7. Menyambut Tahun Ajaran Baru: Ketika Harapan Kembali Bersemi
Takdir tidak pernah memberi waktu terlalu lama untuk larut dalam satu suasana. Setelah riuh perpisahan berakhir dan ruang-ruang kelas kembali lengang, madrasah memasuki masa jeda yang hanya sekejap. Kalender menunjukkan awal Juli 2026. Di balik sunyinya halaman sekolah, justru pekerjaan baru mulai menunggu.
Saya kembali membuka pintu kantor RA Aisyah Afiqannisa sejak pagi hari. Aroma cat yang masih baru bercampur dengan wangi lantai yang selesai dipel menjadi pertanda bahwa kami sedang menyiapkan rumah kedua bagi anak-anak yang akan datang.
Satu per satu para ustazah berdatangan.
“Assalamu’alaikum, Umi,” sapa Ustazah Fitri sambil membawa beberapa pot tanaman hias.
“Wa’alaikumussalam. Masya Allah, bawa apa itu?” tanya saya.
“Supaya halaman depan lebih hidup. Anak-anak pasti senang kalau disambut bunga-bunga.”
Saya tersenyum. Hal-hal sederhana seperti itulah yang selalu membuat saya yakin bahwa pendidikan tidak dibangun oleh gedung yang megah, melainkan oleh hati-hati yang ikhlas.
Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan menyusun administrasi, membagi tugas guru, menata kembali pojok baca, mengecek alat permainan edukatif, hingga menempelkan hasil karya anak-anak angkatan sebelumnya sebagai penyambut adik-adik mereka.
Di sela kesibukan itu, saya berdiri cukup lama di depan papan bertuliskan:
“Selamat Datang Generasi Hebat RA Aisyah Afiqannisa.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti doa.
Semoga setiap anak yang melangkah melewati gerbang ini kelak tumbuh menjadi manusia yang mengenal Tuhannya, mencintai orang tuanya, menghormati gurunya, dan bermanfaat bagi sesamanya.
8. Tangis Hari Pertama Sekolah
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Pagi itu halaman madrasah kembali hidup. Suara tangis anak-anak kecil bersahut-sahutan. Ada yang memeluk erat kaki ibunya. Ada yang menolak turun dari kendaraan. Ada pula yang terus meneriakkan nama ayahnya sambil mengusap air mata.
Pemandangan seperti ini selalu berulang setiap tahun, tetapi tidak pernah kehilangan makna.
Seorang anak perempuan mungil bernama Aisyah memeluk erat ibunya.
“Aku mau pulang…”
Ibunya tampak ikut menahan tangis.
Saya menghampiri mereka perlahan.
“Assalamu’alaikum, boleh Umi kenalan?”
Anak kecil itu hanya menggeleng.
Saya lalu berjongkok hingga posisi mata kami sejajar.
“Kalau Aisyah mau, nanti kita kasih makan ikan dulu, ya. Setelah itu kita lihat kelinci.”
Tangisnya mulai mereda.
Beberapa menit kemudian, ia menggenggam jari saya.
Langkah kecil itu terasa jauh lebih besar daripada sekadar berjalan menuju kelas.
Di belakang kami, sang ibu justru menangis.
“Terima kasih, Umi… saya yang sebenarnya belum siap melepas.”
Saya menggenggam tangannya.
“Insya Allah, Bu. Hari ini bukan tentang berpisah. Ini tentang bertumbuh bersama.”
Kalimat itu seakan menjadi pengingat bagi saya sendiri.
Bukan hanya anak-anak yang sedang belajar melepaskan.
Orang tua pun sedang belajar percaya.
Guru pun sedang belajar menjaga amanah.
9. Pelukan yang Menyembuhkan
Di minggu-minggu pertama, saya membiasakan diri berkeliling dari kelas ke kelas.
Saya tidak ingin sekadar menjadi kepala sekolah yang sibuk dengan laporan.
Saya ingin tetap menjadi “Umi” bagi seluruh anak.
Suatu pagi, seorang anak laki-laki menghampiri saya sambil membawa gambar rumah.
“Umi…”
“Iya, Nak?”
“Ayahku sekarang kerja jauh.”
Saya menerima gambar itu.
Di pojok kanan atas terdapat gambar matahari yang tersenyum. Di bawahnya ada empat orang yang saling bergandengan tangan.
“Ini siapa saja?”
“Itu Ayah… Ibu… aku… sama Umi.”
Saya terdiam.
Mata saya mulai berkaca-kaca.
Betapa besar kepercayaan yang dititipkan Allah kepada seorang guru.
Bukan hanya mengajarkan huruf dan angka.
Tetapi juga menjadi tempat anak merasa aman ketika dunia kecilnya sedang berubah.
Saya memeluknya perlahan.
“Terima kasih sudah menggambar Umi.”
Ia tersenyum lebar.
Hari itu saya kembali belajar bahwa cinta adalah bahasa pendidikan yang paling mudah dipahami oleh anak-anak.
10. Sujud Syukur di Penghujung Senja
Menjelang Magrib, setelah seluruh guru pulang dan halaman sekolah kembali sunyi, saya duduk seorang diri di teras madrasah.
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang menaungi halaman.
Saya memandangi ruang-ruang kelas yang kini kembali penuh dengan suara tawa.
Beberapa bulan lalu tempat ini menjadi saksi air mata perpisahan.
Hari ini ia menjadi saksi lahirnya harapan-harapan baru.
Saya menengadahkan wajah ke langit yang mulai berubah jingga.
“Ya Allah… terima kasih.”
Terima kasih atas setiap ujian yang membuatku lebih mengenal-Mu.
Terima kasih atas kehilangan yang mengajarkanku arti keikhlasan.
Terima kasih atas sahabat yang menguatkan.
Terima kasih atas guru-guru yang berjuang tanpa lelah.
Terima kasih atas anak-anak yang menghadirkan tawa di tengah penatnya amanah.
Terima kasih karena Engkau masih mempercayakan madrasah kecil ini berada dalam genggaman kami.
Saya kemudian melangkah menuju musala madrasah.
Di atas sajadah yang sederhana itu, dahi kembali menyentuh bumi.
Sujud syukur terasa lebih panjang dari biasanya.
Dalam sujud itu saya menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap menemukan Allah di setiap ujian.
Perjalanan ini masih sangat panjang.
Masih akan ada rapat yang melelahkan.
Masih akan ada anak yang sakit.
Masih akan ada guru yang membutuhkan penguatan.
Masih akan ada keluarga yang meminta pertolongan.
Namun saya yakin, selama setiap langkah dimulai dengan bismillah, dijaga dengan amanah, dan diakhiri dengan lillahi ta’ala, maka setiap peluh akan bernilai ibadah.
Saya bangkit dari sajadah dengan hati yang lebih lapang.
Malam mulai turun perlahan.
Lampu-lampu madrasah satu per satu dimatikan.
Pintu gerbang ditutup.
Namun harapan tidak pernah ikut tertutup.
Ia tetap menyala, menjadi lentera yang akan menerangi perjalanan pengabdian berikutnya.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: Menyambut Tahun Ajaran Baru: Ketika Harapan Kembali Bersemi
Sorry, comment are closed for this post.