud seolah berubah menjadi jangkar abadi yang mengikat kapal kehidupan saya dengan sangat kokoh, sehingga sekencang apa pun ombak badai sosial di luar sana mencoba menggoyang, kapal saya tidak akan pernah bisa bergeser atau karam lagi.

    Saya menyadari dengan seyogyanya bahwa dermaga yang retak di dunia ini adalah cara ekstrem dari Allah untuk menyelamatkan kita dari keruntuhan sistemik yang jauh lebih besar di akhirat nanti. Pernikahan yang batal dan lelaki PHP yang pergi adalah bentuk perlindungan konkret dari Allah agar saya tidak salah memilih nakhoda yang justru akan menenggelamkan visi akhirat saya dalam mengelola Kurikulum Berbasis Cinta.

    Saat saya mengucapkan salam penutup shalat, dada saya terasa seringan kapas. Keikhlasan yang abstrak di mata manusia kini telah menjelma menjadi sebuah kekuatan batin yang sangat konkret dan nyata di dalam diri saya.

     

    6. Fajar Kejayaan RA Aisyah Afiqannisa

    Keesokan paginya, Kota Bekasi disambut oleh cuaca yang sangat cerah. Sinar matahari pagi yang hangat menembus ventilasi jendela kamar, membangunkan saya dengan energi optimisme baru yang belum pernah ada tandingannya.

    Saya mengendarai motor saya menuju RA Aisyah Afiqannisa bukan lagi dengan perasaan seorang wanita yang terpaksa tegar, melainkan dengan jiwa seorang pemenang takdir yang sesungguhnya. Saya melaju dengan senyuman lepas, menyapa setiap tukang ojek, pedagang asongan, dan polisi cepek di persimpangan jalan dengan doa keselamatan di dalam hati.

    Sesampainya di madrasah, sebuah kejutan besar telah menanti. Di depan gerbang sekolah, berbaris rapi puluhan wali murid bersama seluruh jajaran guru. Mereka memegang sebuah spanduk besar hasil rajutan tangan yang bertuliskan:

    “Selamat Atas Penghargaan Dedikasi Terbaik Umi Husnawati, Pembawa Lentera Kurikulum Berbasis Cinta. Kami Bangga Menjadi Bagian dari Perjuangan Umi!”

    Anak-anak didik yang mungil langsung berlarian menghambur ke arah saya begitu saya turun dari motor. Mereka memeluk kaki saya, mencium tangan saya bergantian, dan menyodorkan setangkai bunga mawar asli yang dipetik dari halaman rumah mereka masing-masing.

    “Umi Husna… selamat ya! Umi jangan capek-capek ya, nanti kalau Umi capek, siapa yang peluk kita pagi-pagi?” celoteh Rafif, salah satu murid kelas B yang terkenal paling aktif, sambil mendongak menatap saya dengan mata polosnya yang bulat.

    Saya berlutut di atas tanah halaman madrasah, menyejajarkan posisi tubuh saya dengan anak-anak suci tersebut. Saya dekap tubuh-tubuh mungil mereka ke dalam dada saya dengan pelukan yang teramat erat—sebuah dekapan khas Kurikulum Cinta yang meruntuhkan segala jenis sekat kelelahan duniawi.

    Di saat itulah, air mata saya kembali menetes. Namun kali ini, itu adalah air mata kejayaan batin yang teramat sangat lapang.

    Allah SWT telah membuktikan janji-Nya dengan metode matematika langit yang sangat presisi: bahwa ketika kita bersedia kehilangan hal-hal kecil yang bersifat ego pribadi (seperti status pernikahan di mata manusia atau pengakuan dari lelaki semu) demi mempertahankan keikhlasan mengabdi kepada urusan makhluk-Nya, maka Allah sendirilah yang akan mengambil alih untuk memuliakan nama kita di bumi dan di langit.

    Saya tidak lagi merasa sepi. Saya tidak lagi merasa yatim piatu yang malang. Di tempat ini, di bawah atap RA Aisyah Afiqannisa ini, Allah telah mengganti satu pundak sandaran manusia yang hilang dengan ribuan pundak doa dari anak-anak suci dan para pejuang pendidikan Islam yang tulus.

    7. Pelita Peradaban yang Abadi

    Di usia 45 tahun ini, saya akhirnya memahami satu esensi paling agung dalam teologi Kurikulum Berbasis Cinta: bahwa kebahagiaan tertinggi seorang manusia bukan terletak pada apa yang berhasil ia miliki atau siapa yang berhasil ia sanding di pelaminan dunia, melainkan pada seberapa besar kapasitas jiwanya mampu menjelma menjadi cahaya kebermanfaatan yang mengusir kegelapan bagi sesamanya.

    Dermaga manusia boleh saja retak dan hancur berkeping-keping, namun samudra ridha Allah akan selalu membentang luas bagi mereka yang berani melepaskan ketakutan dunianya dan mulai berlayar dengan modal iman yang murni.

    Saya berdiri dari halaman sekolah, menggandeng tangan anak-anak didik saya berjalan masuk menuju ruang kelas untuk memulai hari yang baru. Lentera cinta di dalam dada ini kini telah menyala dengan sangat terang, memancarkan pendaran energi positif yang akan terus bergerak mengusir kegelapan birokrasi, merapikan data-data yang eror, dan menghangatkan jiwa-jiwa guru yang sempat layu di luar sana.

    Tugas saya di dunia ini belum selesai. Selama napas masih dikandung badan, selama detak jantung ini masih berdenyut karena izin-Nya, saya akan terus berdiri tegak di garis depan perjuangan pendidikan anak usia dini. Menjadi pelita peradaban yang hakiki, merawat mutiara-mutiara bangsa dengan sentuhan kasih sayang yang tulus, demi menjemput satu-satunya rida yang bermakna: rida tertinggi dari Sang Khalik di dunia hingga fajar keabadian di yaumul akhirat nanti. Pundak ini boleh saja pernah lelah memikul amanah bumi, namun sujud di atas sajadah-Nya akan selalu mengembalikan kekuatan langit ke dalam jiwa ini. Lillahi ta’ala, bismillah, perjuangan cinta ini baru saja dimulai kembali dengan lembaran yang jauh lebih suci dan utuh.

     

     

    Kreator : Husnawati, (Hawa81)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 8: Dari Dermaga Yang Retak Menemukan jangkar abadi di atas gelombang takdir

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021