BAB 8: SAYAP ES DAN PENGKHIANAT
Angin badai. Salju menusuk kulit.
Mereka melayang di atas sayap es yang dibuat Alistair.
Lyra menangis dipelukan Seraphina. Leon memegang erat jubah Raja.
- PENGAKUAN DI ATAS LANGIT
“Turunkan kami!” teriak Seraphina. “Yang Mulia akan jatuh!”
“Aku tidak akan jatuh,” kata Alistair. Nafasnya putih. Matanya tidak lepas dari wajah Seraphina.
“Kau bisa berhenti bohong sekarang.”
Seraphina membeku. “Saya tidak—”
“Bulan sabit.” Alistair menunjuk bekas luka di pergelangannya. “9 tahun lalu. Latihan pedang. Aku yang buat. Karena aku ceroboh.”
Suara Raja pecah. “Dan bau salju ini. Bunga es yang mekar. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya.”
Sayap es oleng.
“Seraphina,” bisik Alistair. “Itu kau. Benar kan?”
Air mata Seraphina membeku di pipi.
“Yang Mulia salah orang,” bisiknya. Tapi suaranya bergetar.
Alistair menggeleng. Dia menarik Seraphina lebih dekat. “Kalau kau bukan dia… kenapa jantungku sakit sekali melihat kau terluka?”
Dari bawah, obor-obor pasukan sudah menyala.
“KE SANA! MEREKA KE ARAH HUTAN SALJU ABADI!”
- PERSIAPAN PERANG – HUTAN SALJU ABADI
_DUK!_ Mereka mendarat di tengah hutan yang pohonnya semua dari es.
Di tengahnya, pondok kecil. Dan di depan pintu… Nenek Ysra.
“Akhirnya kau pulang, cucuku,” kata Nenek. Rambut peraknya berkibar.
Matanya menatap Alistair tajam. “Dan kau… pembunuh.”
Alistair berlutut. “Aku datang untuk menebus, Nyonya.”
Nenek menoleh ke Seraphina. “7 keping. Sudah berapa?”
“Dua,” jawab Seraphina pelan. “MEMAAFKAN dan MELINDUNGI.”
Nenek mengangguk. “Bagus. Karena perang sudah dimulai.”
Dia menunjuk ke langit. Di kejauhan, bendera Ardentia. Pasukan Selene.
- SELENE PANGGIL PASUKAN
Istana. Balai Sidang.
Selene berdiri di singgasana. Perut palsunya dilepas. Dia pakai baju zirah merah.
“Rakyat Ardentia!” teriaknya. “Nyonya Salju adalah pengkhianat! Dia mencoba meracuni Raja! Dia mencuri! Dan dia melarikan diri bersama Raja!”
“Atas nama mahkota, aku menyatakan mereka musuh kerajaan!”
Dia menghunuskan pedang. “BAKAR HUTAN SALJU ABADI! TIDAK ADA YANG BOLEH HIDUP!”
10.000 pasukan. Penyihir api. Naga es.
Bergerak ke arah hutan.
—
DI PONDOK NENEK
Seraphina memegang tangan Alistair dan anak-anaknya.
“Nenek, kita lawan?” tanya Leon, menggenggam pisau kayunya.
Nenek Ysra tersenyum sedih. Dia memberikan Seraphina 5 keping kertas kosong yang tersisa.
“Pilihan tetap di tanganmu. Balas dendam… atau keluarga.”
Alistair menggenggam tangan Seraphina. “Apapun pilihanmu. Aku di sini.”
Di luar, suara terompet perang terdengar.
Salju berubah merah karena pantulan obor.
Seraphina menatap langit. Menatap anak-anaknya. Menatap Alistair.
Lalu dia membakar keping ketiga.
Dengan darahnya sendiri dia menulis: “MEMPERCAYAI’
“Kita perang,” katanya pelan. “Tapi bukan untuk dendam. Untuk rumah kita.”
Salju di sekitar pondok meledak. Menjadi badai.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 8 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.