BAB 9: TEH UNTUK ORANG YANG BEGADANG KARENA TAKUT
Sudah tiga bulan sejak gadis itu datang.
Namanya Lumi. Umurnya 16 tahun.
Ia kabur dari rumah karena orang tuanya bertengkar tiap malam.
Sekarang giliran dia yang menjaga gubuk.
“Kriiieekkk…”
Jam 2 pagi. Pintu terbuka.
Yang masuk seorang pria berusia 20 tahunan.
Jaketnya basah. Matanya merah.
“Aku… aku nggak bisa tidur,” katanya. “Udah seminggu.”
Lumi menunjuk kursi. “Duduk dulu.”
Di meja, buku kayu terbuka di halaman kosong. Halaman 9.
Lumi menyalakan kompor. Tangannya masih gemetar. Baru pertama kali ia masak sendirian.
“Teh apa?” tanya Alistair dari dapur.
Dia melihat dari jauh. Belum sepenuhnya percaya pada Lumi.
“Teh untuk orang yang begadang karena takut,” jawab Lumi pelan.
Seraphina mengangguk dari kursi goyang. “Bagus. Itu resep pertama kamu.”
Lumi menuang air. Memetik daun melati dari Veylara. Menambahkan seiris jahe.
Tiap gerakan dia ingat kata Nenek Ysra di tulisan pudar itu: Uleni sambil didengarkan.
“Takut apa?” tanya Lumi sambil menuang teh.
Cowok itu diam lama. “Takut gagal. Aku dropout. Orang tuaku nggak tau.”
Uap teh naik. Wanginya menenangkan.
Lumi menyodorkan cangkir. “Minum. Pelan-pelan.”
Pria itu minum. Tegukan pertama, bahunya turun.
“Di rumah gelap,” bisiknya. “Kalau tidur, aku mimpi dimarahi.”
Lumi duduk di seberangnya. “Aku juga dulu gitu. Takut sama suara pintu dibanting.”
Buku di meja menulis sendiri. Tintanya baru.
Resep 9: Teh untuk Orang yang Begadang Karena Takut
Bahan: Air jam 2 pagi, daun melati yang mekar di malam hari, jahe untuk menghangatkan dada, satu pengakuan yang belum pernah diucapkan.
Cara: Seduh di saat paling sepi. Minum sambil ditemani. Jangan tanya kenapa takut. Tanya apa yang bikin capek.
Catatan: Gelap tidak hilang karena ditekan. Gelap hilang karena ada yang mau duduk di dalamnya bersama kamu.
Di bawahnya muncul tulisan kecil, tinta abu-abu:
Terima kasih sudah melanjutkan.
– Nenek Ysra
Cowok itu menangis. Tapi kali ini tidak ditahan.
“Gimana caranya pulang kalau aku malu?”
Lumi mengingat jawaban Seraphina lima tahun lalu.
“Pulang bukan berarti balik ke rumah. Pulang itu ke tempat yang nggak menghakimi kamu.”
Jam empat pagi. Teh habis. Pria itu tertidur di kursi. Untuk pertama kali dalam seminggu.
Lumi menyelimutinya dengan selendang abu-abu. Selendang bekas Seraphina.
Di luar, Veylara berdesir. Daunnya menetes embun cahaya.
Angin membawa bisikan: “Kamu aman.”
Alistair menghampiri Lumi. “Gimana?”
Lumi tersenyum. Capek. Tapi lega. “Kayaknya aku bisa.”
Seraphina dari jauh mengangkat cangkirnya. “Selamat datang sebagai penjaga.”
Pagi datang. Cowok itu bangun. Pamitan.
“Terima kasih. Aku mau coba bicara sama orang tuaku.”
Setelah dia pergi, Lumi membuka buku lagi.
Di halaman 9, ada tambahan coretan tangan anak kecil:
P.S: Besok aku yang masak.
– Tio
Lumi tertawa kecil. Gubuk ini memang tidak pernah sepi lagi.
Pintu kayu berderit.
Kriiieekkk…
Kali ini suaranya bilang: “Giliranmu.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 9 dari novel rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.