Setiap akhir bulan, Digantara selalu menunggu suara notifikasi dari telepon genggamnya.
Suara itu tidak pernah terdengar istimewa. Hanya bunyi pendek, seperti tanda bahwa sebuah pesan telah masuk. Namun bagi Digantara, bunyi tersebut selalu membawa dua hal sekaligus: kelegaan dan kecemasan.
Kelegaan karena gaji bulan itu akhirnya masuk. Kecemasan karena ia tahu uang tersebut tidak akan bertahan lama.
Pagi itu, Digantara duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa saldo rekeningnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar. Di luar, terdengar suara pedagang sayur melewati gang sempit di depan rumah.
“Sudah masuk?” tanya Ratri dari ambang pintu.
Digantara mengangguk pelan.
“Berapa yang tersisa setelah potongan?”
“Seperti biasa.”
Jawaban itu membuat Ratri tersenyum kecil. Ia sudah hafal maksudnya. Gaji Digantara masuk dengan jumlah tertentu, lalu berkurang karena potongan koperasi, cicilan rumah, dan pinjaman lama yang belum sepenuhnya selesai.
Ratri duduk di sampingnya.
“Bulan ini bayar uang sekolah Bima, listrik, air, belanja dapur, obat Ibu, sama…”
“Seragam TK Bima,” sambung Digantara.
Ratri menoleh.
“Senja sudah bilang?”
“Bukan. Tadi malam aku dengar dia bicara dengan Arga melalui telepon.”
Digantara membuka aplikasi catatan di telepon genggamnya. Di sana terdapat daftar pengeluaran yang ia tulis dengan rapi.
Belanja rumah.
Listrik.
Air.
Obat Ratri.
Uang sekolah Bima.
Seragam Bima.
Bensin.
Bantuan untuk Senja.
Kebutuhan Galang.
Daftar itu terlihat sederhana. Namun di balik setiap baris terdapat kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Digantara menarik napas. Ia telah melakukan hal yang sama selama puluhan tahun. Setiap kali gaji masuk, ia tidak pernah merasa benar-benar memiliki uang itu. Gaji tersebut hanya singgah sebentar di rekeningnya, kemudian berpindah ke berbagai kebutuhan keluarga.
“Masih cukup, kan?” tanya Ratri.
Digantara memandang istrinya. Rambut Ratri mulai memutih di bagian pelipis. Wajahnya tidak lagi semuda ketika mereka menikah dulu. Namun bagi Digantara, Ratri tetap menjadi orang yang sama: perempuan yang selalu berada di sampingnya saat hidup sedang mudah maupun sulit.
“Cukup,” jawabnya.
Ratri tersenyum, meskipun ia tahu kata cukup sering kali berarti harus mengurangi banyak hal.
“Kalau kurang?”
“Kita atur lagi.”
“Kapan kita bisa hidup tanpa harus mengatur terus?”
Digantara terdiam.
Pertanyaan itu tidak terdengar sebagai keluhan. Ratri mengucapkannya dengan nada ringan, tetapi Digantara tahu pertanyaan tersebut telah lama tinggal di dalam hati istrinya.
Ia memandang kamar mereka. Lemari kayu di sudut ruangan sudah berusia lebih dari dua puluh tahun. Cat dinding mulai mengelupas di beberapa tempat. Kipas angin berputar dengan suara berderit.
Rumah itu tidak besar. Hanya rumah sederhana yang mereka cicil sejak Digantara masih menjadi pegawai baru. Dulu, ia sering membayangkan rumah itu akan menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anaknya. Ia ingin Senja dan Galang tumbuh tanpa merasa rendah diri karena tidak memiliki banyak hal.
Namun hidup tidak pernah benar-benar mengikuti rencana.
“Yang penting anak-anak tidak kekurangan,” kata Digantara.
Ratri memandangnya cukup lama.
“Kadang aku takut, Mas.”
“Takut apa?”
“Takut kita terlalu sibuk memastikan mereka tidak kekurangan, sampai lupa bahwa kita juga sudah tua.”
Digantara tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab.
Ia belum siap memikirkan usia. Selama masih dapat bekerja, selama masih bisa berangkat ke kantor dan pulang membawa sedikit penghasilan, ia merasa semuanya masih baik-baik saja.
Dari ruang tengah terdengar suara televisi. Galang baru saja menyalakannya. Anak laki-laki itu biasanya bangun cukup siang, terutama sejak tidak lagi kuliah.
Digantara melihat jam di dinding.
“Galang belum sarapan?”
“Belum.”
“Panggil dia.”
Ratri menghela napas.
“Jangan dimarahi.”
“Aku cuma mau menyuruh sarapan.”
“Kadang cara bicaramu membuat orang merasa sedang diadili.”
Digantara menatap Ratri. Ia ingin membantah, tetapi kemudian mengurungkan niatnya.
Mungkin Ratri benar.
Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Di ruang tengah, Galang duduk di depan komputer. Rambutnya sedikit berantakan. Di layar tampak sebuah desain poster dengan warna-warna cerah.
“Kamu sudah bangun?” tanya Digantara.
Galang tidak langsung menjawab. Ia masih memperhatikan layar.
“Sudah.”
“Jangan lupa sarapan.”
“Nanti.”
Digantara berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan desain yang sedang dikerjakan Galang. Ada gambar makanan, tulisan promosi, dan beberapa elemen grafis yang tampak menarik.
“Ini untuk siapa?”
“Pesanan teman.”
“Dibayar?”
Galang menghentikan gerakan tangannya pada tetikus.
“Belum tahu.”
Digantara hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Ratri dari dapur terdengar memanggil.
“Mas, sarapan sudah siap.”
Digantara mengangguk, lalu kembali menatap Galang.
“Jangan hanya mengerjakan sesuatu yang tidak jelas hasilnya.”
Galang menoleh.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa tidak mencari pekerjaan tetap?”
“Aku sedang mencoba.”
“Mencoba itu harus ada hasilnya.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Digantara menyadari wajah Galang berubah. Namun ia sudah terlanjur mengucapkannya.
Galang menatap layar komputer kembali.
“Tidak semua hal bisa langsung terlihat hasilnya, Yah.”
Digantara diam.
Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya hanya khawatir. Ia ingin mengatakan bahwa setiap bulan biaya hidup terus bertambah, sementara Galang tidak memiliki rencana yang jelas. Namun seperti biasa, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan.
Digantara berjalan menuju meja makan.
Di sana, nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening telah disiapkan Ratri. Hidangan sederhana itu menjadi menu yang sering hadir di rumah mereka. Tidak mewah, tetapi selalu cukup untuk mengisi perut.
Digantara duduk sambil memandang piringnya.
Di luar, matahari mulai meninggi. Hari baru telah dimulai. Seperti hari-hari sebelumnya, ia akan berangkat ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, pulang sore, menghitung pengeluaran, dan berpura-pura kepada Ratri bahwa semuanya baik-baik saja.
Begitulah kehidupan Digantara berjalan.
Tidak berlebihan. Tidak juga benar-benar kekurangan.
Hanya selalu berada di antara gaji dan doa.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 1 — Amplop Putih di Akhir Bulan
Sorry, comment are closed for this post.