Pukul enam pagi Ridho akhirnya tiba di rumah. Semalam ia menginap di rumah Derlan atas permintaan kedua orang tuanya, padahal pagi itu ia harus bekerja.
Tanpa basa basi Kaisya langsung mempersiapkan sarapan setelah itu mandi. Sekitar tiga puluh menit barulah semua beres. Begitu Putra bangun, ia langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. Seperti biasa pelukan di pagi hari membuat mood-nya naik. Sekalipun sedang hari libur tetap saja kerjaan tak pernah ikut istirahat. Mungkin sebagai istri yang baik harus tetap pula menyiapkan segala kebutuhan suami serta penampilan pun tetap terjaga.
Teringat ucapan Gian di chat-nya mengajak pergi entah kemana namun ia tolak. Membayangkan seandainya menerima ajakan Gian ternyata terasa menyenangkan. Apalagi lelaki tersebut sangat ia sukai dari dulu. Hembusan nafas berat keluar dari mulutnya begitu saja. Tidak tahu jika sang suami memperhatikan sikap Kaisya dengan tatapan menyipit seperti tengah mempertanyakan sesuatu.
“Sayang, kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Ridho.
“Emang ada apa gitu?” Kaisya bertanya balik seraya mengerutkan kening.
“Kamu kaya’ lagi banyak pikiran,” ucap Ridho.
“Jelas banyak pikiran namanya juga manusia, makhluk hidup,” jawab Kaisya seraya membuang muka.
“Kamu memikirkan apa sih? Cerita dong,” serunya.
“Ngapain sih kepo amat. Biasanya juga gak mau tahu kan masalah apa aja yang menimpaku. Bahkan aku curhat gak pernah mau denger malah asyik dengan dunianya sendiri,” sindir Kaisya. Ia mana mungkin menceritakan perihal ajakan Gian yang ditolaknya. Bisa perang dunia jika seperti itu.
“Gak suka ya kamu main sembunyi-sembunyi dari aku,” seru Ridho dengan nada tegas jelas membuat Kaisya membulatkan matanya.
“Menyembunyikan apa?” tanya Kaisya sedikit gugup.
“Ya, apa aja. Sesuatu yang belum pernah kamu ceritakan ke aku,” ucap Ridho.
“Ma-maksudnya?” Kaisya gelagapan dengan ucapan sang suami. “Jangan berpikir aneh, deh. Kamu juga tahu kan aku gak pernah berbohong sama kamu. Semuanya selalu bilang. Apapun itu meskipun gak pernah ditanggapi.”
“Mungkin,” kata Ridho.
“Kamu gak percaya sama aku?” tanya Kaisya seakan tersudutkan dan takut.
“Kenapa kamu? Aku gak marah-marah ataupun gimana kan. Tapi perubahan sikap kamu membuktikan bahwa ada sesuatu yang memang disembunyikan,” kata Ridho.
Kaisya terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Memang yang dikatakan Ridho benar. Ibarat pepatah bangkai bila disembunyikan akan tercium juga. Dan begitupun yang kini dialami guru muda beranak satu itu. Dengan segera Kaisya beranjak dari hadapan sang suami. Pergi keluar rumah hanya sekedar melepaskan beban pikiran dengan menggendong anaknya. Sampai di halaman depan, Putra didudukkan pada dipan yang menghadap area pesawahan hijau membuat mata memandang sejuk. Aroma hembusan angin pagi membuat dingin namun tidak dengan hatinya yang masih panas oleh balutan beban.
“Aku berangkat dulu,” ucap Ridho yang menenteng tas jinjingnya.
Jika diperhatikan penampilan Ridho cukup menarik. Tak ada cela. Tapi mengapa Kaisya belum bisa sepenuhnya menaruh hati pada lelaki yang menjadi suaminya itu. Selalu ada ucapan cerai dari mulut manis Kaisya. Karena tidak tahan menghadapi keluarga mertua. Dan sekarang ditambah sikap Ridho yang entah mengapa menjadi sedikit menyebalkan.
“Apa mungkin itu tentang Gian?” tanyanya pada diri sendiri. Setelah ingat perihal kemarin sore. “Apa dia cemburu?” lanjutnya. Ya, mungkin saja seperti itu. Apalagi anak dari Gian menjadi anak didiknya. Akan lebih mudah untuk selalu berkomunikasi dengan alasan orang tua siswa dan Wali Kelasnya.
“Mana mungkin. Seorang Ridho yang cuek seperti itu apa ada rasa cemburu? Yang ada hanya memperhatikan perasaannya sendiri,” gumam Kaisya merasa itu konyol.
“Ibu… Dingin,” ucap Putra.
“Anak ibu kedinginan? Aduh kasihan sekali. Bentar lagi ada matahari loh. Nanti kita berjemur ya biar hangat,” kata Kaisya seraya memeluk Putra.
“Putra kedinginan, Bu. Mau ke rumah,” rengeknya.
“Sebentar. Ibu ambilin jaket. Mau kan?” tanya Kaisya.
“Iya,” balas Putra.
Kaisya berjalan menuju lemari dan mengambil jaket sang anak. Setelah beberapa langkah tiba-tiba saja terdengar suara ponsel. Segera ia menuju kamar mengambil ponsel di nakas. Melihat siapa yang menelepon. Terlihat nama Gian sebagai penelepon.
“Mau apa dia pagi-pagi nelepon. Duh, lagi gak mood gini di suguhi hal yang seperti ini ko’ jadi sedikit aneh ya,” gumam Kaisya senyum-senyum.
Demi mempertahankan harga dirinya. Ia tidak langsung mengangkat dering ponsel tersebut. Segera kembali keluar teringat Putra tengah kedinginan. Langsung ia pakaikan jaket tersebut dan kembali memeluk anaknya dengan wajah penuh keceriaan. Sangat bahagia Gian menelepon sepagi itu. Meskipun belum diangkatnya tapi luar biasa membuat hati bahagia.
“Putra sayang, mandi dulu yuk, biar segar. Nanti kita berjemur,” ajak Kaisya.
“Mau sama dino,” ujar Putra.
“Siap bosku. Masuk yuk! Kita sekalian ambil dino ke kamar mandi,” seru Kaisya.
“Siap, Ibu!” kata Putra.
Ya, meskipun baru berusia tiga tahun tapi tidak seperti anak lain yang belum fasih berbicara. Putra termasuk anak yang mudah mengenal kosa kata dan menyebutkannya dengan baik. Kini Kaisya dan anaknya telah berada di kamar mandi. Putra bersama mainan dinosaurusnya sedang berendam pada jolang berukuran besar. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya semua ritual memandikan anak telah selesai. Hingga memakaikan pakaian dan memberinya wewangian pun beres.
Saat akan beranjak mengambil piring untuk ia sarapan sekalian memberi makan Putra. Kembali ponsel berdering. Kaisya melihat sang penelepon dari orang yang sama. Tetap ia tak angkat. Untuk saat ini harus berfokus pada kewajibannya memberikan makan sang anak. Jika tidak maka hal yang ditakutkan akan terjadi lagi. Pernah suatu ketika Putra yang tidak mau makan dan minum susunya muntah-muntah. Badannya lemas tak berdaya. Dikasih apapun tak masuk yang berujung ke rumah sakit. Sungguh suatu hal yang tak boleh terulang.
“Putra sayang, makan dulu ya,” pinta Kaisya.
“Mau diluar sama matahari,” jawab Putra.
“Oke. Tapi harus habis ya makannya,” ujar Kaisya. Sang anak hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berdua kembali menuju keluar rumah. Yang telah disambut matahari pagi. Kaisya menyuapi Putra perlahan. Disaat tengah berkegiatan tersebut Ridho kembali.
“Kenapa sudah pulang?” tanya Kaisya.
“Ada yang ketinggalan,” jawab Ridho. Ia masuk ke dalam rumah.
Kaisya benar-benar melupakan sesuatu. Semenit kemudian Ridho keluar dengan menyerahkan ponsel yang terus berdering pada istrinya itu. Tanpa ucapan apa-apa, Ridho kembali ke tempat kerjanya menggunakan motor. Kaisya membulatkan matanya terkejut. Gian ternyata masih berusaha menghubunginya. Bahkan suaminya itu yang memberikan. Pantas tadi dirinya melihat raut wajah lelaki itu tak biasa. Ada kemarahan disana namun tak terucap.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Kaisya. Entah apa yang akan terjadi nanti setelah suaminya pulang.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 9. Kecurigaan Ridho
Sorry, comment are closed for this post.