BAGIAN III: SAYA, BUKU, DAN DUNIA LITERASI
Bobo adalah majalah pertama yang saya baca semasa kecil. Almarhum Mama waktu itu berlangganan dua majalah. Kartini untuk beliau dan Bobo untuk kami, anak-anaknya. Saya empat bersaudara dan saya anak kedua.
Sampai sekarang saya tidak tahu persis alasan Mama memilih Bobo untuk kami. Mungkin karena cerita bergambarnya menarik. Atau mungkin karena menurut beliau majalah itu cocok untuk anak-anak. Yang jelas, sekarang saya merasa bersyukur. Bobo menjadi salah satu pintu pertama saya mengenal buku dan bacaan, mungkin kebiasaan membaca saya memang diwarisi dari Mama.
Kebiasaan itu kemudian diperkuat oleh kakak pertama saya. Kami memanggilnya Mbak Nita, panggilan kesayangan kami. Melalui buku dan novel yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah, saya mulai mengenal bacaan yang lebih beragam. Setiap dua pekan sekali, biasanya hari Minggu, Mbak Nita mengajak saya pergi ke pasar untuk mencari buku bekas.
Kalau menggunakan istilah sekarang mungkin disebut preloved. Isinya majalah, komik, dan berbagai bacaan yang waktu itu terasa seperti harta karun kecil bagi kami. Bagi kami, buku bekas bukan sekadar barang murah melainkan pintu menuju cerita-cerita baru yang belum pernah kami kenal.
Kami membeli buku-buku itu dari uang saku yang kami sisihkan sedikit demi sedikit. Kami tidak pernah meminta orang tua untuk membelikan buku bacaan. Bukan karena orang tua tidak peduli kepada kami. Justru sebaliknya. Sejak kecil kami memahami bahwa kebutuhan pokok keluarga adalah prioritas yang harus didahulukan oleh orang tua. Justru dari situ saya belajar satu hal sederhana, kalau menginginkan sesuatu, tidak selalu harus menunggu orang lain memberikannya.
Semasa SD hingga SMA, bacaan saya semakin beragam, mulai dari majalah dan komik, saya mulai mengenal novel dan cerita petualangan. Saya pernah begitu menikmati Tapak Sakti Sembilan Benua, petualangan Asterix dan Obelix, sampai kisah Tangue dan Laverdure. Bahkan cerita tentang Tangue dan Laverdure sempat membuat saya bercita-cita menjadi pilot.
Kemudian saya mengenal karya Karl May. Kisah Old Shatterhand dan Winnetou membawa saya ke dunia yang sama sekali berbeda dari lingkungan tempat saya tumbuh. Imajinasi saya dibawa ke alam liar dengan gerombolan bison, padang luas, dan kehidupan suku asli di benua Amerika.
Setelah itu saya berkenalan dengan Agatha Christie. Dari karyanya saya mengenal Hercule Poirot dan Miss Marple. Saya menikmati bagaimana sebuah persoalan tidak selalu diselesaikan dengan kekuatan, tetapi melalui kemampuan membaca situasi, memahami manusia, dan menggunakan logika.
Waktu kecil saya tentu belum memahami semua itu sebagai pelajaran tentang manusia, saya hanya menikmati ceritanya. Tetapi ketika melihat kembali perjalanan membaca itu sekarang, saya mulai menyadari bahwa mungkin buku-buku tersebut diam-diam sedang memperkenalkan saya kepada banyak cara manusia menjalani hidup.
Ada tokoh yang berani. Ada yang berkhianat. Ada yang mencintai. Ada yang kehilangan. Ada yang berjuang mempertahankan sesuatu yang diyakininya.
Saya juga membaca Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja, Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka, hingga Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Cerita-cerita itu membawa saya ke tempat, zaman, dan kehidupan yang tidak saya alami sendiri.
Tanpa sadar, ruang di kepala saya menjadi semakin luas. Saya bisa mengenal kehidupan yang berbeda dari kehidupan saya. Bertemu tokoh yang memiliki latar belakang, pilihan, dan cara berpikir yang berbeda. Bahkan kadang berbeda dengan nilai yang saya yakini. Saya mulai memahami satu hal yang dulu belum saya mengerti bahwa manusia tidak selalu melihat dunia dari jendela yang sama.
Kebiasaan membaca itu terus saya bawa sampai kuliah. Komunitas yang saya ikuti saat itu bahkan “mewajibkan” anggotanya membaca buku setiap bulan. Awalnya mungkin terasa seperti kewajiban. Tetapi justru dari sana saya memasuki dunia yang semakin berwarna, dunia pemikiran.
Buku tidak lagi sekadar menjadi hiburan. Saya mulai menikmati percakapan setelah membaca sebuah buku. Membandingkan pemikiran. Berdebat tanpa harus bermusuhan. Menemukan bahwa satu cerita bisa ditafsirkan secara berbeda oleh orang yang berbeda. Saya mulai menikmati kenyataan bahwa orang lain bisa membaca buku yang sama, tetapi membawa pulang kesimpulan yang berbeda.
Sampai sekarang kebiasaan itu masih saya lanjutkan. Saya mengikuti beberapa komunitas literasi di Kota Mojopahit. Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara pandang yang beragam. Menariknya, semakin banyak buku yang saya baca dan semakin banyak orang yang saya temui dalam komunitas literasi, saya justru semakin sadar bahwa saya tidak selalu benar.
Mungkin ini salah satu hadiah terbesar dari membaca. Bukan karena membaca membuat kita memiliki lebih banyak jawaban, tetapi karena membaca membuat kita menyadari bahwa hidup sering kali memiliki lebih dari satu cara untuk dipahami.
Benar kata orang yang sering kita dengar, buku adalah jendela dunia. Tetapi bagi saya, buku bukan hanya jendela untuk melihat dunia. Buku juga seperti cermin untuk melihat diri sendiri.
Dari cerita yang saya baca, perlahan saya belajar mengenali perasaan yang mungkin sebelumnya sulit saya beri nama. Saya belajar memahami kesedihan tanpa harus mengalami kehilangan yang sama. Saya bisa memahami kemarahan seseorang tanpa harus menjadi orang yang marah.
Buku mempertemukan saya dengan kehidupan orang lain tanpa mengharuskan saya menjalani kehidupan tersebut. Mungkin keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara saya berinteraksi dengan lingkungan. Tetapi buku memberi ruang yang berbeda. Buku membuat saya berlatih melihat sesuatu dari tempat yang bukan milik saya.
Dan kebiasaan itu ternyata terbawa ke kehidupan nyata. Semakin lama saya bekerja di dunia komunikasi, saya semakin merasakan bahwa memahami orang lain tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang mereka katakan. Ada sesuatu di balik sebuah kalimat. Ada pengalaman. Ada kekecewaan. Ada ketakutan. Ada harapan. Ada kepentingan. Bahkan kadang ada luka yang tidak terlihat.
Tidak semuanya diucapkan dan tidak semuanya bisa dibaca dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang. Saya mulai memahami hubungan antara membaca dan mendengar. Membaca membuat saya terbiasa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dari sana saya belajar memahami. Dan ketika berhadapan dengan orang lain, kebiasaan memahami itu membuat saya tidak terlalu tergesa-gesa memberikan respons.
Saya mulai belajar mendengar bukan hanya untuk menunggu giliran berbicara.
Saya mencoba mendengar untuk memahami.
Dalam pekerjaan komunikasi, kemampuan berbicara tentu penting. Tetapi semakin lama saya berada di dalamnya, saya justru semakin menyadari bahwa kemampuan mendengar memiliki tempat yang sama pentingnya.
Orang yang pandai berbicara bisa membuat orang lain mendengarkan. Tetapi orang yang mau mendengar memberi dirinya kesempatan untuk memahami. Mungkin di situlah membaca memberi pengaruh yang paling tidak saya sadari. Membaca memberi saya bahan untuk berpikir. Berpikir membuat saya belajar memahami. Memahami membuat saya lebih berhati-hati ketika menulis dan berbicara. Karena setiap kata yang kita pilih bisa diterima secara berbeda oleh orang yang berbeda.
Hal yang sama juga saya rasakan ketika menulis. Ketika menulis, saya seperti sedang mengajak pembaca masuk ke sebuah ruang yang pernah saya datangi. Tetapi saya tidak pernah bisa memaksa mereka melihat ruang itu persis seperti yang saya lihat. Pembaca memiliki pengalaman hidupnya sendiri. Ia membawa ingatannya sendiri. Ia memiliki cara pandang sendiri. Dan saya belajar menerima kenyataan itu.
Mungkin karena itulah membaca kemudian mengubah cara saya mendengar. Saya tidak lagi hanya mendengar apa yang dikatakan seseorang. Saya belajar memberi ruang untuk memahami mengapa ia mengatakannya.
Tentu saya tidak selalu berhasil. Kadang saya masih terburu-buru menyimpulkan. Kadang masih lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada memahami lawan bicara. Tetapi setidaknya saya sekarang tahu bahwa mendengar membutuhkan lebih dari sekadar telinga. Ia membutuhkan kesediaan untuk menunda penilaian. Dan mungkin, membaca telah melatih saya melakukan itu.
Pada akhirnya, membaca tidak hanya membuat saya lebih banyak tahu. Membaca justru membuat saya lebih banyak bertanya. Tentang manusia. Tentang kehidupan. Tentang diri sendiri. Dan perlahan saya memahami bahwa mungkin itulah hubungan paling dalam antara membaca dan komunikasi.
Buku-buku yang saya baca sejak kecil tidak pernah secara langsung mengajari saya bagaimana menjadi seorang komunikator. Tetapi mereka mempertemukan saya dengan banyak manusia, banyak kehidupan, banyak pilihan, dan banyak cara memandang dunia.
Dari sana saya belajar satu hal yang sekarang terasa sederhana, tetapi dulu tidak pernah saya pikirkan bahwa sebelum memahami kata-kata seseorang, kita perlu belajar memahami manusia yang mengucapkannya. Barangkali jauh sebelum saya memahami komunikasi sebagai profesi, buku-buku itulah yang diam-diam mengajari saya mendengar.
Kreator : Brilliant Johan Anugerah (Bejo)
Comment Closed: BAB 8 – Membaca Membuat Saya Lebih Pandai Mendengar
Sorry, comment are closed for this post.