KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Maafkan Aku, Anakku

    Maafkan Aku, Anakku

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 17 kali
    Maafkan Aku, Anakku_alineaku

    Siang itu matahari  cukup terik menyinariku. Aku berhenti di depan rumah kemudian memarkir motor, hendak mengambil sajadah untuk sholat Dhuha di kantor. Tiba-tiba….

    KRING … KRING … KRING …

    Ponselku berbunyi dan bergetar. Masya Allah, ternyata dari istriku. Terkejut dan ragu bercampur dengan rasa riang menyelinap dalam hati. Setelah berbulan-bulan dia tidak mau menyapaku.

    “Halo … Assalamualaikum,” ucapku memberi salam. 

    “Pak, dimana?” tanya istriku di seberang sana.

    “Di rumah, mau ambil sajadah,” jawabku. 

    Dia tidak menjawab salamku, namun langsung bertanya posisiku. Lalu …

    “Pak, cepat kesini. Gak usah masuk rumah. Tolong gantiin aku, aku ngantuk sekali. Aku sekarang masih di tempat kursus,” sambungnya. 

    “Oke, baik. Aku segera kesana,” jawabku turun dari motor, tetap mengambil sajadah.

    Menyelinap di pikiranku, katanya ngantuk tapi kok suaranya kenceng sekali. Dan, kok aneh sekali dia mau telepon, ah… Semoga dia sudah sadar dan mau lagi bersamaku.  

    Aku berjalan menuju teras rumah dan membuka pintu depan rumah, kemudian menyeberang ruang tamu menuju ke ruang keluarga. 

    “Ruang tamu kok gelap….” batinku keheranan. “Oh, ternyata kelambunya ditutup. Eh, kok ditutup?”

    Sambil terus melangkah melewati ruang keluarga, aku menuju kamar tidur utama yang berada di sebelah kananku. Dalam hati aku bertanya, “Kenapa pintu kamar juga ditutup, ya?”

    Lalu, ku dorong daun pintu kamarku yang model kupu tarung, yaitu model dua daun pintu yang terbuat dari kayu jati dan berukuran besar karena memang rumah tua buatan masa Belanda tahun 1927. 

    Kriieetttttt…. Derit pintu memecah keheningan.

    Sekali lagi, ruangan gelap gulita. Pandanganku langsung tertuju pada jendela yang menghadap ke halaman belakang, tepat di antara kamar mandi, sumur tua, dan kamar lainnya. Jendela yang biasanya terbuka itu kini tertutup rapat sehingga cahaya tak bisa masuk. Aku menutup kembali daun pintu kamar yang tadi kulewati. Pintu yang terbuka itu menutupi celah sempit di antara tembok dan tempat tidur. Setelah jalur itu terbuka, barulah aku melangkah menuju jendela. Ada sedikit bunyi gesekan daun jendela saat aku buka salah satunya. Nah, begini jadi terang karena pantulan cahaya matahari bisa masuk ke kamar. Ketika aku membalikkan badan… 

    “ASTAGHFIRULLAH!!” pekikku tertahan. 

    Ada orang yang bersembunyi di balik daun pintu yang terbuka dan hendak ku tutup kembali. 

    Aku sangat mengenal sosok itu. Dia sedang gemetar luar biasa. Aku buka lagi satu daun jendela kupu tarung itu lebar-lebar agar cahaya semakin masuk dan bertambah terang. Aku jumpai sprei ranjang yang kacau. Aku tatap lelaki itu yang wajahnya sangat pucat dan gemetar seperti menggigil kedinginan. 

    Ya Allah, ya Robbi. Apa pula ini. Bagaimana bisa ada lelaki di kamar tidur keluargaku? Bukankah kamar ini seharusnya menjadi ruang yang sakral, yang hanya bisa dimasuki oleh suami, istri, anak, dan keluarga inti? Bagaimana dia bisa berada di dalam rumah yang terkunci? Lalu, kenapa dia harus bersembunyi? Kenapa semua pintu ditutup rapat? Sprei ranjang berantakan, bahkan satu bantal terjatuh ke lantai. Apakah lelaki ini penyebab istriku tak lagi mau menyapaku, menolak ku bonceng, melarangku tidur sekamar, berhenti memasak, dan tak pernah lagi meneleponku? Lalu, mengapa tagihan telepon rumah selama berbulan-bulan membengkak hingga jumlahnya terasa tidak masuk akal?  

    Yaa Allah yaa Robbi … Mungkinkah ini petunjuk dari-Mu setelah berbulan-bulan aku dirundung sedih yang luar biasa? Berbulan-bulan aku selalu berdoa memohon petunjuk atas keadaan rumah tanggaku, apakah ini jawabannya? 

    Aku raih tangan lelaki yang masih gemetar itu. Ku dorong dia ke ruang tamu lalu ku dudukkan dia di sofa. Lama aku tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau, marah karena menduga pasti orang ini penyebab istriku menjadi sangat berubah. Saat itu juga, aku ingin sekali menghancurkan wajahnya yang sama sekali tidak ganteng itu, pendek pula. 

    Lelaki itu adalah Teguh, sahabat SMP istriku yang masih bujang dan kembali bertemu dengan istriku dalam sebuah reuni. Setelah itu, Teguh beberapa kali bertandang ke rumah karena aku menerimanya sebagai sahabat istriku. Bahkan, istriku pernah memintaku mencarikan jodoh untuk Teguh. Sejak saat itu, beberapa kali ku adakan makan bersama di rumah dengan mengundang perempuan-perempuan yang kuanggap cocok dengannya. Ada karyawan Bank Jatim yang cantik, ada sepupuku yang tinggi semampai dan berkulit putih, juga seorang mahasiswiku. Namun, tak satu pun dari mereka berjodoh dengan Teguh. Hingga akhirnya, justru sikap istriku yang berubah kepadaku. 

    Sungguh tidak pernah terbayang jika Teguh yang sepertinya menjadi penyebab istriku berubah. Bagaimana bisa, lelaki bujang malah tertarik pada wanita yang sudah bersuami dan sudah punya anak. Bujang sudah pasti pilih gadis, begitu pikirku. 

    Jika saat itu aku menangkap bujang ini bersembunyi di kamar tidurku dalam keadaan ketakutan luar biasa, sudah pasti ada sebuah kesalahan besar yang sudah dia lakukan sebelumnya di kamar ini. Jika dia hanya bertamu, ya duduk saja di ruang tamu. Bukan di kamar ini. Kalaupun istriku sebagai tuan rumah menerimanya, bukankah dalam ajaran agama perempuan dilarang menerima tamu lelaki dewasa tanpa didampingi mahramnya, terlebih jika perempuan itu sudah menikah. Tentu istriku tahu itu, apalagi dia bisa baca al-Qur’an. 

    Kalau kemudian dia menerima tamu pria dewasa tanpa ada suami di rumah, lantas meninggalkan tamu tersebut di rumah sendirian dengan pintu rumah tertutup karena dia harus mengantar atau waktunya menjemput anak di tempat kursus mental aritmatika, maka kira-kira sudah berapa lama tamu lelaki ini berada di rumah, apalagi anaknya seharian bersekolah. Apa saja yang sudah mereka lakukan, hanya mereka berdua dan Allah Al ‘Alim yang Maha Tahu. Lalu, kenapa dia bersembunyi? Kenapa terlihat ketakutan? Kenapa sprei di ranjang berantakan? Wallāhu a’lam bish-shawāb. Allah-lah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

    Saat itu pikiranku benar-benar kacau. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan tak mampu berkata banyak. Yang bisa kulakukan hanyalah memintanya menjauh, memutus hubungan, dan tidak lagi berkomunikasi dengan istriku. Setelah itu, kusuruh ia pulang.

    Ya Allah, ya Rabb. Perlahan Engkau bukakan satu demi satu rahasia yang mungkin selama ini menjadi penyebab retaknya komunikasi, bahkan interaksi, dalam rumah tanggaku. Rahasia yang membuat mahabah di antara kami semakin meredup.

    Saat kejadian itu kami memang tinggal di kawasan Kampung Cina yang sepi, yang berada di dalam gang yang lumayan lebar. Mobil bisa masuk walau tidak bisa salipan. Hanya ada 14 rumah yang saling berhadapan, yang dibangun di zaman Belanda. Jadi satu deret terdiri dari tujuh rumah. Di ujung gang ada tembok penutup. Orang mengenalnya sebagai gang buntu. Kami satu-satunya pribumi yang tinggal di tengah Kampung Cina ini. Rumah yang kami tempati adalah rumah kakak kandungku yang lama tidak dipakai. Kami hanya disuruh menempati saja dari pada kosong. 

    Siang dan malam hari kampung Cina ini memang sepi. Saat siang hari para penghuninya berada di tempat kerja. Ada yang punya toko, karyawan Bank swasta, pengusaha penggilingan padi dan lain sebagainya. Jelang malam, mereka baru pulang. Datang, masuk rumah dan pintu-pintu rumah pada tutup lagi. Maka saya maklum jika atas kejadian ini tidak ada tetangga yang tahu bahwa ada orang asing yang dimasukkan ke dalam rumah.

    Setelah kejadian tertangkap basah pria di kamar tidur tersebut, aku bermaksud mengajak istri mengobrol tentang kenapa ada pria yang kami kenal berada di dalam rumah, bersembunyi di kamar tidur utama, dan ketakutan. Aku tunggu istriku pulang bersama si kecil. Detik-detik saat mestinya istri dan anak sudah sampai rumah menjadi saat yang sangat mendebarkan buatku. Namun, aku sudah bertekad tidak akan menginterogasi istri. Terbayang istri akan mati-matian membela diri bahwa pria itu datang saat dia hendak berangkat menjemput anak di sekolah dan akan mengantar ke les mental aritmatika, sehingga dia berikan kunci rumah serta meninggalkan pria itu sebagai tamu untuk menunggu sebentar. Terbayang wajah istri yang tegang dan suara yang meninggi untuk membela diri, dan aku sudah siapkan semua agar tidak terlalu emosi. Suaraku harus tetap tenang dan datar. Aku tidak ingin ribut karena bakal ada anak kami satu-satunya yang masih kelas B di taman kanak-kanak. Aku tidak mau anak kami cedera hati, pikiran dan mental sejak dini hanya karena orang tuanya bertengkar. 

    Aku menunggu mereka pulang sambil berdzikir, berdoa, dan mengaji. Menit demi menit berlalu. Tegang. Waswas. Khawatir akan terjadi pertengkaran. Kasihan anakku.

    Waktu terus berjalan. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Salat Zuhur pun telah lewat. Aku kembali diliputi kesedihan. Kemana mereka? Kemana istri dan anakku? Dalam kegelisahan seperti ini, waktu terasa berjalan begitu lambat.

    Tak lama kemudian, suara azan Asar berkumandang. Aku menghabiskan waktu dengan salat, berdzikir, dan berdoa, memohon kepada Sang Pencipta Kehidupan agar istri dan anakku segera pulang. 

    Sekitar pukul setengah lima, terdengar suara sepeda motor berhenti. Alhamdulillah, akhirnya mereka pulang.

    Krieeettt…. BRAKK…

    Terdengar bunyi khas pintu samping dibuka, kemudian ditutup dengan keras. Aku masih duduk di atas sajadah, menunggu waktu sambil mempersiapkan sapaan basa-basi untuk membuka percakapan. 

    Namun, tak lama kemudian, kira-kira hanya lima menit, suara motor terdengar lagi. Sejenak kemudian menghilang di keheningan senja yang sepi. Istri dan anak semata wayang kami entah kemana. Tentu istri tidak pamit atau izin mau kemana, sementara anakku masih terlalu kecil untuk memahami atas apa yang terjadi, walau jauh di lubuk hatiku aku sangat mengkhawatirkan kejiwaannya.

    Anak semata wayang kami sudah bertahun-tahun sangat dekat denganku. Kala aku sedang di rumah, segala urusannya selesai di tanganku, mulai bangun tidur, buang air besar, mengompol, makan, bermain sampai tidur lagi selalu denganku kecuali untuk urusan ASI. Aku sangat menyayanginya. Itulah sebabnya aku sangat bersedih karena sejak ibunya tidak lagi mau denganku, anakku sudah tidak bisa lagi mendekatiku meskipun kami masih tinggal satu atap. Sudah sekitar dua tahun istriku tidak mau tidur sekamar lagi. Kami pisah ranjang, bahkan pisah kamar. Aku tidak tahu bagaimana perasaan anakku yang di sepanjang hari hari sebelumnya selalu bersamaku, tiba-tiba tidak bisa lagi bisa bersama. Selama dua tahun di tengah kesedihan, aku selalu memanjatkan doa pada Allah Dzat Yang Maha Tahu, agar ditunjukkan penyebab yang menjadikan istriku tidak lagi mau denganku, dan hari itu….entah tanggal berapa bulan apa aku sudah lupa dan tidak ingin mengingat-ingat, aku menangkap seorang laki-laki bersembunyi di kamar tidur dalam keadaan ketakutan yang amat sangat karena tertangkap basah. Astaghfirullahaladzim. 

    Semenjak kejadian itu, aku berharap keadaan bisa membaik. Aku berharap mereka mulai menyadari dan menjaga jarak, putus hubungan atau setidaknya putus komunikasi. Belakangan aku tahu dan merasa bahwa itu adalah sebuah harapan yang terlalu culun dan bodoh buat mereka yang sedang kasmaran. 

    Alih-alih mereda, istriku justru menyebarkan cerita yang menyudutkanku kepada keluarganya. Ia mengungkit kembali kalimat-kalimat yang pernah kuucapkan saat kami bertengkar. Tentu dengan menambah atau menghilangkan kata atau kalimat tertentu agar aku semakin terlihat bersalah.

    Misalnya, ketika istri menyampaikan bahwa ayah mertua sakit, aku tidak berbuat apa-apa. Aku menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Masa aku tidak melakukan apa-apa? Siapa yang memutuskan membawa Bapak ke rumah sakit ketika semua anak-anaknya tidak menghiraukan keluhan nyeri di dada yang beliau rasakan?” Saat itu, Bapak akhirnya meninggal dunia di rumah sakit karena diduga mengalami serangan jantung.

    Namun, kalimat yang kusampaikan justru dipelintir seolah-olah aku sedang mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kulakukan. Akibatnya, ibu mertuaku marah besar. Melalui telepon rumah, beliau memintaku menghitung seluruh biaya rumah sakit yang telah ku keluarkan agar dapat diganti. Padahal, sedikit pun aku tidak pernah menyinggung nominal uang yang telah kubayarkan.

    Pernah pula, pada kesempatan lain, aku mengingatkan bahwa penyakit-penyakit hati berawal dari kurangnya rasa syukur. Dari situlah muncul iri hati dan dengki, yang kemudian berkembang menjadi fitnah dan hasutan. Lalu, istriku bilang kurang apa lagi yang belum kamu sebut, kamu belum menyebut ‘pelacur’. Kata-kata pelacur yang dia ucapkan sendiri, itu pun diceritakan pada keluarganya seolah aku yang mengatainya. Ibu mertua dan Mbak ipar tentu saja marah besar.

    Sejak peristiwa itu, keadaan semakin memburuk. Istri pulang ke rumah ibunya tanpa pamit. Aku pun pulang ke rumah orang tuaku dan bercerita tentang masalah yang timbul di rumah tanggaku sampai bercerita tentang sosok pria yang tertangkap di kamar tidur. Ibu tentu bersedih mendengarnya. Kemudian ibu berencana mengajak aku untuk sowan dan minta nasihat ke seorang kyai sepuh, tokoh Muhammadiyah yang dihormati dan karismatik di kota tempat kami tinggal. 

    Selang dua hari setelah aku pulang ke rumah Ibu, kami memutuskan berangkat ke rumah kyai tersebut. Sesampai di rumah kyai, setelah sedikit berbasa-basi, aku ceritakan semua kisah perjalanan kehidupan berumah tangga kami sampai dengan tertangkapnya lelaki di kamar tidur.

    “Apakah kamu menuduh istrimu telah berzina?” tanya Sang Kyai padaku.

    “Saya tidak tahu, Kyai. Saya tidak berani menuduh,” jawabku lirih.

    Kemudian, beliau memberi nasihat panjang lebar. Terakhir, beliau menyarankan untuk segera mencari celah islah atau upaya berdamai dengan cara mengunjungi rumah mertua dengan didampingi Ibu, sebab Bapak sudah wafat satu tahun sebelum aku menikah.

    Selang beberapa hari dari kami sowan ke kyai tersebut, barulah aku, dengan didampingi Ibu, datang ke rumah mertua yang letaknya sekitar 17 kilometer menuju kecamatan pinggir kota tempat kami tinggal. Kami sampai di rumah mertua sekitar pukul sepuluh pagi. Kebetulan hari itu hari Minggu, hari berkumpulnya kakak ipar perempuan yang bekerja di Surabaya yang selalu pulang saat libur kerja. Demikian pula kakak ipar perempuan yang tinggal di sebelah desa juga datang. Kemudian, ada istri dan mertua. Anak semata wayang kami juga ada, hanya saja disuruh main di rumah tetangga sebelah. 

    Ibu yang mantan guru agama islam di SMAN 2 Lumajang dan biasa memberi ceramah di pengajian-pengajian kampung membuka pembicaraan dengan pilihan kalimat yang tertata dan sopan, serta menjelaskan tujuan datang ke rumah mertua untuk mengislahkan dua anaknya yang sedang ada masalah di rumah tangganya. Ibu sama sekali tidak menyinggung dugaan hadirnya pihak ketiga yang tertangkap basah di rumah kami. Ibu hanya menjelaskan tentang pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga serta peran kedua keluarga besar dalam menyatukan kembali sepasang suami istri yang sedang berselisih. Ibu juga menjelaskan bahayanya keretakan rumah tangga dan akibatnya pada anak keturunan, serta menyampaikan peringatan Allah pada sebuah perceraian.

    Sepanjang ibu menyampaikan pesan tentang pentingnya mengislahkan pasangan yang sedang berselisih, kakak-kakak ipar kami bukannya mendengarkan dengan baik, malah sesekali bergumam yang seolah mencemooh. 

    “Islah islah tok ae…” (islah islah terus saja). 

    Begitu ibu mengakhiri penjelasannya, segera kakak ipar pertama berkata dengan nada penuh amarah. “Dari tadi islah islah…. Gak usah islah islah an wis, biar adik saya di sini dulu. Lagian suaminya sudah mengatai istrinya sebagai pelacur, mengungkit biaya pengobatan rumah sakit. Gak…gak… Gak usah islah.” 

    Ditimpali dengan cemoohan kakak ipar kedua. “Sampeyan dadi wong lanang lambe-lambe wedok, ngundat-undat biaya gawe wong sing wis mati. Piro enteke sampeyan? Itungen, tak ganti saiki.” (Kamu jadi laki-laki bibir perempuan, ngungkit-ungkit biaya orang yang sudah meninggal, hitung habis berapa saya ganti).

    “Sekarang, gak usah islah. Adik dan keponakanku biar di sini. Aku yang membiayai.” 

    “Aku gak pernah ngatain begitu, Mbak. Juga soal biaya, aku tidak pernah mengungkit. Kok bisa bilang kayak gitu loh.” Aku berusaha menjelaskan.

    Sayangnya ucapanku tidak digubris, bahkan mereka menggerutu macam-macam yang aku sudah tidak ingat apa saja yang sudah mereka ucapkan. Demikian juga istri dan mertua, menggerutu yang aku juga sudah tidak ingat mereka bicara apa saja.

    Melihat situasi yang tidak mungkin lagi kami redakan, maka aku dan ibu pamit pulang.  Misi islah sebagaimana yang disarankan kyai gagal sudah. 

    Sementara di perjalanan pulang, ibu bertanya padaku tentang tuduhan kata-kata pelacur dan mengungkit-ungkit biaya perawatan Bapak mertua di Rumah Sakit. 

    “Bu, sumpah. Kata-kata itu dari istriku, Bu. Dia marah karena aku nasehati tentang penyakit qolbu yang berasal dari rasa kurang bersyukur, kemudian khianat, memfitnah dan hasad,” jelasku.

    “Terus, istriku emosi dan berucap bahwa tinggal kata pelacur saja yang belum ku katakan. Kemudian, dia justru menggunakan pernyataan itu sebagai senjata seolah aku yang mengatakannya.” 

    “Kok bisa begitu ya,” kata Ibu.

    Aku hanya bisa menghela nafas panjang. “Yah, Bu. Begitulah rentetan penyakit qolbu dan hasut…”

    “Terus yang mengungkit-ungkit biaya itu bagaimana?” tanya ibu lagi. 

    “Bu, Aku tidak pernah mengungkit biaya rumah sakit Bapak mertua,” jelasku dengan tenang. “Waktu itu dia protes mengatakan bahwa aku tidak berbuat apapun saat Bapak mertua sakit.”

    “Saat itu aku langsung membalas ucapannya, mana mungkin aku tidak melakukan apa-apa? Siapa yang memutuskan membawa Bapak ke rumah sakit ketika beliau mengeluh dadanya sangat nyeri? Saat itu semua orang menganggap Bapak hanya manja dan mencari perhatian, sehingga keluhannya tidak terlalu dihiraukan. Sedangkan aku, dengan sukarela membawa beliau ke rumah sakit, lanjutku sambil menarik napas panjang. Rasanya sungguh berat mengingat setiap detail pertengkaran saat itu.

    “Itu yang sebenarnya kukatakan, Bu. Tapi entah bagaimana, ketika sampai ke keluarganya, ceritanya jadi berbeda. Seolah-olah aku sedang mengungkit-ungkit biaya rumah sakit Bapak. Padahal aku sama sekali tidak pernah membicarakan uang.” 

     Mendengar itu, Ibu menggeleng tak percaya. “Bagaimana bisa istrimu jadi sekejam ya?” 

    “Entahlah, Bu. Mungkin karena hadirnya pihak ketiga itu, orang yang saya tangkap di kamar itu, Bu. Semenjak itu, dia jadi kalap dan membuat bermacam fitnahan guna menyudutkan aku dan berupaya agar apa yang dia lakukan menjadi benar di mata keluarganya.”

    “Ya, sudah. Serahkan semua pada Allah. Hadapi dengan sabar dan tetap mohon petunjuk Allah serta selalu berdoa agar istrimu disadarkan dan kalian kembali bersatu. Kasihan anak semata wayangmu,” ucap Ibu menenangkan. 

    “Ibu akan cari ikhtiar lain dengan berkonsultasi ke teman-teman Ibu di BP4 (Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) Kementerian Agama Lumajang. Ibu punya banyak kenalan di sana.”

    “Pantas saja, saat kita sekeluarga pergi ke Banyuwangi Hari Raya tahun lalu, Ibu kan duduk di samping istrimu. Dia sedang menerima telepon, kemudian dia berbisik berulang kali seolah takut ketahuan. Waktu itu, Ibu sempat bertanya-tanya, dia sedang menerima telepon dari siapa kok sampe setakut itu. Waktu itu pun dia diam saja di sepanjang perjalanan dan kelihatan menghindar dari pembicaraan apapun. Padahal, biasanya dia sangat supel dan bisa menyatu dengan saudara-saudara kita. Mungkin saja, saat itu yang telepon pria itu ya,” ucap Ibu mengingat kejadian di masa lalu. 

    Yo wis. Sing sabar, Le. Terus nyuwun ke gusti Allah. Insya Allah, jika demi kebaikan keluarga, Allah akan kabulkan,” kata Ibu lagi menenangkan aku.

    Setelah itu, ibu terdiam beberapa saat. Samar-samar kulihat ada sedih di wajah beliau. 

    “Ibu kasihan sama anakmu,” lirihnya. 

    “Ya, Bu. Kasihan dia hari harus menempuh perjalanan jauh ke sekolah naik motor. Sebelum jam enam pagi dia sudah harus berangkat menembus dinginnya suhu pagi sekitar 17 kilometer melalui bulakan (hamparan sawah yang luas sepanjang perjalanan), lalu pulang sampai rumah sekitar jam empat sore. Semoga dia selalu diberi kesehatan dan keceriaan,” balasku sambil Ibu mengaminkan. 

    “Mulai kapan kamu rasakan ada perubahan pada istrimu, Le?” tanya Ibu. 

    “Sudah sekitar dua tahun dia tidak mau denganku, Bu. Sejak setelah dia wisuda S1 Sarjana Hukum,” jawabku.

    “Kenapa kamu tidak cerita pada Ibu, Le? Selama ini kamu pendam sendiri?” tanya Ibu. Aku hanya diam. 

    “Kenapa dia bisa berubah? Mungkin kamu terlalu irit memberi belanja, atau mungkin kamu kurang romantis?” tanya Ibu menebak-nebak. 

    “Aku juga tidak mengerti kenapa dia berubah, Bu. Saya pikir uang belanja saya beri cukup untuk belanja dapur dan jajan untuk pegangan selama satu bulan,” jawabku sambil menyebutkan nominal yang kuberikan pada istriku setiap bulannya. 

    “Kalau masalah romantis, saya tidak paham batasannya seperti apa, Bu. Namun, yang sering terjadi adalah istri saya sering menyatakan tidak suka jika saya pulang terlambat dari kerja, meskipun keterlambatannya hanya lima menit.

    Setiap kali dia marah karena saya pulang terlambat, saya selalu menjelaskan bahwa pekerjaan saya adalah mengajar Bahasa Inggris. Setelah kelas selesai, biasanya masih ada peserta yang ingin berkonsultasi. Mereka tetap harus saya layani.

    (Waktu itu saya mengajar di beberapa kantor pemerintah dan beberapa bank.) Di kantor pemerintah, kursus dilaksanakan pada sore hari setelah jam kerja hingga pukul 17.00. Setelah kelas selesai, biasanya masih ada yang bertanya ini dan itu selama sekitar 15–30 menit. Sementara itu, di kantor perbankan, kelas dimulai pukul 19.00 hingga 20.30. Setelahnya, saya juga masih harus melayani obrolan atau konsultasi sekitar 15–30 menit.

    Akibatnya, saya baru sampai di rumah sekitar pukul 21.10. Itupun saya masih sempat mampir membeli gorengan atau buah-buahan sebagai buah tangan.”

     Saya tidak cerita pada ibu tentang kehidupan ranjang kami karena menurut saya ‘saru’. Kemudian saya ceritakan satu kejadian pada Ibu. 

    “Pernah sebelum dia kelihatan berubah, di suatu sore ada kejadian yang tidak bisa saya mengerti. Waktu itu, setelah istri selesai mengatur kelas komputer dan kelasnya sudah usai, dia berjalan keluar hendak pulang menyeberangi kelas komputer tersebut. Tiba-tiba dia menabrak kaca rayban lebar yang tebalnya sekitar tiga atau lima mili. Keningnya membentur kaca tersebut dan ada pecahan kaca yang menimpa di atas mata kaki bagian belakang. Darah mengalir lumayan banyak. Setelah kami lakukan perawatan secukupnya dia minta pulang. Saya minta salah satu staf di kantor mengantarkan istri pulang. Kata staf yang mengantar ternyata di rumah sudah menunggu seorang laki-laki sahabat kuliahnya di Fakultas Hukum dengan membawa perban dan beberapa alat perawatan luka lain. Dia kerja di dinas kehutanan, rumahnya berjarak sekitar 30 kilometer dari Lumajang. Masih kata staf saya, pria itu yang juga teman kuliah staf yang mengantar istri pulang langsung melakukan perawatan pada kaki istri. Dan itu aneh. Dari mana orang itu tahu kalau istri mengalami musibah menabrak kaca, dan begitu cepat dia bisa sampai di rumah, serta tidak canggung merawat kaki seorang perempuan yang bukan mahramnya dan juga dia bukan petugas Kesehatan. Atas kejanggalan tersebut, staf saya yang akrab dengan pria itu mengingatkan di luar pengetahuan istri,” ucapku panjang lebar.

    “Oalah, Le. Ada cerita seperti itu, kok kamu baru cerita ke Ibu,” ucap Ibu khawatir.

    “Terus, apa ada cerita mereka berlanjut?” tanya Ibu penasaran. 

    “Sepertinya tidak, Bu. Laki-laki itu mundur. Kata staf saya, dia beberapa kali mengingatkan laki-laki itu untuk tidak merusak pagar ayu karena mereka sudah sama-sama menikah. Masih kata staf saya, beberapa teman yang senior seangkatan di kuliahan juga mengingatkan untuk menjauh dan tidak bermain api. Mungkin tekanan yang diberikan oleh teman2 seangkatan itu yang menjadikan laki2 itu menjauh.” 

    Astaghfirullahaladzim. Bismillah ya, Le. Semoga Allah mudahkan untuk keluargamu selamat dari badai ini. Jadi yang kamu tangkap sedang sembunyi di kamar itu bukan laki-laki itu? Ini orang lain ya?” timpal Ibu. 

    “Iya, Bu. Orang lain yang masih bujang. Astaghfirullah, Ibu ini sudah sampai rumah,” ucapku menyela pembicaraan.

    Tanpa terasa, kami memang sudah sampai di rumah. Aku parkir mobil kemudian turun dan masuk ke rumah dengan kesedihan yang mendalam karena gagal mengajak islah hari ini. 

    Ya Allah, ya Rabb, jangan Engkau biarkan hamba berpisah. Ampunilah segala kesalahan dan dosa hamba yang mungkin telah menyebabkan retaknya ikatan kasih sayang di antara kami. Lindungilah anak kami, jagalah hati, pikiran, dan jiwanya. Jangan biarkan dia bersedih, ya Rabb. Jadikanlah semua yang sedang dia alami saat ini sebagai pupuk bagi kebaikannya di masa yang akan datang.

    “Jika kebersamaan kami masih akan membawa kebaikan, maka satukanlah kembali hamba dengan pasangan hamba, ya Rabb, khususnya demi menjaga hati anak kami. Aamiin ya Allah.”

    Seberkas doa berbisik di dalam hatiku untuk anak semata wayang kami. Dialah yang membuatku teramat sedih, karena aku tidak mampu membayangkan apa yang sedang dia rasakan. Sesedih apa hatinya, sesakit apa pikirannya menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak lagi bisa bersama.

    Sedih, lelah dan marah silih berganti melintas di pikiran dan batinku. Marah kepada orang yang telah masuk dan merusak kehidupan cinta kami.

    Keesokan harinya, ibu meminta diantar ke rumah salah seorang anggota BP4. Sebut saja nama panggilan beliau Ibu Linggar. Kebetulan, beliau telah purna tugas dari Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama/Kemenag). Ibu dan Ibu Linggar sama-sama mantan pegawai Departemen Agama, sehingga mereka merupakan sahabat lama.

    Sebelum berangkat, ibu telah berkomunikasi melalui telepon, sehingga kedatangan kami sudah dinantikan. Sesampainya di rumah Ibu Linggar, kami dipersilakan masuk. Mereka berbasa-basi sejenak untuk melepas rindu, kemudian ibu mulai menceritakan perjalanan rumah tangga kami.

    Ibu menceritakan semuanya, mulai dari masa istri menyelesaikan kuliahnya, munculnya tanda-tanda bahwa istri mulai membuka hati kepada pria lain, hingga tertangkapnya seorang laki-laki yang sedang bersembunyi di kamar tidur kami. Semua diceritakan sebagaimana yang telah saya alami dan sampaikan kepada ibu, termasuk misi kunjungan kami sehari sebelumnya ke rumah mertua untuk melakukan islah yang akhirnya berujung gagal.

    Setelah mendengarkan seluruh penjelasan tersebut, Ibu Linggar menyarankan agar kami datang pada hari Kamis sekitar pukul 09.00 ke Kantor Departemen Agama, tepatnya di ruang BP4, untuk menyampaikan penjelasan awal. Di sana, perkara kami akan didaftarkan dan dijadwalkan untuk mengikuti pertemuan bersama empat orang anggota BP4.

    Sementara menunggu hari Kamis, kesedihan memikirkan si kecil membuatku kembali diliputi amarah. Aku marah kepada laki-laki yang telah mengacaukan rumah tangga kami, marah kepada istriku yang entah bagaimana bisa mengkhianati ikatan suci pernikahan, dan sejuta rasa lain silih berganti memenuhi hati dan pikiranku.

    Sekitar pukul 11.00 siang, aku pamit kepada ibu untuk pergi ke rumah Pak Ifur, seorang staf senior di lembaga kami. Di rumah Pak Ifur, aku mengutarakan keinginanku untuk mendatangi rumah Teguh. Aku meminta Pak Ifur menemaniku, berjaga-jaga jika aku dikuasai amarah, kehilangan kendali, atau bertindak di luar kesadaranku.

    Dari rumah, aku menyelipkan sebilah celurit di bawah jok motorku. Celurit itu dipinjamkan oleh kakak kelasku semasa kuliah di fakultas, bernama Mas Zaeni.

    Aku memang terpaksa menceritakan persoalan rumah tanggaku kepada Mas Zaeni karena sebelumnya aku telah menggagalkan usahanya yang berhasil memasukkanku ke program S-2 di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/UNESA) tanpa tes dan dengan beasiswa.

    Rektor IKIP Surabaya saat itu merupakan teman satu fakultas dan pernah tinggal satu kos dengan Mas Zaeni ketika mereka kuliah, hanya berbeda jurusan. Dengan demikian, kami bertiga berasal dari almamater yang sama.

    Tentu saja Mas Zaeni sangat marah ketika mengetahui aku membatalkan kesempatan kuliah S-2 yang telah susah payah ia perjuangkan. Aku tidak mampu berkata apa-apa selain diam. Kesedihan yang selama ini kutahan akhirnya pecah. Saat aku menundukkan kepala, air mata mengalir di pipiku.

    Mas Zaeni menyadarinya.

    “Lho… kok nangis, Le? Opo kok batal? Opo kok sedih?” tanyanya.

    Raut wajahnya berubah. Barangkali saat itu dia mulai memahami bahwa aku sedang menghadapi persoalan yang sangat berat.

    “Kalau mau cerita, cerita saja. Siapa tahu aku bisa membantu,” katanya lagi.

    Akhirnya kuceritakan semua yang terjadi dalam rumah tanggaku.

    Setelah mendengarkan penjelasanku, Mas Zaeni berkata, “Kok tidak kamu bacok orang itu? Andai kamu bacok, belum tentu kamu dihukum. Jelas-jelas dia masuk ke rumah orang tanpa izin. Kamu bisa berdalih membela diri dari kemungkinan diserang orang yang menyelinap masuk ke rumahmu. Dia pasti berniat jahat, kan?”

    “Kalau tidak berniat jahat, tidak mungkin dia masuk ke rumah orang lalu bersembunyi sambil menutup semua pintu. Untung rasa takutnya tidak membuat dia berbuat lebih jauh kepadamu. Bayangkan kalau karena panik dia menghantam kepalamu dengan kayu. Bisa saja kamu yang mati. Harusnya kamu bunuh dia, atau paling tidak hancurkan mukanya. Kamu bacok sambil berteriak, ‘Maling… maling….'”

    Ia menggeleng pelan.

    “Waduh… kamu terlalu baik. Jadinya kamu lemah.”

    Sesaat kemudian nada bicaranya berubah lebih tenang.

    “Sekarang begini. Tidak apa-apa kamu batal kuliah karena rumah tanggamu sedang berada di ambang kehancuran. Fokus saja dulu mempertahankan dan memperbaiki rumah tanggamu. Nanti aku akan menjelaskan kepada Pak Rektor mengapa kamu mengundurkan diri. Saya kira beliau akan memahaminya.”

    Namun, setelah itu emosinya kembali memuncak.

    “Sekarang kamu harus singkirkan orang itu. Cari pembuat onar itu. Cari… tantang duel!”

    Ia masuk ke dalam rumah, lalu beberapa saat kemudian keluar sambil membawa sebilah celurit yang sebagian mata pisaunya masih tertutup warangka kulit.

    “Nyok… iki gowoen. Silihen. Balekno lek arek iku wes mati.” (Ini kamu bawa. Kamu pinjam. Kembalikan kalau orang itu sudah mati.)

    “Celurit iki ono warangane.” (Celurit ini ada racunnya.)

    “Pokoknya, kalau dia terluka terkena sabetan celurit ini, pasti dia tumbang. Kalau justru kamu yang mati, kamu mati berjihad membela kehormatan dan keutuhan keluargamu. Kamu mempertahankan janji yang kamu ikrarkan saat akad nikah di hadapan Allah. Ayo, jangan lemah. Kalau kamu mati, kamu tidak rugi. Surga tempatmu. Dia yang mati memang sudah seharusnya karena telah merusak pagar suci rumah tangga orang.”

    Ucapan-ucapannya semakin membakar emosiku.

    Kemudian ia menarik tanganku agar berdiri, menyerahkan celurit itu ke tangan kananku, lalu menepuk pundakku sambil berkata, “Nanti aku yang akan bersaksi dan membelamu di pengadilan kalau dia sudah mati.”

    Begitulah pertemuan kami berakhir.

    Mas Zaeni memang keturunan Arab dan Madura. Di kampus, ia dikenal bertubuh besar, tegap, bersuara lantang, dan cukup disegani. Dalam budaya keluarga Madura yang dianutnya, membela kehormatan keluarga merupakan prinsip yang sangat dijunjung tinggi. Karena itulah emosinya begitu mudah tersulut ketika mendengar cerita yang kualami.

    Ia mengantarku hingga ke pintu pagar sambil merangkul pundakku dan terus menyemangati agar berani membela kehormatan rumah tangga.

    Darahku benar-benar terasa mendidih. Bayangan saat menangkap laki-laki itu kembali muncul di kepalaku. Aku masih teringat keinginan untuk menghancurkan wajahnya yang, menurutku, sama sekali tidak tampan.

    Semangat berjihad, amarah, dan keinginan untuk menghancurkan wajahnya itulah yang mendorong langkahku menuju rumah Teguh. Namun, sesaat kemudian aku kembali diliputi kebimbangan ketika membayangkan kemungkinan aku benar-benar kalap dan membunuhnya.

    Bagaimana nanti anakku menghadapi cemoohan masyarakat sepanjang hidupnya? Dia bisa dicap sebagai anak seorang pembunuh. Mungkin dia akan kesulitan menempatkan diri, baik di sekolah maupun ketika kelak memasuki dunia kerja. Belum lagi saat tiba waktunya memilih pasangan hidup. Mungkinkah ada calon mertua yang rela anaknya menikah dengan anak seorang pembunuh?

    “Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu atas kebimbangan ini. Aku tidak boleh membuat anakku sengsara.”

    Akhirnya aku memutuskan bahwa tujuanku hanya mendatangi Teguh untuk menegaskan bahwa aku akan mempertahankan keutuhan keluargaku, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa. Yang ingin kutunjukkan hanyalah kesungguhanku dengan menantangnya berduel menggunakan senjata tajam, sebagai simbol bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja. Dalam pikiranku saat itu, yang perlu kutunjukkan hanyalah kesungguhan itu.

    Berbekal tekad tersebut, aku meminta Pak Toif menemaniku. Aku memintanya mendampingi agar dapat mencegahku jika sewaktu-waktu aku kehilangan kendali. Namun, jika Teguh benar-benar menerima tantangan berduel menggunakan senjata, aku merasa siap menghadapinya. Dalam keyakinanku saat itu, apabila aku sampai terbunuh, semoga Allah menerima niatku menjaga kehormatan keluargaku.

    Tentang celurit yang kubawa, semuanya juga kusampaikan kepada Pak Toif sebelum kami berangkat menuju rumah Teguh yang berjarak sekitar 25 kilometer dari tempat tinggalku.

    Pak Toif tampak sedih dan gelisah ketika mengetahui aku membawa celurit yang memiliki warangan. Ia berusaha menenangkan dan menyarankan agar celurit itu ditinggalkan saja. Namun aku menolak, karena aku ingin menunjukkan kesungguhanku kepada Teguh.

    Bagiku, persoalan ini bukan sekadar perebutan seorang perempuan. Yang kupandang dipertaruhkan adalah kehormatan keluarga, kesakralan lembaga pernikahan yang menurutku telah diinjak-injak, serta masa depan dan kebahagiaan anakku.

    Akhirnya Pak Toif pasrah mendampingiku. Aku hanya berpesan agar ia mencegahku apabila aku sampai kehilangan kendali.

    Kami pun berangkat berboncengan dengan sepeda motor. Sekitar tiga puluh menit kemudian kami tiba di rumah Teguh. Rumahnya tampak sederhana. Pintu rumah maupun pagar yang terbuat dari anyaman kawat ayam tertutup rapat. Pagar itu kira-kira setinggi satu meter lebih dan tidak digembok.

    Aku terus berusaha menenangkan pikiran dan meredam amarahku.

    Setelah membuka pagar, kami berjalan menuju pintu rumah. Aku meminta Pak Toif mengetuk pintu, sementara aku berdiri di belakangnya.

    Tak lama kemudian pintu dibuka oleh Teguh sendiri.

    Kulihat wajahnya langsung pucat. Barangkali ia segera melihatku berdiri di belakang Pak Toif yang seolah sengaja berada di depan untuk menghalangiku.

    Dengan suara yang dipaksakan tetap tenang, Teguh mempersilakan kami masuk dan duduk. Celurit sengaja kutinggalkan di dalam jok motor. Aku pun berusaha tetap terlihat tenang.

    Setelah kami bertiga duduk, aku langsung membuka pembicaraan.

    “Guh, koen sik ketemuan karo bojoku? Sik telepon-teleponan?” (Guh, kamu masih bertemu dengan istriku? Masih saling menelepon?)

    “Enggak, Pak,” jawabnya.

    “Awas kalau kamu masih berhubungan dengan istriku. Tak pateni koen.” (Awas kalau kamu masih berhubungan dengan istriku. Kubunuh kamu.)

    Aku melanjutkan dengan nada tinggi.

    “Yang kamu lakukan itu merusak kehormatan sebuah keluarga. Kamu tahu? Yang kamu injak-injak itu kepercayaanku. Kamu dulu datang minta tolong dicarikan istri. Sudah kubantu. Beberapa kali kupertemukan dengan perempuan melalui berbagai cara. Kurang apa aku kepadamu? Ternyata istri orang yang kamu dekati. Kamu bahkan menikamku dari belakang.”

    Kemudian aku berkata lagi,

    “Sekarang begini, Guh. Yang kamu rusak terlalu besar. Masa depan keluargaku, masa depan anakku. Aku tidak terima. Ambil senjatamu. Ayo kita bertarung sebagai laki-laki. Bagiku ini bukan sekadar soal perempuan, tetapi soal harga diri, martabat keluarga, dan kesucian rumah tanggaku yang menurutku telah kamu rusak. Ambil senjata tajam apa pun yang kamu punya. Kita duel di sini. Kalau aku mati, aku mati di rumah orang yang telah merusak rumah tanggaku. Kalau kamu yang mati, biar semua orang tahu akibat dari perbuatanmu. Cepat ambil senjatamu!”

    Teguh tetap tidak beranjak. Wajahnya semakin pucat.

    Aku kemudian keluar menuju motor untuk mengambil celurit.

    Pak Toif segera menyusul sambil memegang pundakku.

    “Pak… sabar, Pak… sabar. Jangan, Pak. Nanti semuanya semakin rusak,” katanya pelan.

    Aku tetap berjalan menuju motor, membuka jok, lalu mengeluarkan celurit itu. Namun, celurit tersebut justru kuserahkan kepada Pak Toif.

    “Ini, tolong pegang,” kataku.

    Kami kembali masuk ke dalam rumah. Teguh masih terduduk di tempatnya tanpa bergerak.

    Aku kemudian duduk lebih dekat dengannya.

    “Mana, Pak Toif, taruh saja di atas meja,” kataku.

    “Jangan, Pak. Nanti malah semakin rusak,” jawab Pak Toif.

    “Memang semuanya sudah rusak. Ini orang yang merusaknya.”

    Aku kembali meluapkan kemarahan dengan kata-kata keras, lalu memegang kerah baju Teguh.

    “Kalau kamu masih bermain-main denganku, masih diam-diam berhubungan dengan istriku, habislah kamu. Akan kukejar kamu.”

    Sementara itu, Pak Toif memeluk erat celurit tersebut, tampaknya khawatir aku akan merebutnya kembali.

    Aku sempat mengingatkannya,

    “Pak Toif, jangan terlalu erat memegangnya. Celurit itu sangat tajam dan ada warangannya. Kalau sampai sedikit saja melukai tangan panjenengan, bisa berbahaya.”

    Pak Toif tetap memegang celurit itu erat-erat, sementara suasana di ruang tamu menjadi semakin tegang.

    (Bersambung…)

     

     

    Kreator : Agus Salim

    Bagikan ke

    Comment Closed: Maafkan Aku, Anakku

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021