Perjalanan ke Utara
Pagi di Desa Alfabet terasa berbeda.
Biasanya, huruf-huruf mulai beraktivitas sejak matahari terbit. Huruf A membuka toko Apel. Huruf B membersihkan kebun Bunga. Huruf K mengantar surat ke seluruh penjuru desa.
Namun pagi itu, suasana desa masih muram.
Banyak huruf berdiri di depan rumah masing-masing dengan wajah cemas.
Mereka menatap Beni seolah menaruh harapan besar kepadanya.
Beni merasakan beban yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dulu, ia adalah anak yang sering merasa bingung ketika melihat huruf.
Kini, justru huruf-huruf itu menggantungkan harapan padanya.
“Aku takut mengecewakan mereka,” bisiknya.
Huruf b yang berjalan di sampingnya mendengar ucapan itu.
“Kamu tahu?” katanya.
“Aku juga sering takut.”
Beni menoleh.
“Kamu?”
Huruf b mengangguk.
“Aku adalah huruf yang paling sering tertukar.”
Beni terdiam.
“Aku sering disalahkan ketika orang membaca d sebagai b.”
“Aku juga sering membuat anak-anak bingung.”
“Terkadang aku berpikir, mungkin akan lebih baik kalau aku tidak pernah ada.”
Beni langsung berhenti berjalan.
Ia memandang sahabat kecilnya itu.
“Tidak boleh begitu.”
“Kenapa?”
“Karena tanpa huruf b, tidak akan ada kata buku.”
Huruf b berkedip.
“Tidak ada kata bermain.”
“Tidak ada kata berbagi.”
“Tidak ada kata bahagia.”
Mata huruf b mulai berkaca-kaca.
Beni tersenyum.
“Setiap huruf punya tempat penting.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, huruf b tersenyum lebar.
Jalan Kenangan
Perjalanan menuju Menara Bayangan membawa mereka melewati sebuah lembah yang sangat aneh.
Di sana terdapat ribuan cermin melayang.
Setiap cermin menampilkan kenangan seseorang.
Ketika Beni melewati salah satu cermin, ia melihat dirinya sendiri saat pertama kali salah membaca di kelas.
Tawa teman-temannya terdengar kembali.
“Hehehe… beli duku!”
Wajah Beni memerah.
Meski kejadian itu sudah berlalu, rasa malunya masih terasa.
Cermin berikutnya menunjukkan dirinya saat menangis diam-diam di kamar.
Lalu cermin lain memperlihatkan saat ia takut membuka buku.
Beni menunduk.
Ternyata kenangan-kenangan itu masih tersimpan di dalam hatinya.
Profesor Alfabet yang ikut berjalan bersama mereka berkata pelan,
“Setiap orang memiliki cermin seperti itu.”
“Cermin yang menyimpan ketakutan.”
“Cermin yang menyimpan kegagalan.”
“Cermin yang menyimpan luka.”
“Lalu bagaimana cara menghilangkannya?” tanya Beni.
Profesor tersenyum.
“Kita tidak menghilangkannya.”
“Kita belajar hidup berdampingan dengannya.”
Huruf yang Menghilang
Menjelang sore, mereka tiba di kaki Menara Bayangan.
Menara itu sangat tinggi.
Puncaknya bahkan tertutup awan hitam.
Dindingnya tersusun dari batu-batu berbentuk huruf yang retak.
Semakin dekat mereka melangkah, suasana semakin sunyi.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Tolong!”
“Tolong kami!”
Beni berlari menuju sumber suara.
Di sana ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Beberapa huruf terperangkap di dalam sangkar kaca.
Ada huruf B.
Ada huruf D.
Ada huruf P.
Ada huruf Q.
Mereka tampak lemah dan ketakutan.
“Kenapa kalian dikurung?” tanya Beni.
Huruf D menjawab dengan suara lirih.
“Karena kami sering dianggap salah.”
Huruf P menambahkan,
“Orang-orang marah ketika kami tertukar.”
Huruf Q menunduk.
“Banyak yang menganggap kami membuat masalah.”
Beni merasakan dadanya sesak.
Kata-kata itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Ia juga pernah merasa menjadi masalah.
Pernah merasa berbeda.
Pernah berpikir bahwa dirinya membuat orang lain kecewa.
Huruf-huruf itu ternyata merasakan hal yang sama.
Rahasia Menara Bayangan
Mereka akhirnya memasuki menara.
Di bagian tengah menara terdapat aula raksasa.
Di sana berdiri sosok Pengacau Huruf.
Namun kali ini tubuhnya tampak lebih jelas.
Beni terkejut.
Makhluk itu tidak tampak jahat.
Justru wajahnya terlihat sedih.
Sangat sedih.
Matanya dipenuhi air mata.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Beni.
Makhluk itu tidak langsung menjawab.
“Aku lelah.”
“Sangat lelah.”
“Semua orang selalu menyalahkan huruf yang tertukar.”
“Semuanya menganggap kesalahan adalah sesuatu yang memalukan.”
Tubuhnya mulai bergetar.
Huruf-huruf di sekelilingnya beterbangan.
“Aku lahir dari rasa malu.”
“Aku tumbuh dari rasa takut.”
“Aku menjadi besar setiap kali seseorang berkata, ‘Aku bodoh.'”
Beni membeku.
Karena ia pernah mengucapkan kata-kata itu pada dirinya sendiri.
Berkali-kali.
Pertemuan dengan Diri Sendiri
Tiba-tiba aula berubah menjadi terang.
Di hadapan Beni muncul bayangan dirinya sendiri.
Bayangan itu adalah Beni yang dulu.
Beni yang menangis.
Beni yang takut membaca.
Beni yang malu ketika salah menulis.
“Aku tidak pintar,” kata bayangan itu.
“Aku berbeda.”
“Aku tidak akan bisa.”
Air mata mulai menggenang di mata Beni.
Ia mengenali semua kalimat itu.
Karena ia pernah mengatakannya dalam hati.
Lalu Profesor Alfabet berkata,
“Ini ujian terakhir.”
“Kamu harus memilih.”
“Memilih apa?”
“Apakah kamu akan terus mempercayai ketakutanmu.”
“Atau mempercayai dirimu sendiri.”
Ruangan menjadi sunyi.
Sangat sunyi.
Beni berjalan mendekati bayangan dirinya.
Lalu ia memeluk bayangan itu.
“Aku memang berbeda.”
“Tapi aku tidak buruk.”
“Aku memang pernah salah.”
“Tapi aku tidak bodoh.”
“Aku memang masih belajar.”
“Tapi aku tidak akan menyerah.”
Perlahan-lahan bayangan itu berubah menjadi cahaya.
Cahaya hangat memenuhi seluruh aula.
Potongan Peta Terakhir
BRRAAAK!
Menara bergetar.
Sangkar-sangkar kaca pecah.
Huruf-huruf yang terkurung bebas.
Pengacau Huruf mulai mengecil.
Tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya.
Sebelum menghilang, ia tersenyum kepada Beni.
“Terima kasih.”
“Aku hanya ingin didengar.”
Kemudian ia lenyap seperti debu yang tertiup angin.
Di tempat ia berdiri, muncul sebuah peti emas.
Di dalamnya terdapat potongan terakhir Peta Arah Huruf.
Beni menggabungkan ketiga potongan itu.
Seketika peta bersinar terang.
Seluruh Desa Alfabet bercahaya.
Jalan-jalan kembali normal.
Rumah-rumah menemukan pemiliknya.
Huruf-huruf yang tersesat kembali pulang.
Namun jauh di dalam hatinya, Beni tahu bahwa hadiah terbesar hari itu bukanlah peta yang berhasil ditemukan.
Melainkan sesuatu yang selama ini hilang dari dirinya sendiri.
Kepercayaan diri.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menerima dirinya apa adanya.
Dan petualangan terbesar ternyata bukan menyelamatkan Desa Alfabet.
Melainkan menyelamatkan hati yang selama ini takut untuk percaya pada dirinya sendiri.
Pesan Bab IV
“Kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Kesalahan adalah bagian dari jalan yang mengantarkan kita menjadi lebih kuat, lebih berani, dan lebih memahami diri sendiri.”
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB IV : Menara Bayangan dan Huruf yang Hilang
Sorry, comment are closed for this post.