Setiap anak adalah anak tangga yang Allah sediakan bagi orang tuanya untuk mendaki derajat kesabaran dan kesyukuran. Setelah kelahiran Faathir Hidyatama Sugiyanto pada tahun 2006, hari-hari kami berjalan dengan penuh warna. Kami menikmati setiap proses tumbuh kembang putra sulung kami dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan yang kami miliki. Namun, di lubuk hati yang terdalam, ada satu rindu yang perlahan tumbuh dan kerap kami langitkan dalam sunyinya sepertiga malam: kerinduan untuk kembali menimang buah hati, memberikan Faathir seorang adik yang akan menemani langkahnya.
Tahun demi tahun berganti. Satu tahun, dua tahun, hingga lima tahun berlalu, tanda-tanda kehadiran malaikat kecil itu belum juga tampak. Ada kalanya rasa cemas menggelayut, tetapi Mas Giyanto selalu menggenggam tanganku dan berbisik tenang di atas sajadah, “Sri, anak adalah mutlak hak prerogatif Allah. Tugas kita hanya mengetuk pintu-Nya tanpa lelah. Dia tahu waktu yang paling tepat.”
Hingga akhirnya tiba—sebuah takdir paling indah sekaligus ajaib dalam sejarah pernikahan kami.
Di tahun itu, setelah penantian panjang, Mas Giyanto mendapat panggilan suci untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ada rasa bahagia yang membuncah, namun di sisi lain, terselip rasa berat di hatiku karena harus melepas kepergian sang imam sendirian ke belahan dunia yang jauh. Terlebih, Faathir kecil saat itu baru saja menginjak usia enam tahun.
“Sri, jaga rumah dan Faathir baik-baik, ya. Mas berangkat untuk memenuhi panggilan Allah. Mas titipkan kalian pada penjagaan-Nya yang tidak pernah lalai,” bisik Mas Giyanto lembut sesaat sebelum keberangkatannya, matanya berkaca-kaca menahan haru.
Hari-hari pertama sejak keberangkatan Mas Giyanto ke Makkah terasa sunyi. Rumah kami di Banjarnegara mendadak terasa begitu luas tanpa kehadiran sosoknya. Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah keajaiban perlahan mulai merayap tanpa kusadari.
Sore itu, udara Banjarnegara terasa begitu dingin setelah diguyur gerimis. Faathir sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan kayunya di ruang tengah, sementara aku merasakan tubuhku begitu hangat, lemas, dan kepala yang mendadak pening luar biasa. Gejala ini terasa sangat akrab, memicu detak jantungku untuk berdegup lebih kencang. Atas dorongan rasa penasaran yang bercampur doa pasrah, keesokan paginya aku mencoba melakukan tes kehamilan secara mandiri di kamar mandi.
Saat dua garis merah itu tampak dengan begitu jelas di atas alat tes kecil itu, seluruh persendianku mendadak luruh. Air mataku tumpah seketika. Aku terduduk di lantai kamar mandi, mendekap dadaku yang bergemuruh hebat oleh rasa tidak percaya sekaligus syukur yang membuncah.
“Ya Allah… di saat suamiku sedang bertamu di rumah-Mu, Engkau menitipkan kado terindah ini…” bisikku di sela isak tangis yang tak lagi mampu kubendung.
Tantangan terbesar berikutnya adalah bagaimana menyampaikan kabar bahagia ini kepada Mas Giyanto yang berada ribuan kilometer di seberang samudera. Pada masa itu, komunikasi jarak jauh tidak semudah sekarang, namun kerinduan dan kabar gembira ini harus segera dilangitkan.
Malam harinya, setelah menunggu waktu yang tepat di Arab Saudi, telepon selulerku akhirnya bergetar. Layar menampilkan nama Mas Giyanto. Dengan tangan bergetar, kutekan tombol hijau.
“Assalamualaikum, Sri… bagaimana keadaanmu dan Faathir di rumah? Mas baru saja selesai tawaf, rasanya rindu sekali,” suara Mas Giyanto terdengar begitu hangat di ujung telepon, diselingi riuh suara jemaah lain di Masjidil Haram.
“Waalaikumussalam, Mas…” jawabku lirih. Suaraku langsung tercekat di tenggorokan, dan air mata kembali mengalir deras sebelum sempat aku berkata-kata lagi.
“Sri? Ada apa, Sri? Kamu menangis? Faathir sakit?” nada suara Mas Giyanto mendadak berubah cemas, penuh kekhawatiran seorang kepala keluarga yang berada jauh di rantau orang.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk berbicara di sela tangis haru. “Mas… Mas tidak perlu cemas. Sri dan Faathir sehat. Mas… Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa Mas di Baitullah. Sri… Sri positif hamil, Mas. Sebentar lagi Faathir mau punya adik.”
Seketika, hening melanda di ujung telepon. Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, hanya terdengar helaan napas yang berat. Lalu, kurasakan getaran isak tangis yang teramat dalam dari suamiku. Mas Giyanto, sang imam yang selalu tegar menghadapi badai ekonomi kami, menangis sejadi-jadinya di depan Kakbah.
“Alhamdulillah… Ya Allah, Engkau Maha Mendengar…” bisik Mas Giyanto di sela tangisnya yang pecah. Suaranya bergetar hebat oleh rasa syukur yang membubung tinggi ke langit Makkah. “Sri… Mas sedang berdiri menatap Kakbah saat meneleponmu. Baru saja, dalam tawafku, Mas meminta agar Allah melimpahkan keturunan yang saleh dan salehah untuk kita. Ternyata, sebelum Mas selesai meminta, Allah sudah menitipkannya di rahimmu. Terima kasih, Sri… terima kasih telah menjaga amanah ini.”
Malam itu, di bawah langit Banjarnegara yang dingin dan di bawah langit Makkah yang suci, dua hati kami menyatu dalam sujud syukur yang teramat dalam. Jarak ribuan kilometer seolah melesap, menyisakan kehangatan cinta yang luar biasa.
Faathir yang melihatku menangis sambil memegang telepon genggam langsung berlari mendekat, memeluk kakiku dengan wajah polosnya. “Ibu… kenapa menangis?”
Kudekap tubuh mungil putra sulungku itu erat-erat. “Faathir… Alhamdulillah, sebentar lagi Faathir mau punya adik. Bapak menangis di Makkah karena sangat bahagia.” Seketika itu juga, binar bahagia terpancar dari mata bulat Faathir kecil yang langsung tersenyum lebar.
Sembilan bulan masa kehamilan kulewati dengan penuh penjagaan setelah kepulangan Mas Giyanto dari Tanah Suci. Gelar “Pak Haji” yang kini disandangnya membawa keteduhan baru di rumah kami. Setiap malam sebelum tidur, Mas Giyanto tidak pernah absen untuk mengusap perutku yang kian membesar, membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan membisikkan doa-doa keselamatan bagi janin di dalam rahimku.
Hingga hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba pada pertengahan tahun 2013.tepatnya pada Hari Minggu,tanggal 9 Juni 2013.
Saat itu sedang diadakan acara Sema’an AlQuran dirumah kami, pagi pagi aku sudah melaksanakan kegiatan seperti menjemur pakaian, menyapu,mengepel dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu untuk acara sema’an Alqur’an. Sekitar jam 8 pagi rasa mulas mulai muncul,karena ini adalah pengalaman keduaku melahirkan jadi lebih tenang.
Sekitar pukul 9.30 WIB ,Mas Giyanto mengantarku ke Puskesmas terdekat dan alhamdulillah sudah pembukaan tiga. Acara Sema’an AlQur’an dirumah tetep berjalan dengan lancar di dampingi oleh teman mas Giyanto
Di ruang persalinan yang sarat akan perjuangan antara hidup dan mati, Mas Giyanto setia berdiri di samping kepalaku. Tangannya tak sedetik pun lepas kugenggam, menjadi sumber kekuatan terbesar selain kepasrahanku kepada Sang Khalik. Ketika rasa sakit mencapai puncaknya, aku hanya bisa berzikir, menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku.
Sekitar pukul 11.30 WIB di bawah penanganan bidan yang cekatan di Puskesmas , suara tangis bayi yang nyaring kembali memecah keheningan. Anak kedua kami lahir dengan selamat dan sehat walafiat.sebuah tangisan melengking yang sangat merdu memecah ketegangan di ruangan itu.
“Alhamdulillah… bayinya perempuan, Bu, Pak. Sangat cantik dan sehat,” ucap bidan dengan senyuman hangat seraya meletakkan bayi mungil yang masih basah itu di atas dadaku.
Seketika itu juga, semua rasa lelah, sakit, dan perjuangan panjang seolah lenyap menguap ke udara. Aku memeluk tubuh mungil yang hangat itu dengan air mata syukur yang terus mengalir deras membasahi pipi. Mas Giyanto mengecup keningku lama sekali, sebuah kecupan yang penuh dengan rasa terima kasih, rida, dan cinta yang mendalam.
Tangis haru kami kembali tumpah di ruangan puskesmas yang sederhana itu. Mas Giyanto segera mendekap tubuh mungil yang masih merah itu, lalu mengumandangkan azan dengan suara yang bergetar penuh rasa syukur yang mendalam.
Kami menyematkan sebuah nama yang indah untuk putri kecil kami: Tazkia Khoirunnisa Sugiyanto.
Tazkia yang berarti penyucian diri dan pertumbuhan, sebuah harapan agar ia tumbuh menjadi wanita yang mampu menyucikan hatinya dari segala noda duniawi. Khoirunnisa, yang berarti sebaik-baiknya wanita, doa kami agar ia kelak menjadi madrasah pertama yang mulia bagi anak-anaknya dan membawa keberkahan bagi sekitarnya. Dan Sugiyanto, nama gabungan inisial Sri Umimah sang ibu dan Giyanto nama sang ayah, penanda abadi bahwa ia adalah putri kesayangan dari seorang imam yang telah membimbing keluarga ini dengan penuh kesabaran.
Kehadiran Tazkia tidak hanya melengkapi kebahagiaan kami secara fisik, melainkan menjadi penyejuk jiwa yang luar biasa. Faathir yang kini sah menjadi seorang kakak, tampak begitu dewasa. Ia sering duduk di samping ranjang bayi, memandangi adiknya dengan tatapan penuh perlindungan, seolah berjanji akan selalu menjaga adik perempuannya itu hingga mereka tumbuh dewasa.
Kami menyadari, di tengah dinamika hidup kami yang tidak selalu mudah, kelahiran Tazkia adalah tanda cinta dari Allah. Sebuah bukti nyata bahwa di balik setiap penantian yang panjang dan diiringi kesabaran, selalu ada hadiah terindah yang telah Allah persiapkan untuk menggenapkan kebahagiaan hamba-Nya.
Kelahiran anak kedua kami di pertengahan tahun 2013 ini menjadi pelengkap kesempurnaan kebahagiaan rumah tangga kami. Kami pulang ke rumah tidak hanya membawa anggota keluarga baru yang akan meramaikan suasana, tetapi juga membawa lembaran cerita tentang bagaimana sebuah keyakinan penuh kepada Sang Pencipta bisa mengubah keterbatasan menjadi kelimpahan yang barakah. Perjalanan dari sepasang anak TPQ di tahun 1993 kini telah menjelma menjadi sebuah keluarga yang kokoh, aman, dan senantiasa bernaung di bawah rida-Nya.
Kreator : Sri Umimah
Comment Closed: BAB 9 _ Cahaya Baru di Ujung Penantian
Sorry, comment are closed for this post.