KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 9: DESA YANG TERBAKAR

    BAB 9: DESA YANG TERBAKAR

    BY 23 Okt 2026 Dilihat: 4 kali
    DESA YANG TERBAKAR_alineaku

    Jam lima sore. Cahaya jingga sore meluncur pelan menembus jendela ruang penyembuh di sayap timur Akademi Sihir Tanah Fajar, jatuh lembut tepat di atas dua ranjang kayu putih yang berdiri berdekatan. Udara di ruangan itu terasa sejuk, namun di bawah selimut tebal, Arayan masih berkeringat dingin. Nafasnya pendek, berat, seolah setiap tarikan nafas harus ditarik dari tempat yang jauh dan gelap.

     

    Sisa-sisa upacara Cermin Memori yang dilakukannya pagi tadi masih terasa berdenyut tajam di belakang kepalanya. Ingatan yang kembali padanya tidak utuh — seperti kepingan teka-teki yang sebagian besar hilang, terselip entah di mana. Dia ingat rasa roti hangat yang dibagikan di halaman desa. Dia ingat bau tanah basah setelah hujan lebat. Dia ingat janji yang diucapkan sambil bertaut jari: “Kita bertiga, selamanya.” Tapi sisanya kabur. Wajah ibu Rakan lenyap, nama guru pertama yang mengajarkan memegang tongkat kayu tak terjelaskan lagi, bahkan alasan mengapa batu kerikil berbentuk kura-kura yang dia temukan sewaktu kecil itu punya lima sisi yang aneh pun tak bisa disusun kembali. Seperti ada tangan tak kasat mata yang perlahan menyapu bersih jejak-jejak itu dari dalam ingatannya.

     

    Di kursi kayu samping ranjang, Rakan duduk bersandar diam. Tangannya tak pernah beranjak menggenggam tangan Arayan yang masih dibalut kain perban tipis. Matanya bengkak dan merah — bukan semata karena menangis, melainkan karena sudah dua hari dua malam ia tak sekalipun memejamkan mata. Kantung matanya gelap, namun tatapannya tak pernah berpaling dari wajah sahabatnya yang terbaring lemah.

     

    “Tidur saja dulu, si pelupa,” bisiknya pelan, suaranya serak dan rendah, seolah takut suara yang lebih keras bisa merobek ketenangan yang tipis ini. Ia menarik selimut Arayan lebih rapat hingga menutupi bahunya. “Aku di sini kok. Kali ini giliran aku yang menjaga. Kamu istirahat saja, biar aku yang menahan mata tetap terbuka.”

     

    Di luar jendela, langit sore di atas Akademi Sihir Tanah Fajar tampak begitu tenang, begitu lembut, seolah tak ada apa pun yang keliru di dunia ini. Awan berwarna keemasan melayang pelan, burung-burung pulang ke sarang, dan angin berhembus lembut membelai dedaunan pohon tinggi di halaman sekolah.

     

    Namun ketenangan itu menipu.

     

    Tak ada satupun orang yang menyadari dua belas titik hitam kecil yang melayang sangat tinggi, tersembunyi di balik lapisan awan tipis, bergerak cepat menuju selatan. Sayap mereka tak mengepak pelan seperti burung biasa — mereka meluncur tajam, membelah udara tanpa suara, dan di tengah jingga senja, mata mereka berkedip merah menyala, persis seperti bara api yang tak pernah padam.

     

    Itu pasukan gagak hitam milik Lord Veykar.

     

    Di puncak menara tertinggi akademi, Archmage berdiri diam. Teropong kuno bertatahkan perak diangkatnya perlahan ke mata. Saat lensanya menangkap bentuk dua belas bayangan itu, nafasnya tertahan. Kerutan di dahinya makin dalam, makin berat.

     

    “Tidak mungkin…” bisiknya pelan, namun penuh kecemasan yang dalam. “Dia tidak menuju benteng… dia mengejar tanah kelahirannya.”

     

    Tanpa menunggu sedetik pun lagi, Archmage berbalik dan berlari turun tangga batu yang berputar, jubah panjangnya berkibar liar di belakangnya.

     

     

     

    Desa Dawn Field selalu tampak seperti lukisan yang tak pernah berubah, setiap kali matahari mulai turun ke perbatasan langit.

     

    Ladang gandum yang membentang luas berwarna kuning keemasan, bergoyang berirama saat angin lewat pelan, seolah laut emas yang bergerak lembut. Rumah-rumah kayu beratap jerami berbaris rapi di sepanjang jalan tanah, asap tipis naik perlahan dari cerobong dapur, membawa serta aroma roti gandum yang baru matang dan kuah sayur hangat. Anak-anak berlarian di sepanjang pematang ladang, tertawa riang sambil mengejar layang-layang sederhana yang dibuat dari lembaran daun lebar. Ibu-ibu menjemur padi di halaman depan, bercengkrama sambil menata keranjang buah. Semuanya terasa damai, sederhana, dan hangat — persis seperti kenangan yang tersimpan paling dalam di hati setiap orang yang pernah lahir dan tumbuh di sini.

     

    Di tengah desa, di bawah naungan pohon tertua yang rindang dan lebat, duduk seorang wanita tua. Rambutnya sudah sepenuhnya berwarna putih, kulit keriput menandai panjangnya waktu yang ia lewati, punggungnya sedikit membungkuk — namun matanya tetap tajam dan jernih, seolah dia bisa melihat apa yang tak tampak bagi mata orang biasa. Penduduk desa memanggilnya Nenek Elara. Dia bukan penyihir agung, bukan penguasa sihir hebat. Dia hanya penjaga warisan tanah ini. Dia tahu mantra sederhana untuk melindungi batas ladang, doa agar tanaman tumbuh lebih subur, dan cara merawat tempat peristirahatan terakhir orang-orang yang dicintai desa ini.

     

    Sore itu, dia sedang membersihkan halaman pemakaman kecil di pinggir desa. Di antara gundukan tanah yang tertata rapi, ada satu makam yang paling sering didatangi, paling teliti ia rawat. Batu nisannya sederhana saja — batu sungai yang halus dan bulat, di ukir tangan dengan tulisan sederhana: “Untuk Dia Yang Memberi Fajar.”

     

    Itu makam ibu Arayan.

     

    Nenek Elara menyapu daun-daun kering yang jatuh menutupi permukaan tanah di atasnya, lalu meletakkan seikat bunga liar berwarna putih bersih yang baru saja ia petik di pinggir hutan.

     

    “Kau pasti bangga sekali padanya, kan?” bisiknya lembut, suaranya bergetar pelan saat menyentuh permukaan batu yang dingin itu. “Anakmu tumbuh menjadi anak yang berhati kuat. Dia belajar di tempat yang kau harapkan. Dia melindungi orang yang kau cintai. Dia menjadi cahaya, persis seperti yang kau doakan setiap malam.”

     

    Angin sore yang biasanya selalu berhembus lembut, tiba-tiba berhenti sepenuhnya.

     

    Udara menjadi diam, sunyi, berat. Daun-daun di pohon raksasa di atas kepalanya berhenti bergoyang seketika. Seolah waktu sendiri ikut menahan napas.

     

    Nenek Elara mengangkat wajah perlahan. Kulit lehernya merinding seketika.

     

    Langit yang tadi penuh warna keemasan dan jingga, perlahan berubah kelabu — bukan karena awan hujan datang, melainkan karena sesuatu yang gelap dan besar sedang menutupi cahaya matahari dari atas.

     

    Dia mendongak tinggi-tinggi.

     

    Dua belas titik hitam.

     

    Titik-titik itu membesar dengan cepat, turun makin rendah, makin dekat. Dalam sekejap mata, bentuk mereka terlihat jelas — bukan burung biasa. Setiap tubuhnya sebesar anak kambing, bulu hitam pekat seperti arang yang baru padam, mata menyala merah terang, dan dari paruh terbuka mereka keluar asap tipis berbau belerang tajam.

     

    Anak-anak yang bermain di ladang terdiam serentak. Seorang ibu yang sedang melipat kain jemuran berhenti bergerak.

     

    “Apa itu…?” suara anak kecil bergetar pelan.

     

    Gagak pertama menukik tajam ke bawah.

     

    Bukan ke arah orang-orang. Ia meluncur lurus menuju lumbung gandum terbesar di tengah desa — tempat penyimpanan makanan yang cukup untuk memberi makan seluruh penduduk desa selama satu tahun penuh.

     

    Saat ujung paruhnya menyentuh atap jerami kering itu…

     

    Duar!

     

    Api meledak.

     

    Bukan api biasa yang berwarna merah atau oranye. Ini api berwarna hitam pekat, dengan pinggiran yang menyala merah darah. Api itu tak sekadar membakar — ia memakan. Dalam hitungan detik saja, bangunan besar itu lenyap, berubah menjadi butiran debu hitam yang beterbangan tertiup angin. Tak ada sisa kayu, tak ada sisa gandum — seolah benda itu tak pernah ada sama sekali.

     

    Teriakan panik meledak di seluruh penjuru desa.

     

    “Api! Ada api aneh!”

    “Lari! Semuanya lari ke lapangan luas!”

    “Tolong anak-anak!”

     

    Satu demi satu, gagak-gagak itu menyambar turun. Yang kedua menghantam deretan rumah kayu di pinggir jalan utama. Yang ketiga meledakkan balai desa tempat warga berkumpul. Yang keempat menuju sumur utama — sumber air bersih desa itu. Setiap kali paruh mereka menyentuh sesuatu, api hitam itu meletus dan menghabiskan apa saja yang ada di bawahnya.

     

    Warga desa berusaha memadamkan dengan ember air yang mereka ambil tergesa-gesa. Namun saat air itu menyentuh lidah api hitam, air itu langsung mendidih, menguap seketika tanpa menyisakan sedikitpun kelembaban. Ini bukan api yang diciptakan dunia biasa. Ini api kutukan kuno milik Veykar — api yang membakar bukan sekadar benda, melainkan juga ingatan, kehangatan, dan ikatan yang mengikat tanah ini.

     

    Nenek Elara berdiri gemetar di samping makam itu. Dia tahu apa ini. Dia pernah mendengar cerita ini dari mulut ibu Arayan bertahun-tahun lalu — tentang sihir hitam yang datang dari utara, tentang kekuatan yang tak tahu belas kasihan, tentang bayangan yang memburu sesuatu yang tersimpan di dalam tanah ini.

     

    “Semua orang berkumpul di tanah lapang! Jangan coba padamkan apinya! Jangan mendekat! Api itu menghisap apa saja yang hidup!” teriaknya sekuat tenaga, suaranya pecah dan serak, namun berusaha terdengar tegas.

     

    Dia mengangkat tongkat kayu tua yang sudah retak di banyak bagian — tongkat warisan penjaga desa sejak turun-temurun. Ia menghantamkan ujungnya ke tanah di depannya.

     

    “Bumi bangun: Dinding Pelindung Tanah!”

     

    Tanah di depannya bergerak, naik perlahan membentuk dinding lumpur setinggi dada, tebal namun sederhana. Jauh lebih lemah dibandingkan apa yang bisa dipanggil penyihir hebat, jauh lebih tipis dan rapuh dibandingkan kekuatan yang dimiliki Arayan sekarang. Tapi bagi Nenek Elara, ini semua yang ia punya.

     

    Satu gagak besar meluncur lurus ke arah makam. Semprotan api hitam menghantam dinding tanah itu. Dinding itu bergetar hebat, menghitam, berasap — namun berdiri. Makam di belakangnya tetap utuh.

     

    Namun di antara dua belas makhluk itu, ada satu yang paling besar, paling gelap, matanya paling menyala tajam. Ia tidak ikut menyerang rumah atau ladang. Ia mendarat perlahan tepat di depan dinding tanah yang mulai retak itu, melipat sayapnya lebar-lebar.

     

    Dari paruhnya yang terbuka, terdengar suara. Bukan suara burung. Bukan suara binatang. Suara berat, dingin, dan penuh kebencian — suara yang diketahui setiap orang yang pernah mendengar nama itu:

     

    “Penjaga tua yang setia… Serahkan batu yang tersimpan di bawah makam itu. Batu jantung Dawn Field yang asli. Maka aku akan biarkan separuh desa ini tetap berdiri.”

     

    Nenek Elara meludah ke tanah di hadapannya, tangannya gemetar namun matanya tak berkedip sedikit pun.

     

    “Kau takkan pernah punya bagian dari tanah ini, Veykar! Tanah ini tumbuh dari keringat dan kasih sayang orang-orang yang hidup di sini. Tanah ini mengingat siapa yang mencintainya. Tanah ini takkan pernah tunduk pada bayangan yang tak punya hati!”

     

    Makhluk itu berteriak panjang — jeritan yang menusuk telinga, membuat udara bergetar, membuat kaca jendela yang tersisa pecah berkeping-keping.

     

     

     

    Sementara itu, jauh di selatan, di kamar penyembuh Akademi Sihir Tanah Fajar…

     

    Arayan terbangun mendadak. Matanya terbuka lebar, napasnya tersentak kasar.

     

    “DESAKU! DAWN FIELD!”

     

    Dia duduk tegak seketika, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Di dalam kepalanya, bukan mimpi — dia melihat. Dia merasakan. Dia merasakan tanah tempat dia lahir dan tumbuh tiba-tiba panas, bergetar, kesakitan. Dia merasakan ladang gandum emas yang pernah dia lalui setiap pagi berubah jadi debu. Dia merasakan rumah kecil tempat ibunya dulu menyisir rambutnya sebelum berangkat sekolah perlahan lenyap tertelan api hitam.

     

    “Rakan! Serina!” teriaknya parau, tangannya meraba udara mencari pegangan.

     

    Rakan yang tadi hampir tertidur di kursi langsung melompat berdiri. “Apa?! Apa yang terjadi?! Mimpi buruk lagi?!”

     

    “Bukan mimpi!” Arayan menatapnya tajam, matanya penuh ketakutan yang nyata. “Tanah itu… menjerit! Aku bisa merasakannya! Tanahku sedang terbakar! Dia sedang dihancurkan!”

     

    Tepat saat itu, pintu ruangan terbanting keras sampai engselnya berderit tajam. Archmage masuk tergesa-gesa, nafasnya berat, di belakangnya Serina sudah berdiri tegak dengan tongkat sihir di tangan.

     

    “Arayan! Kau juga merasakannya, bukan?” wajah Archmage serius, berat. “Veykar menyerang Desa Dawn Field. Sekarang juga.”

     

    Arayan langsung menarik selang obat di lengannya, merobek perban di kepalanya tanpa peduli lukanya kembali berdarah pelan.

     

    “Kita harus ke sana. Sekarang.”

     

    “Kau belum pulih!” Profesor Miralune segera maju menahannya, wajahnya cemas. “Sihirmu masih lemah. Tubuhmu baru saja menanggung beban yang seharusnya tak bisa ditanggung siapa pun. Kalau kau bergerak sekarang, kau bisa jatuh tak sadarkan diri sebelum sampai di gerbang desa.”

     

    Arayan berhenti sejenak. Dia menunduk, telapak tangannya menyentuh lantai batu di bawah kakinya — lantai yang sebagian terbuat dari tanah yang dibawa dari desa kelahirannya dulu.

     

    Biasanya tanah ini terasa hangat. Lembut. Berdenyut pelan seperti detak jantung teman lama.

     

    Sekarang dingin. Bergetar. Sedih. Seolah menangis pelan di bawah telapak tangannya.

     

    “Tanah ini bagian dari desaku, Profesor,” ucapnya pelan, namun tegas dan tak terbantahkan. “Kalau desa itu hilang, kalau tempat itu lenyap… aku bukan lagi siapa-siapa. Bukan penyihir tanah. Bukan murid akademi. Hanya anak laki-laki yang bahkan tak ingat lagi wajah ibunya, dan tak punya tempat pulang.”

     

    Dia mendongak menatap Archmage lurus-lurus.

     

    “Tolong aku. Pinjamkan kekuatanmu. Buka jalan pulang.”

     

    Archmage diam sejenak, menimbang bahaya yang menganga lebar di depan mereka. Lalu perlahan dia mengangguk pelan.

     

    “Kau tahu resikonya. Perjalanan jarak jauh lewat gerbang tanah butuh ingatan yang kuat, tempat yang kau kenal sampai ke tulang sumsum. Sedangkan kau… banyak hal penting yang sudah hilang dari kepalamu.”

     

    Arayan menoleh sebentar ke arah Rakan, lalu menatap lurus ke arah selatan, seolah pandangannya bisa menembus dinding, menembus jarak jauh, menembus langit yang kini tertutup asap hitam.

     

    “Aku mungkin lupa banyak hal,” ucapnya tenang. “Tapi aku tak pernah lupa bau tanah desaku setelah hujan turun. Aku tak pernah lupa rasa air sumur yang kami minum setiap hari. Aku tak pernah lupa dimana ibuku berbaring menunggu. Hal-hal itu tak tersimpan di kepala saja… itu mengalir di darahku. Takkan pernah hilang.”

     

    Rakan melangkah maju berdiri di samping kanan Arayan tanpa ragu sedikitpun. Wajahnya serius, lelahnya hilang seketika.

     

    “Gue ikut. Ingat janji? Tim selamanya? Lu pikir gue bakal diam saja lihat lu lari masuk api sendirian?”

     

    Serina melangkah ke sisi kiri, tongkatnya sudah bersiap memancarkan cahaya biru lembut. “Sihir airku mungkin tak bisa melawan sihir hitam sepenuhnya… tapi aku bisa menahan, melindungi, dan membantu. Aku ikut.”

     

    Profesor Miralune menghela nafas panjang, lalu senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah. Dia melangkah maju juga, meletakkan kedua tangannya di bahu Arayan.

     

    “Murid-muridku yang keras kepala… Baiklah. Kalau kalian sudah memutuskan, aku pun tak akan tinggal diam sendirian.”

     

    Archmage mengangkat tongkat agungnya tinggi ke udara, lalu menghantamkan ujungnya kuat ke lantai batu.

     

    “GERBANG TANAH — BUKA JALAN KE DAWN FIELD!”

     

    Lantai di bawah mereka bersinar terang, warna emas lembut — warna tanah desa itu sendiri. Cahaya itu melebar perlahan, melingkupi keempat orang itu, mengangkat mereka perlahan ke udara sebelum menghilang sepenuhnya ke dalam pusaran cahaya.

     

     

     

    Di Desa Dawn Field, di tengah kepungan api hitam yang sudah melahap separuh bangunan desa…

     

    Nenek Elara sudah berlutut di tanah yang bergetar. Dinding tanah pelindungnya retak besar, hampir runtuh. Tongkat kayunya patah jadi dua di tangannya. Gagak pemimpin itu sudah berdiri tepat di atas makam ibu Arayan, cakarnya mengorek tanah di sekitar batu nisan, mencari apa yang tersimpan jauh di bawahnya.

     

    Tiba-tiba tanah di belakang makam itu meletus pelan, memancarkan cahaya emas terang yang menyilaukan mata.

     

    Empat sosok muncul dari dalam cahaya itu.

     

    Di paling depan berdiri Arayan. Tubuhnya masih lemah, perban di kepala dan lengan sudah lepas dan berdarah, namun matanya bersinar keemasan — terang, tajam, penuh kemarahan yang dingin dan dalam.

     

    Di sebelah kanannya, Rakan sudah siap dengan kedua telapak tangan memancarkan api merah menyala yang hangat dan nyata, api yang bukan milik kegelapan.

     

    Di sebelah kiri, Serina mengangkat tongkatnya tinggi, pusaran air bersih berputar kencang di atas kepalanya, siap disebarkan kapan saja.

     

    Dan di belakang mereka, Profesor Miralune mengeluarkan lapisan cahaya putih pelindung yang meluas, menutupi seluruh area makam dan warga yang berkumpul di dekatnya.

     

    Arayan melangkah maju satu langkah.

     

    Dia melihat ladang gandum keemasan yang kini berubah jadi abu hitam. Dia melihat rumah-rumah kayu yang dulu hangat kini tinggal kerangka terbakar. Dia melihat warga desa berlutut, menangis, terluka. Dia melihat Nenek Elara yang sudah tua dan lemah, berdarah di samping makam yang dijaganya puluhan tahun.

     

    Darah di tubuhnya terasa mendidih — bukan merah biasa, tapi bercahaya keemasan dari dalam.

     

    Dia tidak berteriak marah. Dia berteriak atas nama tanah itu sendiri.

     

    “VEYKAR!!”

     

    Suaranya bergema, membelah asap tebal, menembus langit yang kelabu.

     

    Dia menjatuhkan kedua telapak tangannya kuat-kuat ke permukaan tanah kelahirannya.

     

    “SIHIR TANAH: KEBANGKITAN DAWN FIELD!”

     

    Seluruh permukaan tanah desa itu bergetar hebat sekali, lalu bersinar serentak. Dari celah tanah yang retak, dari sela-sela puing bangunan, dari ladang yang sudah hangus — tumbuh tunas-tunas gandum berwarna emas terang, tumbuh secepat kilat, melilit erat kaki dan sayap setiap gagak hitam yang ada di sana, menarik mereka turun perlahan, menekan mereka ke bumi.

     

    Api hitam yang memakan segalanya kini bertemu dengan cahaya emas itu. Dan untuk pertama kalinya… api itu padam. Bukan dipadamkan air. Bukan dipadamkan sihir lain. Tapi dipadamkan karena tanah itu sendiri menolak dibakar lagi. Tanah itu menolak dihancurkan.

     

    Pasukan gagak itu berteriak histeris, tubuh mereka berubah jadi asap hitam pekat, lalu diserap masuk ke dalam tanah, disaring, dibersihkan, dan berubah menjadi cahaya lembut yang kembali meresap ke bumi.

     

    Hanya satu makhluk yang lolos — sang pemimpin. Ia melepaskan diri dari lilitan akar emas, terbang tinggi secepat kilat ke arah utara, menjauh. Di paruhnya terselip sebongkah batu kecil berkilauan — bagian dari inti kekuatan tanah ini yang sempat ia renggut sebelum semuanya tertutup.

     

    Arayan hendak mengejar, namun kakinya lemas seketika. Tubuhnya terhuyung jatuh berlutut di atas tanah yang masih hangat dan bergetar pelan. Rakan segera melangkah cepat menahan bahunya agar tak jatuh tersungkur sepenuhnya.

     

    Nenek Elara merangkak mendekat, lalu memeluk bahu anak itu erat-erat, air mata menetes membasahi lengan baju Arayan.

     

    “Kau pulang… Nak… kau benar-benar pulang ke Dawn Field…”

     

    Arayan menatap sekelilingnya. Desa itu rusak. Sebagian besar bangunan hilang. Ladang luas tak lagi emas sepenuhnya. Tapi ia masih ada. Tanahnya masih berdiri. Tunas baru sudah mulai tumbuh dari sela-sela puing.

     

    Dia berhasil. Desa ini selamat.

     

    Namun hatinya berat. Dia tahu. Veykar sudah mengambil apa yang ia cari. Sepotong kecil inti jiwa desa ini sudah dibawa pergi ke utara.

     

    Dan jauh di sana, di Benteng Tulang yang dingin dan gelap…

     

    Lord Veykar berdiri di tengah ruangan batu yang kosong. Tangannya meraih bungkusan kecil yang dikirim pasukannya. Dia memegang batu itu, merasakan getaran lembut yang masih tersisa di dalamnya. Lalu dia tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh perhitungan.

     

    “Bagus sekali, Arayan dari Akademi Sihir Tanah Fajar…” bisiknya pelan ke udara kosong. “Kau tumbuh jauh lebih cepat dari yang kuduga. Semakin kuat… semakin berharga. Maka pertemuan terakhir kita nanti… akan jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.”

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 9: DESA YANG TERBAKAR

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021