Surat dari Langit
Beberapa hari setelah Hutan Sunyi kembali hidup, Desa Alfabet dipenuhi suasana damai.
Pohon-pohon cerita kembali menghijau.
Kata-kata memperoleh maknanya.
Huruf-huruf menemukan tempatnya.
Beni mulai merasa bahwa petualangannya mungkin akan segera berakhir.
Namun pada suatu malam, ketika ia duduk di bawah Pohon Harapan bersama huruf b dan Profesor Alfabet, langit tiba-tiba berubah.
Satu bintang jatuh melintas.
Kemudian dua.
Lalu puluhan.
Namun anehnya, bintang-bintang itu tidak jatuh ke bumi.
Mereka berhenti tepat di atas Desa Alfabet.
Membentuk sebuah lingkaran cahaya.
Semua warga keluar dari rumah.
Mereka menatap langit dengan kagum.
Dari tengah lingkaran cahaya turun seekor burung putih yang tubuhnya berkilauan seperti gugusan bintang.
Di paruhnya tergantung sebuah surat bersegel perak.
Profesor Alfabet langsung berdiri.
Wajahnya tampak terkejut.
“Sudah sangat lama…” bisiknya.
“Apa?” tanya Beni.
Profesor memandang langit.
“Itu adalah utusan dari Perpustakaan Bintang.”
Tempat yang Tidak Semua Orang Bisa Kunjungi
Di Balai Alfabet, surat itu dibuka dengan hati-hati.
Tulisan bercahaya muncul perlahan di udara.
UNDANGAN RESMI
Untuk Beni, Penjaga Harapan Baru
Datanglah ke Perpustakaan Bintang.
Sebuah buku sedang menunggumu.
Ruangan menjadi hening.
“Sebuah buku?” tanya Beni.
Profesor mengangguk.
“Perpustakaan Bintang adalah tempat paling rahasia di seluruh dunia bahasa.”
“Lebih rahasia dari Hutan Sunyi?”
“Jauh lebih rahasia.”
“Lebih penting dari Buku Cahaya?”
Profesor tersenyum.
“Bahkan Buku Cahaya berasal dari sana.”
Mata Beni membelalak.
Tangga Cahaya
Malam berikutnya, seluruh warga Desa Alfabet berkumpul di lapangan.
Ketika bulan mencapai puncaknya, lingkaran bintang kembali muncul.
Perlahan-lahan cahaya turun dari langit.
Membentuk tangga yang berkilauan.
Tangga itu membentang hingga menembus awan.
Huruf b menelan ludah.
“Aku belum pernah melihat yang seperti ini.”
Sejujurnya, Beni juga gugup.
Namun rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.
Ia melangkah ke anak tangga pertama.
Dan seketika seluruh tubuhnya terasa ringan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sepuluh langkah.
Seratus langkah.
Semakin tinggi ia naik, dunia di bawahnya semakin kecil.
Desa Alfabet terlihat seperti titik cahaya.
Hutan Sunyi tampak seperti hamparan zamrud.
Kota Kata terlihat seperti ukiran indah.
Lalu ia tiba di atas awan.
Dan napasnya tertahan.
Perpustakaan di Antara Bintang
Di hadapannya berdiri bangunan terbesar yang pernah ia lihat.
Perpustakaan itu melayang di angkasa.
Dindingnya terbuat dari cahaya.
Atapnya terbentuk dari gugusan bintang.
Jutaan buku berputar perlahan mengelilinginya seperti planet mengelilingi matahari.
Ada buku yang bersinar biru.
Ada yang berwarna emas.
Ada yang berkilauan seperti pelangi.
Beni tidak sanggup berkata-kata.
“Selamat datang.”
Suara lembut terdengar dari belakang.
Seorang perempuan tua berjubah langit berdiri sambil tersenyum.
Rambutnya berkilau seperti bintang.
Matanya hangat seperti cahaya bulan.
“Aku Penjaga Perpustakaan Bintang.”
Rak Masa Lalu dan Masa Depan
Penjaga itu mengajak Beni berjalan.
Mereka melewati lorong-lorong yang tidak berujung.
Setiap rak memiliki nama.
Rak Masa Lalu
Berisi seluruh kisah yang pernah terjadi.
Rak Masa Kini
Berisi kisah yang sedang berlangsung.
Rak Kemungkinan
Berisi kisah yang mungkin terjadi.
Beni berhenti.
“Yang mungkin terjadi?”
Penjaga mengangguk.
“Belum tentu terjadi.”
“Tetapi bisa terjadi.”
“Jika seseorang memilih jalan tertentu.”
Beni memandang ribuan buku di rak itu.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Masa depan ternyata bukan sesuatu yang sudah ditentukan.
Masa depan adalah pilihan yang dibangun sedikit demi sedikit setiap hari.
Buku yang Tidak Memiliki Judul
Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan bundar.
Di tengah ruangan terdapat meja kaca.
Di atasnya hanya ada satu buku.
Buku itu polos.
Tidak memiliki judul.
Tidak memiliki gambar.
Tidak memiliki tulisan.
“Apakah ini buku yang menungguku?” tanya Beni.
Penjaga tersenyum.
“Ya.”
“Tapi buku ini kosong.”
“Itulah sebabnya buku ini sangat istimewa.”
Beni mendekat.
Di sampul depan tiba-tiba muncul tulisan perlahan.
CERITA BENI
Jantung Beni berdegup lebih cepat.
“Itu namaku.”
Penjaga mengangguk.
“Karena ini adalah bukumu.”
Halaman yang Belum Ditulis
Ketika buku itu terbuka, Beni melihat banyak halaman kosong.
Sangat banyak.
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Namun beberapa halaman pertama telah terisi.
Di sana terdapat kisah hidupnya.
Tentang kamar kuning.
Tentang huruf-huruf yang menari.
Tentang Bu Rani.
Tentang disleksia.
Tentang Desa Alfabet.
Tentang semua petualangannya.
Beni membaca dengan mata berkaca-kaca.
Semua kenangan itu tersimpan di sana.
Kemudian ia sampai pada halaman terakhir.
Kosong.
Sama seperti halaman terakhir di Buku Cahaya.
“Tidak ada tulisan.”
Penjaga mengangguk.
“Karena bagian itu belum terjadi.”
Pertanyaan Terbesar
Penjaga Perpustakaan Bintang memandang Beni dengan lembut.
“Beni.”
“Iya?”
“Jika suatu hari semua petualangan ini berakhir…”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun bagi Beni, itu adalah pertanyaan paling sulit yang pernah ia dengar.
Ia terdiam lama.
Sangat lama.
Akhirnya ia menjawab.
“Aku ingin membantu anak-anak yang mengalami kesulitan seperti aku.”
Penjaga tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena aku tahu rasanya.”
“Aku tahu rasanya takut.”
“Aku tahu rasanya malu.”
“Aku tahu rasanya merasa berbeda.”
Suara Beni mulai bergetar.
“Dan aku tidak ingin mereka merasa sendirian.”
Saat kalimat itu selesai diucapkan, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Di halaman kosong muncul tulisan bercahaya.
Suatu hari, Beni akan menjadi cahaya bagi anak-anak lain.
Air mata mengalir di pipinya.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena ia akhirnya memahami tujuan dari semua perjalanan yang telah ia lalui.
Rahasia Terakhir dari Bintang
Sebelum Beni pulang, Penjaga Perpustakaan Bintang memberinya sebuah pena kecil berwarna perak.
“Pena ini bukan pena biasa.”
“Apa istimewanya?”
“Pena ini tidak menulis dengan tinta.”
“Lalu?”
“Ia menulis dengan keberanian.”
Beni tersenyum kecil.
“Itu terdengar aneh.”
Penjaga tertawa.
“Memang.”
“Tetapi keberanian selalu terdengar aneh bagi orang yang belum mencobanya.”
Pulang dengan Hati yang Baru
Ketika Beni kembali ke Desa Alfabet, matahari mulai terbit.
Langit berwarna jingga keemasan.
Huruf b langsung berlari menyambutnya.
“Apa yang kamu lihat di sana?”
Beni memandang sahabat kecilnya.
Lalu memandang Desa Alfabet.
Memandang dunia yang telah mengubah hidupnya.
Ia tersenyum.
“Aku melihat masa depan.”
“Seperti apa?”
Beni menggenggam pena perak di tangannya.
“Masa depan yang belum ditulis.”
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada halaman kosong.
Karena kini ia tahu.
Halaman kosong bukan sesuatu yang menakutkan.
Halaman kosong adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menulis kisah terbaik yang bisa ia ciptakan sendiri.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB VIII : PERPUSTAKAAN BINTANG DAN BUKU YANG BELUM DITULIS
Sorry, comment are closed for this post.