KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 8: INGATAN YANG HILANG

    BAB 8: INGATAN YANG HILANG

    BY 23 Okt 2026 Dilihat: 5 kali
    INGATAN YANG HILANG_alineaku

    Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, Akademi Tanah Fajar terlihat benar-benar cerah.

     

    Kabut hitam pekat yang selama ini menggantung rendah di atas menara-menara batu, yang membuat langit selalu tampak kelabu suram seolah sore mau hujan terus-menerus, kini telah lenyap sepenuhnya. Sinar matahari pagi yang hangat menembus jendela-jendela kaca tinggi, menyebar cahaya ke lantai batu yang dingin dan lembab. Burung-burung kecil kembali berkicau riang di taman tengah gedung. Angin lembut membawa bau rumput basah, tanah lembab, dan aroma roti gandum yang baru saja dipanggang dari dapur besar di sayap timur.

     

    Di seluruh penjuru akademi, orang-orang akhirnya bernapas lega. Murid-murid keluar dari kamar asrama dengan wajah cerah, saling berpapasan sambil tersenyum, berbisik-bisik bahwa ancaman besar akhirnya berlalu. Para guru dan profesor berjalan tegak kembali, berhenti sejenak di lorong untuk mengangguk satu sama lain — lelah terlihat jelas di bawah mata mereka, tapi di balik kelelahan itu ada kelegaan yang nyata. Semua orang berpikir: kutukan sudah berakhir, bahaya sudah pergi.

     

    Namun di ruang penyembuh lantai dua gedung utara, pagi itu terasa jauh lebih dingin daripada musim dingin terparah sekalipun.

     

    Tirai putih tipis bergerak pelan tertiup angin sejuk dari luar. Di atas dua kasur kayu putih yang diletakkan berdampingan, dua sahabat duduk saling berhadapan — namun jarak di antara mereka terasa jauh lebih lebar daripada sekadar ruang kosong di antara kasur.

     

    Di kasur kanan: Rakan. Tubuhnya sudah jauh lebih baik. Warna kulit yang kemarin pucat pasi dan dingin kini perlahan kembali hangat dan cerah. Garis hitam mengerikan yang merayap naik dari leher ke arah wajahnya sudah hilang total, seolah tidak pernah ada sama sekali — tidak meninggalkan bekas luka, tidak meninggalkan jejak apa pun. Tapi matanya? Matanya merah sembab, bengkak, berair, seolah dia menangis semalaman tanpa berhenti, tanpa tidur sedikitpun. Tatapannya tertuju lurus ke arah Arayan, penuh harap sekaligus penuh ketakutan.

     

    Di kasur kiri: Arayan. Kepalanya dibalut perban tipis di bagian dahi. Telapak tangan kirinya juga diperban tebal — bekas irisan pisau batu yang meneteskan darah emas kemarin malam. Wajahnya tenang, bersih, tapi kosong. Tatapannya lembut, sopan, jernih… namun asing. Dia menatap Rakan persis seperti menatap orang yang baru pertama kali dilihatnya dalam hidup. Tidak ada kilatan pengenalan, tidak ada keakraban, tidak ada cahaya khusus yang dulu selalu muncul setiap kali mata mereka bertemu.

     

    “Jadi… kau beneran nggak inget sama sekali?” tanya Rakan pelan, suaranya bergetar halus. Ini sudah keempat kalinya dia mengulang pertanyaan yang sama sejak Arayan sadar satu jam yang lalu. Setiap kali bertanya, harapannya makin runtuh sedikit demi sedikit.

     

    Arayan mengerutkan dahi, berusaha sekuat tenaga meraba-raba di dalam kepalanya. Dia memejamkan mata rapat, mengernyitkan kening, mencoba menarik apa saja yang tersisa — satu nama, satu suara, satu kejadian kecil… tapi tidak ada apa-apa. Hanya ruang luas, sunyi, kosong.

     

    Dia membuka mata perlahan, lalu menggeleng pelan dengan tatapan penuh penyesalan yang tulus.

     

    “Maaf… Aku… aku merasa di lubuk hati paling dalam, aku seharusnya mengenalimu. Setiap kali melihatmu sedih atau menangis, dadaku terasa sesak dan sakit sekali — seolah ada bagian tubuhku sendiri yang terluka. Tapi… saat aku mencoba mencari tahu siapa kau, apa yang pernah kita lalui… kepalaku kosong. Tidak ada gambar. Tidak ada cerita. Tidak ada apa-apa.”

     

    Rakan tertawa pendek — suara yang mirip sekali dengan isakan yang ditahan mati-matian di tenggorokan. Bahunya merosot turun perlahan.

     

    “Kosong ya… Astaga, Arayan… Kau benar-benar buang semua kenangan tentangku… semuanya… kau bakar habis sampai bersih, ya?”

     

    Pintu ruangan terbuka pelan. Serina masuk membawa nampan berisi dua mangkuk sup hangat dan sepotong roti lembut. Wajahnya juga pucat dan lelah, matanya merah, rambutnya terurai berantakan — jelas dia juga tidak menutup mata semalaman. Begitu melihat pemandangan di depannya, langkahnya terhenti di ambang pintu. Dia melihat tatapan sopan Arayan, dan tatapan hancur Rakan, dan rasanya hatinya ikut terbelah dua.

     

    Dia meletakkan nampan itu di meja kecil dengan bunyi agak keras, berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar.

     

    “Makan dulu… Kalian berdua harus makan dan pulihkan tenaga. Tubuh kalian masih lemah sekali,” ucapnya cepat, memalingkan wajah agar mereka tidak melihat dia menahan air mata.

     

    Tidak ada yang menyentuh makanan itu. Uap panas perlahan hilang, mendingin tanpa disentuh.

     

    Tiba-tiba Rakan berdiri. Kakinya masih agak goyah, tapi dia tidak peduli. Dia merogoh saku bagian dalam jubah lamanya yang tergantung di sandaran kursi. Dari sana dia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sudah lama disimpan dengan hati-hati.

     

    Sebuah batu kali biasa. Ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak kecil. Permukaannya kasar, penuh goresan halus bekas digenggam bertahun-tahun. Di atasnya ada ukiran yang sangat jelek dan tidak rata — bentuknya mencoba jadi kura-kura, tapi kakinya ada lima, tempurungnya miring, kepalanya terlalu besar. Benda jelek yang tak bernilai bagi siapa pun… kecuali mereka berdua.

     

    Dia meletakkan batu itu perlahan di atas selimut dekat tangan Arayan.

     

    “Ini… Kau yang buat ini buat aku,” kata Rakan, suaranya pecah pelan. “Dua bulan lalu. Pas kita masuk Hutan Larangan buat ujian bertahan hidup. Aku panik parah karena nggak bisa nyalain api sama sekali, takut gelap, takut dingin… Kau diam saja, terus duduk di sebelahku tiga jam penuh, mengukir batu keras ini pakai pisau tumpul. Tanganmu berdarah-darah terus. Terus pas selesai kau bilang… kau bilang ini jimat pelindung — kura-kura itu lambat, tapi kuat, selalu selamat sampai tujuan. Biar aku nggak mati konyol. Kau ngedumel sepanjang waktu karena batu ini keras banget, bikin tanganmu sakit. Kau… kau ingat nggak? Sedikit saja?”

     

    Arayan mengambil batu itu perlahan. Menggenggamnya erat. Batu itu hangat — sudah lama disimpan di saku dekat dada Rakan. Ada rasa aneh menjalar dari telapak tangannya ke seluruh lengan, ke dada, ke leher… rasa akrab, rasa nyaman, rasa seperti pulang ke rumah. Tapi tidak ada bayangan kejadian itu. Tidak ada suara Arayan muda yang mengeluh. Tidak ada wajah Rakan yang tersenyum lega. Hanya rasa hangat yang datang entah dari mana.

     

    Dia menggeleng lagi, kali ini lebih pelan, lebih lembut, lebih menyedihkan.

     

    “Tidak… aku tidak ingat pernah membuatnya… Maaf…”

     

    Rakan meninju meja kecil di samping kasur. Mangkuk sup bergeser, tumpah sedikit, cairan hangat membasahi kain alas meja.

     

    “SIALAN! Harusnya ada sisa! Nggak mungkin hilang bersih semua! Ada bagian yang pasti tertinggal!”

     

    “RAKAN, CUKUP!” Serina langsung melangkah cepat, menarik lengan pemuda itu agar tenang. “Kau tidak bisa memaksa ingatan yang sudah dibakar dengan sihir pengorbanan tertinggi! Itu bukan sekadar lupa biasa — itu sengaja dikorbankan, diputus, dihapus dari akarnya! Kau malah menyakiti Arayan kalau kau terus menuntutnya!”

     

    Pintu terbuka lagi. Profesor Miralune dan Archmage masuk bersama. Wajah Profesor masih tampak sangat lelah, tapi langkahnya mantap. Archmage membawa sebuah kotak kayu tua berat yang dibungkus kain beludru hitam.

     

    “Apa yang terjadi di sini?” tanya Archmage pelan namun tegas, matanya melihat sekilas suasana ruangan yang penuh kesedihan itu.

     

    “Dia lupa aku sepenuhnya, Kepala Sekolah!” Rakan menoleh, dan kali ini air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh bebas di pipinya. “Dia nggak ingat batu ini, nggak ingat roti di malam pertama, nggak ingat apapun yang pernah kita lalui bareng! Pasti ada cara balikin kan? Sihir hebat bisa apa saja kan?!”

     

    Archmage diam sejenak, menatap mereka berdua dengan pandangan penuh belas kasih yang dalam. Lalu dia meletakkan kotak kayu itu di meja, membuka kain penutupnya perlahan.

     

    Di dalamnya, beralaskan kain beludru merah tua, terbaring sebuah cermin bundar seukuran piring makan. Bingkainya terukir dari akar pohon kuno yang melilit satu sama lain, permukaan kacanya penuh retakan halus seperti jaring laba-laba tua. Namun di balik retakan itu, cahaya biru samar bergerak pelan seperti air yang mengalir di dalam kaca.

     

    “Ini Cermin Memori,” kata Archmage pelan, suaranya bergema lembut di ruangan sunyi. “Peninggalan pendiri akademi ini ratusan tahun lalu. Cermin ini tidak memantulkan wajah — ia memantulkan jejak yang tersimpan di dalam tanah.”

     

    “Tanah?” Serina mengerutkan dahi, bingung.

     

    “Benar,” tambah Profesor Miralune sambil duduk pelan di tepi kasur Arayan. “Kau tahu betul: seluruh bangunan akademi ini dibangun di atas lapisan tanah yang diangkut langsung dari Desa Dawn Field — desa kelahiran keturunan Earthdawn, tempat Arayan lahir, tempat ibunya dimakamkan, tanah asalnya juga tanah kelahiranmu, Rakan. Tanah itu punya sifat istimewa: ia merekam segala sesuatu yang terasa sangat kuat di atasnya. Kebahagiaan mendalam, kesedihan yang tak tertahankan, ikatan jiwa yang tak terputus… dan terutama: pengorbanan.”

     

    Dia menatap Arayan dengan lembut.

     

    “Semalam kau melakukan pengorbanan terbesar yang pernah tercatat di atas tanah ini selama seratus tahun lebih. Tanah itu menyerap semuanya — sebelum kau bakar ingatan itu, tanah sudah merekamnya utuh. Cermin ini bisa mengeluarkan jejak itu kembali. Bukan untuk ditanam paksa ke kepalamu, tapi untuk kau lihat, rasakan, temukan lagi dari lubuk hatimu sendiri.”

     

    “Jadi… kita bisa lihat lagi apa yang dia korbankan?” tanya Serina pelan, matanya berbinar penuh harapan.

     

    “Bisa,” jawab Archmage, menatap lurus ke mata Arayan. “Tapi aku harus jujur memperingatkanmu: kalau kau masuk ke dalam cermin ini, kau tidak sekadar menonton. Kau akan hidupkan kembali setiap momen itu — rasakan hangatnya, bahagianya, rasa aman yang kau miliki… lalu di akhir, kau akan merasakan lagi saat kau sendiri yang membakar semuanya jadi abu. Kau akan kehilangan mereka sekali lagi. Sakitnya akan berlipat ganda dari yang kemarin. Kau siap menanggungnya?”

     

    Keheningan memenuhi ruangan. Semua mata tertuju pada Arayan.

     

    Arayan menunduk, menggenggam erat batu kura-kura jelek di tangannya. Rasanya hangat, akrab, seolah batu itu punya jiwa. Lalu dia mendongak menatap Rakan — yang berdiri diam, menahan napas, berusaha tidak menangis lagi. Lalu dia menatap Serina, Profesor, dan Archmage.

     

    Perlahan, dia mengangguk tegas.

     

    “Aku lebih baik merasakan sakit karena ingat, daripada hidup selamanya dengan rasa kosong yang tidak tahu apa penyebabnya,” ucapnya pelan tapi jelas, mantap tanpa ragu. “Setiap kali melihat dia sedih, dadaku sakit. Tapi aku tidak tahu alasannya. Itu jauh lebih berat daripada rasa sakit apa pun. Aku mau tahu. Aku mau ingat. Bahkan kalau harus dihancurkan lagi.”

     

    Rakan menghapus air matanya dengan kasar pakai lengan jubah. “Lu yakin beneran, Arayan?”

     

    Arayan tersenyum tipis — senyum lembut yang dulu sering dia berikan hanya untuk Rakan saja.

     

    “Kalau kau memang sahabatku… aku mau mengenalmu lagi. Seutuhnya.”

     

    Profesor Miralune mengangkat tangannya perlahan, merapal mantra rendah dan lembut. Cahaya biru samar dari dalam retakan cermin mulai membesar, menyebar, membentuk tirai cahaya tipis di tengah ruangan, berkilau lembut seolah berisi air yang mengalir.

     

    “Cermin Masa: Buka kembali jejak yang tersimpan.”

     

    Arayan bangkit berdiri perlahan, melangkah maju, lalu menyentuh permukaan kaca yang retak itu dengan telapak tangannya.

     

    Seketika cahaya itu meluap, menelan tubuhnya sepenuhnya.

     

    Dia tidak jatuh. Tidak terasa berat. Hanya terasa melayang masuk ke dalam ingatan yang dulu pernah menjadi miliknya sepenuhnya.

     

    Dunia di sekitarnya berubah. Ruang penyembuh lenyap. Dia kembali menjadi anak kecil berusia dua belas tahun — kurus, baju lusuh, membawa tongkat dari ranting pohon, baru saja tiba dari Desa Dawn Field, sendirian, takut, tidak tahu apa-apa tentang dunia luar.

     

    Pintu kamar asrama terbentur keras sampai debu beterbangan.

     

    “WOI! KAU YANG DAPET KASUR SEBELAH GUE? NAMA GUE RAKAN! KALAU KAU NGOROK GUE BAKAR KASUR KAU!”

     

    Bocah berambut merah berantakan berdiri di sana — berisik, sombong, mulutnya banyak bicara, tapi matanya bersinar tulus dan cerah tanpa niat jahat sedikitpun.

     

    Pemandangan berganti cepat namun jelas, tajam seperti baru terjadi kemarin sore.

     

    Malam pertama. Dingin. Lapar. Bekal habis di jalan. Dia duduk sendirian di pojok ruangan, menahan perih di perut. Lalu sepotong roti gandum hangat diletakkan diam-diam di pangkuannya.

     

    “Ini… sisa doang kok. Bukan karena aku kasihan ya, jangan berlebihan!”

     

    Ganti lagi.

     

    Hujan deras turun menimpa lapangan ujian masuk. Tanah lembab jadi lumpur tebal licin. Dia terpeleset, jatuh telungkup penuh kotoran. Seluruh barisan murid baru tertawa keras, menunjuk-nunjuk, mengejek anak kampung yang tidak tahu apa-apa. Tawa itu menusuk sampai ke tulang. Lalu satu tangan terulur kuat ke arahnya.

     

    “Bego banget sih kamu! Sini pegang tangan gue!”

     

    Satu demi satu kenangan berputar: mereka duduk berdua di atap gedung tinggi menatap langit malam, bercerita mimpi masa depan.

     

    “Nanti gue jadi penyihir api terkuat sedunia! Lu jadi penyihir tanah terkuat! Kita jaga semuanya bareng — Desa Dawn Field, akademi, semua orang yang lemah! Janji ya? Tim selamanya, nggak pernah pisah!”

     

    “Tim selamanya,” jawab dirinya yang dulu sambil tersenyum lebar.

     

    Air mata mulai mengalir deras di pipi Arayan yang ada di dunia nyata. Tubuhnya gemetar hebat seolah menggigil kedinginan di tengah badai salju.

     

    Di luar cermin, Rakan memegang bahu Arayan yang terguncang hebat, suaranya memohon lembut: “Arayan… dengerin gue… kuat dikit lagi… balik ke sini…”

     

    Di dalam cahaya biru, adegan terakhir muncul — malam kemarin.

     

    Dia berdiri di atas tanah yang berasal dari Desa Dawn Field. Dia memegang pisau batu kecil. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu harganya. Dan tanpa ragu, tanpa menyesal, dia memilih melakukannya.

     

    Dia melihat dirinya sendiri mengangkat tangan berdarah emas ke dahi.

     

    “Earthdawn: Pengorbanan Kedua.”

     

    Dan dia melihat dengan mata kepala sendiri — bagaimana semua kenangan indah itu terbakar jadi api emas kecil, lalu berubah jadi abu halus, lalu terbang pergi menjauh, hilang ke kegelapan. Roti itu terbakar. Tangan yang terulur itu terbakar. Janji di atap itu terbakar. Semua yang membuat hidupnya berwarna… di bakar sendiri.

     

    “TIDAK! JANGAN DIBAKAR! ITU MILIK KITA! JANGAN DIAMBIL DARI GUE!” teriak Arayan sekuat tenaga di dalam cermin, suaranya pecah sampai hilang, berusaha meraih kepingan abu yang terbang menjauh — tapi tangannya hanya menangkap udara kosong.

     

    DUAR!

     

    Cermin membelah lebih dalam, retak menjalar ke seluruh permukaannya. Cahaya biru meledak lembut, menyebar ke seluruh ruangan, lalu perlahan padam perlahan seperti lampu yang dimatikan pelan-pelan.

     

    Arayan terlempar mundur, jatuh lemas ke atas kasur. Napasnya tersengal-sengal berat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya sampai jubahnya basah kuyup. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit batu tanpa berkedip.

     

    Rakan langsung berlutut di samping kasur, memegang bahunya, takut dan cemas.

     

    “Arayan… Arayan, lu denger gue?”

     

    Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan.

     

    Perlahan, Arayan menoleh. Matanya yang tadi kosong kini basah penuh air mata, dan di balik air mata itu… cahaya lama mulai kembali. Tatapan yang dulu hilang, kini perlahan menyala lagi — lemah, belum utuh, tapi sudah ada.

     

    Tangannya yang gemetar hebat terangkat pelan, menyentuh wajah Rakan, menyentuh pipinya yang basah air mata.

     

    “Rakan…” suaranya serak, lemah, hampir berbisik, tapi jelas sekali.

     

    Rakan membeku. Nafasnya tertahan di tenggorokan.

     

    “Roti… kau bagi roti itu… malam pertama… waktu aku belum makan tiga hari jalan kaki dari Desa Dawn Field…”

     

    Mata Rakan membesar lebar, tak percaya, bibirnya bergetar tak mampu bicara.

     

    “Dan… di ujian lumpur… kau yang narik aku berdiri… sambil bilang aku bego…” Arayan menangis, air mata mengalir deras tanpa ditahan. “Kau yang selalu ada… dimanapun aku jatuh…”

     

    Dia merentangkan kedua tangannya, gemetar, dan Rakan langsung merangkulnya sekuat tenaga — erat sekali, seolah takut kalau dilepas sedetik saja, Arayan akan hilang lagi ke tempat yang jauh.

     

    “Gue! Itu gue, Arayan! Sahabatmu yang paling berisik, paling bego, paling sayang sama lo! Lu inget lagi! Akhirnya lu inget lagi!” teriak Rakan sambil menangis tersedu-sedu, menaruh dagunya di bahu Arayan.

     

    Serina yang dari tadi berdiri diam menahan napas, akhirnya lari mendekat dan memeluk mereka berdua dari samping, menangis keras tanpa peduli suara atau penampilan.

     

    Profesor Miralune dan Archmage saling bertatapan, menghela nafas panjang dalam — lega, tapi juga berat. Mereka tahu: ingatan itu belum kembali utuh sempurna. Sebagian masih kabur, sebagian masih samar, dan ingatan tentang ibunya masih tertutup rapat. Luka pengorbanan itu masih ada.

     

    Dan di atas meja, cermin yang sudah retak itu belum benar-benar mati. Dari celah retakan terdalam, merayap keluar seutas asap hitam sangat tipis — sisa jejak kutukan Veykar yang ikut terangkat tadi, namun tidak habis dimusnahkan. Asap itu melayang perlahan, menembus dinding batu, naik ke langit, lalu terbang lurus ke utara — menuju Benteng Tulang.

     

    Di ruang singgasana tulang yang dingin dan gelap, Lord Veykar menangkap asap itu di telapak tangannya yang kurus pucat. Dia melihat semuanya: pengorbanan, cermin, ingatan yang kembali sebagian.

     

    Dia tersenyum tipis, dingin dan tajam.

     

    “Dibakar, lalu tumbuh lagi… ikatan ini memang kuat. Tapi sekarang dia sudah kehabisan apa yang paling berharga,” bisiknya pelan. “Tidak ada lagi ingatan untuk dikorbankan. Tidak ada lagi cadangan jiwa. Saatnya menyerang akarnya.”

     

    Dia berjalan ke peta besar di dinding. Jarinya menunjuk satu titik kecil di selatan — hamparan ladang gandum keemasan yang luas dan damai.

     

    Desa Dawn Field.

     

    “Bakar desa itu. Hancurkan sampai rata tanahnya. Ambil apa yang menjadi akar kekuatannya.”

     

    Dia bertepuk pelan. Dua belas ekor gagak raksasa bermata merah menyala melayang keluar dari bayangan.

     

    Jam lima sore. Matahari condong ke barat, melukis langit jingga keemasan.

     

    Di akademi, Arayan tertidur lelap, tubuhnya demam tinggi karena kelelahan luar biasa. Rakan duduk tak beranjak di tepi kasur, menggenggam tangan sahabatnya erat, bisik pelan diantara keheningan: “Tim selamanya.”

     

    Dalam tidurnya, Arayan menjawab samar: “Tim… selamanya…”

     

    Jauh di langit selatan, dua belas bayangan hitam terbang cepat, sunyi, menuju ladang gandum yang damai.

     

    Menuju Desa Dawn Field.

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 8: INGATAN YANG HILANG

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021