Bab 4
Sekolah Sebagai Rumah Harapan
Setiap sekolah memiliki pintunya sendiri. Namun, tidak semua pintu membuka jalan menuju ruang-ruang belajar. Ada pintu yang membuka keberanian seorang anak untuk bermimpi. Ada pintu yang mengantarkan langkah-langkah kecil menuju masa depan. Ada pula pintu yang menjadi saksi lahirnya ribuan harapan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah
Di sanalah sekolah berdiri.
Setiap pagi, ketika gerbang sekolah perlahan terbuka, sesungguhnya yang masuk bukan hanya anak-anak dengan seragam dan tas yang disandangnya. Bersama mereka turut masuk berbagai cerita kehidupan, ada yang datang membawa tawa. Ada yang datang dengan mata yang sembab karena semalam menyaksikan pertengkaran orang tuanya, ada yang datang dengan perut yang masih belum terisi. Ada pula yang datang dengan semangat yang nyaris padam karena merasa dirinya tidak secerdas teman-temannya.
Namun, begitu kaki mereka melintasi gerbang sekolah, semua memperoleh hak yang sama. Tidak ada lagi anak orang kaya atau anak petani. Di dalam sekolah, mereka dipanggil dengan nama yang sama, “murid”. Dan, sejak saat itulah sekolah mulai menjalankan tugasnya sebagai rumah harapan.
Bagi sebagian orang, sekolah hanyalah bangunan yang terdiri atas ruang kelas, meja, kursi, papan tulis, dan halaman tempat upacara dilaksanakan. Namun, bagiku sekolah tidak sesederhana itu. Selama lebih dari dua puluh tahun mengabdi sebagai guru, aku memahami bahwa sekolah adalah rumah kedua dan harapan bagi murid-murid untuk menata masa depan mereka. Sebuah bangunan yang tidak hanya di bangun oleh bata dan semen semata, melainkan oleh kasih sayang, kepercayaan, impian dan harapan.
Aku selalu percaya bahwa sekolah bukan sekedar tempat memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala muridnya. Sekolah adalah ruang tempat kehidupan dipelajari sebelum benar-benar dijalani.
Jika kita menyusuri seluruh bangunan sekolah secara perlahan, kita akan menemukan bahwa setiap sudut memiliki cerita yang tidak pernah di tulis di dalam buku pelajaran.
Gerbang sekolah adalah pelajaran pertama tentang penerimaan. Ia tidak pernah memilih siapa yang boleh masuk. Setiap anak diterima dengan segala latar belakangnya, segala kekurangannya, dan segala impiannya.
Halaman sekolah adalah tempat anak-anak belajar hidup bersama. Disanalah mereka belajar berbagi tawa, menyelesaikan pertengkaran, mengulurkan tangan kepada teman yang terjatuh, dan memahami bahwa kehidupan tidak selalu tentang menjadi hebat, tetapi tentang mampu berjalan bersama orang yang tepat.
Teras kelas mengajarkan kesabaran. Setiap hari ratusan langkah melintasinya. Ada langkah yang tergesa-gesa karena mengejar bel masuk, ada langkah ragu yang enggan masuk ke dalam kelas karena ada kegiatan di luar jadwal belajar. Ada pula langkah guru yang setiap waktu silih berganti membawa harapan agar hari itu dapat menjadi hari terbaik bagi murid-muridnya.
Ruang Kelas adalah jantung dari rumah harapan ini. Namun bagiku, kelas bukan sekadar tempat menjelaskan materi pelajaran. Kelas adalah ruang tempat seorang anak belajar mengemukakan pendapatnya tanpa takut ditertawakan. Tempat mereka belajar bahwa pertanyaan tidak lebih rendah dari jawaban. Tempat mereka memahami bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari proses bertumbuh.
Di salah satu sudut sekolah berdiri perpustakaan, rak-rak buku mungkin tampak diam, tetapi sesungguhnya di sanalah ribuan dunia menunggu untuk di jelajahi. Buku-buku mengajarkan bahwa seorang anak dapat mengembara ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya, bertemu tokoh-tokoh yang tak pernah dikenalnya, dan memahami kehidupan yang jauh melampaui batas kampung halaman.
Kemudian ada laboratorium kecil di ujung lorong kelas, yang mungkin bagi sebagian orang hanya terlihat sebagai ruangan yang hanya dipenuhi tabung reaksi, mikroskop, atau alat dan bahan praktikum. Namun bagiku, Laboratorium adalah ruang yang mengajarkan keberanian untuk bertanya, mencoba dan menguji benar atau salah sebuah percobaan. Di sanalah anak-anak belajar bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dari rasa ingin tahu, bukan dari rasa takut melakukan kesalahan.
Lalu ada ruang guru
Barangkali inilah ruang yang paling jarang dipahami oleh murid. Di balik pintunya tersimpan tumpukan buku, lembar-lembar penilaian, canda para guru, juga doa-doa yang tidak pernah terdengar. Di ruang itulah kami sering berdiskusi tentang cara terbaik mengarahkan, mendidik dan memotivasi anak didik yang kehilangan semangat belajar. Di sanalah kami belajar bahwa menjadi guru berarti terus belajar memahami mereka.
Aku hanyalah satu di antara guru-guru lain yang menghidupkan rumah harapan ini, Selama lebih dari dua puluh tahun, aku berjalan menyelusuri jalan yang sama, membuka pintu kelas yang sama, dan menyambut generasi yang silih berganti, Namun, setiap pagi sekolah selalu menghadirkan cerita yang baru.
Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah merasa bosan.
Karena sekolah bukanlah bangunan yang dihuni oleh tembok-tembok yang diam. Sekolah adalah rumah yang bernapas, Ia hidup oleh tawa anak-anak dan guru, oleh pengabdian guru-gurunya, oleh doa guru dan para orang tua, dan oleh harapan yang setiap hari tumbuh tampa pernah meminta untuk di lihat.
Dan selama masih ada anak yang datang membawa cita dan mimpi, selama masih ada guru yang percaya bahwa setiap anak layak diberi kesempatan, sekolah akan tetap menjadi rumah harapan. Sebuah rumah yang tidak hanya mengajarkan cara membaca buku, tetapi juga mengajarkan cara membaca kehidupan.
Kreator : Nur asiah,S.PdI ( Asiah Dahlan )
Comment Closed: Bagian II Memaknai Samudra Pengabdian
Sorry, comment are closed for this post.