“Mas, teman-teman wartawan sulit masuk korporat jenengan. Kami sering kali tidak mendapat izin meliput. Jadi, ketika ada isu, kami tidak bisa mendapatkan konfirmasi dari pihak manajemen.” Keluhan itu disampaikan Miftahul Ulum, jurnalis Bisnis.com, Bisnis Indonesia Group, dalam sebuah kesempatan ketika kami bertemu di sebuah forum di Surabaya, sekitar tahun 2014. Momen itu merupakan awal kami bertemu. Mas Ulum, kami biasa memanggilnya. Kalimat itu begitu sederhana tapi entah mengapa, saat itu saya merasa ada sesuatu yang perlu dipikirkan lebih jauh.
Dia kemudian bercerita. Menurutnya tidak sedikit berita yang akhirnya terbit dengan tone negatif karena jurnalis tidak mendapatkan konfirmasi atau penjelasan dari pihak terkait. Bukan selalu karena jurnalis ingin memberitakan sesuatu secara negatif, tetapi karena ruang untuk mendapatkan informasi memang tidak tersedia.
Sikap tertutup itu, lanjutnya, juga membuat jurnalis menjadi enggan meliput. Bahkan ketika sebenarnya korporat tersebut memiliki banyak kegiatan dan cerita yang memiliki nilai berita. Saat itu saya berpikir, barangkali selama ini korporat melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Bagi korporat, wartawan sering kali dianggap sebagai pihak yang datang membawa pertanyaan. Pertanyaan itu kadang terasa mengganggu, apalagi ketika menyangkut isu yang sensitif. Sementara bagi wartawan, mendapatkan informasi dan konfirmasi merupakan bagian dari pekerjaan mereka. Dua kepentingan yang sebenarnya bisa berjalan berdampingan, tetapi sering kali dipisahkan oleh sebuah pintu yang bernama komunikasi. Dan saat itu, pintu itu belum terbuka.
Sepulang dari pertemuan, rasa penasaran mendorong untuk melakukan riset kecil. Saya membuka Google dan mengetikkan berbagai kata kunci, mulai dari nama korporat tempat saya bekerja, kemudian kata “gula”, “pabrik gula”, hingga beberapa kata kunci lain yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan. Saya mencoba melihat, sebenarnya seperti apa wajah korporat kami di media? Hasil pencarian itu cukup membuat saya berpikir. Memang ada beberapa berita dengan tone netral dan positif. Tetapi berita-berita tersebut lebih banyak muncul atas nama perorangan, bukan atas nama korporat.
Kemudian Saya membuka kembali koleksi koran yang memang saat itu menjadi langganan kantor dan hasilnya kurang lebih sama. Tidak ditemukan banyak pemberitaan yang benar-benar menghadirkan korporat kami sebagai sumber informasi. Saat itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri: Kalau sebuah korporat memiliki banyak cerita baik, tetapi tidak pernah menceritakannya, lalu siapa yang akan menceritakannya?
Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi awal dari sebuah perjalanan. Saya mulai memiliki keinginan untuk membuka komunikasi dengan media massa. Ternyata, apa yang terlihat sederhana dari luar tidak mudah diwujudkan di dalam. Membuka pintu komunikasi dengan media bukan sekadar mengundang wartawan datang, kemudian memberikan informasi, lalu berharap muncul berita positif. Ada persoalan cara pandang yang jauh lebih mendasar. Langkah pertama Saya harus meyakinkan atasan bahwa media bukan sekadar pihak yang mencari berita melainkan mitra kita dalam berkomunikasi dengan publik.
Media adalah salah satu jembatan yang memungkinkan sebuah korporat menyampaikan informasi kepada stakeholder dan masyarakat. Namun mengubah cara pandang tidak bisa dilakukan dalam sehari. Pada masa itu, jurnalis seakan memiliki aura yang menyeramkan bagi sebagian korporat. Kehadiran wartawan sering kali lebih dulu diasosiasikan dengan pertanyaan sulit, berita negatif, atau sesuatu yang harus dihindari. Setelah berdiskusi dengan beberapa rekan berbeda Perusahaan, ternyata cara pandang semacam itu bukan hanya terjadi di tempat saya bekerja, banyak korporat memiliki kekhawatiran yang sama.
Karena itu, untuk membuka pintu komunikasi membutuhkan keberanian. Bukan keberanian untuk berbicara sebanyak-banyaknya, tetapi keberanian menyakinkan manajemen untuk mulai percaya bahwa komunikasi yang baik tidak selalu harus diawali dengan rasa nyaman. Ada kalanya kita harus berhadapan dengan pertanyaan yang tidak kita sukai. Atau, ada kalanya informasi yang kita sampaikan tidak berakhir menjadi berita seperti yang kita harapkan. Dan ada kalanya kita harus belajar bahwa tidak semua komunikasi bertujuan membuat kita terlihat baik. Sebagian komunikasi justru bertujuan agar orang lain memahami.
Meyakinkan manajemen untuk membuka diri kepada jurnalis membutuhkan waktu, Itupun tentu tidak serta-merta tanpa batas. Ada syarat, ada ketentuan, ada kehati-hatian, dan ada proses untuk membangun kepercayaan dari kedua belah pihak. Tetapi setidaknya, sebuah pintu mulai dibuka. Dari pintu kecil itulah saya kemudian belajar banyak hal.
Dari proses itu pula Saya belajar bahwa komunikasi tidak dimulai ketika seseorang berbicara. Komunikasi justru sering kali dimulai jauh sebelumnya, ketika seseorang memutuskan apakah ia bersedia membuka pintu atau tetap membiarkannya tertutup. Saya juga belajar bahwa ketika kita memilih diam, orang lain tetap akan membangun persepsinya sendiri. Ketika kita tidak memberikan penjelasan, ruang kosong itu akan diisi oleh dugaan. Dan ketika kita tidak menceritakan sesuatu yang baik, bukan berarti cerita itu akan hilang. Bisa jadi, cerita tersebut hanya akan diceritakan oleh orang lain dengan sudut pandang yang berbeda.
Sejak saat itulah saya mulai memahami satu hal: Sebelum kata-kata terucap, selalu ada keputusan untuk membuka ruang. Setiap ruang yang kita buka, sekecil apa pun, bisa menjadi awal dari lahirnya pemahaman.
Perjalanan setelah itu membawa saya pada banyak pertemuan, banyak percakapan, banyak kesalahpahaman, dan tentu saja banyak kesalahan dalam belajar berkomunikasi. Dari sana saya semakin percaya bahwa komunikasi bukan semata-mata tentang bagaimana menyusun kata. Ia tentang manusia, tentang bagaimana kita mendengar sebelum menjawab. Tentang bagaimana kita memahami sebelum menilai, tentang bagaimana sebuah kata dapat membangun kepercayaan, tetapi kata yang sama juga dapat melukai. Dan pada akhirnya, tentang satu hal yang sering kita lupakan: Sebelum kata-kata terucap, ada manusia yang sedang memilih bagaimana ia ingin dipahami.
Kreator : Brilliant JA (Bejo)
Comment Closed: PROLOG – Ketika Pintu Itu Belum Terbuka
Sorry, comment are closed for this post.