BAB 33: SURAT TERAKHIR NENEK YSRA | Resep: Tinta untuk Menyampaikan Pesan Terakhir
Hari ke-26 Lumi jaga gubuk.
Dini hari. Tanah Fajar berkabut tebal. Tapi kabutnya terasa hangat.
Di dalamnya ada titik-titik Lumin yang bergerak seperti kunang-kunang yang sedang menulis sesuatu di udara. Veylara menutup semua daunnya.
Kriiieekkk.
Pintu terbuka. Angin masuk membawa surat tua.
Kuning. Pinggirnya terbakar. Melayang di atas meja.
Seraphina, Alistair, Tio langsung terdiam.
“Itu,” bisik Seraphina. “Tulisan tangan Nenek.”
Buku di meja terbuka di halaman 33. Kosong. Tapi kali ini tidak muncul resep.
Yang muncul cuma satu tetes tinta hitam yang tidak kunjung mengering.
Lumi memegang surat itu. Tangannya gemetar.
“Untuk Lumi,” tulis di amplopnya. Tinta Lumin.
Buku bergetar pelan. Halaman 33 menyala merah keemasan.
Tinta dari surat menetes ke buku, dan tulisan muncul sendiri.
Resep 33: Tinta untuk Menyampaikan Pesan Terakhir
Bahan: Kertas yang udah nunggu lama, tinta yang ditahan bertahun-tahun, keberanian untuk membaca, air mata untuk membasuh
Cara: Buka. Baca pelan. Ucapkan Audio te. Artinya, Aku mendengarkanmu. Surat ini bukan buat nyuruh. Surat ini buat melepas.
Catatan: Nenek sudah mati. Tapi cinta nggak pernah mati.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Ini surat terakhir. Setelah ini, kamu yang nulis.
– Nenek Ysra
Lumi membuka suratnya. Tinta di dalamnya bergerak sendiri, membentuk huruf baru tiap dibaca.
Sayangku, Lumi …
Kalau kamu baca ini, artinya kamu sudah lewat 25 hari.
Tandanya kamu sudah menyembuhkan orang. Sudah menanam pohon.
Sudah bertemu dirimu.
Nenek tidak memberikan gubuk kepadamu bukan untuk merasa tersiksa.
Nenek memberikan gubuk karena Nenek percaya. Tanah Fajar butuh penjaga yang tahu rasanya sakit.
Buku ini bukan sihir. Buku ini cermin. Tiap resep yang kamu baca, itu bagian dari dirimu yang kamu tolak.
Nenek sudah tua. Nenek mudah lelah. Jadi, Nenek pilih kamu. Bukan karena kamu paling kuat. Tapi, karena kamu yang paling mau belajar.
Jaga gubuk ini. Atau pergi. Dua-duanya boleh. Yang penting, jangan pernah berhenti jadi rumah untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Aku sayang kamu. Selalu.
– Nenek Ysra.
Pas titik terakhir, suratnya terbakar. Tidak jadi abu. Tapi, menjadi cahaya keemasan yang masuk ke dada Lumi.
Veylara di luar mekar. Semua daunnya dibuka bersamaan. Dari batangnya keluar suara Nenek tertawa pelan.
Lumi menangis. Tapi dia tersenyum.
“Audio te,” bisiknya. “Aku mendengarkanmu, Nek.”
Seraphina memeluknya dari belakang. “Dia bangga sama kamu.”
Alistair menunjuk tanah. Dari tempat surat terbakar, tumbuh tunas baru. Cepat banget. Dalam semenit udah setinggi lutut.
“Ini Pohon Audio,” kata Tio. “Pohon untuk semua pesan yang akhirnya didengar.”
Jam lima pagi. Lumi menaruh pecahan tinta dari surat ke dalam botol kecil.
“Buat aku ingat,” katanya. “Kalau suatu hari aku lupa kenapa aku di sini.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Orang yang kita sayang bisa pergi. Tapi pesan mereka bisa tinggal selamanya. Kalau kita mau denger.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan nama yang tertulis di udara: “Permisi. Aku mau tahu kenapa buku pilih aku.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 33 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.