(Siswa-siswa tangguh di masa peralihan)
Wahai guru…
Siapakah anak-anak milenial itu?
Bagaimana dunia tumbuh di hadapan mereka?
Dan bagaimana para guru mendidik mereka di tengah perubahan zaman yang begitu cepat?
Anak-anak milenial adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1985–1995. Hari ini mereka berada pada usia sekitar 30 hingga 40 tahun. Merekalah generasi yang kini memenuhi ruang-ruang kehidupan sosial, menjadi guru, pegawai, pekerja, pedagang, orang tua, bahkan pemimpin di berbagai bidang. Dan tak kalah hebatnya, dunia digital saat ini dipenuhi oleh tangan-tangan mereka.
Generasi ini bukanlah generasi yang lahir dalam dunia yang damai dan aman sentosa. Mereka tumbuh di masa peralihan besar bangsa Indonesia. Mereka melewati pergantian zaman dari kepemimpinan Presiden Soeharto, kemudian memasuki masa Presiden B.J. Habibie, berlanjut kepada era Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, hingga mulai merasakan kestabilan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masa sekolah mereka berlangsung di tengah perubahan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang begitu besar.
Generasi milenial adalah generasi yang berdiri merasakan antara dua dunia, dunia tradisional dan dunia modern. Di masa kecil mereka, nilai-nilai adat masih dijaga kuat. Sopan santun masih menjadi kebanggaan keluarga. Anak-anak masih menghormati guru tanpa syarat. Masyarakat masih saling mengenal satu sama lain. Budaya gotong royong hidup di lingkungan kampung dan sekolah. Orang tua belum terlalu sibuk dengan telepon genggam, karena memang belum ada dunia digital seperti hari ini. Sehingga lingkungan pada masa itu ikut mendidik anak-anak.
Anak-anak milenial tumbuh bukan hanya dari pendidikan sekolah, tetapi juga dari teguran tetangga, nasihat kakek-nenek, serta pengawasan masyarakat sekitar. Ketika seorang anak berbuat salah di luar rumah, maka masayarakat sekitarlah yang pertama kali menegur dan mengarahkannya. Kemudian kabar itu bisa sampai kepada orang tuanya. Para orang tuanya pun bersyukur dan berterimakasih atas kepedulian masyarakat terhadap perilaku anaknya. Tidak seperti yang terjadi belakangan ini. Orang tua lebih memlh membela anaknya meskiun itu salah.
Pada masa itu, arus globalisasi belum begitu kuat. Informasi masih terbatas pada radio, koran, dan televisi pemerintah. Banyak keluarga masih menonton televisi hitam putih dengan beberapa saluran saja. Dunia belum seramai sekarang. Anak-anak milenial tidak ada yang betah dirumah, pasti mereka akan mencari kawan untuk bermain bersama. Kalau pun mereka betah itu hanya pada hari minggu pagi. Hari yang ditunggu-tunggu untuk menonton film-film kartun favorit mereka.
Pemerintah pada era Orde Baru menjaga ketat stabilitas negara. Kehidupan terasa lebih tertib, meskipun kebebasan masyarakat sangat terbatas. Anak-anak milenial lahir dan tumbuh di tengah suasana seperti itu, sederhana, disiplin, dan penuh keteraturan. Tanpa ada sikap manja yang berlebihan. Apa lagi suka mengadu-ngadu kepada orang tua atas setiap suatu yang terjadi pada dirinya.
Lalu datanglah masa reformasi. Masa dimana awal berubahnya tatanan kenegaraan kita. Indonesia memasuki masa yang penuh gejolak. Demonstrasi besar terjadi di berbagai kota. Krisis moneter menghancurkan ekonomi rakyat. Nilai rupiah jatuh. Pengangguran meningkat. Kerusuhan, penjarahan, dan kriminalitas merebak di mana-mana. Konflik horizontal sangat rentan terjadi di setiap daerah.
Namun di tengah kekacauan itu, sekolah tetap berjalan. Guru-guru tetap datang mengajar. Mereka tetap berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan. Mereka tidak ingin murid-muridnya kehilangan masa depan hanya karena negara sedang kacau.
Pada saat itulah terlihat betapa kuatnya peran seorang guru. Proses belajar mengajar pada anak-anak era milenial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Guru masih menjadi pusat pembelajaran. Murid mendengarkan, mencatat, lalu menghafal. Disiplin diterapkan dengan keras. Hukuman fisik masih dianggap wajar selama bertujuan mendidik.
Tidak ada orang tua yang langsung melapor ke polisi karena anaknya dihukum guru. Tidak ada media sosial untuk memviralkan pendisiplinan oleh guru. Sebagian besar orang tua justru berkata : “Kalau anak saya salah, didik saja, Pak Guru.” Bukan karena masyarakat zaman dulu membenci anak-anaknya, tetapi karena mereka percaya bahwa pendidikan membutuhkan ketegasan.
Engkau harus tanamkan ini pada dirimu. Guru pada masa itu tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga membentuk mental hidup. Mereka mendidik siswa agar tahan tekanan, menghormati orang lain, disiplin waktu, dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Anak-anak milenial pun tumbuh menjadi generasi yang terbiasa menghadapi kesulitan. Mereka pernah hidup tanpa internet. Pernah menulis tugas tangan hingga larut malam. Pernah mencari bahan pelajaran di perpustakaan kecil sekolah. Pernah merasakan panasnya ruang kelas tanpa pendingin udara. Bahkan banyak yang harus berjalan kaki atau naik sepeda untuk pergi ke sekolah. Tetapi justru dari keterbatasan itulah lahir daya juang dan pribadi yang tangguh
Pada masa itu, biaya pendidikan sebagian besar masih ditanggung oleh orang tua. Mulai dari SPP, buku pelajaran, seragam, hingga berbagai kegiatan sekolah. Karena itulah para orang tua sangat menghargai pendidikan. Mereka bekerja keras agar anak-anaknya tetap bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada mereka dahulu.
Memasuki era reformasi, teknologi mulai berkembang perlahan. Televisi berwarna mulai masuk ke rumah-rumah masyarakat. Saluran televisi bertambah banyak. Media cetak berkembang pesat. Peralatan teknologi seperti komputer mulai dikenal di sekolah-sekolah. Generasi milenial menjadi generasi pertama yang menyaksikan perubahan besar teknologi informasi. Mereka mengalami masa dari menulis surat hingga memakai pesan instan dengan secarik kertas. Dari mesin tik menuju komputer. Dari kaset menuju kepingan VCD.
Cobalah engkau renungkan sejenak. Di tengah-tengah semua perubahan itu, guru juga ikut belajar menyesuaikan diri. Walaupun fasilitas sekolah masih terbatas dan gaji guru belum besar, mereka tetap berusaha mengajar dengan penuh tanggung jawab. Dana sekolah sebagian besar hanya bergantung pada iuran siswa. Itu hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar operasional sekolah. Banyak guru hidup sederhana, tetapi tetap datang ke sekolah setiap hari dengan semangat mendidik.
Cara mengajar guru era milenial memang masih dipengaruhi pola lama seperti generasi X, disiplin, tegas, dan patuh terhadap aturan. Namun perlahan mereka mulai mengenalkan teknologi dalam pembelajaran. Mereka mulai memperkenalkan alat komunikasi mulai dari telepon gagang hingga pager. Mereka menggunakan media elektronik sederhana seperti TV dan pemutar VCDnya, dan membuka wawasan siswa terhadap dunia yang terus berubah.
Guru-guru pada masa itu sebenarnya sedang berdiri di antara dua zaman. Mereka masih membawa nilai-nilai lama, tetapi dipaksa memahami dunia baru. Dari tangan merekalah lahir generasi milenial, generasi yang pernah hidup dalam kesederhanaan, tetapi juga mampu bertahan menghadapi ledakan perubahan dunia modern.
Dan diantara kaum milenial yang sedang berjuang sekarang ini adalah dirimu.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Cara Mengajar Guru di Era Milenial
Sorry, comment are closed for this post.