KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 1: THE DAWN’S CALLING

    BAB 1: THE DAWN’S CALLING

    BY 23 Okt 2026 Dilihat: 11 kali
    FRIENDS OF THE DAWN_alineaku

    Angin pagi di Dawnfell membawa aroma tanah basah, dupa kemenyan kuno, dan sesuatu yang tidak bisa Arayan Sartoran jelaskan. Seperti aroma janji.

     

    Dia berdiri di depan gerbang Akademi Sihir Tanah Fajar. Gerbang Dawnstone putih itu menjulang setinggi tiga rumah, diukir dengan relief pertempuran para penyihir 100 tahun lalu. Saat sinar matahari pertama menyentuhnya, batu itu memantulkan cahaya keemasan. Persis seperti namanya.

     

    Jantung Arayan berdegup kencang sampai ke tenggorokan. Tas kanvas di punggungnya ringan sekali. Isinya hanya dua helai jubah tambalan, sebotol ramuan herbal dari ibunya, roti gandum kering, dan surat penerimaan yang sudah lecek karena dia baca tiap malam selama perjalanan 3 hari dari Desa Dawnfield.

     

    “Anak baru! Baris di Lapangan Fajar! Cepat!” teriak seorang senior berseragam biru tua dengan lencana api di dada.

     

    Arayan ikut berlari kecil. Sepatunya yang sudah aus menimbulkan debu. Di sekelilingnya, murid lain datang dengan cara yang jauh lebih megah. Ada yang turun dari kereta kristal ditarik kuda bersayap. Ada yang mendarat anggun dari sapu terbang berukir emas. Ada yang diantar pelayan membawa 3 koper.

     

    Dan ada Arayan. Jalan kaki. Sendirian.

     

    “Nama lo siapa?” tanya suara di sebelahnya.

     

    Arayan menoleh. Anak laki-laki sebayanya. Rambut merah menyala seperti bara, dipotong pendek berantakan. Matanya amber dan tajam. Di pergelangan tangannya ada gelang rune yang berpendar pelan. Percikan api kecil menari-nari di ujung jarinya seakan hidup.

     

    “Arayan,” jawabnya pelan. “Arayan Sartoran.”

    “Rakan Ignis,” kata anak itu sambil menyeringai lebar. “House Ignis. Dari Crimson Tower. Elemen Solar Flame.” Dia melirik jubah Arayan yang kebesaran. “Lo elemen apa?”

    “Belum tahu,” kata Arayan jujur. “Belum diuji.”

    Rakan mengangkat kedua alisnya. “Serius? Baru pertama kali gue denger ada yang belum kebangkitan elemen pas hari pertama. Dari mana lo?”

    “Dawnfield,” jawab Arayan. “Desa di pinggiran. Tiga hari jalan kaki.”

    Rakan bersiul panjang. “Pantes. Denger-denger tahun ini cuma satu kuota buat daerah pinggiran. Berarti lo jago banget ya.”

    Arayan hanya mengangguk. Dia tidak mau bilang bahwa dia hampir tidak lolos tes tulis karena tidak punya uang untuk les mantra.

     

    Bel besar di Menara Fajar berbunyi. 

    TONNNGGGG!!! 

    Dentangnya menggema sampai ke gunung di kejauhan. Getarannya terasa sampai ke tulang.

     

    “Semua murid baru ke tengah lapangan!”

     

    Enam puluh murid baru membentuk setengah lingkaran. Di depan mereka berdiri seorang wanita. Jubah biru tuanya berkibar meski tidak ada angin. Rambutnya disanggul rapi dengan jepit kristal. Di tangannya ada tongkat kristal yang ujungnya berbentuk matahari terbit.

     

    “Saya Professor Miralune,” suaranya tenang tapi terdengar jelas oleh semua orang. “Selamat datang di Dawnfell Academy of Arcana. Tempat para Penjaga Fajar ditempa.”

     

    Professor Miralune mengangkat tongkatnya tinggi. Cahaya keemasan menyapu seluruh barisan, hangat seperti pelukan.

     

    “Hari ini adalah hari terpenting dalam hidup kalian. Hari ini kalian akan melakukan Ritual Pemanggilan. Roh Penjaga Akademi akan memilih elemen kalian. Ingat: jangan memaksa. Jangan memohon. Biarkan Roh itu yang memilihmu. Karena sihir sejati bukan tentang seberapa kuat kau menghancurkan. Tapi tentang apa yang kau pilih untuk lindungi.”

     

    Murid-murid mulai maju satu per satu.

     

    “Lyra Vell! Maju!”

    Gadis berambut pirang melangkah. Dia mengangkat tongkatnya dengan anggun. Dari tanah muncul pusaran air yang membentuk seekor lumba-lumba lalu pecah menjadi percikan.

    “Elemen Lunar Water!” sorak teman-temannya.

     

    “Thorne Blackwood!”

    Anak bertubuh besar dengan wajah datar. Dia menghentakkan kaki. Asap hitam keluar dan membentuk serigala bayangan yang mengaum.

    “Elemen Shadow!”

     

    “Elisa Thorn!”

    Bunga-bunga liar tumbuh dari sela batu.

    “Elemen Nature!”

     

    Giliran Rakan. Dia maju dengan percaya diri. Begitu mengangkat tangan, tanah retak dan semburan api emas meledak ke atas, membentuk burung phoenix kecil yang berputar tiga kali di atas kepalanya sebelum padam.

    “Elemen Solar Flame! House Ignis memang!” teriak beberapa murid bangsawan.

     

    Nama-nama terus dipanggil. Api. Air. Angin. Tanah. Cahaya. Petir.

     

    Dan nama Arayan semakin dekat.

     

    Tangannya berkeringat dingin. Dia menggenggam tongkat kayu Elder Sprout milik kakaknya erat-erat. Kayunya sudah halus karena sering dipegang. Satu-satunya peninggalan Arayan Sartoran sebelum menghilang lima tahun lalu.

     

    “Arayan Sartoran,” panggil Professor Miralune.

     

    Hening.

     

    Beberapa murid berbisik. “Sartoran? Bukannya itu keluarga petani dari Dawnfield?”

    “Dia nggak punya lambang keluarga di jubahnya. Pasti beasiswa.”

    “Elemennya apa ya? Jangan-jangan gagal.”

     

    Arayan berjalan ke tengah lingkaran. Enam puluh pasang mata menatapnya. Jubah coklat keemasannya kebesaran dua ukuran. Warisan kakaknya.

     

    “Tarik napas, Arayan,” bisik Professor Miralune pelan. Hanya dia yang bisa dengar. “Pikirkan alasan terkuatmu berada di sini.”

     

    Arayan memejamkan mata.

     

    Wajah ibunya, Lady Nyara, muncul. Tubuhnya semakin kurus. Batuknya semakin parah. Tabib desa sudah bilang butuh ramuan mahal dari kota. Sawah mereka gagal panen dua musim. Surat dari akademi ini adalah satu-satunya harapan. Beasiswa penuh. Dan gaji sebagai Penjaga Fajar setelah lulus.

     

    “Tolong,” bisiknya dalam hati. “Aku butuh kekuatan. Untuk melindungi Ibu. Untuk melindungi desa.”

     

    Tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Awalnya seperti detak jantung.

     

    Retakan cahaya jingga muncul dari sela-sela batu Dawnstone. Cahaya itu merambat seperti akar, naik ke pergelangan kaki Arayan, ke lutut, ke dada. Hangat. Nyaman. Seperti sinar matahari pagi di ladang.

     

    Murid-murid mulai mundur selangkah.

     

    Cahaya itu kemudian meledak ke atas dan membentuk tiga tangkai gandum emas yang melayang di atas kepala Arayan. Setiap bulirnya berkilau seperti permata. Aromanya memenuhi lapangan. Aroma roti hangat, tanah setelah hujan, dan rumah.

     

    Seluruh lapangan terdiam.

     

    Bahkan api di tangan Rakan padam sendiri.

     

    Professor Miralune menatap dengan mata membesar. Tongkat kristalnya bergetar.

     

    “Earthdawn,” bisiknya. Suaranya pecah. “Elemen Tanah Fajar.”

     

    Gumam mulai terdengar dan semakin keras.

     

    “Mustahil. Itu sudah seratus tahun tidak muncul.”

    “Bukankah itu elemennya Penjaga Pertama? Arayan Sartoran?”

    “Dia petani. Mana mungkin keturunan.”

    “Bohong! Pasti kecurangan!”

     

    Arayan membuka mata, bingung dan takut. Tiga tangkai gandum itu berputar pelan lalu perlahan masuk ke dalam dadanya. Hangat. Seperti ditanam.

     

    “Ini bahaya Bu?” tanya Arayan dengan suara bergetar.

    “Bukan bahaya, anakku,” jawab Professor Miralune. Kali ini suaranya bergetar haru. Dia berlutut setinggi Arayan. “Ini adalah tanda. Tanah Fajar telah memilihmu. Karena hatimu ingin melindungi, bukan menghancurkan. Selamat datang, Pembawa Fajar.”

     

    Kata Pembawa Fajar itu seperti petir.

     

    Rakan menatap Arayan dengan ekspresi aneh. Antara kaget, kagum, dan sedikit iri. “Oke. Jadi lo orang penting ya,” gumamnya. “Berarti gue harus jagain lo biar nggak mati duluan di minggu pertama.”

     

    Arayan belum sempat menjawab, bel peringatan darurat berbunyi. TONNNNG. TONNNNG. TONNNNG.

     

    Tiga kali. Panjang. Mendesak.

     

    Wajah Professor Miralune langsung berubah. Dari balik gerbang utama akademi, kabut hitam mulai merayap masuk seperti ular. Di dalam kabut itu, terlihat siluet-siluet tinggi dengan mata merah menyala dan cakar memanjang.

     

    “The Shadow Coven,” desis seorang guru. “Mereka menyerang saat Ritual.”

     

    “Semua murid, masuk ke Asrama Barat sekarang! Barisan pertahanan aktifkan!” perintah Professor Miralune. Suaranya berubah jadi komando. “Guru, bentuk formasi!”

     

    Tapi matanya tetap tertuju pada Arayan selama sedetik. Ada ketakutan di sana.

     

    Asrama Barat adalah gedung batu besar dengan menara runcing dan jendela sempit. Begitu pintu kayu setebal dua meter itu tertutup, mantra pelindung berwarna keemasan menyelimuti seluruh bangunan seperti kubah.

     

    Di luar, suara benturan sihir, teriakan, dan raungan terdengar samar.

     

    Semua murid baru dikumpulkan di aula besar. Lampu kristal di langit-langit redup. Ada sekitar 60 orang, semuanya pucat dan ada yang menangis.

     

    10 menit kemudian Professor Miralune masuk. Jubahnya sedikit gosong di ujung. Ada goresan di pipinya.

     

    “Ancaman sudah dipukul mundur,” katanya singkat. “The Shadow Coven hanya mengintai. Mereka belum berani masuk lebih dalam.”

     

    “Kenapa mereka datang pas Ritual, Bu?” tanya seorang murid dengan suara gemetar.

     

    Professor Miralune melirik ke arah Arayan. Hanya sedetik. Tapi Arayan menangkapnya.

     

    “Mereka mencari sesuatu,” jawab Professor Miralune. “Dan tugas kita adalah memastikan mereka tidak menemukannya. Mulai malam ini, kurikulum dipercepat. Kalian akan belajar bertahan hidup, bukan hanya teori di kelas.”

     

    Aula jadi riuh. Bisikan tentang Pembawa Fajar menyebar seperti api.

     

    Malam itu Arayan tidak bisa tidur. Dia sekamar dengan Rakan dan dua murid lain di Asrama Barat lantai 2.

     

    “Gue nggak nyangka,” kata Rakan sambil duduk di ranjang atas. Dia tidak bisa diam. “Earthdawn. Sumpah keren banget. Terakhir kali muncul pas perang 100 tahun lalu. Kakek gue cerita.”

     

    Arayan duduk di ranjang bawah, memeluk lutut. “Lo tahu apa tentang itu?”

    Rakan turun dan duduk di lantai. “Cuma legenda. Katanya Earthdawn bisa menumbuhkan kehidupan di tanah mati. Bisa nyembuhin luka, bisa bikin perisai dari akar. Tapi butuh pengorbanan besar. Pemakainya bisa terkuras habis. Bisa mati muda.”

     

    Arayan menelan ludah. “Hebat juga ya.”

     

    “Pintu kebuka,” bisik suara pelan dari pintu.

     

    Seorang gadis berambut perak-biru masuk. Panjang sampai pinggang. Di lehernya ada kalung Moonstone yang berpendar lembut mengikuti napasnya. Ini Serina Lunaris. Dari House Lunaris.

     

    “Professor nyuruh aku ngecek kalian,” kata Serina. Suaranya tenang dan jernih. “Katanya yang elemen langka sering mimpi buruk malam pertama.”

     

    Rakan menyeringai. “Wah perhatian banget. Suka sama Sartoran ya?”

    “Jaga bicara, Ignis,” kata Serina datar. Tapi pipinya sedikit merah. “Arayan, kamu mimpi apa?”

     

    Arayan ragu. “Aku mimpi ladang gandum. Luas banget. Tidak ada ujungnya. Terus ada suara dari dalam tanah bilang ‘Segelnya melemah. Bangunkan aku’.”

     

    Wajah Serina langsung pucat. Dia menggenggam kalungnya erat. “Jangan cerita ke siapa-siapa dulu. Terutama ke guru lain selain Professor Miralune atau Archmage.”

     

    Pagi harinya, latihan dimulai. Lapangan Fajar sudah dibersihkan dari sisa-sisa kabut hitam. Tanahnya masih ada bercak gosong.

     

    “Elemen dasar!” perintah Professor Miralune. “Tunjukkan kendali kalian! Bukan kekuatan!”

     

    Rakan dengan mudah menciptakan dinding api setinggi dua meter. Serina membuat perisai air yang berputar dan memantulkan cahaya. Murid lain juga lancar.

     

    Giliran Arayan. Dia maju, gugup. Enam puluh pasang mata lagi. Dia menutup mata dan mengingat perasaan semalam. Keinginan untuk melindungi. Untuk menumbuhkan, bukan menghancurkan.

     

    “Tumbuh,” bisiknya.

     

    Tanah di depannya retak. Dari sana muncul akar-akar tipis berwarna coklat keemasan yang membentuk setengah lingkaran perisai. Di atasnya, tumbuh tiga tunas gandum kecil yang bergoyang.

     

    Beberapa murid bertepuk tangan. Beberapa mengejek pelan.

     

    “Cuma gitu?” ejek suara dari belakang. Darian Windrale. Anak berambut abu-abu perak dengan jubah paling mewah dan lambang keluarga besar di dada. “Julukan Dawnbearer tapi cuma bisa numbuhin rumput.”

     

    Arayan mengepalkan tangan. “Setidaknya rumput gue bisa ngelindungin orang.”

     

    Darian tertawa sinis. “Coba kalau bisa.”

     

    Sebelum Arayan menjawab, tanah di bawah kaki Darian tiba-tiba dijalar akar. Darian terjatuh dengan wajah menghantam tanah.

     

    “BERHENTI!” bentak Professor Miralune. “Arayan! Kendalikan!”

     

    Arayan kaget. Dia tidak menyuruh akar itu. Akar itu bergerak sendiri karena marah.

     

    “Maaf Bu. Aku tidak,” Arayan buru-buru mengangkat tangan. Akar itu langsung layu dan masuk ke tanah.

     

    Professor Miralune menatapnya lama. “Kekuatanmu merespon emosimu, Arayan. Ingat itu. Earthdawn berbahaya kalau dikendalikan amarah atau ketakutan. Latihan khusus untukmu nanti malam.”

     

    Setelah latihan, Arayan dipanggil ke kantor Archmage Adityvar. Ruangannya di puncak Menara Fajar. Penuh buku tua setinggi langit-langit, bola kristal, dan peta bertabur cahaya.

     

    Archmage Adityvar duduk di belakang meja. Rambutnya putih panjang, janggutnya sampai dada. Matanya biru pucat seperti menyimpan seribu tahun.

     

    “Jadi kau Pembawa Fajar yang baru,” katanya. Suaranya berat. “Aku sudah menunggu 100 tahun, Arayan Sartoran.”

     

    Arayan menunduk. “Kakek saya?”

    Archmage tersenyum tipis dan sedih. “Arayan. Murid terbaikku. Dia yang menyegel Raja Bayangan bersama kami di puncak menara ini. Lalu dia menghilang untuk menjaga segel itu tetap kuat dari dalam.”

     

    “Di mana dia sekarang?”

    “Tidak ada yang tahu.” Archmage berdiri dan berjalan ke jendela. “Tapi karena kau ada di sini, artinya segel itu mulai retak. The Shadow Coven merasakannya. Dan mereka akan terus datang sampai mendapatkanmu. Untuk memecahnya.”

     

    Archmage menyerahkan sebuah buku kulit coklat tua. Sampulnya polos. Begitu disentuh Arayan, buku itu hangat.

     

    “Ini buku mantra dasar Earthdawn. Catatan Arayan. Pelajari. Rahasia. Jangan sampai orang lain tahu kau memilikinya. Terutama mereka.”

     

    Arayan mengangguk. Tangannya gemetar. Begitu dibuka, halaman pertama tertulis dengan tinta emas:

     

    “Untuk mengaktifkan Earthdawn, kau harus menanamkan sepetak hatimu ke dalam tanah. Jika hatimu tulus, tanah akan menjawab.”

     

    Malam itu, di atap Asrama Barat.

     

    Arayan, Rakan, dan Serina duduk berdampingan. Bintang bertaburan seperti butiran garam di langit hitam.

     

    “Jadi kita tim sekarang?” kata Rakan sambil melempar buah apel ke atas dan menangkapnya. “Pedang Fajar, Penjaga Arus, dan Pembawa Fajar. Kedengarannya keren.”

    Serina mengangguk. “Kalau Shadow Coven datang lagi, kita hadapi bersama. Professor bilang kita harus saling jaga.”

     

    Arayan menatap langit. Di kejauhan, di atas Menara Fajar, cahaya jingga di puncak menara berpendar lemah. Seperti lentera yang hampir padam.

     

    “Aku nggak mau ada yang mati karena aku,” kata Arayan pelan.

    Rakan meninju bahunya pelan. “Lah, itu tugas kami sebagai sahabat. Mati bareng, hidup bareng. Lagian lo kan Pembawa Fajar. Tugas lo bikin kita tetap hidup.”

     

    Mereka bertiga tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak datang, Arayan merasa tidak sendirian.

     

    Tapi di kejauhan, di dalam kabut hitam di luar tembok akademi, sepasang mata merah mengawasi. Lord Veykar tersenyum, memperlihatkan gigi runcingnya.

     

    “Akhirnya,” bisiknya. “Pembawa Fajar telah bangun. Dan Segel Padi Emas akan jadi milikku.”

     

    Angin malam membawa bisikannya sampai ke puncak Menara Fajar. Membuat tiga tangkai gandum di dalam dada Arayan berdenyut sekali.

     

    Perang telah dimulai.

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 1: THE DAWN’S CALLING

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021