Di setiap langkah yang kupijak
aku sering berhenti sejenak…
bukan karena ingin menyerah
tapi karena hatiku masih belajar kuat
Ada hari-hari
di mana aku merasa begitu lelah
bukan hanya tubuhku
tapi jiwaku pun ikut letih
Saat anak-anak mulai tak mendengar
saat suara mereka meninggi
dan aku hanya bisa diam
menahan air mata yang hampir jatuh
Suamiku…
aku rindu caramu menenangkan keadaan
caramu menegur tanpa melukai
caramu membuat rumah ini tetap hangat
Kini aku belajar sendiri
menjadi lembut sekaligus tegas
meski sering kali aku salah
meski sering kali aku merasa gagal
Namun aku tidak berhenti
Aku kembali melangkah keluar
menguatkan diriku di antara banyak orang
meski hati ini masih terasa sepi
meski aku merasa sendiri di tengah keramaian
Aku duduk di ruang-ruang belajar itu
mendengarkan banyak cerita kehidupan
tentang jatuh, tentang bangkit
tentang kehilangan yang tak pernah mudah
Dan dari sana…
aku mulai mengerti
bahwa aku tidak sendiri
bahwa banyak hati yang juga berjuang
Aku menuliskan harapan-harapanku
di sela catatan seminar
aku menyimpan mimpiku kembali
yang dulu sempat terkubur oleh luka
Workshop demi workshop kulalui
dengan langkah yang kadang ragu
namun aku tetap datang
karena aku tahu…
aku sedang menyembuhkan diriku sendiri
Perlahan… sangat perlahan
aku mulai berdamai dengan kenyataan
bahwa hidupku tak lagi sama
namun bukan berarti harus berhenti
Ayah…
Suamiku…
kalian mungkin tak lagi di sampingku
tapi doa-doa kalian
masih terasa menguatkanku
Di setiap sujudku
aku menyebut nama kalian
dengan rindu yang tak pernah hilang
dengan harap yang tak pernah padam
Aku percaya…
setiap air mata yang jatuh
tidak pernah sia-sia
ia menjadi saksi
bahwa aku sedang berjuang
Untuk tetap hidup
untuk tetap kuat
untuk tetap menjadi ibu
yang anak-anak butuhkan
Dan suatu hari nanti
ketika anak-anak tumbuh dewasa
aku ingin mereka tahu…
Bahwa ibunya pernah lelah
pernah hampir runtuh
namun memilih untuk tetap berdiri
demi mereka
Suamiku…
jika engkau melihatku dari sana
tersenyumlah…
Karena perempuan yang dulu kau tinggalkan
masih berjuang hingga hari ini
masih menjaga rumah ini
meski dengan hati yang kadang retak
Dan jika takdir mempertemukan kita kembali
di tempat yang lebih indah
aku ingin datang kepadamu
bukan sebagai perempuan yang lemah
Tapi sebagai perempuan yang telah selesai berjuang
yang telah menjaga amanah cinta kita
hingga akhir
Dan saat itu…
biarkan aku berkata pelan
“Aku telah melewati semuanya…
dan aku tidak menyerah…”
Seiring waktu yang terus berjalan
aku mulai menyadari sesuatu…
bahwa cinta saja tidak selalu cukup
untuk membesarkan anak-anak di zaman ini
Ada hal-hal yang tak kupahami
cara mereka berpikir
cara mereka melihat dunia
yang terasa begitu berbeda dari zamanku dulu
Aku sering merasa kalah…
bukan karena aku tidak sayang
tapi karena aku merasa kurang tahu
bagaimana harus bersikap
Suamiku…
di saat-saat seperti itu
aku benar-benar merindukanmu
bukan hanya sebagai pendamping
tapi sebagai teman berpikir
yang dulu selalu menenangkanku
Namun aku tidak ingin menyerah
aku tidak ingin hanya diam dalam ketidaktahuan
Akhirnya aku mulai melangkah lagi…
bukan keluar rumah seperti dulu
tapi melalui layar kecil di tanganku
Aku mengikuti seminar parenting secara online
mendengarkan para ahli berbicara
tentang anak-anak zaman digital
tentang cara memahami mereka
tentang cara mendidik tanpa melukai
Aku duduk sendiri
di sudut rumah yang mulai sepi
menyimak setiap kata dengan sungguh-sungguh
seolah itu adalah jawaban dari kegelisahanku
Aku mencatat…
aku mencoba memahami…
aku berusaha memperbaiki diriku
Namun kenyataannya…
tidak semudah yang kudengar
Saat kembali menghadapi anak-anak
aku masih sering kewalahan
suara mereka tetap keras
emosi mereka tetap tak terduga
Dan aku…
masih sering kehabisan cara
Ada malam-malam
di mana aku menutup wajahku dengan tangan
dan bertanya dalam diam…
“Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik?”
Air mata kembali jatuh
bukan karena aku lemah
tapi karena aku terlalu ingin menjadi kuat
untuk mereka
Namun di balik semua itu
aku tetap bangkit lagi
Aku kembali membuka catatanku
mencoba lagi esok hari
memperbaiki sedikit demi sedikit
meski hasilnya belum sempurna
Aku belajar menerima
bahwa proses ini panjang
bahwa menjadi ibu
adalah perjalanan tanpa akhir
Ayah…
Suamiku…
jika kalian melihatku dari sana
aku harap kalian bangga
Karena aku tidak berhenti belajar
aku tidak berhenti mencoba
meski sering jatuh
meski sering merasa gagal
Aku terus berjalan
dengan segala keterbatasanku
Dan mungkin…
aku tidak akan menjadi ibu yang sempurna
Tapi aku akan selalu menjadi ibu
yang tidak pernah berhenti berusaha
Untuk anak-anakku
untuk masa depan mereka
dan untuk cinta
yang kalian titipkan kepadaku
Dan dalam diamku
aku berbisik pelan…
“Aku akan terus belajar…
meski langkahku tertatih…
meski hatiku masih sering rapuh…”
BAB 10 : Hati menunggu jawaban
Di tengah perjalanan ini…
aku mulai terbiasa dengan pertanyaan
yang datang dari banyak arah
“Kenapa tidak mencoba membuka hati lagi?”
“Bukankah akan lebih ringan kalau ada yang menemani?”
“Anak-anak juga butuh sosok pengganti…”
Aku hanya tersenyum…
meski di dalam hati
ada begitu banyak hal yang tak bisa dijelaskan
Bukan aku tidak ingin bahagia
bukan aku ingin terus sendiri
tapi ada bagian dari hatiku
yang belum benar-benar selesai
Dirimu…
namamu masih tinggal di ruang terdalam
yang belum mampu kugantikan
meski waktu terus berjalan
Aku mencoba memahami diriku sendiri
di antara saran dan harapan orang lain
aku mencoba mendengarkan…
tanpa harus memaksa hati
Karena aku tahu
hati tidak bisa dipaksa
untuk menerima
jika ia belum siap
Ada malam-malam
di mana aku berpikir panjang
tentang masa depan
tentang kemungkinan-kemungkinan
yang mungkin akan datang
Tentang seseorang
yang mungkin bisa membantu
menopang lelahku
menjadi teman berbagi cerita
Namun di saat yang sama…
ada rasa takut yang datang
takut tidak bisa mencintai seperti dulu
takut tidak bisa setulus yang pernah ada
Aku takut…
jika aku hanya menerima
karena lelah
bukan karena benar-benar ingin
Dan aku tidak ingin itu
Aku tidak ingin menjadikan seseorang
sebagai pelarian dari sepi
atau sekadar tempat bersandar
tanpa keutuhan hati
Karena cinta…
bagiku adalah sesuatu yang sakral
yang pernah kujalani sepenuh jiwa
Kini aku memilih berjalan perlahan
menyembuhkan diriku
menata kembali hati yang pernah hancur
Jika suatu saat nanti
Allah benar-benar menghadirkan seseorang
aku ingin menerimanya
bukan karena terpaksa
Tapi karena hatiku sudah siap
karena aku sudah selesai dengan luka
dan siap membuka lembaran baru
Untuk sekarang…
aku memilih cukup dengan diriku
dengan anak-anakku
dengan perjuangan yang sedang kujalani
Dan meski jalannya tidak mudah
aku percaya…
aku tidak pernah benar-benar sendiri
Karena ada Allah
yang selalu membersamai setiap langkahku
engkau yang jauh…
jika engkau melihatku dari sana
tenanglah…
Aku menjaga diriku
aku menjaga hatiku
dan aku menjaga cinta
dengan cara terbaik yang aku mampu
Dan untuk dunia yang terus bertanya
biarlah waktu yang menjawabnya
Karena hatiku…
punya waktunya sendiri
untuk pulih
dan untuk percaya kembali
Kreator : Ramlah ( Ellani )
Comment Closed: BAB 9: Di Tengah Perjuangan yang Tak Terlihat
Sorry, comment are closed for this post.