
Pernah mendengar hadits Nabi yang berbunyi, “Innamal a‘maalu binniyaat, wa innamaa likullimri’in maa nawaa,” yang artinya, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya”?
Hadits ini menjelaskan kepada kita pentingnya sebuah niat dalam melakukan perbuatan apapun. Hasil dari perbuatan yang kita lakukan adalah sesuai dengan niat awal kita ketika hendak melakukan perbuatan itu. Jika niatnya baik, maka akan baik pula hasilnya. Dan kita harus percaya, jika niat kita lillahi ta’ala maka Allah akan meridhoi dan membantu kita untuk mewujudkannya.
Dengan keyakinan inilah, Desi, seorang remaja yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA Budi Pekerti, berniat dalam hati bahwa suatu hari nanti dia ingin membangun sebuah sekolah khusus untuk anak-anak yang setiap hari berkeliaran di sepanjang jalan yang dia lewati ketika hendak berangkat atau pulang sekolah.
Hatinya begitu terenyuh melihat anak-anak usia balita tanpa alas kaki melangkah di atas lapisan aspal yang tentunya terasa sangat panas ketika tertimpa terik matahari. Tetapi sepertinya mereka tidak menghiraukannya, atau mungkin juga tidak ada pilihan lain karena mereka tidak memiliki alas kaki yang bisa digunakan untuk melindungi kaki-kaki mereka.
Sebagian dari mereka sering terlihat bergelantungan, naik dan turun dari satu bus kota ke bus kota yang lain, dari satu angkot ke angkot yang lain, tanpa rasa takut terjatuh. Atau mungkin, kondisi yang memaksa mereka untuk membuang jauh-jauh perasaan takut itu.
Kasihan sekali mereka, begitu yang selalu terbetik di dalam hati Desi.
Mata gadis itu selalu berkaca-kaca setiap kali bertatapan dengan mata bening mereka. Mata yang seolah menyimpan berjuta harapan akan belas kasihan orang-orang di sekitarnya.
Dia mengira-ngira, tentu umur anak-anak itu sepantaran dengan umur Dito, adiknya, yang sekarang baru duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.
Tetapi Dito masih bersikap manja. Dia hampir belum bisa melakukan apa-apa sendiri dan masih sangat bergantung kepada pertolongan ibu atau dirinya. Memakai pakaian, makan, minum, semuanya masih meminta untuk dilayani. Bahkan untuk melakukan hal-hal yang sekiranya berbahaya, Dito tidak pernah luput dari pengawasan orang tua.
Sementara anak-anak jalanan itu begitu lincah naik dan turun dari kendaraan, berjalan di antara seliweran motor dan mobil tanpa pengawasan orang tua yang entah berada di mana. Mungkin mereka juga sedang mengemis seperti anak-anaknya.
Anak-anak itu juga pastinya tidak pernah sempat berpikir untuk membeli sebuah mainan, barang yang paling diinginkan oleh anak-anak seusia mereka. Sementara hampir setiap kali diajak ke pasar, Dito selalu memaksa minta dibelikan mainan, padahal mainannya di rumah sudah sangat banyak.
Membayangkan semua itu, Desi selalu tidak bisa menahan rasa terenyuh dan haru di dalam hatinya. Dia kerap kali menitikkan air mata jika memikirkan nasib anak-anak jalanan itu.
Desi selalu membayangkan, seandainya dirinya memiliki uang yang banyak, pasti dia akan mengumpulkan anak-anak itu dan memberikan semua yang mereka butuhkan. Mulai dari pendidikan, pakaian, makanan, hingga mainan yang mereka sukai.
Terobsesi oleh keinginannya itu, maka ketika suatu hari ada sebuah bank yang datang ke sekolahnya untuk mengenalkan program tabungan bagi pelajar, Desi pun membuat sebuah rekening untuk menabung. Dengan tulus dia niatkan tabungannya itu kelak untuk mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak jalanan. Desi tidak tahu kapan hal itu bisa terwujud karena dari uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya paling dia hanya bisa menyisihkan perharinya 1000 rupiah. Dengan hanya 1000 rupiah per hari berarti setiap bulan Desi hanya bisa menabung kurang lebih 25 ribu rupiah.
“Tak apalah. Sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit, yang penting aku ikhlas melakukan ini,” batin Desi menghibur diri.
Pihak sekolah membuat peraturan, setiap siswa yang memiliki tabungan tidak diperkenankan memegang sendiri buku tabungannya. Hal ini untuk mencegah agar siswa yang memiliki tabungan tidak bisa seenaknya mengambil uang tabungannya, karena tujuan sebenarnya dari program tabungan pelajar ini adalah untuk meringankan beban dalam membayar iuran ujian akhir tahun yang jumlahnya lumayan besar. Sementara itu, kebanyakan siswa di sekolah Desi ini berasal dari golongan menengah ke bawah. Sebagai gantinya, guru hanya memberikan struk bukti setoran mereka. Jadi berapa jumlah saldo akhir tabungan, siswa hanya bisa mereka-reka sendiri kira-kira sudah berapa uang yang mereka tabungkan.
Bulan demi bulan berlalu, Desi masih terus terobsesi dengan keinginannya itu. Dia pun makin semangat menyisihkan uang jajannya untuk ditabungkan. Setelah program itu berjalan selama kurang lebih satu tahun, Desi mengira-ngira jumlah tabungannya sudah mencapai kurang lebih 600 ribu rupiah. Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi pada tabungannya. Setelah pagi itu dia menyerahkan uang 25 ribu kepada wali kelas untuk ditabungkan ke rekeningnya, siangnya sang wali kelas memanggilnya.
“Desi, apakah sebelumnya kamu pernah menabung di luar sekolah?”
“Tidak, Pak. Saya belum pernah menabung sebelumnya.”
Sang wali kelas mengernyitkan kedua alisnya. Tampak jelas kebingungan tergambar di wajahnya.
“Benarkah? Jadi, ini pertama kalinya kamu menabung?”
Desi mengangguk pelan.
“Memangnya ada apa, Pak?” tanya Desi yang melihat kebingungan di wajah sang wali kelas.
“Ada seseorang yang telah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Kamu tahu siapa kira-kira orang ini?” tanya sang wali kelas.
Desi menggeleng.
“Memang berapa jumlah yang ditransfer, Pak?” Desi balik bertanya.
Sang wali kelas memandang wajah Desi sesaat sebelum menyebutkan jumlah uangnya.
“Berapa, Pak?” Desi bertanya lagi karena penasaran.
“Enam ratus juta.”
“HAH?! Enam ratus juta?! Itu tidak mungkin. Pasti pihak bank yang salah, Pak.”
Kedua telapak tangan Desi seketika terasa dingin. Wajahnya pucat dan dia hampir saja jatuh kalau tubuhnya tidak langsung ditangkap oleh sang wali kelas. Dengan meminta bantuan guru yang lain, tubuh Desi dibopong ke sebuah bangku panjang.
“Minum dulu, Des.” Tiba-tiba seorang guru wanita datang dan memberinya segelas air putih.
Setelah merasa agak baikan, Desi meminta sang wali kelas untuk mengusut kiriman misterius itu ke pihak bank. Dia khawatir hal itu akan menjadi masalah besar atau lebih buruk lagi jika kemudian dia dituduh telah melakukan sebuah tindak kriminal. Namun, jawaban dari bank lagi-lagi membuat Desi syok.
Menurut pihak bank, tidak ada data yang jelas dari sang pengirim dan nomor rekening yang dituju oleh sang pengirim jelas-jelas nomor rekening atas nama Desi. Bahkan di kolom berita juga tertulis pesan kalau dana itu ditujukan untuk Desi, siswi kelas 1 SMA Budi Pekerti. Berarti jelas sudah, tidak ada kesalahan dari pihak bank mengenai kiriman misterius itu dan yang pasti uang itu memang dikirimkan untuk Desi. Akhirnya, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menelusuri asal usul uang tersebut, Desi membiarkan uang itu tetap berada di tabungannya.
Pada tahun kedua, terjadi keajaiban yang sama. Dana dengan jumlah sepuluh kali lipat dari jumlah yang pernah dikirimkan oleh si pengirim misterius itu masuk lagi ke rekening Desi. Keajaiban itu terus berulang di setiap akhir tahun hingga membuat saldo tabungan Desi bertambah dan semakin bertambah. Belum lagi ditambah dengan sekian persen dari bunga bank. Tapi meski begitu, tidak sedikitpun terbersit di pikiran Desi untuk mengambil uang tersebut dan menggunakannya untuk kepentingan pribadinya. Sampai tiba waktu dimana seluruh siswa boleh mengambil tabungannya untuk dipergunakan membayar biaya ujian akhir tahun. Ketika sang wali kelas mengangsurkan struk tanda pengambilan tabungan kepada Desi, gadis itu menolak.
“Lho, kamu kan harus melunasi biaya ujianmu,” ucap wali kelas.
“Iya, Pak. Tapi, bukan dengan uang tabungan ini. Saya akan memintanya kepada orang tua saya. Mereka telah menyisihkan penghasilan mereka untuk persiapan ujian saya,” jawab Desi mantap.
“Lalu, tabunganmu yang banyak ini mau kamu gunakan untuk apa, Des? Untuk biaya masuk perguruan tinggi?”
“Tidak, Pak.”
“Lantas?” sang wali kelas terlihat semakin heran.
Setelah didesak oleh sang wali kelas, akhirnya Desi berterus terang bahwa niat awal dia menabung adalah agar kelak dia bisa membangun sekolah untuk anak-anak jalanan. Sang wali kelas terharu mendengar jawaban muridnya itu. Dalam hati sang wali kelas mulai menebak-nebak mungkin yang mengirimi Desi uang adalah Tuhan yang telah mendengar niat tulus gadis itu. Sang wali kelas sangat bangga memiliki murid yang berbudi luhur seperti Desi.
Langit berwarna cerah ketika di atas sebuah podium dengan suara lantang Bapak Bupati meresmikan sekolah Mentari Pagi, sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan. Ratusan orang, termasuk tokoh-tokoh masyarakat seperti camat, lurah dan tokoh-tokoh agama yang hadir memberi applause yang sangat meriah.
“Secara khusus saya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ananda Desi yang telah mendedikasikan sekolah ini untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu. Saya berharap akan ada Desi-Desi lain yang akan berbuat hal yang sama seperti ananda Desi ini”, ucap bapak Bupati di akhir sambutannya. Para hadirin kembali bertepuk tangan. Sekelompok anak-anak muda yang ikut bangga dengan apa yang sudah dilakukan Desi meneriakkan nama Desi berulang-ulang.
“Desi!! Desi!! YESS!!!”
Di kursinya, Desi tampak tersipu malu namanya dielu-elukan seperti itu.
Seusai acara sambutan, Desi mendapat giliran untuk menggunting pita yang melintang di pintu utama gedung berlantai tiga itu sekaligus menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah bisa dimulai. Anak-anak dengan balutan baju-baju dekil berhamburan memasuki ruang-ruang yang ada di gedung itu. Desi dan semua yang hadir membiarkan mereka menikmati dunia baru mereka yang seharusnya sudah mereka nikmati sejak usia dini.
Puluhan wartawan yang menanyakan dari mana Desi mendapatkan dana untuk membangun sekolah ini hanya dijawab Desi dengan kalimat pendek.
“Semua ini pemberian Tuhan, Mas, Mbak.”
Sesaat kemudian, Desi telah terlihat berbaur di antara para balita dan anak-anak kecil yang asyik mengutak-atik berbagai mainan yang tersedia di sana. Sambil menebarkan senyumnya, Desi mengelus kepala tiap-tiap anak tanpa mengucap sepatah kata. Hanya air matanya saja yang berjatuhan sebagai pertanda rasa suka citanya karena cita-cita besarnya itu kini telah mewujud menjadi sebuah dunia baru yang memberi segudang harapan bagi masa depan anak-anak kurang mampu yang ada di sekitar lingkungannya. Desi sangat bersyukur karena ternyata banyak warga yang mendukung kerja sosialnya ini. Dengan suka rela mereka menyumbangkan tenaga untuk ikut mengelola sekolah ini. Mereka yang memiliki harta lebih tak segan-segan mendonasikan harta mereka untuk kepentingan anak-anak binaan Desi ini. Bahkan sehari setelah diresmikan, banyak para donatur yang datang mengunjungi sekolahan ini. Mereka mendaftarkan diri untuk menjadi donatur tetap sekolah gratis ini.
Kisah Desi ini dalam sekejap tersebar di berbagai koran dan majalah-majalah. Banyak dari pembaca yang berdecak kagum dan salut kepada kepribadian Desi. Bahkan ada seorang pengusaha muslim setelah membaca kisah dan profil Desi, langsung menawarkan kepada Desi beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya. Tentu saja Desi merasa sangat senang dan bersyukur atas kebaikan orang itu. Desi berharap dengan beasiswa itu, dia akan bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya yang kelak akan digunakannya untuk memajukan sekolah yang didirikannya tersebut.
Subhanallah, Tuhan telah menepati apa yang difirmankan-Nya.
“Kun fa ya kun, terjadilah maka terjadi”.
Jika Tuhan berkehendak apapun pasti bisa terjadi. Tuhan telah mendengar niat tulus yang diucapkan Desi dalam hatinya ketika hendak membuka tabungan dulu. Maka Tuhan menyambut niat baik Desi itu dengan membantu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita gadis itu. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Paling tidak tanamkan dulu niat yang ikhlas ketika hendak melakukan sesuatu. Insya Allah Tuhan akan mendengar niat kita dan membantu kita untuk mewujudkannya.
Pamulang, 23 Juli 2005
Pernah dimuat di Majalah Noor tahun 2005
Kreator : Diah Rofika
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Kiriman Misterius
Sorry, comment are closed for this post.