(Siswa-siswa tangguh)
Wahai guru…
Siapakah anak-anak boomer dan generasi X itu? Bagaimana cara guru mendidik mereka? Mengapa mereka begitu segan kepada gurunya? Dan apa yang membuat generasi itu dikenal lebih tangguh dibandingkan generasi setelahnya?
Seorang guru sejati harus mampu memahami zaman dan karakter siswanya. Ketika zaman berubah, maka cara mengajar pun harus ikut berubah. Guru tidak boleh kaku. Ia harus lentur seperti air; mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Karena itulah guru disebut sebagai pribadi yang fleksibel, terbuka, dan mampu memberi pengaruh baik bagi lingkungan sekitarnya.
Generasi boomer adalah anak-anak yang lahir antara tahun 1946–1964. Mereka tumbuh pada masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Ketika negeri ini masih berjuang membangun identitas dan bertahan dari berbagai kesulitan. Sedangkan Generasi X lahir antara tahun 1965–1980, sebuah masa ketika pembangunan mulai berjalan setelah masa revolusi, tetapi kehidupan masyarakat masih jauh dari kemewahan teknologi.
Pada masa itu seorang guru dapat mengabdi sejak usia muda, mulai usia 18-an tahun hingga pensiun di usia 60 tahun. Dengan masa kerja yang panjang, seorang guru bisa mendidik dua generasi sekaligus. Dari anak-anak boomer hingga generasi X. Mereka bukan hanya mengajar pelajaran sekolah, tetapi juga membentuk watak dan kepribadian bangsa.
Meski berasal dari dua generasi berbeda, siswa era boomer dan Gen X memiliki banyak kesamaan. Mereka hidup dalam keterbatasan, jauh dari teknologi modern, serta tumbuh di tengah kondisi negara yang belum stabil. Sekolah bukan tempat yang nyaman seperti sekarang. Banyak gedung masih sederhana, meja dan kursi terbatas, bahkan ada siswa yang belajar tanpa alas kaki. Namun semangat belajar mereka sangat tinggi.
Di tengah segala kekurangan itu, sosok guru tetap hadir untuk mendidik tanpa mengenal lelah. Guru yang benar-benar menjadi pelita dalam gelapnya keterbatasan bangsa. Meskipun penghasilan jauh dari harapan, tapi panggilan jiwa menguatkan tekad untuk mendidik putra putri bangsa indonesia.
Cara mengajar guru pada masa itu masih sangat sederhana. Membaca, menulis, dan berhitung menjadi kemampuan dasar yang wajib ditanamkan. Akan tetapi, tujuan utama pendidikan saat itu bukan sekadar kecerdasan akademik. Guru lebih menekankan pembentukan kepribadian, disiplin, kesopanan, tanggung jawab, dan rasa cinta kepada bangsa.
Para siswa dididik untuk siap menghadapi hidup. Karena itulah suasana pendidikan zaman itu terasa keras. Guru sering berbicara tegas dan disiplin diterapkan tanpa banyak kompromi. Hukuman fisik ringan masih dianggap wajar sebagai bentuk pembinaan. Siswa yang tidak mengerjakan tugas bisa disuruh berdiri di depan kelas, berdiri dengan satu kaki, membersihkan halaman sekolah, atau menerima sabetan kayu penggaris di betisnya.
Hari ini cara seperti itu mungkin dianggap terlalu keras. Malah kata mereka pegiat perlindungan anak, ini dianggap penganiayaan. Namun pada masa itu, hukuman dipandang sebagai bagian dari pendidikan karakter. Siswa menerima hukuman karena sadar bahwa mereka melakukan kesalahan. Bahkan orang tua pun mendukung tindakan guru selama bertujuan mendidik anak menjadi lebih baik.
Tidak ada kebiasaan melawan guru. Tidak ada orang tua yang langsung datang memarahi sekolah hanya karena anaknya dihukum. Justru ketika seorang anak mengadu kepada orang tuanya, sering kali ia kembali mendapat teguran di rumah. Sebab orang tua percaya bahwa guru adalah orang yang sedang membentuk masa depan anaknya.
Dari sinilah lahir generasi yang tahan banting dan kuat mentalnya. Kehidupan siswa era boomer dan Gen X juga sangat dekat dengan aktivitas fisik. Pergi ke sekolah sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki. Memiliki sepeda saja sudah termasuk barang mewah. Setelah pulang sekolah, mereka membantu orang tua di sawah, kebun, atau pekerjaan rumah lainnya. Tubuh mereka aktif bergerak setiap hari.
Makanan yang dikonsumsi pun masih alami. Tidak banyak makanan instan, cepat saji, minuman kemasan, atau gaya hidup serba praktis seperti sekarang. Karena itulah anak-anak pada masa itu cenderung lebih kuat secara fisik dan mental.
Dalam proses belajar, guru juga menghadapi banyak keterbatasan. Ruang kelas sangat sedikit, alat peraga hampir tidak tersedia, dan buku pelajaran pun terbatas hingga terkadang harus digunakan secara bersama-sama. Sumber pengetahuan serta wawasan hanya diperoleh melalui radio atau dari cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Namun, segala keterbatasan itu tidak pernah membuat guru menyerah.
Guru menggunakan apa saja yang ada di sekitar sekolah sebagai media pembelajaran. Pohon, batu, halaman sekolah, hingga lingkungan masyarakat dijadikan sarana belajar. Kreativitas guru lahir dari keadaan yang serba kekurangan. Mereka mengajar bukan karena fasilitas yang lengkap, tetapi karena panggilan jiwa demi pengabdian.
Hasil dari pendidikan itulah yang masih bisa dilihat hingga hari ini. Banyak pemimpin, pejabat, tentara, dokter, dosen, tokoh masyarakat dan tokoh bangsa berasal dari generasi boomer dan Gen X. Mereka tumbuh dari didikan guru-guru lama yang keras, sederhana, tetapi penuh ketulusan.
Memang tidak semua berhasil menjadi pribadi baik. Ada pula yang tumbuh menjadi pemimpin culas dan koruptif. Namun tidak sedikit juga yang memiliki integritas tinggi, daya juang kuat, serta kemampuan bertahan dalam tekanan kehidupan. Semua itu menunjukkan bahwa pendidikan zaman dahulu memiliki satu kekuatan besar, pembentukan karakter.
Guru era boomer dan Gen X mungkin tidak memiliki teknologi canggih. Mereka tidak mengenal proyektor, internet, atau pembelajaran digital. Namun mereka memiliki kewibawaan, ketegasan, dan ketulusan dalam mendidik. Mereka tidak sekadar mengajar agar siswa pintar menjawab soal. Mereka mendidik agar siswa siap menghadapi kehidupan.
Dan dari tangan guru-guru seperti itulah lahir generasi-generasi tangguh yang membantu membangun bangsa saat ini.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Cara Mengajar Guru di Era Boomer dan Gen X
Sorry, comment are closed for this post.