KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Kerajaan Impian

    Kerajaan Impian

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 13 kali
    Kerajaan Impian_alineaku

    Aku tak ingin keluar rumah. Kalau bisa untuk selamanya, agar tidak lagi kulihat wajah-wajah polos tanpa dosa berhias debu, yang terkadang disertai ingus yang mungkin tak sempat dibersihkan oleh ibu-ibu mereka yang tengah sibuk menanti metro mini-metro mini atau bis-bis berhenti di hadapan mereka dan kemudian memaksa langkah para perempuan yang menggendong tubuh-tubuh mungil mereka itu melompat gesit ke dalamnya, menyumbangkan nada-nada sumbang yang semakin sumbang karena diiringi oleh alat musik ala kadarnya, yang terbuat dari botol bekas minuman berisi serpihan batu bata atau beberapa tutup botol yang disatukan sehingga menimbulkan bunyi kencreng-kencreng.

    Aku tak ingin keluar rumah. Kalau bisa untuk selamanya, agar tidak lagi kulihat tangan-tangan dan kaki-kaki mungil yang terbungkus kulit dan baju dekil itu bermain dengan angin, tidak ada genggaman mainan yang bisa mereka gunakan untuk menciptakan sebuah imajinasi atau pun makanan kecil yang bisa digigit-gigit sebagai pengisi waktu luang ketika menemani ibu-ibu mereka mengais rejeki.

    Aku tak ingin keluar rumah. Kalau bisa untuk selamanya, agar tidak lagi kulihat sorot-sorot mata suci dan menggemaskan itu meredup terhalang oleh terik matahari yang membakar kulit mulus mereka. Sorot mata yang seharusnya memberikan semangat untuk terus maju melewati tahapan-tahapan penting masa pertumbuhan mereka itu seolah tahu bahwa takdir telah menentukan, tidak akan mudah bagi mereka untuk menapaki semua itu.

    Aku tak ingin keluar rumah. Kalau bisa untuk selamanya, jika ketika berjalan melewati mereka hanya selembar ribuan kumal, sekotak kecil susu, sebungkus biskuit atau terkadang pakaian-pakaian bekas pakai anakku yang bisa aku berikan. Aku sadar, apa yang aku berikan setiap hari itu tidak akan pernah bisa menolong mereka keluar dari kungkungan kemiskinan. Aku sadar, apa yang telah kuberikan kepada mereka itu tidak akan bisa menolong mereka untuk mendapatkan hak menikmati hidup masa kanak-kanak dengan layak. Masa depan mereka tidak akan pernah berubah, mereka akan terus berada di atas jalanan. Melompat dari satu metro mini ke metro mini yang lain sebagaimana yang diajarkan oleh ibu-ibu mereka saat ini. Keadaan mereka tidak akan pernah berubah jika tidak ada orang lain yang membantu mereka untuk merubahnya.

    Tidak, aku tidak ingin keluar rumah lagi. Bahkan, kalau bisa untuk selamanya, agar tidak lagi kurasakan denyutan sakit di kepalaku akibat menahan jatuhnya air mata karena menyaksikan kulit-kulit mulus mereka terpanggang panasnya terik matahari. Aku hanya ingin tidur, terus dan terus tidur agar bisa kubangun mimpi-mimpi besarku yang selama ini hanya menghuni dunia khayalku. Membuat orang mengira aku sudah gila karena tersenyum-senyum sendiri. Aku ingin mewujudkannya dan itu hanya bisa terwujud jika aku memindahkannya ke dunia mimpi. Sehingga ketika orang melihatku tersenyum di dalam tidurku mereka akan menebak bahwa aku sedang bermimpi indah. Aku ingin segera melakukan itu, aku ingin segera dapat bersentuhan dan bercengkerama dengan mereka tanpa ada perasaan malu dan prasangka dari orang lain bahwa aku melakukan semua itu semata-mata agar terlihat sebagai orang yang baik hati dan perduli pada sesama. Dengan begitu tidak ada pula orang yang menganggapku telah mengabaikan himbauan pemerintah untuk tidak memberi uang kepada para pengemis. Karena menurut mereka, pemberian itu hanya akan membuat para pengemis semakin malas bekerja dan terus menggantungkan hidup kepada belas kasihan orang lain. Lalu kepada mereka harus menggantungkan hidupnya? Kepada pemerintah yang jelas-jelas telah mengabaikan mereka? Heran, kenapa orang mau berbuat baik harus dibatasi. Tidakkah orang yang mempunyai pemikiran seperti itu pernah membayangkan bagaimana sulitnya menjalankan profesi sebagai seorang pengemis? Dibutuhkan mental yang kuat untuk menjalaninya. Apakah ketika mereka melarang orang menjadi pengemis mereka juga sudah menyediakan pekerjaan lain untuk mereka? Tentu tidak ada seorangpun yang bercita-cita ingin menjadi pengemis bukan? 

    Di dunia mimpiku, tak ada yang akan mengganggu atau terganggu. Aku bisa berbuat semauku bahkan aku akan bisa merubah dunia mereka menjadi dunia yang sangat menyenangkan dan membawa mereka ke kehidupan yang lebih layak.

    Berpikir seperti itu, membuatku semakin ingin cepat tidur, maka perlahan-lahan kubaringkan tubuhku di atas dipan tua, di teras belakang rumah. Sambil menikmati semilir angin kucoba mengingat satu persatu wajah bocah-bocah malang itu untuk kemudian kumasukkan ke dalam memoriku. Aku mulai tersenyum senang ketika ruangan bercat warna-warni dan penuh dengan berbagai mainan itu dipenuhi oleh gelak tawa mereka. Kulihat ada beberapa teman-teman relawan juga tergelak melihat kelucuan mereka. Papan nama dengan tulisan “BABIES DAYCARE” yang terpampang di depan ruangan ikut bergoyang-goyang menyemarakkan hari pertama beroperasinya tempat penitipan bayi dan balita pengemis jalanan. Pita merah putih yang tadi pagi baru ku gunting untuk menandai telah diresmikannya lembaga itu masih melilit di sebagian tulisan itu. Kini aku bisa bernafas lega, para ibu bisa bekerja tanpa khawatir akan keadaan anak-anak mereka. Bocah-bocah malang itu akan mendapatkan pelayanan yang baik, makanan yang bernutrisi, imunisasi dan vaksinasi, pakaian yang bersih dan permainan-permainan yang akan bisa mengembangkan otak mereka menjadi pintar dan cerdas. Aku senang dan bahagia karena akhirnya bisa mewujudkan impian besarku. Ini baru satu mimpi. Masih banyak mimpi-mimpi besar lainnya yang juga ingin aku wujudkan.

    Kumiringkan posisi tidur, dengan posisi tidur seperti itu aku bisa semakin dalam menyelami dunia mimpiku. Aku mulai melangkah pergi meninggalkan bocah-bocah lucu itu dan mempercayakannya kepada para pengasuh yang sudah sangat terampil dan terlatih dalam hal mengurus bayi dan balita. Kucium dan kupeluk mereka satu per satu sebelum pergi. Bagi mereka, tentu saja aku bukanlah orang asing yang baru mereka kenal. Mereka telah terbiasa melihat senyum ikhlasku, mereka telah terbiasa merasakan sentuhan tanganku dan mereka telah akrab dengan perasaan gemasku manakala bertatapan dengan mata jenaka mereka. Dengan damai mereka bergelayut manja di atas pangkuanku. Aku hanya pamit sebentar, itu yang kubisikkan ke telinga mereka. Mereka mengerti, mereka tahu aku pergi untuk membangun mimpi-mimpiku yang lain.

    Kukendarai limosin, kubentangkan sayap-sayapnya hingga tak menapak lagi di jalanan beraspal. Limosin itu melesat kencang melewati pemandangan yang hingga hari ini terus mengiris dadaku, membuatku tak nafsu untuk menjamah makanan, membuatku terus mensyukuri nikmat yang selama ini telah kudapatkan. Ini bulan ramadhan, pengemis yang berderet di sepanjang jalan lebih banyak jumlahnya dari bulan-bulan biasa. Masih banyak bayi-bayi dan balita-balita yang dijadikan objek oleh orang tua mereka untuk menarik simpati dari para pengguna jalanan yang melintas di depan mereka. Ironis memang, sebenarnya mereka pun tak tega membawa bayi-bayi dan balita mereka, tapi apa daya, hanya dengan cara itu mereka bisa mendapatkan belas kasihan dari orang. Aku bahkan tidak bisa memaksa mereka semua agar mau menitipkan bayi-bayi mereka ke tempat penitipan anak yang baru saja aku resmikan. Bayi-bayi itu adalah alat kerja mereka. Kalau sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan? Sebagai seorang ibu, hatiku sangat teriris melihat pemandangan seperti itu. Hanya sebuah pesan yang bisa kutinggalkan untuk mereka agar mereka memperhatikan kesehatan bayi-bayi mereka. Aku terus memacu limosin dengan membawa segudang kepedihan tentang mereka. Dadaku selalu sesak oleh berjuta kesedihan setiap kali melihat pemandangan seperti itu terjadi di depan mataku. Akhirnya limosin mendarat di sebuah area yang luasnya kira-kira lima hektar. Terik mentari yang memanggang bumi tak menyurutkan para buruh bangunan untuk terus bekerja menyelesaikan bangunan-bangunan yang aku rancang sendiri. Di area ini aku akan mendirikan pusat perdagangan plus rumah-rumah susun dengan fasilitas rumah ibadah dan rumah kreatif. Aku akan peruntukkan semua itu untuk anak-anak jalanan dan para pengemis agar mereka tak lagi berkeliaran di jalan-jalan, tidak lagi tidur di atas trotoar jalan atau trotoar toko dan sebagainya. Mereka semua akan kuberikan usaha yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Mereka bisa tinggal di rumah-rumah yang telah kusediakan. Selain itu mereka juga akan kudidik agar menjadi orang-orang yang taat beragama dan bisa menghormati pemeluk agama lain. Akan ada musholla, gereja, juga vihara di area ini. Ruang kreatif bisa dipakai oleh anak-anak untuk mengasah bakat atau mengembangkan kreativitas serta keterampilan yang mereka miliki. Dengan begitu mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia produktif. Hasilnya kelak bisa dijadikan sebagai bekal untuk menata masa depan mereka. Selain itu, yang paling penting adalah gedung sekolah. Sekolah ini akan buka sepanjang pagi hingga malam hari. Jadi mereka bisa memilih sendiri kapan waktunya bisa bersekolah. Nantinya pengelolaan area ini akan aku serahkan ke mereka sendiri termasuk biaya-biayanya. Mereka harus memiliki mental hidup yang kuat, tidak melulu bergantung pada pemberian orang lain. Mereka harus menggaji orang untuk menjaga keamanan dan kebersihan di sini. Semua itu bisa mereka lakukan dengan cara menyisihkan sebagian dari keuntungan berdagang mereka. Aku mau semua kebutuhan yang mereka perlukan bisa mereka temukan di sini. Sehingga perputaran uang mereka tidak kemana-mana. Untuk pembeli, orang dari luar boleh berbelanja di sini tapi para penghuni tetap di sini tidak boleh belanja ke luar kecuali untuk kulakan barang yang akan mereka jual di sini. Karena itu akan aku usahakan jenis usaha yang diperdagangkan di sini adalah semua barang yang menjadi kebutuhan mereka. Mulai dari warung makan, minuman, pakaian, sandal, sepatu, toko kelontong, toko olahraga, alat-alat musik, sayur mayur dan sebagainya. Kelak bagi yang sudah berhasil di dalam usahanya harus rela meninggalkan rumah tinggalnya. Hal ini untuk memacu mereka agar bisa memiliki rumah sendiri. Sementara rumah yang selama ini mereka tinggali bisa ditempati oleh penghuni baru. Aku sadar, berapapun rumah yang aku bangun untuk anak-anak dan pengemis jalanan tidaklah akan cukup untuk menampung keberadaan mereka yang jumlahnya ribuan itu. Karena itu, dengan membangun kesadaran dan sikap toleransi di antara mereka, akan tercipta lingkungan yang harmonis, saling tolong menolong dan merasa senasib sepenanggungan. Inilah kerajaan impianku. Aku akan menjadi ratu di sini dengan sistem pemerintahan yang demokratis, tentu saja. Akan aku sejahterakan semua rakyatku, kuberikan semua fasilitas pendidikan agar mereka bisa menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat.

    Kerajaan ini tak akan terwujud begitu saja tanpa adanya bantuan dari seorang dermawan yang telah menyumbangkan seluruh hartanya untuk membangun proyek raksasa ini. Bagaimana aku bisa mendapatkannya? tidurku semakin lelap dan mimpiku semakin panjang, terkadang meloncat kesana kemari tanpa alur yang jelas. Pada alur sebelumnya, aku melihat seorang laki-laki tua melambai-lambaikan tangannya ke arahku dari sebuah rumah yang berada di ujung jalan yang setiap hari aku lewati baik ketika mau pergi atau pulang kerja. Aku hentikan langkah kakiku, ku tengok belakang, kanan dan kiriku, tak ada orang lain selain aku. Kakek itu terus melambai-lambaikan tangannya. Aku menunjuk dadaku, mencoba bertanya apakah yang dia panggil itu aku. Kakek itu mengangguk. Segera kulangkahkan kakiku ke arahnya. Kakek itu tersenyum menyeringai. Wajahnya pucat dan kedua biji matanya melosok ke dalam bahkan nyaris tak terlihat kalau dia memiliki biji mata. Meski agak takut kubalas senyumannya. 

    “Ada apa kakek memanggil saya?” tanyaku sedikit ragu.

    Kakek itu menghela nafas, dalam dan tampak sangat berat. Sepertinya ada penderitaan luar biasa yang telah dialaminya selama bertahun-tahun. Jemarinya yang kurus menunjuk ke sebuah tembok. Aku melihat ke tempat yang dia tunjuk. 

    Tak ada apa-apa di tembok itu. Hanya sebuah lukisan buram yang menempel anggun di sana. 

    Aku menggeleng-gelengkan kepalaku memberinya tanda bahwa aku tidak melihat apa-apa di sana. Kakek itu terus menunjuk ke arah tembok itu, tanpa berkata-kata. Aku membatin mungkin kakek ini bisu. Lalu kudekati tembok itu. Kutunjuk lukisan yang tergantung di situ.

    “Ini?” tanyaku. 

    Dia mengangguk. 

    Kuamati lukisan itu. 

    Tiba-tiba lukisan itu seperti bergerak-gerak. Reflek aku melompat mundur. Objek yang ada di dalam lukisan itu terus bergerak-gerak, memainkan sebuah opera dengan cerita tentang sebuah pembunuhan. Aku terbelalak, laki-laki yang terbaring di sana dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya itu wajahnya mirip dengan kakek yang berdiri di belakangku.

    Kupalingkan wajah ke arah laki-laki tua itu, dan … Jantungku rasanya hampir copot. 

    Laki-laki tua itu tidak ada lagi di sana. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling rumah tetapi tetap saja tidak kutemui laki-laki tua itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ku ayunkan langkahku, mencoba berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah itu. Aku mengerjap-kerjapkan mata berusaha untuk bangun dan keluar dari mimpi mengerikan itu tapi kedua mataku seperti dilem, lengket dan tak mau terbuka. Aku kembali tertidur dan mimpiku kembali berlanjut. 

    Pada alur selanjutnya, kakek itu kembali mendatangiku.

    Dia mengatakan bahwa seseorang telah membunuhnya, kemudian menguburkan mayatnya di dalam tembok, tepat di balik lukisan itu. Dia juga berkata, jika aku bisa menolongnya keluar dari himpitan dinding tersebut, dia akan memberiku hadiah yang sangat besar—hadiah yang kelak bisa kugunakan untuk membeli mimpi-mimpiku.

    Dan ketika akhirnya aku berhasil menolong si kakek keluar dari himpitan tembok itu, dia benar-benar memberiku uang.

    Uang yang tak terhitung jumlahnya.

    Tak terhitung.

    Aku meloncat kegirangan.

    Namun tiba-tiba…

    “Krak… gedubrag!”

    Tubuhku melesat ke sebuah lubang.

    Aku terbangun.

    Kupandangi dipan tua peninggalan orang tuaku yang setiap hari aku gunakan untuk sejenak melepas lelah setelah sibuk beraktivitas. Rupanya, dipan itu sudah tak kuat lagi menampung tubuhku sekaligus kerajaan impianku.

    Patah menjadi dua.

    Namun aku tidak peduli.

    Aku masih ingin menikmati statusku sebagai seorang ratu di kerajaan mimpiku.

    Aku mengumbar senyum kebahagiaan.

    “Untuk rakyatku!” teriakku.

    “Ya ampun, Mama jatuh!”

    Pekikan anakku disusul tawanya yang geli.

    Akhirnya aku benar-benar tersadar dari alam mimpiku.

    Kupandangi anakku dengan rasa haru yang luar biasa.

    Dalam hati, kupanjatkan beribu-ribu rasa syukur kepada Sang Pencipta. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memberikan kehidupan yang layak kepada buah hatiku, sehingga nasibnya tidak seburuk anak-anak jalanan yang pernah kulihat.

    Mungkin aku memang tidak memiliki kerajaan.

    Tidak memiliki harta yang tak terhitung jumlahnya.

    Namun, melihat anakku tumbuh dalam kehidupan yang layak, sehat, dan penuh kasih sayang, rasanya aku telah memiliki seluruh dunia.

    Dan mungkin…

    itulah hadiah terbesar yang pernah diberikan kehidupan kepadaku.

     

    Pamulang, 2005

    Dimuat di Warta Kota, Minggu, 13 Maret 2005.

     

     

    Kreator : Diah Rofika

    Bagikan ke

    Comment Closed: Kerajaan Impian

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021