BAB 18: RAMUAN UNTUK YANG KEHILANGAN SUARA SENDIRI | Resep: Madu untuk Tenggorokan yang Diam
Hari ke-11 Lumi jaga gubuk.
Sore. Hujan Tanah Fajar turun pelan.
Kriiieekkk…
Yang masuk anak laki-laki. 15 tahun. Jubah Akademi basah. Di tangannya ada buku kosong.
“Duduk,” kata Alistair lembut. “Mau ramuan apa?”
Anak itu menurut. Bibirnya bergetar tapi tidak ada suara keluar.
Dia menggeleng. Menunjuk tenggorokannya. Lalu menunjuk buku kosong di tangannya.
Namanya Kael. Murid kelas dua. Dulu juara lomba pidato Akademi.
Buku di meja terbuka di halaman 18. Kosong.
Veylara di luar meneteskan air hujan. Sunyi.
Seraphina mendekat. “Kamu… nggak bisa bicara?”
Kael mengangguk. Air matanya jatuh ke buku.
Tio berjongkok. “Sejak kapan?”
Kael menulis di buku dengan tangan gemetar:
Sejak tiga bulan lalu. Waktu aku bilang tidak di depan semua orang. Mereka tertawa. Katanya aku lemah. Lalu, suaraku hilang.
Lumi menghangatkan madu hutan. Menambahkan jahe. Kayu manis. Dan, setetes air dari daun Veylara.
“Ini bukan untuk batuk,” kata Lumi. “Ini untuk tenggorokan yang terlalu lama dipaksa diam.”
Kael menatap bingung. “Aku masih bisa nulis, Bu. Tapi kalau ngomong… sakit.”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 18: Madu untuk Tenggorokan yang Diam
Bahan: Madu untuk melunakkan rasa takut, jahe untuk keberanian yang hangat, kayu manis untuk suara yang manis, air Veylara untuk mengingat kamu berhak didengar
Cara: Minum perlahan. Lalu, ucapkan satu kata yang paling ingin kamu katakan. Walau lirih.
Catatan: Suara bukan cuma di tenggorokan. Suara ada di keberanian untuk didengar.
Di bawahnya ada coretan:
Untuk Kael dan semua yang dipaksa bisu oleh tawa orang.
– Nenek Ysra
Seraphina menyodorkan cangkir. “Coba, Nak.”
Kael minum. Hangat. Manis. Tenggorokannya bergetar.
Lumi menatapnya. “Satu kata saja. Apa yang ingin kamu katakan tiga bulan lalu?”
Kael menutup mata. Bahunya naik turun.
Lalu lirih sekali… hampir tidak terdengar: “Tidak.”
Hening.
Lalu lagi, lebih jelas: “Tidak. Aku tidak setuju.”
Kael kaget. Tangannya menutup mulut. “Aku… aku bisa?”
“Iya,” kata Alistair. “Suaramu nggak hilang. Cuma ketutup.”
Kael menangis. Tapi kali ini sambil bersuara. Isak kecil.
“Aku capek jadi penurut. Aku capek semua orang mutusin buat aku. Aku mau pilih sendiri.”
Tio tersenyum. “Itu dia. Itu suara kamu.”
Jam tujuh malam. Hujan reda.
Sebelum pulang, Kael menulis di halaman 18 buku di gubuk:
Hari ini aku menemukan suaraku lagi.
Terima kasih sudah mendengarkan aku walau hanya bisikan.
Dia pamit sambil membawa botol madu kecil.
“Buat jaga-jaga kalau takut lagi, Bu,” katanya. “Biar aku ingat aku boleh bicara.”
Setelah Kael pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Vox,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua suara yang akhirnya berani keluar.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Diam bukan selalu tenang.
Kadang diam itu luka yang dipaksa sembuh.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku nggak tahu aku siapa…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 18 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.