Ada sunyi yang mendadak luruh dan memenuhi setiap sudut rumah kami di Banjarnegara ketika melepas keberangkatan Mas Giyanto ke Tanah Suci pada musim haji tahun 2012. Angin pegunungan yang biasanya berembus sejuk membawa kedamaian, hari itu seakan membawa serta sebagian dari jiwaku yang terbang bersamanya. Di ruang tamu yang masih menyisakan aroma harum sisa doa bersama para tetangga, aku terduduk menatap kursi kayu yang kosong. Langkah kaki Mas Giyanto yang perlahan menjauh menuju bandara seolah meninggalkan gema yang terus berulang di dalam dadaku. Aku telah tersenyum tegap di depan para kerabat, mencoba menampilkan wajah seorang istri yang ikhlas dan rida melepaskan suaminya memenuhi panggilan Ilahi. Namun, di balik ketegaran yang kutunjukkan di hadapan orang banyak, hari-hari pertama tanpa Mas Giyanto di rumah terasa begitu berat, dingin, dan asing.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun mengarungi bahtera pernikahan yang penuh dengan ombak pasang surut kehidupan, aku harus melewati malam-malam tanpa kehadiran sosok pelindungku. Rumah kami yang sederhana di lereng Banjarnegara ini mendadak menjelma menjadi sebuah labirin yang sunyi. Ketika malam merayap naik dan kabut tebal mulai turun menyelimuti atap rumah, ranjang tidur kami menyisakan ruang kosong yang terasa begitu dingin di sebelahku. Biasanya, ada hela napas teraturnya yang menjadi kidung pengantar tidurku. Ada jemari kasarnya yang selalu menggenggam tanganku, meyakinkan bahwa segala badai ekonomi dan ujian hidup akan mampu kami lalui bersama. Kini, yang tersisa hanyalah bantal yang masih menyisakan aroma minyak rambutnya yang khas dan keheningan yang mencekam.
Akan tetapi, di tengah jarak ribuan kilometer yang membentang luas antara Banjarnegara dan jazirah Arab, aku justru merasakan sebuah keajaiban yang luar biasa terjadi. Cinta Mas Giyanto kepadaku tidak berkurang sedikit pun karena bentangan jarak geografi; sebaliknya, getaran cintanya terasa tumbuh berlipat-lipat ganda. Jarak tidak bertindak sebagai pemisah yang mendinginkan, melainkan sebagai tungku pembakaran yang memurnikan rasa. Jarak itu merambat melintasi samudera, melompati benua, menembus batas-batas cakrawala, dan langsung mendekap hatiku yang sempat menggigil kesepian di Banjarnegara. Aku menyadari bahwa ketika dua hati terikat oleh simpul karena Allah, maka ruang dan waktu kehilangan kekuasaannya untuk memisahkan.
Setiap kali telepon seluler jadulku berdering memecah keheningan di sepertiga malam, jantungku berdesir hebat. Tanpa melihat layarnya pun, aku sudah tahu dengan pasti bahwa itu adalah panggilan dari Tanah Suci. Panggilan yang selalu kunantikan dengan rindu yang membuncah. Di saat bumi Banjarnegara terlelap dalam pelukan malam yang pekat, suaraku dan suaranya bertemu di udara, menjembatani kerinduan yang melangit. Suara serak Mas Giyanto yang menahan tangis haru selalu menyapa pendengaranku, terdengar begitu dekat seolah ia sedang berbisik persis di samping telingaku.
“Sri… Mas sedang berdiri di depan Raudah,” bisiknya dengan suara yang bergetar hebat, diselingi isak tangis yang tertahan di sela riuh rendah suara jutaan jemaah lain yang memadati Masjid Nabawi. Mendengar latar belakang suara gemuruh doa dari belahan dunia lain, dadaku bergemuruh. “Di tempat suci ini, Sri… di taman surga ini, setelah selawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, nama Sri yang pertama kali Mas sebut dalam doa. Mas tidak bisa menahan air mata, Mas menangis ingat semua bakti Sri. Ingat keikhlasan Sri yang luar biasa, ingat bagaimana Sri merelakan tabungan kita dan merelakan kenyamananmu demi keberangkatan Mas ke sini. Allah menjadi saksi di tempat yang mulia ini, Mas rida pada Sri… Mas sangat mencintaimu, istriku, dunia dan akhirat.”
Mendengar ucapan yang tulus dari lubuk hatinya yang terdalam, pertahananku runtuh seketika. Air mataku langsung tumpah berderai, membasahi kain sajadah di kamar kami yang remang-remang. Di atas sajadah yang sama, di bawah langit Banjarnegara yang dingin dan diselimuti kabut, aku merasakan dadaku mendadak begitu hangat, seolah-olah ada aliran lentera yang menyala di dalamnya. Rasa cinta, penghormatan, dan penghargaan setinggi langit yang dikirimkan Mas Giyanto dari Madinah Al-Munawwarah terasa begitu nyata, mewujud menjadi dekapan gaib yang memeluk jiwaku yang sempat didera sepi. Segala lelah, segala peluh dalam mendampinginya selama tujuh tahun ini, menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa syukur yang membumbung tinggi ke Arsy.
Hari-hari berganti, dan tibalah saat yang paling sakral dalam ibadah haji. Ketika Mas Giyanto berada di Padang Arafah, bersiap melakukan wukuf di bawah sengatan matahari yang terik, ia kembali menyempatkan diri menghubungi jiwaku. Melalui sambungan telepon yang berkresek namun sarat akan energi spiritual, ia menumpahkan isi dadanya. “Sri, Mas sama sekali tidak merasa sendirian di sini,” ucapnya, suaranya kini terdengar lebih mantap namun tetap sarat akan keharuan yang mendalam. “Di setiap langkah kaki Mas melangkah, di bawah terik matahari Arafah yang membakar kulit, bayangan ketulusan senyummu selalu menemani dan memberi Mas kekuatan. Mas berdoa dengan sungguh-sungguh di waktu wukuf ini, agar kelak, Allah tidak hanya mengizinkan kita berdua berdiri di sini bersama secara fisik di musim haji berikutnya, tetapi lebih dari itu, Mas meminta agar Allah menyatukan kita kembali di surga-Nya kelak, abadi, tanpa ada tirai pemisah atau ujian jarak lagi.”
Dalam kejauhan dan kesendirian malam-malam di Banjarnegara itulah, aku akhirnya menyadari satu hal yang teramat indah dan mendalam. Ditinggal beribadah haji oleh suami tercinta bukanlah sebuah hukuman atau ujian kesepian yang menyiksa, melainkan sebuah madrasah cinta yang sesungguhnya. Allah sedang menggembleng hati kami berdua dalam sebuah sekolah spiritual yang agung. Mas Giyanto menggunakan setiap detik waktunya di tempat-tempat yang paling mustajab di muka bumi—di depan Ka’bah, di Multazam, di Raudah, dan di Padang Arafah—bukan untuk meminta kemewahan duniawi, bukan untuk meminta kembalinya harta materi yang sempat hilang atau surut dari kehidupan kami. Tidak. Ia menggunakan hak istimewanya sebagai tamu Allah untuk melangitkan nama istrinya. Ia memohon berkah melimpah untuk rumah tangga kami, dan meminta dengan linangan air mata agar Allah senantiasa memuliakan, menjaga, dan merahmati wanita sederhana yang telah mendampinginya dalam suka dan duka.
Kekosongan di dalam rumah kami kini tidak lagi terasa menakutkan atau menyedihkan. Allah telah mengisinya dengan rasa cinta suamiku yang kini bertransformasi menjadi jauh lebih besar, lebih suci, lebih matang, dan melangit tinggi. Jarak ribuan kilometer ini telah mengajarkan sebuah falsafah hidup yang teramat berharga bagi kami: bahwa cinta yang dibangun di atas fondasi takwa, keikhlasan, dan rida karena Allah tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh bentangan bumi sedalam atau seluas apa pun. Dua hati yang saling mencintai karena-Nya akan selalu bertemu, berpelukan, dan menyatu kembali di atas sajadah doa, di mana jarak horizontal di bumi diubah menjadi kedekatan vertikal di hadapan Sang Pencipta.
Keajaiban keberangkatan haji tahun 2012 itu akhirnya menjelma menjadi pelajaran paling berharga dan tiang pancang yang kokoh bagi rumah tangga kami di masa-masa setelahnya. Kami belajar dengan segenap jiwa dan raga bahwa harta bisa dicari dengan ikhtiar, rumah bisa dibangun kembali dengan bata dan semen, namun keyakinan yang menghunjam ke dalam dada dan kepasrahan total pada ketetapan Allah SWT adalah pondasi utama yang sejati. Itulah yang membuat kapal rumah tangga kami akan selalu aman dari badai, damai dalam kesederhanaan, dan selalu dipenuhi dengan keajaiban serta berkah yang tidak pernah terduga arah datangnya. Jarak telah menjauhkan raga kami untuk sementara, namun di saat yang sama, jarak itulah yang telah melangitkan rindu dan mengabadikan cinta kami hingga ke jannah.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 8_ Jarak yang Melangitkan Rindu
Sorry, comment are closed for this post.