Tempat Lahirnya Semua Cerita
Setelah Kota Kata kembali memperoleh maknanya, Beni mengira petualangannya akan berakhir.
Namun ternyata tidak.
Suatu malam, saat ia dan teman-temannya duduk di alun-alun Desa Alfabet, seekor burung merpati putih terbang tergesa-gesa dari arah timur.
Di kakinya tergantung sebuah gulungan surat.
Burung itu langsung hinggap di bahu Profesor Alfabet.
Profesor membuka surat itu.
Semakin lama ia membaca, wajahnya semakin serius.
Huruf b yang penasaran bertanya,
“Ada apa, Profesor?”
Profesor menghela napas panjang.
“Kabar buruk.”
Suasana langsung berubah hening.
“Dari Hutan Sunyi.”
Beni belum pernah mendengar nama tempat itu.
Namun dari raut wajah semua orang, tempat itu tampaknya sangat penting.
“Walikota A harus mengetahui ini,” kata Profesor.
Rahasia yang Disimpan Dunia
Malam itu juga, para tetua Desa Alfabet berkumpul.
Di tengah ruangan, Profesor Alfabet membentangkan sebuah peta kuno.
Pada bagian paling timur terdapat wilayah luas berwarna hijau keemasan.
Hutan Sunyi
“Tempat apa itu?” tanya Beni.
Walikota A tersenyum tipis.
“Hutan Sunyi adalah tempat paling berharga di seluruh dunia bahasa.”
“Kenapa?”
“Karena di sanalah semua cerita tumbuh.”
Beni mengernyitkan dahi.
“Cerita tumbuh?”
Profesor mengangguk.
“Setiap kali seorang anak membaca sebuah buku dengan sepenuh hati…”
“Setiap kali seseorang mendengarkan dongeng…”
“Setiap kali orang tua membacakan cerita sebelum tidur…”
“Maka sebuah pohon cerita tumbuh di Hutan Sunyi.”
Mata Beni membelalak.
“Jadi semua cerita hidup di sana?”
“Tepat sekali.”
“Tetapi sekarang pohon-pohon itu mulai mati.”
Ruangan mendadak sunyi.
Perjalanan ke Hutan Sunyi
Perjalanan menuju Hutan Sunyi memakan waktu tiga hari.
Mereka melewati padang kalimat.
Menyeberangi Sungai Dongeng.
Dan mendaki Bukit Imajinasi.
Sepanjang perjalanan, Beni terus memikirkan satu pertanyaan.
Bagaimana mungkin sebuah cerita bisa mati?
Bukankah cerita hidup selamanya?
Namun ketika mereka akhirnya tiba, Beni langsung memahami maksud Profesor.
Dadanya terasa sesak.
Di hadapannya terbentang sebuah hutan yang sangat indah.
Namun keindahan itu sedang memudar.
Pohon yang Kehilangan Daun
Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi.
Batangnya tersusun dari halaman buku.
Daunnya berbentuk lembaran cerita.
Buah-buahnya berupa kisah-kisah baru yang belum pernah dibaca siapa pun.
Namun banyak pohon tampak mengering.
Daunnya gugur satu per satu.
Sebagian batangnya retak.
Beberapa bahkan hampir roboh.
Beni mendekati salah satu pohon.
Di batangnya tertulis:
PETUALANGAN SI KELINCI KECIL
Daun-daunnya tinggal sedikit.
Pohon itu tampak lemah.
Ketika Beni menyentuh batangnya, suara lirih terdengar.
“Aku hampir dilupakan…”
Beni terkejut.
Pohon itu bisa berbicara.
Penjaga Hutan
Dari balik pepohonan muncul seorang perempuan tua.
Rambutnya panjang seperti benang perak.
Jubahnya terbuat dari lembaran-lembaran buku.
Matanya memancarkan kebijaksanaan yang sulit dijelaskan.
“Aku Nenek Cerita.”
Semua langsung memberi hormat.
“Nenek menjaga hutan ini?” tanya Beni.
Perempuan tua itu mengangguk.
“Sejak cerita pertama lahir di dunia.”
Beni memandang sekeliling.
“Lalu kenapa pohon-pohon ini mati?”
Nenek Cerita terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata pelan,
“Karena semakin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan cerita.”
Bukan Karena Buku Hilang
Malam itu mereka duduk di bawah pohon terbesar di hutan.
Pohon itu bernama Pohon Kisah.
Usianya ribuan tahun.
Nenek Cerita menyalakan lentera kecil.
Cahayanya hangat.
Seperti suasana ketika seorang ibu membacakan dongeng kepada anaknya.
“Banyak orang mengira pohon-pohon ini mati karena buku semakin sedikit.”
“Tapi bukan itu penyebabnya.”
“Lalu apa?” tanya Beni.
Nenek Cerita tersenyum sedih.
“Karena banyak orang tidak lagi menyediakan waktu.”
Beni terdiam.
“Anak-anak masih memiliki buku.”
“Masih memiliki cerita.”
“Tetapi banyak yang terlalu sibuk.”
“Terlalu terburu-buru.”
“Terlalu lelah.”
Angin malam berembus perlahan.
Daun-daun cerita berguguran di sekitar mereka.
“Padahal,” lanjut Nenek Cerita,
“setiap kali seseorang membaca dengan sungguh-sungguh, pohon-pohon ini kembali hidup.”
Kenangan yang Terlupakan
Nenek Cerita mengajak Beni menuju sebuah danau kecil.
Airnya bening seperti kaca.
“Ini Danau Kenangan Membaca.”
Ketika Beni melihat ke dalamnya, permukaan air mulai bergerak.
Muncul bayangan seorang ayah yang sedang membacakan dongeng kepada anaknya.
Lalu muncul seorang nenek yang bercerita sebelum cucunya tidur.
Kemudian seorang guru yang membacakan cerita di kelas.
Setiap kenangan membuat danau bersinar.
Beni merasakan kehangatan aneh di dadanya.
Ia teringat malam-malam ketika Ayah dan Ibunya membacakan cerita untuknya.
Ia teringat Bu Rani yang sabar membimbingnya membaca.
Ia teringat betapa sebuah cerita pernah membuatnya tertawa.
Pernah membuatnya berani.
Pernah membuatnya tidak merasa sendirian.
Air mata perlahan menggenang di matanya.
Pohon yang Hampir Mati
Keesokan paginya, Nenek Cerita mengajak Beni ke bagian terdalam hutan.
Di sana berdiri sebuah pohon yang hampir tumbang.
Pohon itu sangat besar.
Namun hampir seluruh daunnya telah gugur.
Batangnya retak.
Cahayanya sangat redup.
“Ini Pohon Harapan.”
Beni mendekat perlahan.
“Kenapa kondisinya separah ini?”
Nenek Cerita memandang langit.
“Karena semakin banyak anak yang mulai percaya bahwa mereka tidak mampu.”
Kalimat itu membuat Beni terdiam.
Nenek melanjutkan,
“Ketika seorang anak berhenti percaya pada dirinya…”
“Satu daun Pohon Harapan akan gugur.”
“Ketika seorang anak menyerah pada mimpinya…”
“Cabang pohon ini akan melemah.”
“Dan ketika seorang anak merasa dirinya tidak berharga…”
“Akar pohon ini ikut terluka.”
Beni merasakan sesuatu menusuk hatinya.
Karena ia pernah berada di posisi itu.
Ia pernah merasa tidak mampu.
Pernah merasa berbeda.
Pernah hampir menyerah.
Pelajaran yang Mengubah Segalanya
Beni meletakkan tangannya di batang Pohon Harapan.
Lalu ia berkata pelan,
“Aku pernah takut membaca.”
Sebuah daun baru tumbuh.
“Aku pernah merasa bodoh.”
Cabang kecil mulai bercahaya.
“Aku pernah menangis karena gagal.”
Batang pohon bergetar lembut.
“Tetapi ada orang-orang yang percaya padaku.”
Kini akar pohon mulai memancarkan cahaya.
“Dan karena mereka percaya…”
“Aku belajar percaya pada diriku sendiri.”
BOOOMM…
Cahaya keemasan menyebar ke seluruh hutan.
Pohon Harapan kembali hidup.
Daun-daun baru bermunculan.
Cabang-cabangnya menghijau.
Akar-akarnya bersinar terang.
Lalu sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Seluruh Hutan Sunyi mulai bercahaya.
Satu demi satu pohon cerita bangkit kembali.
Seolah seluruh hutan sedang bernapas setelah lama tertidur.
Pesan dari Nenek Cerita
Nenek Cerita menatap Beni dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu tahu apa kekuatan terbesar sebuah cerita?”
Beni menggeleng.
“Bukan membuat orang pintar.”
“Bukan membuat orang terkenal.”
“Lalu?”
Nenek tersenyum hangat.
“Cerita membuat seseorang merasa tidak sendirian.”
Beni terdiam.
Kalimat itu terasa sangat benar.
Karena itulah yang ia rasakan selama perjalanannya.
Ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi kesulitan.
Ia tidak lagi merasa berbeda seorang diri.
Dan mungkin ada banyak anak lain yang juga membutuhkan perasaan itu.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB VII : HUTAN SUNYI DAN POHON CERITA
Sorry, comment are closed for this post.