Pagi yang Tidak Biasa
Setelah Festival Huruf berakhir, Desa Alfabet kembali dipenuhi kebahagiaan.
Huruf-huruf tertawa.
Anak-anak huruf bermain di lapangan.
Lampion-lampion masih bergantung di sepanjang jalan.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Keesokan paginya, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Di pasar desa, Huruf A yang menjual apel terlihat kebingungan.
Seorang pembeli datang dan berkata,
“Saya ingin membeli apel.”
Namun ketika kata apel keluar dari mulutnya, buah apel di meja tidak bergerak sedikit pun.
Biasanya setiap kata yang diucapkan di Desa Alfabet akan bersinar dan menunjukkan benda yang dimaksud.
Kali ini tidak.
Kata itu terdengar kosong.
Seolah kehilangan jiwanya.
“Aneh sekali…” gumam Huruf A.
Tak lama kemudian, kejadian serupa terjadi di tempat lain.
Ketika seseorang mengucapkan kata rumah, rumah-rumah tidak merespons.
Saat menyebut air, sungai tidak berkilau seperti biasanya.
Bahkan kata teman terdengar hambar dan dingin.
Sesuatu sedang terjadi pada kata-kata di Desa Alfabet.
Undangan Darurat
Menjelang siang, lonceng besar Balai Alfabet berbunyi.
DONG…
DONG…
DONG…
Seluruh warga berkumpul.
Wajah mereka penuh kekhawatiran.
Walikota Huruf A berdiri di depan kerumunan.
“Kita menghadapi masalah baru.”
Suasana langsung hening.
“Kata-kata mulai kehilangan makna.”
Semua warga saling berpandangan.
“Maksudnya?”
Profesor Alfabet maju ke depan.
“Dulu setiap kata memiliki cahaya.”
“Cahaya itu berasal dari makna.”
“Namun sekarang cahaya itu mulai menghilang.”
Beni yang berdiri di samping huruf b mulai merasa tidak enak.
Ia pernah melihat sesuatu yang mirip.
Bukan di Desa Alfabet.
Tetapi di dunia manusia.
Ketika Kata Menjadi Sekadar Bunyi
Beni teringat sebuah kejadian di sekolah.
Suatu hari ada teman yang berkata kepada temannya:
“Maaf.”
Namun ia mengucapkannya sambil tertawa mengejek.
Kata maaf terdengar.
Tetapi tidak terasa tulus.
Ada juga anak yang berkata:
“Aku temanmu.”
Namun kemudian meninggalkan temannya saat sedang sedih.
Ada pula orang yang berkata:
“Aku peduli.”
Tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Beni perlahan mengangkat tangan.
“Mungkin kata-kata kehilangan makna ketika orang tidak menghidupkannya.”
Seluruh ruangan terdiam.
Profesor Alfabet memandang Beni dengan serius.
“Lanjutkan.”
Beni menelan ludah.
“Kata baik tidak berarti apa-apa jika tidak dilakukan.”
“Kata sayang tidak berarti apa-apa jika tidak dirasakan.”
“Kata teman tidak berarti apa-apa jika tidak diwujudkan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Kemudian Profesor Alfabet tersenyum.
“Kurasa kita baru menemukan petunjuk pertama.”
Perjalanan ke Kota Kata
Kompas Kata kembali muncul.
Jarumnya bergerak pelan.
Kali ini mengarah ke wilayah yang belum pernah dikunjungi Beni.
Kota Kata
Konon, semua kata yang ada di dunia berasal dari sana.
Setiap kata memiliki rumahnya sendiri.
Kata-kata bahagia tinggal bersama.
Kata-kata sedih tinggal bersama.
Kata-kata harapan, keberanian, kasih sayang, dan persahabatan memiliki wilayah masing-masing.
Jika Kota Kata bermasalah, seluruh dunia bahasa akan ikut terganggu.
Beni, huruf b, dan Profesor Alfabet segera berangkat.
Kota yang Membisu
Perjalanan berlangsung selama dua hari.
Ketika akhirnya mereka tiba, Beni terkejut.
Kota Kata terlihat muram.
Bangunan-bangunan masih berdiri.
Jalan-jalan masih ada.
Namun tidak terdengar suara.
Tidak ada tawa.
Tidak ada nyanyian.
Tidak ada percakapan.
Kata-kata berjalan pelan dengan wajah sedih.
Beni melihat kata:
TERIMA KASIH
berjalan tertunduk.
Kata:
TOLONG
duduk sendirian di pinggir jalan.
Sementara kata:
MAAF
terlihat sangat lelah.
Beni menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi?”
Kata TERIMA KASIH menghela napas.
“Orang-orang semakin jarang menggunakanku dengan sungguh-sungguh.”
Kata TOLONG ikut berbicara.
“Banyak yang memerintah tanpa menghargai.”
Kata MAAF menunduk.
“Banyak yang mengucapkanku hanya karena terpaksa.”
Mata Beni membesar.
Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.
Kata-kata ternyata hidup karena perasaan manusia.
Pertemuan dengan Kata “TEMAN”
Di sebuah taman yang hampir kosong, Beni melihat satu kata yang sangat redup.
Cahayanya hampir padam.
Ketika mendekat, ia membaca tulisan itu.
TEMAN
Kata itu duduk sendirian.
“Kamu kenapa?” tanya Beni.
TEMAN tersenyum lemah.
“Aku mulai dilupakan.”
“Bagaimana bisa?”
“Banyak orang memiliki banyak kenalan.”
“Tetapi sedikit yang benar-benar menjadi teman.”
Beni terdiam.
TEMAN melanjutkan,
“Teman bukan hanya orang yang hadir saat senang.”
“Teman adalah orang yang tetap tinggal saat kita sedang kesulitan.”
Beni langsung teringat Raka.
Teman yang tetap percaya padanya ketika ia kesulitan membaca.
Teman yang tidak pernah mengejeknya.
Teman yang selalu menyemangatinya.
Mata Beni mulai berkaca-kaca.
Kini ia memahami mengapa kata TEMAN begitu kuat.
Karena kata itu lahir dari tindakan, bukan sekadar ucapan.
Menemukan Inti Makna
Malam harinya, Profesor Alfabet membawa Beni ke sebuah menara kristal di pusat kota.
Di dalam menara terdapat sebuah bola cahaya raksasa.
Namun cahayanya hampir padam.
“Itulah Inti Makna,” kata Profesor.
“Seluruh kata di dunia mendapatkan kekuatan dari sana.”
“Apa yang membuatnya melemah?”
Profesor menatap bola cahaya itu.
“Ketika kata dan perbuatan tidak lagi berjalan bersama.”
Beni memandang cahaya yang hampir mati itu.
Tiba-tiba ia teringat Buku Cahaya.
Halaman terakhir yang kosong.
Halaman yang harus diisi dengan perbuatannya sendiri.
Saat itulah ia mulai mengerti.
Makna bukan berasal dari kata.
Makna berasal dari apa yang dilakukan setelah kata itu diucapkan.
Cahaya Kecil yang Menyala
Beni berjalan mendekati Inti Makna.
Lalu ia berkata pelan,
“Aku pernah merasa berbeda.”
Cahaya sedikit berpendar.
“Aku pernah takut.”
Cahaya bertambah terang.
“Aku pernah gagal.”
Kilauan mulai menyebar.
“Tapi banyak orang membantuku.”
Cahaya semakin besar.
“Bu Rani percaya padaku.”
“Orang tuaku mendukungku.”
“Raka tetap menjadi temanku.”
Kini bola cahaya mulai bersinar terang.
Beni menutup matanya.
Lalu mengucapkan satu kalimat terakhir.
“Dan aku ingin membantu orang lain seperti mereka membantuku.”
BOOOOM!
Cahaya putih keemasan memenuhi seluruh menara.
Kota Kata bergetar lembut.
Jutaan kata mulai bercahaya kembali.
TERIMA KASIH bersinar.
MAAF kembali hidup.
TOLONG kembali kuat.
TEMAN kembali bercahaya lebih terang dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kota Kata kembali bernapas.
Pesan Bab VI
“Kata-kata yang paling indah bukanlah kata yang paling sering diucapkan, melainkan kata yang diwujudkan dalam tindakan.”
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB VI : Kota Kata yang kehilangan Makna
Sorry, comment are closed for this post.