Jam menunjukkan pukul 00.00, Gadis itu masih menatap ponselnya yang gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada kabar, dan anehnya itu sudah tidak mengejutkan.
Dulu dia akan menunggu, melihat berapa menit sudah berlalu, jam berapa terakhir dia online, sembari mengarang segala alasan kenapa seseorang tidak membalasnya.
Tapi, untuk hari ini berbeda. Dia masih peduli tapi dia sudah lelah.
Dulu, dia akan membalas dalam hitungan detik. Sekarang, bahkan membuka WhatsApp terasa seperti pekerjaan yang harus diselesaikan.
Jadi, untuk pertama kalinya rasa lelah itu mengalahkan kerinduannya sehingga dia memutuskan untuk mematikan notifikasi.
Bukan untuk dicari, tapi untuk istirahat sejenak dari kelelahan untuk mencari seseorang yang mungkin bahkan tidak sadar ia sedang hilang.
Menjauh? Itu bukan kata yang tepat. Mungkin lebih tepatnya mundur perlahan. Sampai dia mendapat sebuah penjelasan.
Beberapa hari yang lalu..
“Fir, kita kayaknya gak bisa call. Dan, untuk hangout bareng yang lain akan jarang dulu sampai keadaan membaik,” kata seorang cowok campuran arab yang terlihat di layar ponsel Fira.
“Maksud lo apa, Zen? Gara-gara si kembar ketemu kita berempat, gitu?”
Di seberang layar, Zen terdiam perlahan. Fira hafal kebiasaan itu.
Zen hanya diam selama itu ketika sedang memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau menyembunyikannya.
“Sebenarnya … setelah kemarin kita jalan dan ketemu si kembar, gua diledekin di grup mereka. Karena udah tersudut, gua maaf banget terpaksa bilang kalau gua gold digger sama lo. Tapi, gua aslinya gak gitu.”
Fira menatap tidak percaya, berusaha mencerna tapi hanya bisa berkata, “Gak papa, yang penting lo nya aman.”
Fira kemudian mematikan panggilan itu.Ia masih berusaha mencerna semuanya.
“Gold digger.” Untuk kedua kalinya malam itu, ia mengucapkan kata tersebut lirih.
Anehnya, yang membuat dadanya sesak bukanlah kata-kata itu. Melainkan kenyataan bahwa Zen memilih menjelaskan dirinya kepada orang lain dengan mengorbankan dirinya.
Untuk pertama kalinya, Fira bertanya-tanya. Jika suatu hari keadaan menjadi lebih buruk, apakah namanya akan kembali menjadi harga yang harus dibayar agar Zen tetap diterima?
Dua hari berlalu …
Zen sama sekali tidak mengirim chat, padahal Fira selalu menunggu. Ia berharap akan ada bunyi notifikasi yang menandakan kabar dari Zen.
ekarang, Fira mulai lelah. Ia bingung harus berbuat apa lagi.
Pikirannya melayang pada percakapan mereka sehari sebelumnya. Ia masih mengingat jelas pesan yang dikirim pria itu.
“Maaf… gue jarang chat. Emang lagi sibuk.”
Fira menatap balasannya cukup lama. Jemarinya sempat berhenti di atas keyboard.
da begitu banyak hal yang ingin Fira katakan. Tentang rindunya yang semakin sulit dibendung. Tentang lelah yang diam-diam menggerogoti hatinya. Tentang betapa banyak hal telah berubah sejak hari itu.
Namun pada akhirnya, semua perasaan itu hanya berhenti di ujung jemarinya.
Yang terkirim justru hanya sebuah kalimat sederhana.
“Iyaa, it’s okay. Masalah lo bukan gue doang kok. Semangat ya.”
Setelah kejadian kemarin, semuanya berubah. Sejak si kembar Basis memergoki kami berempat, masalah demi masalah bermunculan. Bukan hanya Zen yang harus menanggung akibatnya, Fira pun ikut terkena imbasnya.
Mereka sama-sama memiliki masalah. Bedanya, Fira masih berusaha menyempatkan waktu untuk bertanya kabarnya. Sedangkan Zen hampir tak pernah memulai percakapan lagi.
Apakah Zen akan kembali?
Sebenarnya… Fira ini dianggap siapa oleh Zen?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Banyak sekali kemungkinan yang terlintas di benak Fira. Apalagi saat meet dengan Zura, sahabatku, dan Gilang, sahabatnya.
Gilang sempat berkata, “Mending kita kasih tahu aja kali ya yang sebenarnya?”
Namun, Azura langsung menyahut, “Jangan.”
Itu semakin membuat Fira merasa seolah mereka berdua sedang menyimpan sesuatu.
Malam itu menjadi puncaknya. Fira sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia memutuskan untuk curhat kepada Zura. Ternyata, hubungan Zura dengan Gilang justru menunjukkan perkembangan yang baik. Padahal, hubungan mereka masih terbilang baru. Meski begitu, Fira ikut merasa bahagia melihatnya.
“Fir, gue nggak bisa bahagia kalau lo aja masih kayak gini.” Suaranya lembut, tegas, tetapi sekaligus menyiratkan kesedihan.
Azura Hanindya. Sahabat Fira selama kelas delapan. Jujur saja, Fira tahu kenapa Zura berkata seperti itu. Orang yang pertama kali menjodohkan dia dengan Gilang adalah Fira dan Zen.
“Ya mau gimana lagi? Justru sekarang gue bahagia banget lihat lo. Makin dekat, ya. Walaupun gue tahu sih, lo masih belum ada perasaan. Tapi pelan-pelan bakal ada, kok.”
Suara Fira justru berbanding terbalik dengan Azura. Terdengar lelah, letih, dan bingung harus berbuat apa lagi.
“Justru itu. Gue paham gimana sakitnya, karena dulu gue juga pernah ada di posisi itu. Kalau jadi lo, pasti sakit banget sekarang. Lo sendiri maunya gimana? Perlu gue bantu bilang ke Gilang biar nanti disampaikan ke Zen? Tapi, emangnya lo nggak coba komunikasi?” Zura balik bertanya.
Suasana kembali meredup. Fira hanya bisa menjawab, “Gue beberapa kali coba komunikasi sama dia kalau ada masalah. Tapi justru gue yang bingung harus gimana. Begitu berhadapan sama dia, gue langsung gelagapan dan kehilangan kata-kata. Ujung-ujungnya, gue malah berakhir ngertiin dia lagi, dengan keadaan dia yang serumit itu. Tapi… effort-nya beda, loh.”
Azura terdiam cukup lama. Fira tahu Zura sanagt paham dengan kondisinya saat ini, kondisi saat lelah, penat, dan rindu yang sedang bercampur menjadi satu.
“Jujur, pas hangout kemarin dia sweet banget. Tapi kenapa sekarang, dari chat yang gue lihat, malah jadi dry banget, ya?” tanya Azura pelan, berusaha agar tidak terkesan memaksa.
“Nggak tahu, Zur. Gue juga pusing, bingung harus gimana. Lo tahu sendiri, gue berusaha pahami keadaan dia yang complicated. Tapi, gue sendiri malah nggak paham sebenarnya dia maunya apa,” jawab Fira.
“Jujur, sakit. Bener sih, dia memang kelihatan udah beda banget. Berubah banget sejak pulang dari Kemvill. Gue bantu, deh, bilang ke Gilang. Nanti kalau Gilang udah komunikasi sama Zen, biar gue yang jelasin ke Zen,” ujar Zura menenangkan.
Jam menunjukkan 01.15 pagi, Fira sudah harus tidur dan berpamitan ke Zura. “Zur, gua udahan dulu yaa. Ntar kabarin aja dia kayak gimana atau ngomong apa nanti. Good night, Zur.”
“Oke, nanti gue kabarin… good night, Fira.”
Fira mengakhiri panggilan itu, lalu meletakkan ponsel di samping bantal. Mode Do Not Disturb segera diaktifkan. Malam itu, tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain memejamkan mata dan berharap semesta berpihak kepadanya esok hari.
Fira tidak tidur tapi berharap agar besok ia tidak sakit, tidak sedih dan tidak semakin parah.
Walaupun matanya tidak langsung terpejam, namun dirinya tetap mendoakan cowok itu.
“Zen semoga kau disana kuat ya. Ingat aku di sini yang siap menunggu, tapi sekarang mulai lelah dengan sikapmu. Semoga besok menjadi lebih baik kondisinya. Aku selalu sayang kamu.”
Mata Fira perlahan mulai terpejam setelah melantunkan doa itu dengan hati penuh harap.
Kreator : Mikayla Pramuditya
Comment Closed: Chapter 1
Sorry, comment are closed for this post.