
Ada batas-batas yang tak pernah benar-benar terlihat, tetapi terasa ketika mulai dilanggar. Kalimat itu terus terlintas di kepalaku sejak siang tadi, sejak aku keluar dari ruang kepala sekolah dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari biasanya.
Pak Ali memang tidak meninggikan suara. Ia bahkan berbicara dengan nada yang tetap tenang seperti biasa. Namun justru dari ketenangan itulah aku menangkap sesuatu yang berbeda. Aku bahkan sempat mengangguk, meski di dalam kepala kalimat-kalimatnya berulang dengan cara yang tidak lagi sederhana. Tatapanku pun tetap lurus, menunjukkan keinginanku untuk segera menjelaskan atau mungkin membela.
Memang, aku pun tidak menyela, bahkan bagian dari diriku memahami arah pembicaraan itu. Namun di saat yang sama, ada pula keyakinan yang belum sepenuhnya goyah, bahwa apa yang kulakukan masih berada dalam niat menjaga, bukan mencampuri.
“Orang tuanya merasa.., ini sudah masuk terlalu jauh, Pak Fikrul,” kata Pak Ali hati-hati. Ia sempat merapikan posisi duduknya, lalu menyandarkan punggung perlahan, memberi ruang agar percakapan ini tidak terasa seperti teguran. Jemarinya bertaut di atas meja, hanya diam di sana, stabil. “Mereka menganggap sekolah masuk ke ranah yang.., seharusnya jadi wilayah pribadi,” lanjut Pak Ali.
Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar wajar. Tapi entah mengapa, di ruangan itu aku merasa seperti sedang berdiri di atas garis yang tidak benar-benar terlihat. Ditambah lagi mata Pak Ali tidak langsung menatapku, melainkan singgah pada berkas di depannya. Seperti memberi waktu agar kalimat itu bisa kuterima tanpa harus dipertahankan.
“Jadi, mereka minta kita tidak perlu khawatir,” nada suara Pak Ali tetap datar, tidak menghakimi. “Mereka tidak keberatan anaknya berteman,” lanjutnya dengan kalimat yang terasa lebih utuh, seperti sesuatu yang sudah dipikirkan sebelum akhirnya disampaikan.
Aku tidak langsung menjawab. Jemari yang sejak tadi saling bertaut perlahan mengendur, lalu kembali menggenggam. Pandanganku sempat jatuh pada permukaan meja, sebelum akhirnya kembali terangkat, meski tidak sepenuhnya berani menatap lurus.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan saat itu. Penjelasan, mungkin juga pembelaan, tentang niat yang sejak awal tidak pernah keluar dari batas yang kupahami sebagai tanggung jawab. Tapi semua itu tertahan di ujung lidah, seperti kalimat-kalimat yang belum menemukan bentuk yang cukup aman untuk diucapkan.
“Baik, Pak,” kataku akhirnya disertai anggukan pelan. Sebuah isyarat yang lebih sebagai tanda bahwa aku mendengar, bukan sepenuhnya menerima.
Dua kata itu terasa cukup untuk menutup percakapan, meski tidak dapat meredakan apa yang mulai bergerak di dalam kepalaku. Di balik kata “baik” itu, ada sesuatu yang belum benar-benar selesai, pertanyaan tentang batas yang selama ini kupijak, apakah masih berada di tempat yang sama, atau diam-diam sudah bergeser tanpa kusadari.
…
Tak ada kegelisahan yang lahir begitu saja. Hampir semuanya bermula dari hal-hal kecil yang terasa biasa. Beberapa hari sebelumnya, di sela riuhnya gerbang sekolah saat perpulangan para siswa. Aku mulai menyadari satu pola yang berulang. Sekilas semuanya tampak biasa, nyaris tak mengundang perhatian. Namun entah mengapa, siswi itu, Alya, selalu muncul di tempat yang sama, pada waktu yang hampir sama.
Hari pertama, aku menganggapnya sekadar menunggu jemputan. Sama halnya dengan para siswa lainnya yang kami pantau sebelum benar-benar pulang. Di kesempatan berikutnya, ia kembali berdiri di bawah pohon mahoni dekat gerbang. Sesekali menoleh ke arah jalan, lalu kembali berbincang dengan teman-temannya.
Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya. Hingga pada sore beberapa hari kemudian, aku melihatnya lagi. Teman-temannya yang biasa bersamanya sudah lebih dulu pulang. Ia sendirian di depang gerbang sekolah yang semakin sepi. Sesekali ia memperhatikan gawai di tangannya, lalu kembali mengamati ujung jalan. Hingga kemudian sebuah sepeda motor berhenti di hadapannya. Wajah siswi itu pun seketika berubah lebih cerah.
Aku belum mengenal pengendaranya, tapi dari caranya menyapa para siswa dan guru yang lewat, aku yakin dia seorang alumni SMP Cinta yang kini telah duduk di bangku SMA. Beberapa siswa bahkan melambaikan tangan lebih dulu, sementara seorang guru membalas sapaannya dengan senyum hangat. Baru belakangan, dari percakapanku dengan Bu Rina, kutahu namanya Farhan, siswa yang dikenal cukup aktif semasa bersekolah di sini.
Siswa itu kemudian turun sebentar, berbincang beberapa menit dengan Alya tanpa gestur yang berlebihan. Tak lama kemudian, Alya naik ke jok belakang motornya, lalu mereka meninggalkan sekolah. Sementara aku masih berdiri di tempatku, mengikuti motor itu hingga menghilang di tikungan jalan.
Bukan sesuatu yang melanggar. Bahkan tidak ada aturan sekolah yang secara tegas melarang seorang alumni menjemput adik kelasnya. Namun, dari cara Alya menunggu, dari rutinitas yang berulang, dan dari sikap akrab yang tampak di antara keduanya, aku mulai merasa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Bukan untuk dihakimi. Hanya saja, aku berharap jangan sampai kami terlambat menyadari ketika sesuatu yang semula tampak biasa perlahan berubah menjadi persoalan. Dan sore itu, sebelum pulang, aku menghampiri Bu Rina yang sedang merapikan buku-buku siswa.
“Bu, saya ingin bicara sedikit tentang Alya,” kataku, berusaha menjaga nada tetap ringan.
Bu Rina, wali kelas 9Z, menghentikan tangannya yang sedang merapikan lembar-lembar tugas. Ia mengangkat wajah, lalu melepas kacamatanya sebentar. “Iya Pak. Ada apa ya?”
Aku menarik sebuah kursi dan duduk di samping mejanya. “Beberapa hari ini saya sering mendapati Alya pulang bersama seorang alumni.”
“Farhan?” tebak Bu Rina hampir tanpa berpikir.
“Oh, namanya Farhan?” aku balik bertanya dengan setengah menebak.
“Ya. Anak-anak sempat cerita,” jawab Bu Rina. “Katanya mereka memang sudah dekat sejak Farhan masih jadi anggota Gen-Cinta.”
Gen-Cinta, mendengar ini aku jadi teringat dengan penjelasan Gilang hampir setahun lalu tentang nama lain pengurus OSIS di SMP ini. Pantas saja jika Farhan cukup populer di kalangan para guru dan siswa.
“Sejak kedekatan itu,” lanjut Bu Rina, “Alya juga jadi sering terlibat dalam kegiatan yang dipegang OSIS, meskipun tidak menjadi pengurus.”
Aku mengangguk. Penjelasan itu terdengar masuk akal. “Selanjutnya, menurut Bu Rina sendiri bagaimana?” tanyaku kemudian.
Bu Rina tidak langsung menjawab. Jemarinya merapikan tumpukan buku yang sebenarnya sudah rapi. Ia lalu menyandarkan punggung perlahan ke sandaran kursi, mencari jeda sebelum menyusun kalimat yang tidak ingin terdengar menghakimi siapa pun, sebelum akhirnya mengangkat wajah.
“Kalau ditanya ada yang salah atau tidak, saya juga belum tahu harus bilang apa.” Bu Rina berhenti sejenak. “Farhan anak baik. Alya juga termasuk anak yang tidak pernah membuat masalah. Tapi, saya paham kenapa Pak Fikrul mulai memperhatikan.”
“Yang saya khawatirkan bukan Farhan atau Alyanya, Bu,” kataku pelan. “Melainkan situasinya. Kalau dibiarkan tanpa arahan, bisa saja menimbulkan persepsi yang kurang baik atau bahkan berkembang ke hal-hal yang belum siap mereka hadapi.”
Bu Rina mengangguk perlahan. “Saya juga sempat terpikir mengajaknya bicara,” ujarnya. “Bagaimanapun dia anak kelas saya.”
Aku tersenyum kecil, “Itu sebabnya saya memilih bicara ke Bu Rina dulu. Saya gak ingin melangkahi wali kelasnya.”
“Terima kasih, Pak.” Bu Rina membalas senyum itu.
Suasana hening sejenak. Bu Rina menyatukan kedua tangannya di atas meja, lalu mengetukkan pelan ujung ibu jarinya, sepertinya ia sedang memastikan pikirannya sendiri sebelum mengutarakannya.
“Kalau Pak Fikrul berkenan…” ucapnya kemudian dengan hati-hati, “Akan lebih baik kalau Bapak yang mengajaknya ngobrol.”
Aku menunggu tanpa menyela, membiarkan Bu Rina melanjutkan penjelasan. Rasanya masih ada alasan yang belum selesai ia sampaikan.
“Alya tahu Pak Fikrul sering bertugas di gerbang. Dia juga pasti menyadari, Bapak beberapa kali melihat mereka. Kalau saya yang memanggil, bisa jadi dia malah bingung kenapa saya tiba-tiba membahasnya.”
Aku mengangguk pelan, menggeser sedikit posisi dudukku.
“Anggap saja saya mengizinkan,” lanjut Bu Rina. “Tapi.., saya titip satu hal.”
“Apa itu, Bu?”
“Jangan sampai dia merasa sedang diinterogasi. Saya mengenal Alya. Kalau merasa dihakimi, dia justru akan menutup diri.”
“In syaa Allah,” jawabku. “Saya juga hanya ingin mengingatkan. Bukan untuk alasan lain.”
…
Bel istirahat berkumandang bersamaan dengan ditutupnya pelajaran IPA di kelas 9Z. Para siswa mulai berhamburan keluar kelas ketika aku lihat Alya masih merapikan buku-bukunya. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk menunaikan hasil pembiacaraanku dengan Bu Rina dua hari sebelumnya. Aku pun tidak segera beranjak ke pintu, melainkan menghampirinya.
“Alya,” aku berdiri di samping mejanya
Ia menoleh, “Iya, Pak?”
“Gak ke kantin?” pertanyaan standar aku lontarkan.
“Mau, Pak. Sebentar lagi. Pak Fikrul mau nitip?” jawabnya dengan ringan.
“Gak sih,” aku diam sebentar. “Maksud Bapak, kalo tidak buru-buru, boleh Bapak ajak ngobrol sebentar?”
Ekspresinya tiba-tiba berubah heran, tetapi kemudian ia mengangguk.
Kami tidak menuju ruang kepala sekolah ataupun ruang BK. Atas usul Bu Rina, kami memilih duduk di kursi panjang yang berada di teras ruang guru. Dari tempat itu halaman sekolah masih tampak jelas. Beberapa guru keluar masuk ruangan sambil membawa berkas. Suasananya cukup tenang untuk berbincang, tetapi tetap berada di ruang terbuka sehingga tidak menimbulkan kesan seolah kami sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku duduk di kursi guru piket dekat pintu masuk ruang guru. Sementara Alya memilih duduk di bangku seberang meja piket. Kedua tangannya bertumpu rapi di atas pangkuan. Sesekali ia merapikan ujung lengan bajunya, lalu melirik singkat ke dalam ruangan. Tampaknya ia menyadari kalau Bu Rina sejak tadi memperhatikan kami sebelum akhirnya ia kembali menundukkan pandangan.
“Gimana pembelajaran IPA sama Bapak?” Aku sengaja tidak langsung membuka pokok pembicaraan.
“Lumayan Pak,” ia tersenyum kecil. “Penjelasan Bapak bisa dipahami biarpun banyak latihan dan tugas.”
Aku ikut tersenyum seraya merapikan jurnal guru piket di atas meja, “Bapak juga dulu waktu sekolah sering merasa begitu. Kadang mengeluh kalo lagi banyak tugas.”
Suasana mencair sedikit. Beberapa detik kami hanya memperhatikan petugas kebersihan menyapu dedaunan yang mulai berserakan di pelataran. Kontras dengan kondisi lapangan yang bersih namun berisi para siswa yang saling berebut bola dalam permainan futsal seperti biasa.
“Alya…” kataku akhirnya. “Bapak mau tanya sesuatu. Santai aja. Gak usah merasa sedang diperiksa.”
Alya mengangguk pelan.
“Belakangan ini Bapak beberapa kali melihat kamu pulang bersama Farhan,” ujarku hati-hati.
Tatapannya sempat turun sesaat. Ujung jarinya kembali memainkan lipatan lengan baju yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya. Setelah menarik napas pelan, barulah ia menjawab, “Iya, Pak.”
“Farhan masih sering ke sini?”
“Kadang, Pak.”
“Kamu.., dekat sama dia?”
“Dia baik, Pak,”Alya tersenyum tipis. Senyum yang sulit kutafsirkan.
“Bapak percaya,” aku mengangguk dan sengaja tidak menambahkan kalimat apa pun. Membiarkan jeda bekerja.
“Dia sering bantu kalau saya nggak ngerti pelajaran,” lanjut Alya pelan. “Kadang juga cuma ngobrol.”
“Orang tua kamu tahu?”
“Kata Mama.., yang penting tahu batas.”
Jawaban itu membuatku terdiam beberapa saat. Meski aku tidak sedang mencari pengakuan, apalagi kesalahan. Alya pun duduknya tetap tenang. Kedua tangannya masih bertaut di atas pangkuan, sementara sorot matanya sesekali beralih kepadaku, lalu kembali turun, menunggu apa yang akan kusampaikan berikutnya.
“Bapak tidak sedang melarang kamu berteman. Apalagi, yang Bapak tahu, Farhan juga dulu termasuk anak yang baik di sekolah ini,” kataku hati-hati. “Tapi sebagai guru, Bapak punya tanggung jawab untuk mengingatkan. Kalau memang berteman, bertemanlah dengan baik. Jangan sampai menimbulkan salah paham. Baik untuk diri kamu, untuk Farhan, maupun untuk teman-teman lain yang melihat”
Alya tidak menyela. “Iya, Pak,” jawabnya seraya menunduk. Tidak ada nada membantah di dalamnya. “Bapak marah?” tanyanya kemudian.
Aku menggeleng sambil tersenyum. “Kalau Bapak marah, dari tadi mungkin cara bicaranya udah beda.”
Alya ikut tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mau mendengarkan. Sekarang kamu udah bisa ke kantin”
“Iya, Pak.” Alya bangkit dari duduknya. Dengan senyum tipis, ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan seraya membungkukkan badan sebagai bentuk takzim kepada gurunya, lalu mengucapkan salam sebelum berlalu menuju kantin. Sementara, usai menjawab salamnya aku tetap duduk beberapa saat, menikmati suasana jam istirahat yang hampir usai.
Aku merasa, percakapan itu berhasil dengan baik. Kadang sebuah obrolan sederhana yang disampaikan pada waktu yang tepat, jauh lebih berarti daripada teguran yang datang terlambat. Setidaknya, begitulah yang kupahami saat itu.
Namun, beberapa hari kemudian aku menyadari, ternyata tidak semua orang memaknai percakapan itu sebagai sebuah pengingat. Sebagian justru melihatnya sebagai batas yang telah aku lewati.
Kreator : Khairul Ismi (Roelis Ril)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Ketika Guru Bersabar Chapter 13
Sorry, comment are closed for this post.