Pada suatu pagi di hari kerja, saat sedang menjalani cuti, aku berjalan sambil menggendong Gabriel bayi memakai kain gendong ala Mamak-Mamak jaman dulu hendak membeli beberapa kebutuhan dapur yang habis hari itu. Kupilih berjalan kaki karena toko tempat menjual sembako itu tidak jauh dari rumah, di pinggir jalan besar perumahan.
Karena hari itu tidak kerja dan masih sangat pagi, di jam para pegawai berangkat bekerja, aku hanya menggunakan pakaian rumah dan bersandal jepit tanpa sama sekali memakai bedak. Menggendong bayi 10 bulan yang ceria benar pagi itu. Berceloteh dengan suara-suara yang lucu sepanjang perjalanan.
Setelah membeli minyak goreng, terigu dan beberapa bumbu, aku memutuskan untuk tidak segera pulang tapi berjalan menyusuri deretan ruko. Gabriel sangat girang melihat beberapa kendaraan hilir mudik. Ketika ada bis kota lewat dia bersorak gembira. Beberapa pegawai yang hendak pergi bekerja bergegas menuju bis kota yang berhenti di halte. Semua terburu-buru, berebut untuk mendapat celah berdiri di dalam bis yang sudah tampak penuh. Hal seperti itu pun aku lakukan pada hari-hari kerjaku.
Beberapa orang masih menunggu bis lain, berdiri di pinggir jalan sekitar halte yang juga penuh. Aku berdiri sejenak di dekat situ, memberi kesempatan Gabriel melihat mobil, motor dan bis. Waktu itu belum seramai sekarang, jadi aku tidak terlalu kuatir dengan debu. Ikut tertawa bersama Gabriel yang menunjuk-nunjuk mobil dengan telunjuk mungilnya.
“Ini anak Tauke ruko yang mana, Mbak?” tanya seorang ibu berpakaian coklat khaki di sebelah kami.
Aku terkejut, menoleh. Belum sempat kujawab, si Ibu sudah bertanya lagi.
“Digaji berapa jadi baby sitter orang Cina, Mbak?”
Aku tergagap karena terkejut dengan pertanyaannya itu.
“Eee…ini anakku, Bu,” jawabku.
Kulihat alis ibu itu mengerut sambil melihat pada kami berdua. “Bapaknya Cina,ya?”
Aku menggeleng. “Batak, Bu.”
Makin heran dia dan seperti sangat tidak percaya. Untung segera berhenti sebuah bis kota dan si Ibu segera naik, pergi.
Aku menyimpan perkara itu sampai ke rumah dalam hati. Setiba di rumah aku segera menuju cermin besar di lemari pakaian dan memandangi refleksi yang muncul di sana. Aku menghela napas. Ternyata kami memang terlihat sangat berbeda. Kulitku coklat tua, Gabriel putih bersih dan matanya memang sangat sipit seperti bayi Tionghoa tulen. Dan kuakui penampilanku pagi itu benar mirip dengan penampilan seorang baby sitter yang sedang mengasuh bayi majikan. Wajar saja kalau orang salah mengira.
Dan sekian tahun kemudian di Belitung, pada suatu sore sekitar pukul tiga. Aku sedang menyapu rumah dan sudah tiba di teras samping di depan ruang praktikku. Aku sudah mulai membuka praktik sejak pindah ke rumah pribadi. Biasanya pukul empat sore sudah mulai menerima pasien. Dan seperti biasa, aku membersihkan rumah terlebih dulu sebelum mandi dan bersiap untuk praktik. Karena belum mandi jadi aku masih memakai daster batik yang nyaman dan bersandal jepit dengan rambut diikat seadanya.
Sebuah motor dengan dua orang berhenti di depan rumah. Yang duduk di belakang, seorang wanita muda turun menghampiriku.
“Bik, numpang nanya,” katanya ke arahku.
Aku berhenti menyapu dan berusaha tersenyum. “Iya, Kak? Ada yang bisa dibantu?”
“Eee…Bik, Bos ikam buka praktek jam berape sampai jam berape?” tanyanya. (Eee…Bik, Bos-mu buka praktik dari jam berapa sampai jam berapa?)
“Oh, mau ke dokter gigi, ya?” tanyaku lagi.
“Ye, Bik..kuang ke daftar duluk, aku nak nyabut gigi kinik lepas maghrib.” (Ya, Bik..bisakah mendaftar dulu, aku mau mencabut gigi selepas maghrib).
“Kuang be,” jawabku. (Bisa)
Dia menyebutkan namanya lalu sebelum pergi dia berpesan padaku, “Usah lupak. Bik. Sebut ke Bos ikam, kinik lepas maghrib ku datang.” (Jangan lupa, Bik. Sebut ke Bos-mu, nanti selepas maghrib aku datang)
“Aok, kinik kucatat, kusebut kan Bos, ikam datang lepas maghrib,” kataku dengan nada mulai senewen.( Baiklah, nanti kucatat, kusampaikan ke Bos, anda datang selepas maghrib).
Mereka berdua pergi dan aku dengan perasaaan senewen melihat pantulan diriku di kaca jendela. Seorang Upik Abu sedang memegang sapu.
“Ayo, Bik, mandi. Berdandan yang cantik. Pakai jas putihmu,” ujarku dalam hati.
Selepas maghrib seperti perjanjian, datanglah pasienku itu. Sambil melakukan identifikasi ulang dan memeriksa tekanan darahnya, kusadari bahwa pasien ini mencoba mengamati wajahku yang tersembunyi di balik masker. Sepertinya dia mulai merasakan ada yang dikenalinya. Sepasang mataku.
“Dok, maaf,” katanya pelan sebelum aku mempersilahkan dia naik ke dental chair. “Nok tadi sore itu….” Dia tidak melanjutkan kalimatnya karena ragu. (Yang tadi sore itu)
Aku menurunkan maskerku sebentar dan tersenyum padanya. Betapa pun aku dibuatnya senewen tapi pelanggan adalah ratu dan raja. Senyumku termasuk bagian dari service excellent yang memperlancar cuan. Kulihat matanya membelalak terkejut dan seketika ekspresinya menjadi sangat tidak nyaman.
“Aduh, Dokter..maaf,”katanya tidak enak hati. “Kukire tadi itu pun pembantu ikam, Dok. Soal e dak tau aku .” (Kukira tadi itu pembantu anda, Dok. Soalnya saya tidak tahu).
Aku menepuk lembut bahunya. “Dak ape, Kak. Aku pun mun pagi Upik Abu. Mun lah sore cem ni berubah jadi Cinderella.” (Tidak apa, Kak, saya memang kalau pagi Upik Abu. Kalau sudah sore seperti ini berubah jadi Cinderella)
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 16_Kisah Upik Abu
Sorry, comment are closed for this post.