KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1 — Amplop Putih di Akhir Bulan

    Bab 1 — Amplop Putih di Akhir Bulan

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 17 kali
    Amplop Putih di Akhir Bulan_alineaku

    Setiap akhir bulan, Digantara selalu menunggu suara notifikasi dari telepon genggamnya.

    Suara itu tidak pernah terdengar istimewa. Hanya bunyi pendek, seperti tanda bahwa sebuah pesan telah masuk. Namun bagi Digantara, bunyi tersebut selalu membawa dua hal sekaligus: kelegaan dan kecemasan.

    Kelegaan karena gaji bulan itu akhirnya masuk. Kecemasan karena ia tahu uang tersebut tidak akan bertahan lama.

    Pagi itu, Digantara duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa saldo rekeningnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar. Di luar, terdengar suara pedagang sayur melewati gang sempit di depan rumah.

    “Sudah masuk?” tanya Ratri dari ambang pintu.

    Digantara mengangguk pelan.

    “Berapa yang tersisa setelah potongan?”

    “Seperti biasa.”

    Jawaban itu membuat Ratri tersenyum kecil. Ia sudah hafal maksudnya. Gaji Digantara masuk dengan jumlah tertentu, lalu berkurang karena potongan koperasi, cicilan rumah, dan pinjaman lama yang belum sepenuhnya selesai.

    Ratri duduk di sampingnya.

    “Bulan ini bayar uang sekolah Bima, listrik, air, belanja dapur, obat Ibu, sama…”

    “Seragam TK Bima,” sambung Digantara.

    Ratri menoleh.

    “Senja sudah bilang?”

    “Bukan. Tadi malam aku dengar dia bicara dengan Arga melalui telepon.”

    Digantara membuka aplikasi catatan di telepon genggamnya. Di sana terdapat daftar pengeluaran yang ia tulis dengan rapi.

    Belanja rumah.
    Listrik.
    Air.
    Obat Ratri.
    Uang sekolah Bima.
    Seragam Bima.
    Bensin.
    Bantuan untuk Senja.
    Kebutuhan Galang.

    Daftar itu terlihat sederhana. Namun di balik setiap baris terdapat kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

    Digantara menarik napas. Ia telah melakukan hal yang sama selama puluhan tahun. Setiap kali gaji masuk, ia tidak pernah merasa benar-benar memiliki uang itu. Gaji tersebut hanya singgah sebentar di rekeningnya, kemudian berpindah ke berbagai kebutuhan keluarga.

    “Masih cukup, kan?” tanya Ratri.

    Digantara memandang istrinya. Rambut Ratri mulai memutih di bagian pelipis. Wajahnya tidak lagi semuda ketika mereka menikah dulu. Namun bagi Digantara, Ratri tetap menjadi orang yang sama: perempuan yang selalu berada di sampingnya saat hidup sedang mudah maupun sulit.

    “Cukup,” jawabnya.

    Ratri tersenyum, meskipun ia tahu kata cukup sering kali berarti harus mengurangi banyak hal.

    “Kalau kurang?”

    “Kita atur lagi.”

    “Kapan kita bisa hidup tanpa harus mengatur terus?”

    Digantara terdiam.

    Pertanyaan itu tidak terdengar sebagai keluhan. Ratri mengucapkannya dengan nada ringan, tetapi Digantara tahu pertanyaan tersebut telah lama tinggal di dalam hati istrinya.

    Ia memandang kamar mereka. Lemari kayu di sudut ruangan sudah berusia lebih dari dua puluh tahun. Cat dinding mulai mengelupas di beberapa tempat. Kipas angin berputar dengan suara berderit.

    Rumah itu tidak besar. Hanya rumah sederhana yang mereka cicil sejak Digantara masih menjadi pegawai baru. Dulu, ia sering membayangkan rumah itu akan menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anaknya. Ia ingin Senja dan Galang tumbuh tanpa merasa rendah diri karena tidak memiliki banyak hal.

    Namun hidup tidak pernah benar-benar mengikuti rencana.

    “Yang penting anak-anak tidak kekurangan,” kata Digantara.

    Ratri memandangnya cukup lama.

    “Kadang aku takut, Mas.”

    “Takut apa?”

    “Takut kita terlalu sibuk memastikan mereka tidak kekurangan, sampai lupa bahwa kita juga sudah tua.”

    Digantara tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab.

    Ia belum siap memikirkan usia. Selama masih dapat bekerja, selama masih bisa berangkat ke kantor dan pulang membawa sedikit penghasilan, ia merasa semuanya masih baik-baik saja.

    Dari ruang tengah terdengar suara televisi. Galang baru saja menyalakannya. Anak laki-laki itu biasanya bangun cukup siang, terutama sejak tidak lagi kuliah.

    Digantara melihat jam di dinding.

    “Galang belum sarapan?”

    “Belum.”

    “Panggil dia.”

    Ratri menghela napas.

    “Jangan dimarahi.”

    “Aku cuma mau menyuruh sarapan.”

    “Kadang cara bicaramu membuat orang merasa sedang diadili.”

    Digantara menatap Ratri. Ia ingin membantah, tetapi kemudian mengurungkan niatnya.

    Mungkin Ratri benar.

    Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Di ruang tengah, Galang duduk di depan komputer. Rambutnya sedikit berantakan. Di layar tampak sebuah desain poster dengan warna-warna cerah.

    “Kamu sudah bangun?” tanya Digantara.

    Galang tidak langsung menjawab. Ia masih memperhatikan layar.

    “Sudah.”

    “Jangan lupa sarapan.”

    “Nanti.”

    Digantara berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan desain yang sedang dikerjakan Galang. Ada gambar makanan, tulisan promosi, dan beberapa elemen grafis yang tampak menarik.

    “Ini untuk siapa?”

    “Pesanan teman.”

    “Dibayar?”

    Galang menghentikan gerakan tangannya pada tetikus.

    “Belum tahu.”

    Digantara hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Ratri dari dapur terdengar memanggil.

    “Mas, sarapan sudah siap.”

    Digantara mengangguk, lalu kembali menatap Galang.

    “Jangan hanya mengerjakan sesuatu yang tidak jelas hasilnya.”

    Galang menoleh.

    “Aku tahu.”

    “Kalau tahu, kenapa tidak mencari pekerjaan tetap?”

    “Aku sedang mencoba.”

    “Mencoba itu harus ada hasilnya.”

    Kalimat itu keluar begitu saja. Digantara menyadari wajah Galang berubah. Namun ia sudah terlanjur mengucapkannya.

    Galang menatap layar komputer kembali.

    “Tidak semua hal bisa langsung terlihat hasilnya, Yah.”

    Digantara diam.

    Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya hanya khawatir. Ia ingin mengatakan bahwa setiap bulan biaya hidup terus bertambah, sementara Galang tidak memiliki rencana yang jelas. Namun seperti biasa, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan.

    Digantara berjalan menuju meja makan.

    Di sana, nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening telah disiapkan Ratri. Hidangan sederhana itu menjadi menu yang sering hadir di rumah mereka. Tidak mewah, tetapi selalu cukup untuk mengisi perut.

    Digantara duduk sambil memandang piringnya.

    Di luar, matahari mulai meninggi. Hari baru telah dimulai. Seperti hari-hari sebelumnya, ia akan berangkat ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, pulang sore, menghitung pengeluaran, dan berpura-pura kepada Ratri bahwa semuanya baik-baik saja.

    Begitulah kehidupan Digantara berjalan.

    Tidak berlebihan. Tidak juga benar-benar kekurangan.

    Hanya selalu berada di antara gaji dan doa.

     

     

    Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1 — Amplop Putih di Akhir Bulan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021