BAB 10: JAMU UNTUK IBU YANG DIAM DI DAPUR
Jam 5 pagi.
Lumi bangun karena ada suara ulekan.
_Ulek… ulek… ulek…_
Di dapur, ada seorang ibu. Usianya sekitar 40 tahunan. Rambut dikuncir. Celemek masih dipakai. Tapi matanya kosong. Sudah tiga jam dia mengulek kunyit tanpa henti.
“Namanya Bu Nyra,” bisik Seraphina pada Lumi. “Dua minggu di sini, dia tidak pernah berbicara.”
Alistair menyodorkan air kepada Lumi. “Hati-hati. Dia marah kalau ditanya.”
Lumi mengangguk. Buku di meja terbuka di Halaman 10. Kosong.
Bu Nyra terus mengulek. Kunyit, jahe, kencur, asam jawa. Wanginya menyengat.
Tapi dia tidak minum. Tidak juga makan. Cuma mengulek.
“Bu,” panggil Lumi pelan. “Istirahat dulu yuk.”
Bu Nyra diam. Tangannya semakin kencang.
Tio masuk membawa sayur. “Lagi ngulek jamu ya, Bu?”
Bu Nyra tetap diam.
Malamnya pun sama. Bu Nyra di dapur. Masih mengulek.
Seraphina cerita ke Lumi: “Anaknya dua. Suaminya menikah lagi. Dia yang mengurus semua. Tapi pas pulang ke rumah, nggak ada yang nanya dia capek nggak.”
Lumi mengerti. Itu capek yang tidak kelihatan.
Jam tiga pagi di hari ketiga.
Lumi duduk di samping Bu Nyra. Tidak berbicara. Hanya menemani ngulek.
_Ulek… ulek…_
Tangan Lumi ikut pegang ulekan. Pelan.
Bu Nyra nengok. Matanya merah.
Buku di meja bergetar. Tinta muncul.
Resep 10: Jamu untuk Ibu yang Diam di Dapur
Bahan: Kunyit untuk luka yang dipendam, jahe untuk tenaga yang dipinjam, kencur untuk pahit yang ditelan, satu pertanyaan: “Kamu capek ya?”
Cara: Ulek sampai tangan pegal. Tuang ke gelas. Minum selagi hangat.
Jangan diminum sendirian.
Catatan: Ibu bukan mesin. Ibu boleh lelah. Ibu boleh minta digantikan.
Di bawahnya coretan kecil:
Untuk semua ibu yang memasak sambil menahan tangis.
– Nenek Ysra
Lumi menyodorkan gelas ke Bu Nyra.
“Bu, minum. Aku yang buatkan.”
Bu Nyra menggeleng. Air matanya jatuh ke ulekan.
“Aku… aku capek,” bisiknya.
Pertama kali Bu Nyra mengeluarkan suara selama dua minggu ini.
“Aku masak tiap hari. Nyuci. Nyapu. Tapi… nggak ada yang lihat.”
Lumi duduk lebih dekat. “Aku lihat, Bu. Seraphina lihat. Tio juga lihat.”
Seraphina dari pintu mengangguk. “Duduk, Nyra. Giliran kami yang masak.”
Bu Nyra menangis pelan. Hampir seperti bendungan yang jebol.
“Aku takut. Kalau aku berhenti, rumah berantakan.”
Alistair menyodorkan selimut.
“Biar berantakan dulu. Rumah bisa dibersihkan besok. Kamu istirahat sekarang.”
Lumi menyuapkan jamu kepada Bu Nyra. Pahit. Tapi hangat.
Tegukan pertama, bahu Bu Nyra turun.
Tegukan kedua, dia bersandar ke Lumi.
Jam enam pagi, Bu Nyra ketiduran di kursi dapur. Untuk pertama kali tanpa mimpi masak.
Tio menutup kompor. “Giliran aku yang masak hari ini.”
Seraphina memasang tulisan di pintu dapur:
DAPUR TUTUP. IBU SEDANG ISTIRAHAT.
Siangnya, Bu Nyra terbangun. Kaget.
“Dapur…”
“Berantakan,” kata Lumi sambil tersenyum. “Tapi kita bisa bereskan bareng nanti.”
Bu Nyra memegang tangan Lumi. “Terima kasih sudah bertanya aku capek atau tidak.”
Di buku, halaman 10 sudah penuh.
Di bawah resep ada tambahan:
P.S: Aku pulang hari ini. Mau bilang ke anakku: “Mama juga capek.”
– Nyra
Sebelum pergi, Bu Nyra menanam sebuah pohon di kebun.
“Ini Pohon Istirahat,” katanya. “Biar aku ingat bahwa aku boleh berhenti.”
Veylara mengangguk. Daunnya jatuh satu. Mendarat di bahu Bu Nyra.
Malamnya, Lumi menulis di buku:
Hari ini aku belajar. Nyembuhin bukan selalu dengan resep. Kadang cuma dengan duduk dan nanya “kamu capek ya?”
Kriiieekkk… Pintu berderit.
Giliran siapa lagi ya?
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 10 dari novel Rahasia buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.