Ketika Mimpi Mulai Menghilang
Sekembalinya dari Perpustakaan Bintang, kehidupan di Desa Alfabet tampak berjalan normal.
Namun beberapa minggu kemudian, sesuatu yang lebih mengkhawatirkan mulai terjadi.
Anak-anak huruf kehilangan semangat.
Mereka tidak lagi bermain dengan riang.
Tidak lagi membicarakan cita-cita.
Tidak lagi membayangkan masa depan.
Ketika ditanya ingin menjadi apa saat dewasa, mereka hanya mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu.”
“Aku tidak bisa.”
“Untuk apa bermimpi?”
Kalimat-kalimat itu mulai terdengar di mana-mana.
Profesor Alfabet tampak sangat khawatir.
“Ini lebih berbahaya daripada huruf yang tertukar.”
“Lebih berbahaya daripada kata yang kehilangan makna.”
“Lebih berbahaya daripada pohon cerita yang mengering.”
Beni menatapnya heran.
“Kenapa?”
Profesor menjawab pelan.
“Karena ketika seseorang kehilangan mimpi, ia berhenti melangkah.”
Negeri Mimpi yang Retak
Melalui Pena Perak dari Perpustakaan Bintang, Beni akhirnya mengetahui penyebabnya.
Di balik pegunungan awan terdapat Negeri Mimpi.
Tempat semua harapan, cita-cita, dan impian anak-anak disimpan.
Di sana tumbuh Kristal Harapan.
Kristal itulah yang menjaga mimpi tetap hidup.
Namun kini kristal tersebut mulai retak.
Dan di balik keretakan itu muncul sosok yang disebut:
Sang Pencuri Mimpi
Ia tidak mengambil mainan.
Tidak mengambil buku.
Tidak mengambil huruf.
Ia hanya membisikkan satu kalimat kepada setiap anak:
“Kamu tidak akan bisa.”
Pertemuan Terakhir
Beni bersama huruf b, Profesor Alfabet, dan Nenek Cerita melakukan perjalanan menuju Negeri Mimpi.
Di sana mereka menemukan Sang Pencuri Mimpi.
Namun yang mereka lihat membuat mereka terdiam.
Sosok itu ternyata bukan monster mengerikan.
Ia hanyalah bayangan besar yang tersusun dari ribuan kata negatif.
“Aku gagal.”
“Aku bodoh.”
“Aku tidak mampu.”
“Aku berbeda.”
“Aku tidak cukup baik.”
Semua kalimat itu berputar membentuk tubuhnya.
Beni langsung mengenalinya.
Karena sebagian kalimat itu pernah hidup di dalam hatinya sendiri.
Pertarungan yang Tidak Menggunakan Senjata
Sang Pencuri Mimpi tertawa.
“Kalian terlambat.”
“Lihatlah.”
Di sekeliling mereka, jutaan mimpi anak-anak mulai meredup.
Ada mimpi menjadi guru.
Ada mimpi menjadi dokter.
Ada mimpi menjadi penulis.
Ada mimpi menjadi pelukis.
Semuanya hampir padam.
“Aku tidak akan melawanmu dengan pedang,” kata Beni.
“Aku juga tidak akan melawanmu dengan sihir.”
Sang Pencuri Mimpi tertawa semakin keras.
“Lalu dengan apa?”
Beni menggenggam Pena Perak.
“Dengan cerita.”
Cerita Tentang Keberanian
Beni mulai bercerita.
Ia menceritakan saat huruf-huruf menari di depan matanya.
Saat ia salah membaca.
Saat ia salah menulis “buku” menjadi “duku”.
Saat ia menangis.
Saat ia merasa berbeda.
Saat ia hampir menyerah.
Namun ia juga menceritakan tentang Bu Rani.
Tentang orang tuanya.
Tentang Raka.
Tentang semua orang yang percaya kepadanya.
Semakin lama ia bercerita, Pena Perak semakin bercahaya.
Dan sesuatu yang luar biasa terjadi.
Di seluruh Negeri Mimpi, anak-anak mulai mendengar kisah itu.
Mereka menyadari bahwa kesulitan bukanlah akhir.
Bahwa berbeda bukan berarti kurang.
Bahwa gagal bukan berarti selesai.
Cahaya yang Menang
Sang Pencuri Mimpi mulai mengecil.
Tubuhnya yang tersusun dari kata-kata negatif mulai berubah.
“Aku tidak bisa.”
menjadi
“Aku akan mencoba.”
“Aku gagal.”
menjadi
“Aku belajar.”
“Aku berbeda.”
menjadi
“Aku unik.”
“Aku tidak mampu.”
menjadi
“Aku sedang berkembang.”
Sedikit demi sedikit, bayangan itu memudar.
Bukan karena dihancurkan.
Tetapi karena dipahami.
Karena diterima.
Karena diubah.
Dan akhirnya, Sang Pencuri Mimpi menghilang menjadi jutaan bintang kecil.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB IX : SANG PENCURI MIMPI
Sorry, comment are closed for this post.