(Guru di Masa Kini)
Wahai guru…
Siapakah anak-anak Generasi Alpha itu? Bagaimana kehidupan mereka di masa sekarang? Bagaimana cara guru mendidik mereka?
Menjadi seorang guru pada masa kini bukanlah perkara yang mudah. Jika dahulu guru hanya dituntut menguasai pelajaran, kini guru harus memahami teknologi, perkembangan sosial, perubahan budaya, bahkan perubahan cara berpikir anak-anak. Guru bukan hanya berhadapan dengan siswa, tetapi juga berhadapan dengan dunia yang terus bergerak tanpa henti.
Di abad ke-21, dunia memasuki era globalisasi yang ditopang oleh kemajuan teknologi yang luar biasa cepat. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Apa yang terjadi di alam dunia ini dapat diketahui saat itu juga melalui layar telepon genggam.
Pada zaman ini, keterlambatan memahami perubahan sering kali menjadi sebuah kerugian. Guru yang tidak mampu beradaptasi akan semakin sulit memahami kehidupan siswa-siswanya. Sementara anak-anak itu hidup dalam dunia yang berbeda jauh dibandingkan dunia tempat gurunya dahulu dibesarkan.
Anak-anak yang saat ini memenuhi ruang-ruang kelas dikenal sebagai Generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Mereka tidak pernah merasakan masa tanpa Wi-Fi, tanpa media sosial, tanpa video daring, atau tanpa telepon pintar. Ketika mereka lahir, teknologi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Semuanya yang ada di gadget serba cepat, singkat dan lengkap.
Bagi mereka, teknologi bukan sesuatu yang istimewa. Teknologi adalah hal yang biasa. Ketika mereka ingin mengetahui sesuatu, mereka cukup membuka mesin pencari. Ketika mereka ingin menonton hiburan, tersedia jutaan video dalam genggaman. Ketika mereka ingin membeli barang, cukup beberapa kali sentuhan pada layar.
Bengkau bisa saksikan, bahkan ketika sebagian dari mereka masih balita, gadget sudah menjadi teman bermain mereka. Di saat orang tuanya sedang sibuk, banyak dari mereka yang memberikan telepon genggam agar anak lebih tenang. Ketika anak menangis, gadget menjadi penenang. Ketika anak bosan, gadget menjadi hiburan. Ketika anak rewel, gadget menjadi solusi tercepat. Lambat laun, layar menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Ketika teknologi canggih di berikan kepada orang yang belum siap untuk menggunakannya dengan benar, maka dampak negatiflah yang terjadi. Seperti anak-anak di usia balita telah kecanduan main game sehingga matanya rusak. Atau juga anak yang memesan barang-barang melalui aplikasi belanja on line tanpa sepengetahuan orang tuanya. Saat barang sampai dirumah dengan nilai jutaan, baru orang tua histeris mengetahui ulah anaknya,
Tidak sedikit anak yang lebih akrab dengan karakter dalam video dibandingkan dengan tetangganya sendiri. Mereka mengenal banyak tokoh digital, tetapi kurang mengenal lingkungan di sekitarnya. Teknologi memang membawa banyak manfaat. Anak-anak dapat belajar lebih cepat, memperoleh informasi lebih luas, dan mengenal dunia yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun teknologi juga membawa dampak negatif.
Ada anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam dirumah hanya bermain game di gadget mereka hingga melupakan aktivitas fisik. Ada yang terlalu lama menatap layar hingga kesehatan matanya terganggu. Ada pula yang tumbuh dengan kemampuan digital yang tinggi tetapi kesulitan membangun komunikasi secara langsung.
Sebagian anak juga tumbuh bersama media sosial sebelum mereka memahami makna tanggung jawab. Hampir setiap kegiatan diunggah ke dunia maya. Tidak sedikit yang menjadikan jumlah pengikut, jumlah suka, dan jumlah komentar sebagai ukuran kebahagiaan. Ini yang membuat mereka kecanduan bermain gadget tanpa adanya batasan.
Mereka hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap hari mereka menerima ratusan bahkan ribuan informasi. Ada yang benar, ada yang salah. Ada yang mendidik, ada yang menyesatkan. Ada yang membangun, ada yang merusak. Di dunia maya, semua orang dapat berbicara. Semua orang dapat berkomentar. Semua orang dapat merasa paling benar.
Di sana tidak selalu ada batas yang jelas antara adab dan kebebasan. Tidak selalu ada penghormatan terhadap yang lebih tua. Tidak selalu ada rasa tanggung jawab terhadap kata-kata yang ditulis. Tidak mengenal sopan santun. Bakan tidak sedikit mereka membaca komentar dengan caci-maki dan sumpah serapah. Anak-anak Generasi Alpha tumbuh di tengah kebisingan dunia seperti itu.
Lalu bagaimana dengan guru?
Guru masa kini sebenarnya memiliki bekal yang jauh lebih baik dibandingkan guru pada masa-masa sebelumnya. Hampir seluruh guru telah menempuh pendidikan tinggi. Berbagai pelatihan diberikan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Sekolah juga mulai dilengkapi dengan laptop, internet, proyektor, layar interaktif, dan berbagai perangkat pembelajaran modern lainnya.
Namun sesungguhnya tantangan guru bukan terletak pada kemampuan mengoperasikan teknologi. Tantangan terbesar guru adalah memahami manusia yang tumbuh bersama teknologi. Karena sejatinya guru tidak mendidik mesin. Guru mendidik hati, guuru mendidik karakter, guru mendidik jiwa manusia. Guru mendidik untuk generasi masa depan bangsanya.
Di ruang kelas, guru berhadapan dengan anak-anak yang memiliki akses informasi jauh lebih luas daripada generasi sebelumnya. Mereka bisa menemukan jawaban dari soal yang diberikan guru hanya dalam hitungan detik. Mereka bisa menyaksikan video pembelajaran dari berbagai daerah bahkan manca negara. Mereka bisa mengetahui banyak hal bahkan sebelum guru menjelaskannya. Karena itulah guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.
Jika dahulu guru adalah pusat informasi, kini guru menjadi pembimbing dalam memahami informasi. Jika dahulu guru mengajarkan apa yang harus diketahui, kini guru mengajarkan bagaimana cara berpikir. Jika dahulu guru memberikan jawaban, kini guru membantu murid menemukan jawaban yang benar. Anak-anak Generasi Alpha juga memiliki karakter yang berbeda. Mereka cenderung lebih berani mengemukakan pendapat. Mereka tidak segan bertanya. Mereka suka memberikan komentar.
Namun sering kali keberanian itu tidak selalu diiringi dengan kedalaman berpikir. Mereka terbiasa mengungkapkan apa yang ada di kepala sebelum sempat mempertimbangkan apakah pendapat itu benar atau tidak. Mereka terbiasa berbicara cepat karena dunia di sekitar mereka juga bergerak cepat.
Sekarang engkau harus pahami ini. Di sinilah kualitas seorang guru teruji.
Guru tidak boleh sekadar marah ketika murid terlalu banyak berbicara.
Guru harus mengajari mereka bagaimana berpikir sebelum berbicara.
Guru harus mengajari mereka bagaimana menyampaikan pendapat dengan sopan.
Guru harus mengajari mereka bahwa kebebasan berpendapat tetap harus dibingkai oleh adab. Karena ilmu tanpa adab akan kehilangan arah.
Maka cara mengajar guru pada masa kini tidak cukup hanya berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran. Guru harus menjadi pendengar yang baik. Guru harus memahami dunia murid-muridnya. Guru harus mengetahui aplikasi yang mereka gunakan, tontonan yang mereka sukai, bahasa yang mereka pakai, dan tantangan yang mereka hadapi. Bukan untuk mengikuti semua kebiasaan mereka, tetapi agar guru mampu menjembatani dunia mereka dengan nilai-nilai yang ingin diajarkan.
Guru masa kini juga harus lebih kreatif dan inovatif. Pembelajaran diruang kelas harus hidup. Diskusi harus lebih banyak tercipta. Pengalaman belajar harus lebih nyata dialami mereka. Anak-anak itu perlu diajak mengamati, mencoba, bertanya, dan menemukan sendiri. Sebab anak-anak Generasi Alpha tidak cukup hanya mendengar. Mereka ingin terlibat dalam proses pembelajaran.
Namun di tengah tuntutan untuk terus kreatif, guru juga perlu merenungkan satu hal penting. Jangan sampai kesibukan mengejar teknologi membuat guru melupakan hakikat pendidikan. Karena secanggih apa pun teknologi, anak-anak tetap membutuhkan teladan. Mereka tetap membutuhkan perhatian dan membutuhkan kasih sayang. Mereka tetap membutuhkan sosok yang mampu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.
Pada akhirnya, tugas guru Generasi Alpha bukan sekadar membuat murid menjadi pintar. Tugas guru adalah membantu mereka menjadi manusia yang utuh. Manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Manusia yang mampu berpendapat tanpa kehilangan adab. Manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Cara Mengajar Guru di Era Gen Alpha
Sorry, comment are closed for this post.