
Keikhlasan yang telah matang di usia 45 tahun tidak boleh hanya menjadi hiasan spiritual yang pasif. Ia harus menjelma menjadi energi gerak yang tak kenal lelah, terutama ketika madrasah utama saya, RA Aisyah Afiqannisa, dihadapkan pada tiga gelombang besar yang datang secara bersamaan: Penilaian Kinerja Kepala Raudhatul Athfal (PKKRA), pengawalan guru-guru yang sedang berjuang dalam Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta pertaruhan mutu tertinggi melalui proses Akreditasi Sekolah.
Di sinilah matematika langit kembali bekerja. Di saat seorang kepala sekolah dituntut untuk membelah pikiran menjadi ratusan pecahan fokus—menghadapi penilaian pribadi atas kinerjanya sendiri, tumpukan borang, hingga tugas-tugas digital kementerian yang tiada habisnya—Kurikulum Berbasis Cinta tidak boleh luntur menjadi sekadar rutinitas birokrasi yang dingin. Tiga amanah besar ini adalah ujian validasi berikutnya: sejauh mana lentera yang menyala di dalam dada ini mampu menerangi jalan bagi guru-guru dan lembaga, tanpa membuat sumbunya sendiri habis terbakar.
Pagi itu, meja kerja saya tidak lagi hanya dipenuhi oleh buku cerita anak atau rencana pembelajaran harian. Berkas instrumen Penilaian Kinerja Kepala Raudhatul Athfal (PKKRA) bertumpuk rapi di samping laptop. Sebagai kepala sekolah, kali ini sayalah yang menjadi subjek utama yang akan dibedah, dinilai, dan diuji kelayakannya oleh pengawas kementerian. Enam komponen besar—mulai dari usaha pengembangan madrasah, pelaksanaan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, hingga supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan—harus dibuktikan dengan dokumen yang sahih.
“Umi…,” Ustazah Fitri mengetuk pintu ruang kerja saya dengan wajah yang agak cemas. Di tangannya ada tumpukan map jepit berisi berkas supervisi kelas. “Saya dengar dari RA sebelah, tim penilai PKKRA tahun ini sangat ketat. Mereka tidak cuma memeriksa berkas administratif Umi sebagai kepala sekolah, tapi juga akan mewawancarai kami para guru secara acak untuk mencocokkan program supervisi yang Umi lakukan. Apa berkas program manajerial kita sudah aman semua, Umi?”
Saya menghentikan ketikan di laptop, lalu mengulas senyuman hangat untuk menenangkan kegelisahannya.
“Ustazah Fitri, jangan tegang begitu,” jawab saya dengan nada lembut namun mantap. “PKKRA ini adalah cermin bagi diri Umi sendiri. Ini adalah momen untuk melihat sejauh mana Umi sudah menjalankan amanah memimpin rumah ini dengan benar. Kalau kita mengelola madrasah ini dengan hati dan sistem yang rapi setiap hari, kita tidak perlu takut pada lembar penilaian manusia. Jadikan ini sebagai evaluasi mutlak untuk meningkatkan mutu RA Aisyah Afiqannisa.”
Ustazah Fitri menghela napas panjang, menatap instrumen di atas meja saya. “Tapi, Umi, di komponen tiga tentang pengembangan kewirausahaan madrasah, mereka minta bukti inovasi ril. Apakah program Kurikulum Berbasis Cinta dan kemitraan parenting yang kita bangun bisa dimasukkan sebagai nilai plus?”
“Tentu saja, Ustazah,” potong saya meyakinkan, sambil mengambil draf berkas tersebut. “Inovasi terbaik sebuah lembaga bukan dinilai dari seberapa besar keuntungan materi yang dicari, melainkan seberapa besar dampak kemitraan itu dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Biar Umi yang menyusun narasinya dalam laporan portofolio kepala sekolah. Tugas Ibu-Ibu guru adalah tetap fokus mengajar dengan penuh cinta di kelas.”
“Baik, Umi. Kami semua siap membantu menyiapkan dokumen pendukungnya. Umi jangan capek-capek ya, kami semua ada di belakang Umi,” ucap Ustazah Fitri, raut wajahnya yang semula tegang kini berangsur rileks dan dihiasi senyuman takzim.
Di tengah kesibukan saya mengonsolidasikan berkas PKKRA pribadi, ujian ketahanan manajemen kembali datang. Dua orang guru terbaik kami, Ustazah Aminah dan Ustazah Khadijah, dinyatakan lulus seleksi administrasi dan berhak mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam jabatan.
Program PPG di era digital ini terkenal teramat kejam dalam menguras waktu dan energi para guru. Setiap hari, mereka harus menghadiri perkuliahan daring, menyelesaikan modul-modul pedagogik yang rumit, mengunggah tugas video pembelajaran dengan tenggat waktu (deadline) yang sangat ketat, hingga menghadapi ujian kompetensi yang menegangkan. Semua itu harus mereka lakukan di sela-sela kewajiban utama mereka mengajar di kelas dari pagi hingga siang hari.
Baru berjalan dua minggu, saya sudah melihat perubahan drastis pada raut wajah kedua guru tersebut. Lingkar hitam di bawah mata mereka semakin menebal, wajah yang biasanya ceria menyambut anak-anak kini tampak dilingkupi kabut kecemasan dan kelelahan yang luar biasa.
Sore itu, jam menunjukkan pukul empat sore. Suasana madrasah sudah sepi dari anak-anak. Di ruang guru, saya melihat Ustazah Khadijah duduk di depan laptopnya sambil menangis sesenggukan. Layar monitornya menampilkan halaman LMS (Learning Management System) kementerian yang mengalami eror saat ia mencoba mengunggah video tugas PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) yang batas waktunya tinggal dua puluh menit lagi.
“Saya menyerah, Umi…,” ucap Ustazah Khadijah dengan suara parau bercampur isak tangis. Tangannya yang memegang tetikus tampak bergetar hebat. “Tugas modul kemarin nilainya di bawah KKM, video hari ini gagal diunggah karena ukurannya terlalu besar, dan besok pagi saya harus ujian komprehensif. Di rumah, anak saya yang kecil sedang demam. Saya merasa tidak sanggup lagi membagi tubuh dan pikiran saya. Saya mau mundur saja dari PPG ini, Umi.”
Melihat pemandangan itu, jiwa keibuan dan empati saya sebagai seorang pemimpin yang memegang teguh Kurikulum Berbasis Cinta langsung tergerak. Saya melangkah mendekat, menarik sebuah kursi, lalu duduk tepat di samping Ustazah Khadijah. Saya dekap bahunya yang sedang terguncang oleh rasa frustrasi yang mendalam, menyalurkan ketenangan batin yang saya miliki.
“Ustazah Khadijah, lihat mata Umi,” ucap saya lembut namun sarat akan penekanan kekuatan tauhid. “Mundur bukan pilihan bagi seorang pejuang cinta di RA Aisyah Afiqannisa. Apa yang sedang Ustazah tangisi sore ini adalah bagian dari proses Allah untuk menaikkan derajat Ustazah—bukan hanya secara akademik dengan gelar Gr (Guru Profesional), melainkan derajat kemuliaan di hadapan Allah karena telah bersabar menuntut ilmu.”
“Tapi sistemnya tidak adil, Umi!” sanggah Ustazah Khadijah di sela tangisnya, matanya merah menatap layar. “Tinggal lima belas menit lagi dan jaringan terus-terusan berputar. Kalau tugas ini tidak masuk, saya tidak bisa ikut ujian besok. Saya merasa bodoh sekali dengan teknologi ini, Umi.”
“Tidak ada yang bodoh, Ustazah. Ini hanya masalah teknis,” potong saya dengan tegas namun menenangkan. “Geser kursinya sedikit, biar Umi yang pegang kendali.”
Saya mengambil alih laptopnya. Dengan sisa keahlian saya sebagai operator dan bekal pengalaman S2 yang terbiasa mengedit video serta mengelola sistem digital, saya membantu mengecilkan ukuran (compress) file video tugasnya menggunakan perangkat lunak yang saya miliki. Jari-jari saya bergerak cepat di atas papan ketik, sementara mulut saya tak henti-hentinya merapalkan selawat dan doa-doa pendek.
“Umi…,” bisik Ustazah Aminah yang sejak tadi memperhatikan dari meja sebelah dengan wajah cemas. “Apa masih keburu? Waktunya tinggal tujuh menit lagi.”
“Bismillah… pasrahkan pada Allah, Ustazah. Jari kita bergerak di bumi, malaikat yang melancarkan sinyalnya di langit. Ayo, kita klik unggah sekarang,” seru saya memberikan energi optimisme baru ke dalam ruangan.
Tepat lima menit sebelum tenggat waktu ditutup, bilah indikator di layar monitor berubah warna dari abu-abu menjadi hijau dengan tulisan: Tugas Berhasil Diunggah.
Ustazah Khadijah langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah lagi, namun kali ini adalah tangis lega yang luar biasa. Ia langsung memeluk saya dengan sangat erat. “Terima kasih, Umi… terima kasih banyak. Kalau tidak ada Umi, saya pasti sudah menekan tombol mundur sore ini.”
“Sama-sama, Ustazah. Mulai hari ini, selama proses PPG ini berlangsung, Umi tidak akan membiarkan Ustazah berdua berjalan sendirian,” tegas saya sambil merangkul Ustazah Khadijah dan Ustazah Aminah bersamaan. “Umi akan sesuaikan jadwal mengajar kalian. Bagian administrasi kelas yang bisa didelegasikan, akan kita bantu kerjakan bersama-sama. Tugas kalian adalah fokus belajar, jaga kesehatan, dan tetap berikan senyuman terbaik untuk anak-anak di kelas pagi hari. Urusan sistem dan pengeditan tugas, biar Umi yang ikut pasang badan mengawalnya di malam hari.”
“Umi…,” Ustazah Aminah menyela dengan mata berkaca-kaca, “Umi sendiri kan sedang sibuk luar biasa mempersiapkan berkas PKKRA pribadi Umi dan instrumen akreditasi lembaga kita. Apa tidak semakin membebani pikiran Umi kalau harus mengurusi tugas-tugas kuliah kami juga?”
Saya tersenyum lebar, menatap kedua guru berdedikasi itu dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ibu. “Ustazah, pundak Umi yang berusia 45 tahun ini memang terasa kaku dan lelah. Tetapi melihat kalian berdua berhasil dan tetap tersenyum di depan kelas adalah obat paling mujarab untuk rasa penat Umi. Kita adalah satu tubuh di RA Aisyah Afiqannisa. Jika satu bagian lelah, bagian lain wajib menopang. Setuju?”
“Setuju, Umi!” jawab mereka serempak, mengusap sisa air mata digantikan oleh tekad baru yang menyala.
Belum sempat napas kami lega sepenuhnya setelah melewati drama LMS PPG, lintasan takdir berikutnya yang merupakan hulu dari seluruh sistem mutu madrasah telah menghadang di depan mata: Akreditasi Sekolah dari BAN-PDM.
Jika PKKRA menguji kapasitas saya secara personal sebagai kepala sekolah, maka Akreditasi menguji kelayakan seluruh ekosistem RA Aisyah Afiqannisa di mata negara. Ini adalah pertaruhan reputasi atas Kurikulum Berbasis Cinta yang selama ini saya perjuangkan.
“Semua file komponen satu sampai komponen empat harus valid secara digital dan fisik,” instruksi saya dalam rapat pleno persiapan akreditasi di suatu pagi yang cerah. “Kita tidak akan melakukan rekayasa dokumen demi nilai. Kita akan tunjukkan apa adanya integritas yang hidup di madrasah ini.”
“Umi,” sapa seorang perwakilan komite sekolah yang hadir dalam rapat tersebut, wajahnya menyiratkan keraguan. “Apakah tidak sebaiknya kita ‘menyesuaikan’ beberapa dokumen anggaran kegiatan seperti yang disarankan oleh lembaga lain? Kata mereka, asesor sangat jeli melihat sinkronisasi nota keuangan dengan RKAM. Kalau ada selisih sedikit saja, nilai akreditasi kita bisa anjlok.”
Saya menatap perwakilan komite tersebut dengan tatapan yang teduh namun sarat akan prinsip kejujuran yang mutlak. “Ibu Nyai yang baik, terima kasih atas masukannya. Tetapi di RA Aisyah Afiqannisa, kita sedang menenun jaring keselamatan akhirat untuk anak-anak kita. Jika kita memulai proses penilaian mutu ini dengan selembar kertas yang direkayasa, lalu di mana letak berkah ilmu yang kita ajarkan setiap pagi? Biarlah nilai kita apa adanya di mata manusia, yang penting nilai kejujuran kita tetap menjaga rida Allah SWT. Kita rapikan administrasinya, kita lengkapi notanya, jangan ada yang disembunyikan.”
“Masya Allah… baik, Umi. Kami pihak komite siap mendukung penuh,” jawab perwakilan komite tersebut, tampak tersentuh oleh keteguhan prinsip tauhid yang saya sampaikan.
Saya sendiri bertindak sebagai operator utama dalam proses unggah dokumen ke sistem digital SISPENA. Layar laptop saya kembali menyala hingga pukul sebelas malam hampir setiap hari di rumah peninggalan orang tua yang sepi. Rasa rindu pada almarhumah Ibu dan Ayah sesekali datang mengetuk pintu hati di tengah malam saat mata ini sudah teramat perih.
“Ibu… Ayah… Husna sedang berjuang membuktikan bahwa madrasah peninggalan nilai-nilai kebaikan kalian ini adalah madrasah yang berkualitas,” bisik batin saya sambil menyeka peluh di dahi.
Hari-hari visitasi pun tiba secara beruntun. Pengawas kementerian datang untuk menilai kinerja saya dalam PKKRA, disusul oleh tim asesor akreditasi yang mengaudit seluruh isi madrasah.
Proses visitasi dimulai dengan pemeriksaan dokumen yang sangat mendalam di ruang kepala sekolah. Tim penilai membolak-balik berkas, mencocokkan portofolio, hingga mewawancarai para guru.
“Bu Husnawati,” ucap salah satu penilai, Ibu Dr. Endang, sambil mengamati dokumen pelaksanaan tugas manajerial dan supervisi kepala sekolah. “Saya melihat catatan kompetensi supervisi guru di sini sangat detail dan personal. Bahkan ada aspek pendampingan mental guru yang Ibu masukkan. Bagaimana Ibu bisa konsisten melakukan supervisi mendalam ini di tengah kesibukan Ibu yang juga mengawal guru PPG dan mengurus akreditasi?”
Saya tersenyum dengan penuh rasa percaya diri yang lahir dari kematangan ilmu S2 dan pengalaman empiris bertahun-tahun.
“Ibu Penilai yang saya hormati,” jawab saya dengan tenang dan takzim. “Bagi saya, memimpin RA Aisyah Afiqannisa bukan sekadar mengontrol instruksi kerja. Menjadi kepala sekolah adalah menjadi pelayan bagi guru-guru saya. Ketika guru-guru kami sedang berjuang di program PPG, tugas saya dalam supervisi adalah merendahkan pundak saya untuk ikut menopang kesulitan mereka, baik teknis maupun mental. Ketika guru merasa dicintai dan didukung penuh oleh pimpinannya, maka kinerja mereka di dalam kelas akan meningkat dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa oleh instrumen kaku.”
Ibu Endang menaikkan kacamata tebalnya, menatap lekat dokumen di hadapannya. “Lalu bagaimana dengan dampak riilnya pada anak didik?”
“Silakan Ibu periksa lembar portofolio perkembangan karakter anak,” sela Ustazah Aminah yang ikut mendampingi saya. “Umi Husna mengajar kami untuk mencatat setiap fluktuasi emosional anak. Kami menerapkan positive discipline sehingga anak-anak belajar dengan bahagia.”
Ibu Endang terdiam beberapa saat, melihat catatan-catatan anekdot yang ditulis tangan oleh para guru dengan penuh kehangatan. “Menarik sekali… Ini melampaui standar administratif yang biasa saya temukan. Mari kita lihat implementasinya langsung di ruang kelas.”
Tim penilai kemudian melangkah keluar ruangan untuk melakukan observasi langsung, melihat bagaimana Ustazah Aminah dan Ustazah Khadijah (yang kini tampil dengan sangat percaya diri berkat tempaan ilmu PPG-nya) mengajar anak-anak dengan pendekatan interaktif yang penuh dengan kasih sayang. Anak-anak tampak ceria, aktif, dan menyambut para tamu dengan santun.
Seorang murid bernama Rafif bahkan tanpa rasa takut sedikit pun mendekati Ibu Endang. “Ibu Guru baru ya? Kata Umi Husna, kalau ada tamu datang kita harus senyum dan kasih salam yang sopan!” ucap Rafif dengan bahasa kepolosan anak usia dini yang jujur dan menggemaskan.
Ibu Endang spontan berlutut, menyejajarkan tubuhnya dengan Rafif sambil tersenyum haru. Ia mendongak menatap saya yang berdiri di sampingnya. “Bu Husna… kinerja kepala sekolah itu tercermin dari karakter guru dan anak didiknya. Dan hari ini, saya melihat kinerja terbaik yang hidup secara nyata di sini.”
Proses penilaian beruntun yang melelahkan itu akhirnya ditutup dengan sesi refleksi di sore hari. Seluruh jajaran guru dan pengurus komite berkumpul di ruang utama dengan dada yang berdebar-debar menanti kalimat penutup.
Ketua tim penilai berdiri, memegang mikrofon, lalu memandang ke arah saya dan seluruh guru dengan mata yang sarat akan rasa haru.
“Ibu-Ibu pejuang pendidikan di RA Aisyah Afiqannisa…,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Hasil Penilaian Kinerja Kepala RA (PKKRA) untuk Bu Husnawati tahun ini mencatatkan nilai yang luar biasa tinggi karena sistem manajerial dan kepemimpinan yang berbasis cinta kasih ini terbukti hidup. Dan sejalan dengan itu, dokumen mutu akreditasi lembaga ini kami nyatakan valid dan sangat memuaskan. Selamat kepada Bu Husnawati atas dedikasi dan kepemimpinannya yang luar biasa.”
Tepuk tangan riuh seketika pecah di dalam ruangan. Ustazah Aminah, Ustazah Khadijah, dan Ustazah Fitri langsung menangis haru, saling berpelukan erat satu sama lain.
“Umi… kita berhasil, Umi!” bisik Ustazah Khadijah di sela tangis bahagianya sambil memeluk erat pinggang saya. “Lelah kita mengedit tugas video sampai tengah malam, borang-borang yang menumpuk… semuanya lunas hari ini, Umi.”
“Alhamdulillah, Ustazah. Ini semua karena ketulusan hati kalian dalam mengajar. Umi hanya meluruskan jalannya, Allah yang menyempurnakan hasilnya,” jawab saya dengan suara yang bergetar menahan ombak keharuan spiritual yang membuncah di dalam dada.
Beberapa bulan kemudian, hasil resmi diterbitkan secara digital: RA Aisyah Afiqannisa resmi mendapatkan predikat Akreditasi A (Unggul) dengan nilai yang hampir sempurna, nilai PKKRA saya berada di kategori Amat Baik, dan Ustazah Aminah serta Ustazah Khadijah dinyatakan Lulus Seratus Persen PPG sebagai guru profesional.
Sore itu, setelah perayaan syukur sederhana selesai, saya berdiri sendirian di halaman madrasah, menatap papan nama RA Aisyah Afiqannisa yang kini telah bertambah megah dengan logo akreditasi unggul yang terpasang rapi di sudutnya.
Angin sore Kota Bekasi berembus lembut, memainkan ujung jilbab panjang saya. Pundak seorang wanita berusia 45 tahun ini memang masih menyisakan rasa pegal akibat tumpukan kerja manajerial yang tiada habisnya, namun di dalam dada ini, ada sebuah kepuasan batin yang nilainya jauh lebih mewah daripada tumpukan materi di dunia.
Tiga gelombang besar—PKKRA, PPG, dan Akreditasi—telah berhasil kami arungi bersama bukan dengan cara mengeluh atau mengemis belas kasihan manusia, melainkan dengan cara menegakkan sujud di sepertiga malam dan mengorkestrasikannya dengan kerja profesionalitas yang berbasis cinta kasih murni lillahi ta’ala.
Saya menarik napas panjang dengan perasaan yang teramat lapang, damai, dan merdeka. Allah SWT telah membuktikan janji-Nya dengan sangat nyata: bahwa ketika kita bersedia menaruh pundak kita untuk menopang dan mempermudah urusan orang lain, maka Allah sendirilah yang akan menurunkan bala bantuan-Nya untuk mempermudah dan memuliakan seluruh urusan lembaga utama kita.
Saya melangkah menuju motor saya untuk bersiap pulang ke rumah peninggalan orang tua dengan senyuman yang paling utuh. Tugas mengabdi pada umat belum usai, namun dengan iman yang kokoh dan cinta yang tulus di dalam dada, saya siap menghadapi gelombang takdir apa pun yang akan membentang di depan jalan kehidupan saya berikutnya. Perjuangan ini adalah pelita peradaban saya yang abadi demi menjemput rida tertinggi dari Sang Khalik di dunia hingga fajar keabadian di yaumul akhirat nanti. Lillahi ta’ala, bismillah, perjuangan cinta ini baru saja dimulai kembali dengan lembaran yang jauh lebih suci dan utuh.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 9: Orkestrasi Lentera di Tengah Gelombang Regulasi
Sorry, comment are closed for this post.