
Buku ini tidak akan menghakimimu. Buku ini tidak akan memintamu untuk segera pulih. Buku ini tidak akan memaksamu untuk berhenti menangis atau berpura-pura kuat ketika sebenarnya kamu sedang lelah. Aku hanya ingin menemanimu. Karena aku juga pernah berada di sana.
Aku pernah merasa sendirian. Aku pernah merasa gagal. Aku pernah membuat keputusan yang salah. Aku pernah terlalu keras terhadap diriku sendiri. Dan sampai hari ini, aku masih belajar. Tetapi sekarang aku tahu bahwa hidup tidak harus sudah sempurna agar layak untuk diperjuangkan.
Kalau hari ini semuanya terasa terlalu berat, kita tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus. Kita bisa berjalan perlahan. Kalau belum mampu berjalan, kita bisa merangkak. Dan kalau hari ini satu-satunya hal yang mampu kamu lakukan adalah bertahan, maka itu pun sudah cukup. Mari kita coba satu hari lagi.
Bab 1 — Aku Tahu Kamu Lelah
Pernah nggak, semasa kecil kamu kepikiran akan berada di posisi seperti sekarang? Menjadi dewasa yang lelah. Lelah dengan cerita kehidupan yang seolah tidak pernah selesai. Lelah dengan pertanyaan tentang masa depan yang jawabannya tidak pernah benar-benar kita tahu.
Dulu, ketika masih kecil, aku pikir menjadi dewasa pasti menyenangkan. Aku membayangkan bisa membeli apa pun dengan uang sendiri, pergi ke mana saja, punya pekerjaan yang stabil, keluarga yang harmonis, bisa memberikan uang kepada orang tua, dan hidup dengan tenang. Indah, bukan? Setidaknya, begitulah yang kubayangkan.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa menjadi dewasa juga berarti berhadapan dengan keputusan yang salah, kehilangan arah, rasa takut, tekanan, dan tanggung jawab yang terkadang terasa terlalu besar. Aku juga tidak pernah membayangkan bahwa ada masa ketika setelah membuka mata di pagi hari, pertanyaan pertama yang muncul justru, “Kenapa aku masih hidup hari ini?” Bukan karena aku tidak ingin melihat pagi. Aku hanya terlalu lelah menghadapi apa yang mungkin menungguku setelah membuka mata.
Aku masih sendiri sampai hari ini. Belum memiliki keluarga kecil seperti yang dulu pernah kubayangkan. Tetapi di sisi lain, ada keluarga yang harus dipikirkan, pekerjaan yang harus dijalani, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan masa depan yang harus dipikirkan. Terkadang, ada diriku sendiri yang justru terlupakan di antara semuanya.
Mungkin kamu juga pernah merasakan hal yang sama. Kamu bangun, bekerja, bertemu orang, tersenyum ketika diperlukan, menjawab “aku baik-baik saja”, lalu pulang membawa semua hal yang tidak sempat kamu ceritakan kepada siapa pun.
Aku pernah berpikir meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Jadi aku memilih diam, menyimpan semuanya sendiri, menangis sendiri, bangun lagi sendiri, dan menjalani hari berikutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Sampai suatu hari aku sadar bahwa ternyata aku terlalu keras kepada diriku sendiri. Aku manusia. Aku bisa lelah. Aku bisa takut. Aku bisa salah. Aku bisa menangis. Dan aku juga boleh membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Aku tidak tahu persis apa yang sedang kamu hadapi. Aku juga tidak akan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, karena ketika seseorang sedang berada di titik paling rendah, kalimat seperti itu terkadang terasa jauh dari kenyataan. Jadi aku tidak ingin menggurui kamu. Aku hanya ingin duduk di sampingmu sebentar. Mendengarkan. Karena aku pernah berada di sana.
Kalau hari ini kamu sedang merasa sangat lelah, tidak apa-apa untuk mengakuinya. Coba tanyakan kepada dirimu sendiri: “Apa sebenarnya yang paling membuatku lelah akhir-akhir ini?” Tidak perlu mencari jawabannya dengan sempurna. Cukup jujur. Karena mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamu tidak perlu menyembunyikannya dari dirimu sendiri.
Bab 2 — Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kita Bayangkan
Dulu aku pikir sekolah selama tiga tahun akan sama saja seperti sekolah-sekolah sebelumnya. Aku masih terlalu polos. Aku pikir tugas seorang siswa hanyalah belajar, mengerjakan tugas, bercanda dengan teman, memikirkan nilai, lalu membayangkan akan kuliah di mana setelah lulus.
Aku tidak tahu bahwa kehidupan kadang mempertemukan kita dengan orang-orang yang wajahnya biasa saja, suaranya terdengar biasa saja, bahkan mungkin terlihat seperti seseorang yang mustahil melakukan hal buruk. Di usia lima belas atau enam belas tahun, aku mengalami sesuatu yang mengubah jalan hidupku dengan cara yang sama sekali tidak kuinginkan. Setelah kejadian itu, aku harus meninggalkan sekolah.
Keputusan itu tidak pernah terasa sederhana. Bukan hanya karena apa yang telah terjadi kepadaku, tetapi juga karena aku melihat kedua orang tuaku. Mereka hidup sederhana, bekerja keras, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Entah mengapa, pada usia semuda itu aku merasa bersalah. Aku tidak tega melihat mereka harus pontang-panting demi anak mereka yang bahkan belum mengerti bagaimana caranya memaafkan dirinya sendiri.
Padahal sebelumnya aku pernah mendapat lampu hijau untuk memperoleh beasiswa di salah satu universitas terkenal di daerah tempatku bersekolah. Aku pernah membayangkan diriku duduk di bangku kuliah. Tetapi hidup memilih jalan lain. Sampai hari ini, aku bahkan tidak bisa mengingat nama orang yang telah mengubah hidupku saat itu.
Yang kuingat justru adalah apa yang terjadi setelahnya. Bukan ruang kuliah, bukan buku-buku kampus, tetapi sebuah mesin kasir yang masih asing bagiku. Aku mulai bekerja di usia yang seharusnya masih kuhabiskan sebagai seorang pelajar. Semua terjadi terlalu cepat. Ada masa ketika aku bertanya, “Andai saja aku bertahan satu hari lagi…”
Tetapi sekarang, ketika melihat diriku yang berusia enam belas tahun, aku tidak lagi ingin menyalahkannya. Aku justru ingin memeluknya. Aku ingin berkata, “Aku bangga kepadamu.” Bukan karena semua keputusanmu benar, tetapi karena kamu tetap memilih melanjutkan hidup ketika belum tahu bagaimana caranya.
Di tengah semua itu, aku masih sempat membuat sebuah janji untuk kedua orang tuaku. Aku pernah berjanji bahwa suatu hari nanti aku akan memberangkatkan mereka umrah. Enam belas tahun telah berlalu dan janji itu belum bisa kuwujudkan. Kadang aku sedih memikirkannya. Tetapi mungkin ada mimpi yang memang membutuhkan waktu lebih lama.
Kalau aku bisa kembali menemui anak perempuan berusia enam belas tahun itu, aku ingin mengatakan bahwa dia bukan anak yang gagal. Dia bukan beban bagi keluarganya. Apa yang terjadi kepadanya bukan kesalahannya. Dia adalah berlian. Mungkin saat itu hidup sedang menghantam dan mengasahnya, tetapi dia tidak sedang dihancurkan. Dia sedang dibentuk.
Bab 3 — Tidak Apa-Apa Kalau Hari Ini Menangis
Ada masa ketika aku berpikir bahwa menangis adalah sesuatu yang memalukan. Apalagi kalau orang lain sampai melihatnya. Aku merasa harus selalu terlihat baik-baik saja. Kalau ada masalah, simpan sendiri. Kalau sedih, diam. Kalau kecewa, telan. Kalau takut, jangan tunjukkan. Kalau lelah, tetap berjalan.
Mungkin karena sejak kecil aku sudah terbiasa mengalah, memahami keadaan, melihat orang tua bekerja keras, membantu pekerjaan rumah, menjaga adik-adik, dan mengesampingkan keinginan sendiri ketika keadaan tidak memungkinkan. Lama-lama aku menjadi sangat pandai mengatakan, “Tidak apa-apa.” Padahal sebenarnya ada banyak hal yang tidak baik-baik saja.
Aku memilih diam. Memendam banyak hal. Menangis ketika tidak ada orang yang melihat. Setelah air mata berhenti, aku mencuci muka dan kembali menjalani hari seperti biasa. Aneh, ya? Kita bisa begitu lembut kepada orang lain, tetapi begitu kejam kepada diri sendiri.
Ketika seorang teman menangis, kita mungkin berkata, “Kamu boleh menangis. Kamu tidak harus kuat setiap saat.” Tetapi ketika hal yang sama terjadi kepada diri sendiri, kita justru berkata, “Sudahlah. Jangan cengeng. Kamu harus kuat.” Aku pernah menjadi orang yang seperti itu kepada diriku sendiri.
Padahal ternyata lelah bukan berarti lemah. Menangis bukan berarti kalah. Meminta waktu untuk beristirahat bukan berarti menyerah. Dan merasa sedih tidak membuat seseorang menjadi kurang berharga.
Ada hari-hari ketika aku masih menangis sendirian. Sampai sekarang pun masih. Tetapi sekarang aku tidak lagi selalu menganggap air mata sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Kadang air mata hanya cara tubuh dan hati mengatakan, “Aku sudah terlalu lama menahan semuanya.” Dan mungkin kita memang perlu mendengarkannya.
Aku mulai belajar bahwa ada perbedaan antara menyerah dan beristirahat. Menyerah berarti berhenti percaya bahwa masih ada kemungkinan untuk melanjutkan. Beristirahat berarti mengakui bahwa kita tidak sanggup berlari hari ini, lalu memberi diri sendiri kesempatan untuk mengambil napas.
Kalau hari ini kamu sedang menangis, biarkan. Tidak perlu buru-buru menghapus air matamu hanya karena takut dianggap lemah. Setelah itu, kalau kamu sudah sedikit lebih lega, tarik napas. Tidak perlu langsung berdiri. Duduklah sebentar. Dan ketika kamu siap, kita coba melangkah lagi. Pelan-pelan.
Bab 4 — Aku Tidak Harus Selamanya Menghukum Diriku
Ada kesalahan yang bisa kita lupakan setelah beberapa hari. Ada juga kesalahan yang menetap begitu lama di kepala, bahkan ketika semua orang sudah berhenti membicarakannya. Aku pernah mengalami yang kedua.
Aku pernah tergiur dengan pekerjaan sampingan yang menjanjikan hasil cepat. Mungkin saat itu aku terlalu ingin memperbaiki keadaan dan percaya bahwa ada jalan cepat untuk menyelesaikan masalah. Sampai akhirnya aku menjadi korban penipuan. Keputusan itu membawa konsekuensi yang tidak kecil. Aku harus bertanggung jawab dan mencari cara untuk menyelesaikannya. Aku akhirnya berhasil melunasi kewajiban yang muncul dari masalah tersebut, tetapi karena tekanan yang kurasakan begitu besar, aku mengambil keputusan lain yang kemudian menjadi masalah baru.
Satu masalah selesai, masalah lain muncul. Dari situlah aku belajar bahwa ketika sedang terdesak, kita bisa mengambil keputusan hanya karena ingin segera keluar dari satu lubang, tanpa menyadari bahwa kita sedang menggali lubang yang lain.
Aku tidak menceritakan ini untuk meminta pembenaran. Aku menceritakannya karena mungkin ada seseorang di luar sana yang pernah melakukan kesalahan dan sekarang sedang membenci dirinya sendiri. Aku tahu rasanya. Kita mengulang kejadian yang sama di kepala: “Kenapa waktu itu aku sebodoh itu? Kenapa aku tidak berpikir lebih panjang? Kenapa aku percaya?”
Tetapi aku mulai memahami bahwa ada perbedaan antara bertanggung jawab atas kesalahan dan menghukum diri sendiri karena kesalahan. Bertanggung jawab berarti memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, menerima konsekuensinya, belajar, dan berusaha agar kesalahan yang sama tidak terulang. Sedangkan menghukum diri sendiri adalah terus mengatakan bahwa kita adalah manusia buruk hanya karena pernah melakukan sesuatu yang buruk.
Aku pernah membuat keputusan yang buruk. Tetapi itu tidak berarti seluruh diriku adalah manusia yang buruk. Aku pernah salah, tetapi aku bukan kesalahan itu. Aku pernah gagal, tetapi aku bukan kegagalan itu.
Aku tidak ingin lagi menjalani semuanya dengan terus mengatakan, “Ini semua salahmu.” Aku ingin mengatakan sesuatu yang berbeda: “Ya, kamu pernah salah. Sekarang, mari kita perbaiki sebisanya. Pelan-pelan.” Kita tidak perlu menghancurkan diri sendiri untuk membuktikan bahwa kita menyesal.
Kalau ada sesuatu yang harus kamu pertanggungjawabkan, lakukan. Kalau ada sesuatu yang masih bisa diperbaiki, perbaiki. Tetapi setelah itu, jangan lupa melakukan satu hal: maafkan dirimu sendiri. Bukan karena apa yang kamu lakukan tidak penting, tetapi karena hidupmu terlalu berharga untuk selamanya didefinisikan oleh satu kesalahan.
Bab 5 — Tidak Semua Hal Harus Kamu Simpan Sendiri
Ada satu hal yang baru kupahami setelah bertahun-tahun menjalani hidup: ternyata aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Dulu aku mengira meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Aku malu bercerita. Takut dianggap tidak mampu, terlalu banyak mengeluh, atau menjadi beban. Jadi ketika sesuatu terjadi, aku lebih sering memilih diam.
Aku bisa bercerita tentang hal-hal kecil, tetapi ketika pembicaraan menyentuh sesuatu yang benar-benar membuatku terluka, aku menjadi sangat pandai mengubah topik. Ternyata ada perbedaan antara tidak ingin bercerita dan tidak tahu bagaimana caranya bercerita.
Aku takut kalau sekali membuka mulut, semua yang selama ini kutahan akan keluar sekaligus. Takut menangis. Takut terlihat lemah. Takut setelah menceritakan semuanya, orang lain justru melihatku dengan cara yang berbeda.
Tetapi kemudian aku mulai mencoba. Tidak langsung menceritakan semuanya. Aku hanya belajar mengatakan, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Dan ternyata dunia tidak runtuh. Aku tidak menjadi manusia yang lebih lemah. Aku justru merasa sedikit lebih ringan.
Dari sana aku menyadari bahwa masih ada orang-orang baik di luar sana. Ada orang yang mau mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ada orang yang tidak bisa menyelesaikan masalah kita, tetapi bersedia duduk dan mendengarkan. Ada orang yang tidak memiliki jawaban, tetapi memilih tetap tinggal ketika kita sedang tidak baik-baik saja.
Meminta bantuan juga bukan berarti menceritakan seluruh hidup kita kepada semua orang. Ada orang yang aman untuk dipercaya dan ada orang yang justru membuat kita semakin terluka. Karena itu, belajar meminta bantuan juga berarti belajar memilih kepada siapa kita membuka diri.
Aku pernah berpikir dunia begitu kejam terhadapku. Mungkin karena aku terlalu lama hanya melihat sisi kehidupan yang menyakitkan. Ketika mulai membuka diri, aku menemukan sesuatu yang berbeda. Dunia memang tidak selalu baik, manusia memang bisa mengecewakan, tetapi ada juga orang-orang yang tulus.
Kalau hari ini kamu sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian, kamu tidak harus langsung menceritakan semuanya. Mulailah dari satu kalimat: “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Pilih seseorang yang membuatmu merasa aman. Dan jika yang kamu hadapi terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri, mencari bantuan profesional juga bukan tanda kelemahan.
Kamu tidak harus menunggu sampai semuanya hancur untuk meminta pertolongan. Kadang meminta bantuan adalah bentuk keberanian untuk mengatakan, “Aku ingin tetap baik-baik saja, dan aku tahu aku tidak harus melakukannya sendirian.”
Bab 6 — Belajar Berkata Tidak
Dulu aku pikir mengatakan “iya” adalah salah satu cara terbaik untuk membuat orang lain senang. Kalau seseorang meminta bantuan, aku berusaha membantu. Aku pikir menjadi orang baik berarti selalu bersedia, selalu mengerti, selalu memaklumi, dan selalu mengalah.
Ternyata aku salah. Karena semakin sering aku mengatakan “iya” kepada orang lain, semakin sering pula aku mengatakan “tidak” kepada diriku sendiri. Tidak untuk beristirahat. Tidak untuk merasa lelah. Tidak untuk memiliki waktu sendiri. Tidak untuk mengatakan bahwa sesuatu membuatku tidak nyaman.
Aku terlalu sibuk memastikan orang lain baik-baik saja sampai lupa bertanya, “Aku sendiri bagaimana?” Mungkin kamu juga pernah berada di posisi itu. Takut mengecewakan orang, takut dianggap egois, takut seseorang marah. Akhirnya kita berkata, “Iya,” padahal hati kita berkata, “Aku tidak sanggup.”
Aku pernah begitu. Sebagian dari kelelahan itu bukan hanya karena terlalu banyak hal yang harus kulakukan, tetapi karena terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak ingin kulakukan namun tetap kupaksakan karena aku tidak berani mengatakan tidak.
Ada sesuatu yang baru kupahami setelah dewasa: kita tidak bisa membuat semua orang senang. Seberapa baik pun kita, akan selalu ada seseorang yang kecewa kepada kita. Dan itu bukan berarti kita orang jahat.
Menjaga batasan bukan berarti berhenti menyayangi orang lain. Menjaga batasan berarti memahami bahwa diri kita juga memiliki batas. Ada hal-hal yang bisa kita berikan dan ada yang tidak bisa. Ada orang yang bisa kita bantu dan ada orang yang harus kita biarkan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Aku mulai belajar mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa.” Awalnya sulit. Ada rasa bersalah setelah mengatakannya. Tetapi semakin sering aku belajar menetapkan batasan, aku mulai merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan: tenang.
Aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang selalu mengatakan iya hanya agar orang lain tetap menyukaiku. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa berkata iya ketika memang mampu dan berkata tidak ketika memang perlu. Bukan karena aku tidak peduli, tetapi karena aku mulai belajar bahwa diriku juga layak untuk dipedulikan.
Kalau hari ini kamu sedang belajar berkata tidak, jangan terlalu keras kepada dirimu. Kamu sedang belajar sesuatu yang mungkin bertahun-tahun tidak pernah diajarkan kepadamu: bahwa menjaga diri sendiri juga merupakan bentuk kasih sayang.
Bab 7 — Ketika Aku Kehilangan Arah
Ada masa ketika aku tidak lagi bertanya, “Bagaimana caranya aku bertahan?” Aku mulai bertanya sesuatu yang jauh lebih sulit: “Setelah semua ini, sebenarnya aku mau ke mana?”
Kamu masih bangun. Masih bekerja. Masih menjalankan tanggung jawab. Masih tertawa sesekali. Dari luar mungkin tidak ada yang aneh. Tetapi di dalam diri sendiri ada sesuatu yang terasa kosong. Kita tahu bagaimana caranya menjalani hari, tetapi tidak tahu untuk apa kita menjalaninya.
Kita bekerja, mencari uang, membayar kewajiban, membantu keluarga, memikirkan masa depan, pasangan, usia, pencapaian, sampai akhirnya lupa bertanya, “Apa sebenarnya yang aku inginkan?”
Aku pernah merasa tertinggal. Melihat orang lain seusiaku sudah memiliki sesuatu yang belum kumiliki. Ada yang sudah menikah, punya rumah, kariernya terlihat baik, atau sudah mencapai sesuatu yang selama ini hanya berani kubayangkan. Kemudian tanpa sadar aku membandingkan kehidupanku dengan kehidupan mereka.
Aku mulai belajar bahwa terlambat bukan berarti gagal. Ada orang yang menemukan dirinya di usia dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan lebih lama. Tidak ada satu usia yang berlaku untuk semua orang.
Tujuan hidup juga tidak selalu harus sesuatu yang besar. Mungkin hidup memiliki arti ketika kita menjadi alasan seseorang tersenyum, membantu orang tua, menemani seseorang yang sedang kesulitan, bekerja dengan jujur, belajar menjadi manusia yang lebih baik, atau tetap memilih untuk tidak menyerah meskipun tidak ada seorang pun yang tahu betapa sulitnya hari itu.
Aku tidak lagi merasa harus mengetahui persis ke mana hidupku akan pergi. Aku hanya ingin tahu langkah berikutnya. Karena mungkin kita memang tidak membutuhkan peta lengkap. Kita hanya membutuhkan cukup cahaya untuk melihat satu langkah di depan.
Kalau saat ini kamu merasa kehilangan arah, jangan buru-buru menganggap hidupmu gagal. Jangan dulu bertanya, “Aku akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun lagi?” Coba tanyakan sesuatu yang lebih sederhana: “Apa satu hal kecil yang ingin kulakukan setelah ini?”
Kamu tidak harus mengetahui seluruh perjalanan untuk mulai berjalan. Kalau hari ini kamu belum menemukan tujuanmu, mungkin tugasmu bukan menemukan seluruh jawaban. Mungkin tugasmu hanya menjalani satu hari lagi.
Bab 8 — Mungkin Hidup Tidak Sedang Menghukum Kita
Ada masa ketika aku bertanya-tanya, “Kenapa harus aku?” Kenapa aku harus mengalami ini? Kenapa hidupku harus berjalan seperti ini? Aku pernah mengira mungkin semua ini adalah hukuman. Mungkin aku tidak cukup baik. Mungkin Tuhan sedang marah kepadaku.
Tetapi semakin aku menjalani hidup, semakin aku menyadari bahwa mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kuketahui jawabannya. Aku tidak tahu mengapa semua itu terjadi. Aku juga tidak tahu mengapa sebagian orang harus melewati jalan yang jauh lebih berat daripada orang lain.
Dan mungkin kita memang tidak selalu mendapatkan jawabannya. Ada hal-hal dalam hidup yang sampai kapan pun mungkin tidak akan benar-benar kita mengerti. Menerima bahwa kita tidak tahu bukan berarti kita kehilangan iman.
Aku mulai melihat hidup dari sudut yang sedikit berbeda. Mungkin penderitaan bukan selalu hukuman. Mungkin kegagalan bukan selalu tanda bahwa Tuhan sedang meninggalkan kita. Dan mungkin kehidupan yang tidak berjalan sesuai rencana bukan berarti kehidupan itu tidak berharga.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa semua luka pasti memiliki alasan yang indah. Ada luka yang terlalu dalam untuk diberi kalimat sederhana seperti, “Ini semua terjadi demi kebaikanmu.” Tidak semua luka harus segera diberi makna. Ada luka yang perlu dirasakan, kehilangan yang perlu ditangisi, dan pertanyaan yang membutuhkan waktu.
Aku mungkin tidak bisa memilih apa yang terjadi kepadaku, tetapi aku masih bisa memilih apa yang akan kulakukan setelahnya. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi aku bisa memilih untuk belajar, meminta bantuan, menjaga diri, memperbaiki kesalahan, dan mencoba lagi.
Aku percaya Tuhan tidak pernah salah mengenal siapa yang sedang Dia tuntun. Tetapi mencintai Tuhan bukan berarti kita harus selalu memahami jalan yang sedang kita lalui. Ada masa ketika aku hanya bisa berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti.” Dan mungkin itu pun sudah cukup.
Aku tidak ingin penderitaanku menjadi sia-sia. Kalau aku pernah jatuh, aku ingin belajar bagaimana berdiri. Kalau aku pernah terluka, aku ingin belajar menjadi lebih lembut kepada orang lain. Kalau aku pernah merasa sendirian, aku ingin menjadi seseorang yang membuat orang lain merasa tidak sendirian.
Kalau hari ini kamu bertanya, “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi kepadaku?” aku tidak akan memberimu jawaban sederhana. Aku tidak tahu jawabannya. Tetapi aku ingin menemanimu dengan pertanyaan lain: “Setelah semua ini terjadi, apa yang masih ingin kamu lakukan dengan hidupmu?”
Kamu tidak harus memahami seluruh perjalananmu hari ini. Cukup percaya bahwa cerita hidupmu belum selesai. Mungkin halaman ini adalah yang paling gelap, tetapi halaman gelap pun tetap memiliki halaman berikutnya.Bab 9 — Mungkin Kita Hanya Perlu Bertahan Satu Hari Lagi
Ada masa ketika aku tidak membutuhkan rencana lima tahun. Aku tidak membutuhkan jawaban tentang bagaimana hidupku akan berakhir. Aku bahkan tidak membutuhkan kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan satu alasan untuk bangun besok pagi.
Ketika hidup terasa terlalu berat, memikirkan masa depan yang terlalu jauh justru bisa membuat kita semakin lelah. Bagaimana masa depanku? Apakah aku akan berhasil? Apakah orang tuaku akan melihatku berhasil? Apakah semua masalah ini akan selesai? Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu banyak.
Akhirnya aku belajar untuk tidak memikirkan semuanya sekaligus. Aku hanya bertanya, “Apa yang harus kulakukan hari ini?” Besok adalah urusan besok. Hari ini, aku hanya perlu melewatinya.
Ada masa ketika melewati satu hari saja membutuhkan keberanian yang besar. Bangun. Mandi. Makan. Bekerja. Pulang. Beristirahat. Lalu mengulanginya lagi. Tidak ada pencapaian besar. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang sangat berarti di sana: aku masih bertahan.
Bertahan hidup tidak selalu terlihat heroik. Kadang bertahan hanya berarti tidak menyerah pada hari yang sedang buruk. Tetap makan. Tetap mandi. Tetap bekerja meskipun pikiran sedang penuh. Tetap berbicara kepada orang lain meskipun hati sedang ingin menghilang dari dunia. Dan terkadang, bertahan hanya berarti mengatakan, “Aku coba lagi besok.”
Kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan. Dan mungkin justru karena itulah kita perlu bertahan. Bukan karena kita sudah tahu bahwa semuanya akan indah, tetapi karena kita belum tahu. Ada begitu banyak hal yang belum kita lihat, orang yang belum kita temui, tempat yang belum kita datangi, dan versi diri kita yang belum kita kenal.
Aku tidak ingin memberikan janji palsu. Aku tidak bisa mengatakan setelah membaca buku ini semua masalahmu akan selesai. Hidup tidak bekerja seperti itu. Tetapi mungkin besok ada satu hal kecil yang berbeda. Mungkin ada kesempatan baru. Mungkin ada keberanian yang belum kamu sadari. Mungkin ada alasan baru untuk tersenyum.
Mungkin itu sebabnya aku menyukai kalimat sederhana ini: satu hari lagi. Bukan karena satu hari itu akan menyelesaikan semua masalah, tetapi karena satu hari lagi memberi kita kesempatan untuk mencoba, berubah, bertemu sesuatu yang belum pernah kita temui, dan menemukan alasan baru.
Kalau hari ini kamu sedang berada di titik paling rendah, aku tidak akan memintamu memikirkan masa depan yang panjang. Kalau besok terasa terlalu jauh, pikirkan satu jam lagi. Kalau satu jam masih terlalu berat, pikirkan sepuluh menit lagi. Tarik napas. Minum air. Duduk. Istirahat. Lalu lihat apa yang bisa kamu lakukan setelahnya.
Kita tidak perlu menyelesaikan seluruh hidup hari ini. Kita hanya perlu melewati hari ini. Lalu besok, kita coba lagi. Satu hari lagi.Bab 10 — Harapan Tidak Selalu Datang dengan Suara Keras
Dulu aku pikir harapan akan datang seperti sesuatu yang besar. Seperti sebuah keajaiban. Satu kejadian yang tiba-tiba mengubah semuanya. Masalah selesai. Hutang lunas. Pekerjaan menjadi lebih baik. Keluarga bahagia. Hidup kembali berjalan seperti yang kuinginkan.
Sampai akhirnya aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku salah memahami harapan. Harapan ternyata tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang begitu pelan sampai kita hampir tidak menyadarinya.
Ia bisa datang dalam bentuk keinginan untuk mencoba lagi, keberanian untuk bangun dari tempat tidur, seseorang yang bertanya, “Kamu sudah makan?”, teman yang bersedia mendengarkan, atau tawa yang tiba-tiba keluar setelah sekian lama kita lupa bagaimana rasanya merasa bahagia.
Aku pernah mengira bahwa selama masalahku belum selesai, berarti aku belum memiliki harapan. Ternyata tidak. Harapan dan masalah bisa hidup berdampingan. Kita bisa sedang terlilit masalah, menangis, takut, dan tetap memiliki harapan.
Aku mulai belajar memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya sering kulewatkan. Pagi setelah malam yang panjang. Pesan sederhana dari seseorang yang mengingatku. Makanan yang bisa kunikmati setelah hari yang melelahkan. Kesempatan belajar sesuatu yang baru. Tawa kecil di tengah percakapan. Momen ketika aku berhasil melewati sesuatu yang dulu kupikir tidak akan sanggup kulewati.
Ada kemenangan yang hanya kita sendiri yang tahu. Kemenangan ketika kita berhasil bangun setelah malam yang buruk. Ketika kita berani meminta bantuan. Ketika kita akhirnya mengatakan tidak. Ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri. Ketika kita memilih untuk mencoba sekali lagi.
Aku tahu betapa panjang perjalanan yang sudah kulewati. Aku tahu berapa banyak hal yang pernah membuatku ingin menyerah. Dan ketika hari ini aku masih bisa tersenyum, aku tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Aku melihatnya sebagai bukti bahwa masih ada bagian dari diriku yang ingin hidup, ingin melihat hari berikutnya, dan percaya bahwa keadaan mungkin bisa berubah.
Harapan bukan selalu berarti percaya bahwa sesuatu yang kita inginkan pasti akan terjadi. Harapan adalah keberanian untuk tetap membuka kemungkinan. Kemungkinan bahwa hidup bisa berubah, bahwa kita bisa menjadi lebih baik, bahwa masalah yang hari ini terasa tidak mungkin diselesaikan suatu hari nanti bisa menemukan jalan keluar.
Kalau hari ini kamu merasa tidak memiliki harapan, jangan memaksakan dirimu untuk langsung menemukan cahaya yang besar. Cari yang kecil. Sesuatu yang masih membuatmu ingin membuka mata besok pagi. Sesuatu yang masih membuatmu penasaran. Sesuatu yang masih membuatmu berkata, “Mungkin nanti.”
Karena terkadang, harapan tidak datang untuk menerangi seluruh jalan. Ia hanya datang membawa cahaya yang cukup untuk membuat kita melihat satu langkah lagi. Dan mungkin, satu langkah itu sudah cukup untuk membawa kita menuju hari berikutnya.
Kreator : Dita Dewi Utami
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: SATU HARI LAGI
Sorry, comment are closed for this post.