BAB 9: BADAI, PENGKHIANAT, DAN AMPUNAN
Badai salju menyapu Hutan Salju Abadi.
Obor pasukan Selene seperti titik-titik merah di kegelapan.
- PERANG BADAI SALJU
_BRAK!_ Pohon es pertama tumbang. Terbakar.
Selene maju di atas naga es. Zirah merahnya berkilau.
“Nyonya Salju! Keluar dan hadapi aku!”
Seraphina melangkah keluar dari pondok. Tanpa topeng.
Gaun biru pucatnya berkibar. Rambut hitamnya tertutup salju.
Di sampingnya Alistair, Leon, Lyra, dan Nenek Ysra.
“8 tahun,” kata Seraphina. Suaranya bergema di seluruh hutan. “8 tahun kau hidup di tempatku.”
Selene tertawa. “Tempatmu? Kau sudah mati 8 tahun lalu!”
Dia mengangkat tangan. Penyihir api melempar bola api.
Alistair menangkis dengan dinding es. “Jangan sentuh keluargaku!”
Keluargaku._
Kata itu membuat Seraphina terdiam.
Pertarungan pecah.
Es vs Api. Salju vs Darah.
Leon membantu mengungsi para peri hutan. Lyra membuat perisai es kecil.
- PENGKHIANAT DI DALAM
_ARGGH!_
Nenek Ysra terhuyung. Di punggungnya, pisau es.
Di belakangnya… Mira. Pelayan Selene. Mata-matanya.
“Maaf, Nyonya,” bisik Mira gemetar. “Dia sandera adikku.”
Selene menyeringai dari atas naga. “Terima kasih, anjing kecilku.”
“KHIANAT!” Leon menyerang Mira, tapi Seraphina menahan.
“Jangan,” kata Seraphina pelan. Dia memeluk Nenek.
“Nenek…”
Nenek Ysra tersenyum, darah membeku di bibirnya. “Ingat… pilihanmu, anakku. Cinta… melelehkan semuanya.”
Lalu matanya terpejam.
“DENDAM!” teriak Seraphina. Es di sekelilingnya retak.
4 keping kertas tersisa di tangannya bergetar.
- KEPING KEEMPAT: MENGAMPUNI
Seraphina berdiri. Salju berhenti.
Seluruh medan perang hening.
Dia menatap Selene. Menatap Mira yang menangis. Menatap Alistair yang berdarah.
Dendamnya berteriak: Bunuh dia. Balas._
Tapi suara Nenek di kepalanya: Cinta melelehkan semuanya._
Dengan tangan gemetar, Seraphina mengambil keping keempat.
Dengan darah Nenek, dia menulis satu kata: “MENGAMPUNI”
Dia membakarnya.
_WHOOSH!_
Badai salju berhenti.
Dari tubuh Seraphina, cahaya putih meledak. Bukan es. Bukan dendam.
Cahaya hangat.
Es di tangan Selene meleleh. Naga esnya jatuh.
Selene berteriak, terlempar ke salju.
Seraphina berjalan ke arahnya. Tidak dengan pedang. Dengan tangan kosong.
“Aku mengampunimu,” bisik Seraphina. “Karena kalau tidak… aku akan jadi sepertimu.”
Selene menatapnya dengan benci. “Lemah.”
“Tidak,” kata Alistair, berdiri di samping Seraphina. “Itu kuat.”
Pasukan Selene melempar senjata. Mereka berlutut.
—
EPILOG BAB 9
Malam itu, Nenek Ysra dimakamkan di bawah pohon es.
Mira diampuni, dengan syarat mengabdi 10 tahun di biara salju.
Seraphina memegang 3 keping kertas terakhir.
Alistair memegang tangannya.
“Belum selesai,” bisik Seraphina. “Tapi kita mulai dari awal.”
Di langit, aurora menari. Bentuknya… bunga salju.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 9 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.