Pagi itu hujan baru saja berhenti. Udara masih menyimpan aroma tanah basah. Daun-daun di halaman sekolah terlihat berkilauan karena sisa air hujan yang belum mengering. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak yang berlarian menuju ruang kelas.
Hari pertama masuk sekolah selalu membawa perasaan yang berbeda bagi setiap anak. Ada yang bersemangat. Ada yang gugup. Ada yang takut. Dan ada pula yang hanya ingin segera menemukan seseorang untuk dijadikan teman.
Di antara puluhan murid yang berjalan menuju kelas VII, seorang gadis kecil berdiri sendirian di depan pintu kelas. Namanya Alana Safira. Usianya baru dua belas tahun. Seragam putih birunya masih tampak sangat baru. Sepatunya masih bersih. Kerudungnya terlihat pas dengan wajahnya yang imut, lugu dan manis, terkesan sederhana sekali. Tangannya menggenggam tali tas dengan erat. Ia memandang ke dalam kelas dengan perasaan tak menentu.
Anak-anak sudah mulai bercakap-cakap dengan riuh rendah. Beberapa di antaranya saling mengenal sejak sekolah dasar atau ada juga yang baru mengenal saat bertemu baru tadi. Alana tidak mengenal siapa pun. Ia menarik napas panjang.
“Di mana aku harus duduk?”
Pertanyaan itu hanya berputar di dalam kepalanya. Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya.
“Kenapa berdiri di sini?”
Alana terkejut dan menoleh. Seorang perempuan berdiri di belakangnya.Wajahnya teduh. Usianya tidak bisa Alana taksir berapa, mungkin lebih tua dari mamanya yang ada di rumah. Kerudungnya terlihat rapi sekali dan memakai kacamata kekinian. Perempuan itu membawa beberapa buku dan sebuah map.
“Kamu murid baru?”
Alana mengangguk.
“Namamu siapa?”
“Alana, Bu.”
“Nama lengkap?”
“Alana Safira, Bu.”
Perempuan itu tersenyum. “Nama yang indah, yang artinya permata yang berharga.”
Kemudian ia menunjuk sebuah kursi dekat jendela. “Kalau belum punya tempat duduk, kamu bisa duduk di sana.”
Alana mengikuti arah tangan guru itu.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
“Masuklah. Sebentar lagi kita mulai.”
Alana berjalan menuju kursi tersebut. Entah mengapa, setelah mendengar suara guru itu, rasa gugupnya sedikit berkurang. Perempuan itu kemudian berjalan menuju meja guru. Ia meletakkan buku-bukunya. Kemudian mengambil spidol dan menulis namanya di papan tulis. “Yulisa Nayara” yang artinya cahaya atau penerang.
“Selamat pagi, anak-anak!”
“Selamat pagi, Bu!” Suara murid – murid terdengar hampir bersamaan.
“Saya Yulisa Nayara, sesuai yang tertulis di papan tulis, tapi kalian boleh memanggil saya, Bu Yulisa saja. Mulai hari ini kita akan belajar Bahasa Inggris bersama-sama.”
Bu Yulisa memandang seluruh murid-muridnya dengan sangat ramah tanpa berkedip sedikitpun. Terlihat sekali ia begitu menyukai anak-anak.
“Kalian sekarang sudah menjadi siswa SMP. Mungkin sebagian dari kalian masih merasa seperti anak SD.” Ujar Bu Yulisa sambil tersenyum ceria. Beberapa dari murid-murid tertawa pelan.
“Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu terburu-buru menjadi dewasa. Kalian akan tumbuh sedikit demi sedikit.”
Alana memperhatikan Bu Yulisa yang tidak berbicara seperti guru yang ingin menjelaskan pelajaran. Ada sesuatu dalam cara bicaranya. Tenang dan hangat. Seperti seseorang yang sedang berbicara kepada anak-anaknya sendiri.
“Hari ini Ibu tidak ingin kalian hanya belajar tentang pelajaran.” Bu Yulisa tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Ibu ingin mengenal kalian dulu satu per satu.”
Ia kemudian meminta setiap murid memperkenalkan diri. Satu demi satu maju ke depan. Ketika tiba giliran Alana, gadis itu berdiri dengan gugup. Alana berjalan ke depan.
“Nama saya Alana Safira.”
“Umur?” tanya Bu Yulisa.
“Dua belas tahun.”
“Hobinya apa?” tanya beliau lagi.
Alana berpikir sebentar dengan wajah yang penuh kerutan di kening karena mungkin gugup juga.
“Membaca, Bu.”
Bu Yulisa tersenyum. “Bagus. Semoga kamu juga suka membaca kehidupan.”
Alana tidak mengerti maksudnya. Namun, ia tersenyum kecil. setelah kembali ke tempat duduk, ia diam-diam memperhatikan Bu Yulisa. Ia belum tahu bahwa perempuan yang berdiri di depan kelas itu kelak akan menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Ia juga belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ia masih akan mengingat pagi itu. Pagi ketika seorang guru bertanya, “Namamu siapa?” Dan sebuah ikatan panjang mulai tumbuh dari pertanyaan sederhana itu.
Tak terasa bel pulang pun berbunyi, hari pertama sekolah membuat Alana bersemangat untuk kembali lagi ke sekolah besok pagi. Tak terasa senyum manisnya mengembang di bibirnya yang mungil setelah mengingat pengalaman pertamanya menjadi siswa SMP justru sangat berkesan sekali, mungkin besok-besok nantinya akan terus berkesan dan menyenangkan seperti hari ini.
Kreator : Yuliati Wardina
Comment Closed: Bab 1 Pertemuan Di Awal Tahun Ajaran
Sorry, comment are closed for this post.