(Guru Abad 21)
Wahai guru…
Siapakah anak-anak gen Z itu? Bagaimana kehidupan masa belajar mereka? Bagaimana cara guru mendidik mereka?
Waktu terus berjalan. Zaman berganti tanpa pernah menunggu siapa pun. Perubahan yang dahulu membutuhkan puluhan tahun, kini dapat terjadi hanya dalam hitungan bulan. Perkembangan teknologi menjadi penyebab utama perubahan itu. Kehidupan manusia menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih praktis. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pula berbagai tantangan baru. Manusia semakin bergantung pada teknologi. Interaksi sosial yang dahulu banyak terjadi secara langsung, kini perlahan berpindah ke layar-layar gawai.
Pada awal abad ke-21, tepatnya sekitar tahun 2000-an, lahirlah dan tumbuh generasi yang kemudian dikenal sebagai Generasi Z (Gen Z). Mereka adalah anak-anak yang sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan teknologi digital. Jika generasi sebelumnya mengenal teknologi sebagai sesuatu yang baru dan harus dipelajari, maka Gen Z justru tumbuh bersama teknologi itu sendiri.
Mereka tidak pernah mengalami masa ketika informasi sulit dicari. Mereka tidak mengenal dunia tanpa internet. Bahkan sebelum mampu menulis dengan rapi, sebagian dari mereka sudah mampu membuka aplikasi di telepon genggam orang tuanya.
Pada masa itu, handphone mulai menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan masyarakat. Awalnya hanya digunakan untuk berkomunikasi melalui panggilan dan pesan singkat. Namun perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Handphone berubah menjadi perangkat multifungsi yang mampu memutar musik, merekam video, mengambil foto, memainkan permainan, hingga mengakses internet.
Ketika memasuki dekade 2010-an, perkembangan itu semakin sulit dibendung. Media sosial bermunculan. Berbagai aplikasi digital hadir silih berganti. Anak-anak Gen Z mulai mengenal dunia yang sangat luas melalui layar kecil di tangan mereka. Mereka dapat melihat berbagai peristiwa di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik. Di sinilah tantangan besar mulai muncul bagi para guru.
Bisakah engkau bayangkan, sebuah ruang kelas yang masih menggunakan metode pembelajaran lama, sementara para siswanya hidup di tengah dunia digital yang bergerak sangat cepat. Guru menjelaskan pelajaran selama satu jam penuh, sementara siswa terbiasa memperoleh informasi hanya dalam beberapa detik melalui internet. Guru mengandalkan buku pelajaran sebagai sumber utama, sedangkan siswa dapat menemukan ribuan sumber lain melalui mesin pencari.
Perbedaan cara memperoleh informasi inilah yang membuat pendidikan harus berubah. Pemerintah saat itu berupaya melakukan berbagai perbaikan. Pelatihan guru dilaksanakan di berbagai daerah. Kualifikasi pendidikan guru ditingkatkan. Guru dituntut untuk melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana. Kurikulum terus diperbarui agar mampu menyesuaikan kebutuhan zaman.
Sekolah-sekolah juga mulai mengalami perubahan. Gedung-gedung diperbaiki. Sarana pendidikan ditambah. Perangkat teknologi mulai masuk ke ruang-ruang kelas. Bahkan sumber belajar tidak lagi terbatas pada buku paket yang tersedia di perpustakaan sekolah. Semua itu dilakukan agar pendidikan tetap relevan dengan kehidupan anak-anak Gen Z.
Disaat ini cara mengajar guru mulai berubah. Kurikulum sebagai pedoman guru dalam mengajar, dengan cepat menyesuaikan perubahan. Namun tak semua guru bisa mengikutinya. Terutama guru-guru senior yang tidak mahir dalam penggunaan teknologi. Bahkan sang siswa lebih paham menggunakan media pembelajaran ketimbang gurunya.
Perubahan fasilitas ternyata belum tentu mampu mengubah cara berpikir manusia. Sebagian guru masih mengajar dengan pola lama. Mereka terbiasa menjadi satu-satunya sumber ilmu di dalam kelas. Padahal siswa Gen Z tidak lagi melihat guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Mereka dapat menemukan banyak pengetahuan melalui internet.
Hal ini sering menimbulkan kegelisahan. Ada guru, terutama guru-guru senior yang merasa wibawanya berkurang ketika siswanya lebih cepat menemukan informasi melalui telepon genggam. Ada pula yang merasa tersinggung ketika penjelasannya dibandingkan dengan informasi yang diperoleh siswa dari internet.
Padahal sesungguhnya peran guru tidak pernah tergantikan. Internet mampu memberikan informasi. Tetapi internet tidak mampu memberikan keteladanan. Mesin pencari mampu menjawab pertanyaan. Tetapi mesin pencari tidak mampu membentuk karakter. Media sosial mampu menghubungkan manusia. Tetapi media sosial tidak mampu mengajarkan kebijaksanaan dalam hidup.
Ketahuilah, di sinilah letak peran sejati seorang guru. Guru Gen Z bukan lagi sekadar penyampai ilmu. Ia harus menjadi pembimbing, pengarah, dan pendamping bagi anak-anak yang hidup di tengah banjir informasi. Guru harus mengajarkan bagaimana memilih informasi yang benar di antara ribuan informasi yang salah. Guru harus mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak. Guru harus mengajarkan bagaimana tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin digital.
Renungkanlah olehmu, tugas tersebut tidaklah mudah. Anak-anak Gen Z memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka cenderung kritis. Mereka berani bertanya. Mereka tidak selalu menerima suatu perintah hanya karena perintah itu datang dari orang yang lebih tua. Bagi sebagian guru senior, kondisi ini sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Padahal belum tentu demikian. Bisa jadi mereka hanya ingin memahami alasan di balik sebuah aturan. Mereka ingin didengar, dihargai, dan diajak berdiskusi. Karena itu cara mengajar guru juga harus berubah. Pendekatan yang terlalu otoriter sering kali tidak lagi efektif. Anak-anak Gen Z lebih mudah menerima nasihat dari guru yang mampu membangun hubungan baik dengan mereka.
Anak-anak itu lebih menghormati guru yang memahami dunia mereka. Mereka lebih dekat kepada guru yang mau mendengarkan. Mereka lebih percaya kepada guru yang mampu menjadi teladan. Meskipun demikian, bukan berarti mendidik anak Gen Z selalu berjalan mulus. Masih ada siswa yang sulit dibina, ada siswa yang melanggar aturan, dan masih ada siswa yang menunjukkan perilaku yang memerlukan pembinaan lebih tegas.
Di sinilah dilema guru sering muncul. Pada masa sebelumnya, hukuman fisik masih dianggap sebagai salah satu cara pembinaan. Namun seiring perkembangan zaman, pendekatan tersebut semakin ditinggalkan dan tidak diperbolehkan. Perlindungan terhadap anak semakin diperkuat melalui berbagai aturan dan lembaga. Tujuannya tentu baik, yaitu melindungi hak-hak anak.
Keadaan ini menimbulkan tekanan tersendiri. Guru dituntut mendidik dengan baik, tetapi sering kali tidak mendapatkan perlindungan yang memadai ketika menghadapi masalah dalam proses hukum. Padahal sebagian besar guru tidak pernah berniat menyakiti muridnya. Mereka hanya ingin melihat anak didiknya menjadi pribadi yang lebih baik.
Guru itu marah karena peduli. Guru itu menegur karena sayang. Guru itu membina karena berharap siswanya menjadi lebih baik. Namun sering kali niat baik itu tidak dipahami dengan utuh. Sehingga akhirnya guru berurusan dengan hukum di pengadilan.
Di tengah segala perubahan zaman, setidaknya engkau bisa memahami ini.
Sudahkah engkau memahami dunia tempat siswa-siswa mu hidup?
Sudahkah engkau mendengarkan mereka sebelum meminta mereka mendengarkan mu?
Sudahkah engkau belajar sebagaimana dirimu meminta mereka untuk belajar?
Jangan sampai engkau menuntut anak-anak Gen Z memahami duniamu, sementara engkau sendiri tidak mau memahami dunia mereka. Karena sesungguhnya pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid.
Pendidikan adalah pertemuan dua generasi yang saling belajar. Guru mengajarkan pengalaman hidup kepada murid. Murid mengajarkan perubahan zaman kepada guru. Dan ketika keduanya saling memahami, lahirlah proses pendidikan yang sesungguhnya. Maka guru abad ke-21 bukanlah guru yang paling banyak tahu, tetapi guru yang tidak pernah berhenti belajar. Guru yang mau beradaptasi. Guru yang mau memperbaiki diri. Guru yang tetap teguh memegang nilai-nilai kebaikan di tengah derasnya arus perubahan.
Sebab pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. Kurikulum akan terus berubah. Metode pembelajaran akan terus diperbarui. Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah hati seorang guru yang tulus mendidik. Karena di balik setiap anak Gen Z yang berhasil menjalani kehidupannya dengan baik, selalu ada seorang guru yang diam-diam telah menanamkan nilai, akhlak, dan harapan dalam perjalanan hidup mereka.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Cara Mengajar Guru di Era Gen Z
Sorry, comment are closed for this post.