Desa yang Kembali Bernapas
Matahari pagi menyinari Desa Alfabet dengan cahaya keemasan.
Setelah sekian lama diselimuti kebingungan dan ketakutan, desa itu kembali hidup.
Jalan-jalan yang sebelumnya kacau kini tersusun rapi.
Rumah-rumah huruf kembali menemukan pemiliknya.
Huruf A sudah kembali ke rumah segitiganya.
Huruf O pulang ke rumah bundarnya.
Huruf M tidak lagi tersesat di jalan angka.
Di mana-mana terdengar tawa.
Beni berdiri di bukit kecil sambil memandangi desa.
Angin pagi mengibaskan rambutnya.
Perasaannya hangat.
Namun berbeda dengan sebelumnya.
Kali ini bukan karena ia berhasil menjadi pahlawan.
Melainkan karena ia mulai memahami sesuatu tentang dirinya sendiri.
Di sampingnya, Profesor Alfabet berdiri sambil memegang tongkat kayu tua.
“Kamu terlihat sedang berpikir,” katanya.
Beni mengangguk.
“Aku baru sadar.”
“Sadar tentang apa?”
“Selama ini aku selalu berusaha menjadi seperti anak-anak lain.”
Profesor tersenyum kecil.
“Lalu?”
“Ternyata aku tidak harus menjadi seperti mereka.”
Profesor mengangguk puas.
“Itulah pelajaran yang paling sulit dipahami banyak orang.”
Festival yang Dinanti
Hari itu seluruh desa sedang bersiap mengadakan Festival Huruf.
Festival terbesar yang hanya diadakan setiap seratus tahun sekali.
Semua huruf tampak sibuk.
Huruf B menghias jalan dengan bunga-bunga biru.
Huruf S membuat pita berwarna perak.
Huruf R bertugas memainkan musik.
Huruf K menyiapkan kembang api berbentuk kata.
Desa berubah menjadi lautan warna.
Di sepanjang jalan tergantung lampion berbentuk huruf-huruf bercahaya.
Ketika malam tiba, lampion-lampion itu akan membentuk ribuan kata indah di langit.
Huruf b berlari menghampiri Beni.
“Beni! Beni!”
“Ada apa?”
“Walikota A ingin bertemu denganmu.”
Rahasia yang Belum Selesai
Mereka menuju Balai Alfabet.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Ruangan itu jauh lebih tenang.
Di tengah ruangan berdiri Walikota Huruf A.
Di tangannya terdapat sebuah peti kayu tua.
Peti itu tampak sangat kuno.
Permukaannya dipenuhi ukiran huruf yang berkilauan.
“Beni,” kata Walikota A.
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”
Beni memperhatikan peti itu.
“Apakah itu?”
“Peninggalan paling berharga di Desa Alfabet.”
Walikota membuka peti perlahan.
KREEEK…
Di dalamnya terbaring sebuah buku tua yang memancarkan cahaya lembut.
Sampulnya berwarna emas.
Di tengah sampul terdapat lambang berbentuk matahari dan sebuah pena.
Beni merasakan bulu kuduknya berdiri.
Entah mengapa, buku itu terasa hidup.
Seolah sedang memperhatikannya.
Buku yang Tidak Pernah Berbohong
“Ini adalah Buku Cahaya,” kata Walikota.
“Semua pengetahuan Desa Alfabet tersimpan di dalamnya.”
Beni mendekat.
Halaman-halaman buku itu tampak kosong.
“Aku tidak melihat tulisan apa pun.”
“Itu karena buku ini hanya menunjukkan sesuatu kepada orang yang siap melihatnya.”
Beni bingung.
Namun tiba-tiba halaman pertama terbuka sendiri.
Angin lembut berembus dari dalam buku.
Perlahan muncul tulisan bercahaya.
SETIAP ANAK MEMILIKI CERITA YANG BERBEDA.
Tulisan itu kemudian berubah.
SETIAP ANAK MEMILIKI CARA BELAJAR YANG BERBEDA.
Beni terpaku.
Kalimat demi kalimat terus bermunculan.
KESULITAN BUKANLAH KELEMAHAN.
PERBEDAAN BUKANLAH KEKURANGAN.
KEBERANIAN ADALAH TERUS MELANGKAH MESKIPUN TAKUT.
Mata Beni mulai berkaca-kaca.
Karena ia merasa buku itu sedang berbicara langsung kepadanya.
Ruang Kenangan yang Tersembunyi
Tiba-tiba cahaya dari buku semakin terang.
WHOOOSHH…
Seluruh ruangan menghilang.
Beni kembali berada dalam pusaran cahaya.
Ketika membuka mata, ia berdiri di sebuah perpustakaan yang sangat besar.
Rak-rak buku menjulang hingga menyentuh langit.
Ribuan buku melayang di udara.
Setiap buku memancarkan warna berbeda.
“Di mana aku?” tanya Beni.
Suara lembut terdengar dari kejauhan.
“Ini adalah Perpustakaan Kenangan.”
Seorang perempuan tua berjubah putih berjalan mendekat.
Rambutnya seputih salju.
Matanya hangat seperti seorang nenek.
“Aku Penjaga Buku Cahaya.”
Kisah Anak-Anak yang Berbeda
Perempuan itu mengangkat tangannya.
Salah satu buku melayang turun.
Ketika buku itu terbuka, muncul gambar seorang anak laki-laki.
Anak itu kesulitan membaca.
Sama seperti Beni.
Namun kemudian ia tumbuh menjadi penemu terkenal.
Buku berikutnya terbuka.
Muncul seorang anak perempuan yang sulit menulis.
Tetapi ia menjadi pelukis hebat.
Buku lain menampilkan anak yang lambat berbicara.
Namun kelak menjadi guru yang menginspirasi banyak orang.
Beni memperhatikan semuanya dengan takjub.
“Mereka semua pernah mengalami kesulitan?”
Penjaga Buku Cahaya mengangguk.
“Ya.”
“Seperti aku?”
“Ya.”
“Lalu mereka berhasil?”
“Tentu.”
Beni terdiam lama.
Selama ini ia mengira dirinya sendirian.
Ternyata ada banyak orang yang pernah merasa berbeda.
Banyak orang yang pernah gagal.
Banyak orang yang pernah takut.
Namun mereka tetap melangkah.
Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Penjaga Buku Cahaya lalu bertanya,
“Beni, apa yang paling kamu takutkan?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya tidak mudah.
Beni berpikir lama.
Sangat lama.
Akhirnya ia menjawab pelan.
“Aku takut dianggap tidak mampu.”
Ruangan menjadi hening.
Penjaga Buku Cahaya tersenyum lembut.
“Dan sekarang?”
Beni menatap ribuan buku di sekelilingnya.
Ia melihat jutaan kisah perjuangan.
Jutaan cerita tentang keberanian.
Jutaan cerita tentang harapan.
Lalu ia menjawab,
“Sekarang aku masih takut.”
“Tetapi aku tidak akan berhenti hanya karena takut.”
Mata Penjaga Buku Cahaya berbinar.
“Itulah jawaban yang selama ini dicari Buku Cahaya.”
Halaman Terakhir yang Kosong
Penjaga itu membuka Buku Cahaya sekali lagi.
Kali ini halaman terakhir terbuka.
Namun halaman itu kosong.
Tidak ada tulisan apa pun.
“Mengapa kosong?” tanya Beni.
“Karena halaman terakhir adalah milikmu.”
“Milikku?”
“Ya.”
“Semua halaman sebelumnya berisi kisah orang lain.”
“Tetapi halaman terakhir berisi kisah yang akan kamu tulis sendiri.”
Beni menatap halaman kosong itu.
Ia tiba-tiba memahami sesuatu yang sangat penting.
Masa depan belum ditentukan oleh kesulitan yang dimilikinya.
Masa depan ditentukan oleh keberaniannya untuk terus belajar.
Dan halaman kosong itu menunggu untuk diisi.
Dengan mimpi.
Dengan usaha.
Dengan harapan.
Dengan cerita yang belum selesai.
Malam Festival Huruf
Saat Beni kembali ke Desa Alfabet, festival telah dimulai.
Ribuan lampion huruf terbang ke langit malam.
Membentuk kata-kata bercahaya:
BERANI
BELAJAR
HARAPAN
PERSAHABATAN
PERCAYA DIRI
Seluruh desa bersorak gembira.
Di tengah pesta itu, Beni tersenyum.
Karena kini ia tahu satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh buku mana pun.
Bahwa setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda.
Dan tidak apa-apa berjalan lebih lambat.
Tidak apa-apa belajar dengan cara berbeda.
Tidak apa-apa menjadi diri sendiri.
Sebab bunga tidak mekar pada waktu yang sama.
Namun setiap bunga tetap memiliki keindahannya sendiri.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB V : Festival Huruf dan Rahasia Buku Cahaya
Sorry, comment are closed for this post.